Kapan Tinggi Badan Bayi Tergolong Kurang (Pendek)?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24 September 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Sejak baru lahir, perkembangan tubuh bayi sudah diukur untuk memastikannya berada di rentang normal. Selain berat badan dan lingkar kepala, perkembangan lain yang tidak kalah penting untuk diketahui yakni tinggi atau panjang badan bayi. Kapan tinggi atau panjang badan bayi tergolong kurang dan apa yang perlu diperhatikan?

Berapa tinggi badan bayi yang normal?

Sumber: MRC Epidemiology Unit

Pertumbuhan seseorang diartikan sebagai bertambahnya ukuran, jumlah sel, serta jaringan pembentuk tubuh.

Kombinasi dari berbagai hal tersebut yang memengaruhi penambahan ukuran fisik dan bentuk tubuh secara keseluruhan atau hanya sebagian.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa salah satu indikator yang dinilai untuk mengukur pertumbuhan bayi yaitu tinggi atau panjang badan.

Di usia bayi, cara mengukur apakah tinggi badan dirinya tergolong kurang, normal, atau lebih yaitu dengan menggunakan indikator panjang badan berdasarkan usia (PB/U).

Selama bayi belum mampu berdiri tegak, pengukuran tinggi atau panjang badannya biasanya dilakukan dengan posisi berbaring.

Inilah mengapa pengukuran tinggi badan bayi sebenarnya lebih dikenal dengan pengukuran panjang badan.

Pasalnya, pengukuran panjang badan memang lebih identik dilakukan dengan posisi berbaring, sedangkan tinggi badan dilakukan dalam posisi berdiri tegak.

Indikator pengukuran panjang badan per usia (PB/U) umumnya dilakukan untuk bayi yang berusia di bawah dua tahun. Sementara saat si kecil sudah mampu berdiri tegak, pengukuran ini disebut dengan tinggi badan.

Menurut WHO dan Kementerian Kesehatan RI, tinggi atau panjang badan bayi dikatakan normal dan tidak kurang atau lebih saat berada pada rentang berikut ini:

Bayi laki-laki

Berdasarkan tabel WHO, panjang badan normal bayi laki-laki sampai usia 24 bulan yakni:

  • Usia 0 bulan atau baru lahir: 46,1-55,6 sentimeter (cm)
  • Usia 1 bulan: 50,8-60,6 cm
  • Usia 2 bulan: 54,4-64,4 cm
  • Usia 3 bulan: 57,3-67,6 cm
  • Usia 4 bulan: 59,7-70,1 cm
  • Usia 5 bulan: 61,7-72,2 cm
  • Usia 6 bulan: 63,6-74,0 cm
  • Usia 7 bulan: 64,8-75,5 cm
  • Usia 8 bulan: 66,2- 77,2 cm
  • Usia 9 bulan: 67,5-78,7 cm
  • Usia 10 bulan: 68,7-80,1 cm
  • Usia 11 bulan: 69,9-81,5 cm
  • Usia 12 bulan: 71,0-82,9 cm
  • Usia 13 bulan: 72,1-84,2cm
  • Usia 14 bulan: 73,1-85,5 cm
  • Usia 15 bulan: 74,1-86,7 cm
  • Usia 16 bulan: 75,0-88,0 cm
  • Usia 17 bulan: 76,0-89,2 cm
  • Usia 18 bulan: 76,9-90,4 cm
  • Usia 19 bulan: 77,7-91,5 cm
  • Usia 20 bulan: 78,6-92,6 cm
  • Usia 21 bulan: 79,4-93,8 cm
  • Usia 22 bulan: 80,2-94,9 cm
  • Usia 23 bulan: 81,0-95,9 cm
  • Usia 24 bulan: 81,7-97,0 cm

Jika tinggi atau panjang badan bayi laki-laki berada di antara rentang tersebut, tandanya ia tidak dikatakan kurang atau lebih tinggi badan.

Bayi perempuan

Berdasarkan tabel WHO, tinggi atau panjang badan normal bayi perempuan sampai usia 24 bulan yakni:

  • Usia 0 bulan atau baru lahir: 45,4-54,7 cm
  • Usia 1 bulan: 49,8-59,6 cm
  • Usia 2 bulan: 53,0-63,2 cm
  • Usia 3 bulan: 55,6-66,1 cm
  • Usia 4 bulan: 57,8-68,6 cm
  • Usia 5 bulan: 59,6-70,7 cm
  • Usia 6 bulan: 61,2-72,5 cm
  • Usia 7 bulan: 62,7-74,2 cm
  • Usia 8 bulan: 64,0-75,8 cm
  • Usia 9 bulan: 65,3-77,4 cm
  • Usia 10 bulan: 66,5-78,9 cm
  • Usia 11 bulan: 67,7-80,3 cm
  • Usia 12 bulan: 68,9-81,7 cm
  • Usia 13 bulan: 70,0-83,1 cm
  • Usia 14 bulan: 71,0-84,4 cm
  • Usia 15 bulan: 72,0-85,7 cm
  • Usia 16 bulan: 73,0-87,0 cm
  • Usia 17 bulan: 74,0-88,2 cm
  • Usia 18 bulan: 74,9-89,4 cm
  • Usia 19 bulan: 75,8-90,6 cm
  • Usia 20 bulan: 76,7-91,7 cm
  • Usia 21 bulan: 77,5-92,9 cm
  • Usia 22 bulan: 78,4-94,0 cm
  • Usia 23 bulan: 79,2-95,0 cm
  • Usia 24 bulan: 80,0-96,1 cm

Sama halnya dengan bayi laki-laki, bila tinggi atau panjang badan bayi perempuan yang berada di bawah rentang tersebut tandanya ia kurang atau pendek.

Sementara jika di atas rentang tersebut, artinya tinggi badan si kecil terbilang lebih.

Kapan tinggi badan bayi dikatakan kurang?

kemampuan motorik halus bayi

Menurut IDAI, cara paling mudah untuk mengetahui pertumbuhan tubuh bayi usia 12 bulan berjalan normal adalah dengan mengukur apakah panjang badannya naik 50 % sejak lahir.

Meski begitu, orangtua harus memahami bahwa kecepatan pertumbuhan anak berbeda satu sama lain. Itu sebabnya, penting untuk melakukan pengukuran secara berkala guna memastikan tidak ada kelainan atau masalah yang dialami si kecil.

Ada frekuensi atau jadwal pengukuran yang sebaiknya dilakukan sampai usia bayi menginjak 12 bulan. Anda bisa memeriksakan si kecil secara rutin setiap tiga bulan sekali sampai usianya tiga tahun.

Selanjutnya, pemeriksaan pertumbuhan bayi bisa di selang setiap enam bulan sekali sampai usianya enam tahun dan 1 tahun sekali setelah usianya di atas enam tahun.

Berdasarkan Permenkes Nomor 2 Tahun 2020, kategori penilaian panjang badan bayi berdasarkan usia (PB/U), yakni:

  • Sangat pendek: kurang dari -3 SD
  • Pendek: -3 SD sampai dengan kurang dari 2 SD
  • Normal: -2 SD sampai dengan +3 SD
  • Tinggi: lebih dari +3 SD

Satuan dari pengukuran tersebut dikenal dengan nama standar deviasi (SD). Penjelasannya begini, tinggi atau panjang bayi dikatakan normal alias tidak kurang dan lebih saat berada di rentang -2 sampai +3 SD pada tabel WHO.

Jika berada di bawah -2 SD, tinggi badan bayi dikatakan kurang atau pendek. Sementara jika bayi lebih dari +3 SD dikatakan tinggi.

Cara lebih mudahnya, Anda hanya perlu melihat rentang tinggi badan ideal di atas. Bila tinggi badan bayi kurang dari itu, tandanya ia tergolong pendek.

Apa penyebab tinggi badan bayi kurang?

tinggi badan bayi

Panjang atau tinggi badan bayi yang kurang bisa disebabkan oleh beberapa hal. Penyebab tinggi badan kurang pada bayi yang tidak terkait dengan kondisi medis yakni karena keturunan.

Meski usianya masih terbilang sangat kecil, perawakan pendek dari salah satu maupun kedua orangtua dapat menurun kepada bayi.

Perawakan pendek idiopatik (idiopathic short stature) termasuk penyebab lain dari tinggi badan kurang atau pendek pada bayi.

Melansir dari laman Healthy Children, tidak ada penyebab khusus dari perawakan pendek idiopatik. Bahkan, anak dengan kondisi tersebut umumnya tetap terlihat sehat.

Selain itu, penyebab tinggi badan bayi yang kurang juga bisa dikarenakan adanya kondisi atau masalah medis tertentu.

Jika memang panjang badan kurang pada bayi disebabkan oleh kondisi medis, biasanya akan disertai dengan gejala tertentu.

Berbagai kondisi medis yang dapat menjadi penyebab tinggi badan bayi kurang yaitu penyakit yang menyerang organ tubuh. Penyakit tersebut meliputi jantung, ginjal, radang usus, asma, hingga anemia pada bayi.

Asupan gizi yang buruk, rutin konsumsi obat-obatan tertentu, kurangnya hormon di dalam tubuh, serta kondisi genetik turut menjadi pemicu tinggi badan bayi kurang.

Kurang atau buruknya asupan gizi bayi bisa sejak pemberian ASI eksklusif sampai akhirnya si kecil mengenal makanan pendamping ASI (MPASI).

Kapan harus ke dokter?

penyebab leukosit bayi rendah

Seribu hari pertama kehidupan merupakan masa pertumbuhan anak yang paling pesat. Seribu hari pertama bukan dihitung sejak bayi baru lahir, melainkan sejak awal kehamilan hingga usianya genap dua tahun.

Selama masa tersebut berlangsung proses pembentukan otak dan organ penting tubuh lainnya. Bahkan, pertumbuhan tinggi badan bayi juga ditentukan dari apakah asupan nutrisi dapat memenuhi kebutuhan gizi hariannya.

Jika bayi mengalami gangguan pertumbuhan di masa tersebut tetapi tidak terdeteksi dan tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini bisa menimbulkan efek jangka panjang.

Bukan tidak mungkin, efek jangka panjang tersebut bisa membuat kualitas hidupnya menurun sampai ia dewasa kelak.

Maka itu, sebaiknya jangan tunda untuk memeriksakan kondisi kesehatan si kecil ke dokter jika Anda merasa pertumbuhannya tidak berjalan seperti anak seusianya.

Hal ini bisa terlihat dengan mudah saat tinggi badan bayi terbilang kurang alias lebih rendah dari rentang normalnya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Benarkah Rajin Skipping Bisa Bikin Badan Tambah Tinggi?

Banyak yang bilang bahwa skipping bisa menjadi cara cepat menambah tinggi badan. Benarkah manfaat skipping yang satu ini, atau cuma bisik tetangga saja?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Kebugaran, Hidup Sehat 28 Juli 2020 . Waktu baca 3 menit

Apa Benar Tinggi Badan Bertambah Saat Anak Tidur?

Mungkin ada alasannya kenapa banyak orangtua sejak zaman dahulu selalu menyuruh anak tidur cukup. Apakah benar tinggi badan bertambah saat anak tidur?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kesehatan Anak, Parenting 4 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Berapa Idealnya Tinggi Badan Pada Orang Dewasa? (Plus Cara Tepat Mengukurnya)

Selain mengecek berat badan ideal, Anda juga perlu tahu tinggi badan ideal Anda. Yuk, simak cara mengukur tinggi badan pada orang dewasa dengan tepat disini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Hidup Sehat, Fakta Unik 19 Februari 2019 . Waktu baca 4 menit

7 Cara Paling Manjur Meninggikan Badan di Usia Dewasa

Sudah puaskah Anda dengan tinggi badan Anda saat ini? Selain minum susu, adakah alternatif cara meninggikan badan di usia yang sudah kepalang dewasa?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat 18 Januari 2019 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

tinggi badan anak balita

Ibu, Ini Tinggi Badan Anak Balita Usia 1-5 Tahun yang Ideal

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 18 November 2020 . Waktu baca 5 menit
berat dan tinggi badan ideal anak 6-9 tahun

Berat dan Tinggi Badan Ideal Anak Usia 6-9 Tahun

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 November 2020 . Waktu baca 7 menit
penilaian cara menghitung status gizi anak

Penilaian Status Gizi Anak, Cara Mengukur Hingga Membaca Hasilnya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 13 November 2020 . Waktu baca 15 menit
Konten Bersponsor
asupan nutrisi yang baik membantu pertumbuhan tinggi badan anak

Peran Penting Nutrisi dalam Pertumbuhan Tinggi Badan Anak

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit