Semua Hal Seputar Nutrisi Anak yang Perlu Dipahami Para Orangtua

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Setiap orangtua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi buah hatinya, tak terkecuali dalam urusan nutrisi atau gizi anak. Supaya lebih jelas, berikut informasi lengkap yang bisa Anda ketahui seputar nutrisi untuk anak, dari kebutuhan harian, pilihan makanan, hingga masalah makan yang sering terjadi.

Kebutuhan nutrisi anak sesuai angka kecukupan gizi (AKG)

Menurut Kemenkes RI, angka kecukupan gizi atau AKG adalah kecukupan rata-rata zat gizi harian yang dianjurkan untuk sekelompok orang setiap harinya. Penentuan nilai gizi ini akan disesuaikan dengan jenis kelamin, kelompok umur, tinggi badan, berat badan, serta aktivitas fisik.

Kebutuhan gizi si kecil yang mesti dipenuhi orangtua dalam sehari dibagi dalam dua kelompok, yaitu zat gizi makro dan zat gizi mikro. Zat gizi makro adalah semua jenis zat gizi yang dibutuhkan anak dalam jumlah banyak, seperti energi, protein, lemak, dan karbohidrat. Sementara zat gizi mikro adalah nutrisi yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit, seperti vitamin dan mineral.

Secara garis besarnya, berikut kebutuhan nutrisi anak yang sebaiknya dipenuhi sesuai dengan AKG Indonesia tahun 2013 dari Kemenkes RI:

1. Nutrisi anak usia 0-1 tahun

Usia 0-6 bulan

Kebutuhan zat gizi makro harian anak:

  • Energi: 550 kkal
  • Protein: 12 gram (gr)
  • Lemak 34 gr
  • Karbohidrat 58 gr

Kebutuhan zat gizi mikro harian anak:

Vitamin

  • Vitamin A: 375 mikrogram (mcg)
  • Vitamin D: 5 mcg
  • Vitamin E: 4 miligram (mg)
  • Vitamin K: 5 mcg

Mineral 

  • Kalsium: 200 mg
  • Fosfor: 100 mg
  • Magnesium: 30 mg
  • Natrium: 120 mg
  • Kalium: 500 mg

Usia 7-11 bulan

Kebutuhan zat gizi makro harian anak:

  • Energi: 725 kkal
  • Protein: 18 gr
  • Lemak 36 gr
  • Karbohidrat 82 gr
  • Serat: 10 gr
  • Air: 800 mililiter (ml)

Kebutuhan zat gizi mikro harian anak:

Vitamin 

  • Vitamin A: 400 mikrogram (mcg)
  • Vitamin D: 5 mcg
  • Vitamin E: 5 miligram (mg)
  • Vitamin K: 10 mcg

Mineral 

  • Kalsium: 250 mg
  • Fosfor: 250 mg
  • Magnesium: 55 mg
  • Natrium: 200 mg
  • Kalium: 700 mg
  • Besi: 7 mg

2. Nutrisi anak usia 1-3 tahun

Kebutuhan zat gizi makro harian anak:

  • Energi: 1125 kkal
  • Protein: 26 gr
  • Lemak 44 gr
  • Karbohidrat 155 gr
  • Serat: 16 gr
  • Air: 1200 mililiter (ml)

Kebutuhan zat gizi mikro harian anak:

Vitamin 

  • Vitamin A: 400 mikrogram (mcg)
  • Vitamin D: 15 mcg
  • Vitamin E: 6 miligram (mg)
  • Vitamin K: 15 mcg

Mineral 

  • Kalsium: 650 mg
  • Fosfor: 500 mg
  • Magnesium: 60 mg
  • Natrium: 1000 mg
  • Kalium: 3000 mg
  • Besi: 8 mg

3. Nutrisi anak usia 4-6 tahun

Kebutuhan zat gizi makro harian anak:

  • Energi: 1600 kkal
  • Protein: 35 gram (gr)
  • Lemak: 62 gr
  • Karbohidrat: 220 gr
  • Serat: 22 gr
  • Air: 1500 ml

Kebutuhan zat gizi mikro harian anak:

Vitamin

  • Vitamin A: 375 mikrogram (mcg)
  • Vitamin D: 15 mcg
  • Vitamin E: 7 miligram (mg)
  • Vitamin K: 20 mcg

Mineral 

  • Kalsium: 1000 mg
  • Fosfor: 500 mg
  • Magnesium: 95 mg
  • Natrium: 1200 mg
  • Kalium: 3800 mg
  • Besi: 9 mg

4. Nutrisi anak usia 7-12 tahun

Usia 7-9 tahun

Kebutuhan zat gizi makro harian anak:

  • Energi: 1850 kkal
  • Protein: 49 gram (gr)
  • Lemak: 72 gr
  • Karbohidrat: 254 gr
  • Serat: 26 gr
  • Air: 1900 ml

Kebutuhan zat gizi mikro harian anak:

Vitamin

  • Vitamin A: 500 mikrogram (mcg)
  • Vitamin D: 15 mcg
  • Vitamin E: 7 miligram (mg)
  • Vitamin K: 25 mcg

Mineral 

  • Kalsium: 1000 mg
  • Fosfor: 500 mg
  • Magnesium: 120 mg
  • Natrium: 1200 mg
  • Kalium: 4500 mg
  • Besi: 10 mg

Usia 10-12 tahun

Kebutuhan zat gizi makro harian anak:

  • Energi: laki-laki 2100 kkal dan perempuan 2000 kkal
  • Protein: laki-laki 56 gr dan perempuan 60 gr
  • Lemak: laki-laki 70 gr dan perempuan 67 gr
  • Karbohidrat: laki-laki 289 gr dan perempuan 275 gr
  • Serat: laki-laki 30 gr dan perempuan 28 gr
  • Air: laki-laki dan perempuan 1800 ml

Kebutuhan zat gizi mikro harian anak:

Vitamin

  • Vitamin A: laki-laki dan perempuan 600 mcg
  • Vitamin D: laki-laki dan perempuan 15 mcg
  • Vitamin E: laki-laki dan perempuan 11 mcg
  • Vitamin K: laki-laki dan perempuan 35 mcg

Mineral 

  • Kalsium: laki-laki dan perempuan 1200 mg
  • Fosfor: laki-laki dan perempuan 1200 mg
  • Magnesium: laki-laki 150 mg dan perempuan 155 mg
  • Natrium: laki-laki dan perempuan 1500 mg
  • Kalium: laki-laki dan perempuan 4500 mg
  • Besi: laki-laki 13 mg dan perempuan 20 mg

5. Nutrisi anak usia 13-18 tahun

Usia 13-15 tahun

Kebutuhan zat gizi makro harian anak:

  • Energi: laki-laki 2475 kkal dan perempuan 2125 kkal
  • Protein: laki-laki 72 gr dan perempuan 69 gr
  • Lemak: laki-laki 83 gr dan perempuan 71 gr
  • Karbohidrat: laki-laki 340 gr dan perempuan 292 gr
  • Serat: laki-laki 35 gr dan perempuan 30 gr
  • Air: laki-laki dan perempuan 2000 ml

Kebutuhan zat gizi mikro harian anak:

Vitamin

  • Vitamin A: laki-laki dan perempuan 600 mcg
  • Vitamin D: laki-laki dan perempuan 15 mcg
  • Vitamin E: laki-laki 12 mcg dan perempuan 15 mcg
  • Vitamin K: laki-laki dan perempuan 55 mcg

Mineral 

  • Kalsium: laki-laki dan perempuan 1200 mg
  • Fosfor: laki-laki dan perempuan 1200 mg
  • Magnesium: laki-laki dan perempuan 200 mg
  • Natrium: laki-laki dan perempuan 1500 mg
  • Kalium: laki-laki 4700 mg dan perempuan 4500 mg
  • Besi: laki-laki 19 mg dan perempuan 26 mg

Usia 16-18 tahun

Kebutuhan zat gizi makro harian anak:

  • Energi: laki-laki 2676 kkal dan perempuan 2125 kkal
  • Protein: laki-laki 66 gr dan perempuan 59 gr
  • Lemak: laki-laki 89 gr dan perempuan 71 gr
  • Karbohidrat: laki-laki 368 gr dan perempuan 292 gr
  • Serat: laki-laki 37 gr dan perempuan 30 gr
  • Air: laki-laki 2200 ml dan perempuan 2100 ml

Kebutuhan zat gizi mikro harian anak:

Vitamin

  • Vitamin A: laki-laki dan perempuan 600 mcg
  • Vitamin D: laki-laki dan perempuan 15 mcg
  • Vitamin E: laki-laki dan perempuan 15 mcg
  • Vitamin K: laki-laki dan perempuan 55 mcg

Mineral 

  • Kalsium: laki-laki dan perempuan 1200 mg
  • Fosfor: laki-laki dan perempuan 1200 mg
  • Magnesium: laki-laki 250 mg dan perempuan 220 mg
  • Natrium: laki-laki dan perempuan 1500 mg
  • Kalium: laki-laki dan perempuan 4700 mg
  • Besi: laki-laki 15 mg dan perempuan 26 mg

Meski begitu, kebutuhan gizi anak tentu akan berbeda-beda, tergantung dengan usia dan kondisinya. Angka kecukupan gizi tersebut hanyalah panduan umum dalam memenuhi asupan nutrisi anak. Namun, untuk tahu betul berapa kebutuhan gizi si kecil, Anda harus berkonsultasi dengan dokter dan ahli gizi.

Pilihan sumber makanan untuk penuhi nutrisi anak

makanan untuk mencegah kram otot

Semakin bertambah usia anak, maka semakin meningkat pula jumlah kecukupan gizi yang harus dipenuhi setiap harinya. Maka itu sebagai orangtua, Anda dituntut harus selalu memberikan sumber makanan yang bisa membantu memenuhi nutrisi atau gizi anak.

Tak perlu bingung, berikut pilihan yang bisa Anda berikan untuk si buah hati:

1. Karbohidrat

Karbohidrat adalah makanan pokok yang mesti ada di setiap menu makan si kecil. Karbohidrat yang dimakan akan diolah langsung menjadi gula darah, sumber energi untuk semua organ di dalam tubuh si kecil.

Maka itu, sumber makanan ini tidak boleh dilewatkan. Berbagai makanan sumber karbohidrat yang bisa Anda sajikan untuk anak yakni nasi putih, nasi merah, pasta, gandum, kentang, ubi, jagung, dan lain sebagainya.

2. Protein

Protein merupakan salah satu kebutuhan zat gizi anak yang sangat penting. Pasalnya, nutrisi yang satu ini berperan dalam membangun sekaligus memperbaiki sel dan jaringan tubuh yang rusak, terutama di masa pertumbuhan anak.

Supaya kebutuhan protein anak tercukupi, ada berbagai sumber makanan yang bisa Anda berikan. Mulai dari protein hewani yang berasal dari hewan, sampai protein nabati dari tumbuh-tumbuhan.

Contoh protein hewani meliputi telur, keju, susu, ikan, daging ayam, daging sapi, udang, dan lain sebagainya. Sementara protein nabati yakni kacang-kacangan, gandum, lentil, brokoli, oat, dan lainnya.

Kedua jenis protein ini sama-sama penting untuk si kecil, entah itu nabati dan hewani. Maka itu, pastikan jika sumber protein hewani dan nabati selalu ada dalam setiap menu makan si kecil.

3. Lemak

Kalori yang terkandung di dalam lemak terbilang cukup tinggi ketimbang zat gizi yang lainnya. Akan tetapi, sebenarnya lemak tidak selamanya buruk. Lemak merupakan salah satu sumber energi cadangan yang penting bagi tubuh.

Selain itu, lemak juga membantu proses penyerapan vitamin,  membangun sel dan jaringan, melancarkan pembekuan darah, serta mendukung pergerakan otot. Berbagai sumber lemak baik yang bisa diberikan untuk anak seperti buah alpukat, kacang-kacangan, telur, tofu, dan lain sebagainya.

4. Vitamin dan mineral

Jika beberapa zat gizi yang dijabarkan sebelumnya tergolong makro, vitamin dan mineral masuk ke dalam zat gizi mikro. Meski namanya mikro, tapi kebutuhan hariannya tidak boleh dikesampingkan dan harus tercukupi.

Mudahnya, Anda bisa memberikan berbagai jenis sayur dan buah-buahan setiap harinya untuk membantu mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral. Selain itu, daging ayam, daging sapi, makanan laut, kacang-kacangan, serta jamur, juga tak kalah kaya kandungan zat gizi mikro.

Bentuk makanan anak juga mesti diperhatikan

Meski berasal dari sumber yang sama, tapi tekstur makanan untuk tiap usia anak bisa berbeda. Ambil contoh pada bayi di atas 6 bulan, olahan makanan biasanya diberikan dalam bentuk bubur halus sebagai makanan pendamping ASI (MPASI). Hingga usia sebelum 12 bulan dapat diperkenalkan makanan keluarga dengan tekstur yang lebih lunak.

Sementara saat menginjak usia di atas 1 tahun, umumnya anak sudah bisa diberikan makanan yang sama dimakan oleh anggota keluarga lain.

Cara mengukur status gizi anak

tinggi anak yang ideal sesuai umur

Nyatanya, cara mengukur status gizi anak berbeda dengan orang dewasa. Bahkan, pengukurannya pun tidak semudah Anda menghitung indeks massa tubuh (IMT) pada orang dewasa.

Mungkin timbul pertanyaan dalam benak Anda, memang apa yang membuat perhitungan status gizi anak dan orang dewasa bisa berbeda? Jawabannya yakni karena anak-anak, yang masih berada di bawah usia 18 tahun, masih akan terus tumbuh dan berkembang.

Di masa pertumbuhan seperti ini, otomatis berat, tinggi, serta ukuran tubuh anak secara keseluruhan akan terus berubah. Hal ini akan terus berlangsung sampai usianya menginjak 18 tahun, yang baru kemudian pertumbuhannya berhenti secara bertahap.

Oleh karena masih akan terus mengalami perubahan, maka perhitungan IMT tidak sepenuhnya akurat jika ingin mengetahui status gizi anak. Indeks massa tubuh (IMT) untuk mengukur status gizi orang dewasa dapat mudah dihitung dengan rumus berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan dalam meter kuadrat.

Sedangkan apabila ingin mengetahui apakah si kecil sudah berstatus gizi normal atau belum, dibutuhkan perhitungan khusus. Sebenarnya masih serupa dengan perhitungan IMT yang sama-sama melibatkan berat dan tinggi badan. Hanya saja, perhitungan status gizi anak umumnya turut melibatkan usia sebagai pembanding. Oleh karena itu, indikator untuk melihat status gizi anak pun beragam

Berbagai indikator untuk mengukur status gizi anak

1. Lingkar kepala

Lingkar kepala adalah pengukuran penting yang membantu menunjukkan ukuran dan pertumbuhan otak anak. Itu sebabnya, IDAI merekomendasikan pengukuran yang satu ini tidak boleh terlewatkan setiap bulan hingga anak berusia 2 tahun.

Petugas kesehatan seperti dokter, bidan, atau petugas posyandu, akan menggunakan pita ukur yang dilingkarkan pada kepala bayi. Tepatnya di bagian atas alis, melewati bagian atas telinga, sampai bertemu di bagian belakang kepala yang paling menonjol.

Setelah diukur, hasilnya akan terus dicatat agar kemudian dapat disimpulkan masuk ke dalam kategori normal, kecil (mikrosefali), atau besar (makrosefali). Ukuran lingkar kepala yang terlalu kecil atau besar bisa menandakan adanya gangguan pada perkembangan otak.

2. Panjang badan

Panjang badan adalah pengukuran yang biasanya dipakai untuk anak berusia kurang dari 2 tahun. Alasannya karena dalam rentang usia tersebut, anak belum dapat berdiri dengan sempurna untuk diukur tinggi badannya.

Alhasil, pengukuran panjang badan dijadikan acuan untuk mengetahui tinggi badan anak. Caranya dengan menggunakan alat yang terbuat dari papan kayu, bernama length board.

3. Tinggi badan

Setelah usia anak di atas 2 tahun, pengukuran panjang badan akan digantikan dengan tinggi badan. Sama seperti orang dewasa, pengukuran tinggi badan anak di usia ini juga menggunakan sebuah alat yang dikenal dengan nama microtoise.

Meskipun tinggi badan anak berbeda-beda, sesuai dengan pertumbuhannya, berikut rerata tinggi badan ideal menurut Kementerian Kesehatan RI:

  • 0-6 bulan: 49,9-67,6 cm
  • 7-11 bulan: 69,2-74,5 cm
  • 1-3 tahun: 75,7-96,1 cm
  • 4-6 tahun: 96,7-112 cm
  • 7-12 tahun: 130-145 cm
  • 13-18 tahun: 158-165 cm 

4. Berat badan

Tak jauh berbeda dengan indikator lainnya, ukuran berat badan juga tidak boleh dikesampingkan selama masa pertumbuhan. Sebab di masa ini, diperlukan banyak nutrisi yang berguna untuk menunjang tumbuh kembang anak.

Namun yang harus diperhatikan, pastikan berat badan anak berada di rentang normal. Usahakan agar jangan sampai terlalu rendah atau tinggi. Berikut rerata berat badan ideal menurut Kementerian Kesehatan RI:

  • 0-6 bulan: 3,3-7,9 kg
  • 7-11 bulan: 8,3-9,4 kg
  • 1-3 tahun: 9,9-14,3 kg
  • 4-6 tahun: 14,5-19 kg
  • 7-12 tahun: 27-36 kg
  • 13-18 tahun: 46-50 cm 

Penilaian status gizi anak

Setelah mengetahui berapa tinggi dan berat badan, hingga lingkar kepala anak, selanjutnya indikator tersebut akan dijadikan tolak ukur apakah si kecil punya status gizi yang baik atau tidak.

Penilaian status gizi ini dilakukan dengan membandingkan berat badan menurut tinggi badan, berat badan menurut usia anak, tinggi badan menurut usia, dan indeks massa tubuh menurut usia. Ketiga kategori ini akan menentukan apakah anak kurus, berat badan berlebih, atau bahkan termasuk pendek karena tidak punya tinggi badan yang normal.

Semua kategori tersebut akan dilihat dalam grafik khusus dari WHO 2006 (cut off z score) untuk usia kurang dari 5 tahun dan CDC 2000 (ukuran persentil) untuk usia di atas 5 tahun. Penggunaan grafik WHO 2006 dan CDC 2000 ini akan dikelompokkan lagi berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

1. Berat badan berdasarkan umur (BB/U)

Indikator ini digunakan oleh anak usia 0-60 bulan, dengan tujuan untuk mengukur berat badan sesuai dengan usia anak. Kategori penilaiannya meliputi:

  • Berat badan normal: ≥-2 SD sampai 3 SD
  • Berat badan kurang: <-2 SD sampai -3 SD
  • Berat badan sangat kurang: <-3 SD

2. Tinggi badan berdasarkan umur (TB/U)

Indikator ini digunakan oleh anak usia 0-60 bulan, dengan tujuan untuk mengukur tinggi badan sesuai dengan usia anak. Kategori penilaiannya meliputi:

  • Tinggi badan di atas normal: >2 SD
  • Tinggi badan normal: -2 SD sampai dengan 2 SD
  • Pendek (stunting): -3 SD sampai dengan <-2 SD
  • Sangat pendek (severe stunting): <-3 SD

3. Berat badan berdasarkan tinggi badan (BB/TB)

Indikator ini digunakan oleh anak usia 0-60 bulan, dengan tujuan untuk mengukur berat badan sesuai dengan tinggi badan anak. Kategori penilaiannya meliputi:

  • Sangat gemuk: >3 SD
  • Gemuk: >2 SD sampai dengan 3 SD
  • Normal: -2 SD sampai dengan 2 SD
  • Kurus (wasting): -3 SD sampai dengan <-2 SD
  • Sangat kurus (severe wasting): <-3 SD

4. Indeks massa tubuh berdasarkan tinggi badan (IMT/U)

Indikator ini digunakan oleh anak usia 5-18 tahun, dengan tujuan untuk mengukur indeks massa tubuh (IMT) sesuai dengan usia anak. Grafik yang digunakan yakni dari CDC 2000 menggunakan persentil.

Kategori penilaiannya meliputi:

  • Underweight: persentil < 5
  • Normal: persentil 5 – < 85
  • Overweight: persentil 85 – < 95
  • Obesitas: persentil ≥ 95

Sumber: PPT Penilaian Status Gizi

Oleh karena menentukan status gizi sang buah hati cukup rumit, maka itu Anda harus sering membawanya ke pelayanan kesehatan terdekat supaya tumbuh kembangnya dapat terpantau.

Untuk usia balita, biasanya akan diberikan buku KIA atau KMS (kartu menuju sehat) yang menunjukkan grafik tumbuh kembang si kecil, sehingga akan memudahkan Anda untuk tahu apakah status gizinya normal atau tidak.

Masalah nutrisi pada anak

Ketika asupan gizi sang buah hati berlebih atau malah kekurangan, maka akan ada masalah nutrisi yang mengintai. Berikut beragam masalah asupan nutrisi pada masing-masing anak:

1. Marasmus

Marasmus adalah kekurangan gizi akibat tidak tercukupinya asupan energi dan protein. Marasmus masuk ke dalam kelompok gizi buruk, karena pasokan gizi tidak terpenuhi dalam jangka waktu yang lama.

Selain karena kelaparan kronis, kondisi ini juga terjadi akibat anak mengalami infeksi berulang kali sehingga tidak dapat mencerna makanan yang masuk dengan baik.

Ciri khas yang menandakan anak mengalami marasmus yakni:

  • Berat badan anak yang merosot pesat
  • Kulit keriput seperti orang tua
  • Perut cekung
  • Cenderung cengeng

2. Kwashiorkor

Kwashiorkor adalah kekurangan gizi kronis akibat asupan protein harian yang sangat rendah.

Ciri khas anak dengan kwashiorkor yakni:

  • Perubahan warna kulit
  • Rambut rambut seperti jagung
  • Bengkak (edema) di beberapa bagian, seperti kaki, tangan, dan perut
  • Wajah bulat dan sembab (moon face)
  • Penurunan masa otot
  • Diare dan lemas.

Anak yang mengalami kwashiorkor sebenarnya bertubuh kurus, tapi berat badannya biasanya tidak menurun drastis seperti marasmus. Hal ini dikarenakan tubuh anak dengan kwashiorkor dipenuhi oleh penumpukan cairan (edema) yang membuatnya tampak berat.

3. Marasmik-kwashiorkor

Marasmik-kwashiorkor adalah gabungan kondisi dan gejala dari marasmus serta kwashiorkor. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kurangnya asupan kalori dan protein.

Sebanyak 60 persen berat badan dari anak dengan marasmik-kwarshiorkor terdiri dari penumpukkan cairan aliasn edema. Anak dengan kondisi seperti ini menandakan bahwa status gizinya sangat buruk.

4. Stunting

Seorang anak dikatakan mengalami stunting ketika ukuran tubuhnya jauh lebih pendek dibandingkan ukuran normalnya.

Berdasarkan WHO, stunting didefinisikan jika pada grafik tinggi badan terhadap usia menunjukan kurang dari -2 SD. Mudahnya, anak yang bertubuh stunting umumnya tampak lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya.

Stunting bisa terjadi karena anak mengalami kekurangan nutrisi dalam waktu lama, sehingga kemudian memengaruhi pertumbuhannya. Itulah mengapa stunting tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari proses pertumbuhan jangka panjang.

Jangan dianggap sepele, karena stunting bisa membawa berbagai risiko kesehatan di masa yang akan datang. Contohnya pada wanita, stunting berisiko membuatnya memiliki anak dengan berat badan lahir rendah (BBLR), malnutrisi, dan lainnya.

5. Wasting (kurus)

Tubuh anak termasuk kurus ketika berat badannya sangat berada di bawah normal, atau sudah terbilang kronis. Dengan kata lain, berat badan anak tersebut tidak sesuai dengan tinggi badan dan usianya.

Terkadang, wasting juga kerap dikenal sebagai kurang gizi akut atau berat. Hal ini bisa terjadi ketika anak tidak memperoleh asupan zat gizi yang cukup, atau mengalami penyakit yang mengakibatkan kehilangan berat badan, seperti diare.

Gejala yang muncul ketika anak mengalami wasting yakni tubuh tampak sangat kurus akibat berat badan rendah.

6. Failure to thrive (gagal tumbuh)

Gagal tumbuh adalah suatu kondisi yang membuat perkembangan tubuh anak terhambat, atau bahkan terhenti. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh tidak tercukupinya asupan nutrisi harian yang didapatkan oleh anak.

Entah karena memang si kecil tidak mau makan, mengalami masalah kesehatan tertentu, atau jumlah kalori di dalam tubuh tidak cukup untuk mendukung pertumbuhan.

7. Underweight (berat badan kurang)

Berat badan kurang memang sekilas hampir serupa dengan kurus. Namun bedanya, anak dikatakan underweight ketika berat badannya cenderung di bawah normal jika dibandingkan dengan teman-teman seusianya.

Biasanya anak kurus diketahui dari indikator status gizi berat badan berdasarkan usia (untuk anak 0-5 tahun) dan IMT berdasarkan usia (6-18 tahun).

Sama seperti wasting, ketika berat badan sang buah hati lebih rendah dari idealnya, maka hal ini menandakan bahwa ia mengalami kekurangan asupan gizi tertentu. Penyakit infeksi yang dialami anak juga bisa memicu berat badan kurang.

8.  Kekurangan vitamin dan mineral

Vitamin dan mineral merupakan zat gizi penting untuk mendukung pertumbuhan tubuh anak. Jika kekurangan nutrisi tertentu, tentu akan berakibat pada terganggunya perkembangan tubuh anak yang membuatnya tidak dapat berkembang secara optimal.

9. Anemia defisiensi zat besi

Anemia defisiensi zat besi terjadi ketika simpanan zat besi di dalam tubuh habis, atau persediannya telah menipis. Kondisi ini ditandai dengan kadar hemoglobin yang berada di bawah batas normal. Kekurangan zat besi sering dialami oleh anak usia lebih dari 6 bulan sampai dengan balita.

Ini terjadi karena setelah usia 6 bulan, kebutuhan zat besi anak biasanya mengalami peningkatan seiring dengan semakin tingginya kebutuhan energi. Mulai dari usia tersebut sampai dengan balita atau bahkan menginjak 6 tahun, kebutuhan zat besi anak akan terus bertambah.

10. Overweight (kelebihan berat badan)

Overweight atau kelebihan berat badan merujuk pada kondisi yang membuat berat badan anak berada di atas rentang normalnya. Atau bisa juga dikatakan tidak setara dengan tinggi badannya, sehingga membuat anak terlihat sangat gemuk.

11. Obesitas

Jika dilihat dari kategori status gizinya, obesitas adalah kondisi anak dengan overweight yang tidak berhasil ditangani dengan baik. Bisa dibilang obesitas jauh lebih buruk ketimbang kelebihan berat badan.

Obesitas ditandai dengan berat badan yang sudah jauh melebihi kategori normalnya. Anak yang sangat gemuk memang lucu, tapi bahaya obesitas bisa berdampak hingga dewasa kelak. Anak berisiko mengalami diabetes dan penyakit kardiovaskular, seperti stroke dan penyakit jantung.

Apa saja permasalahan pola makan pada anak?

penyebab anak khawatir penyebab anak cemas

Berikut masalah pola makan harian yang bisa dialami setiap anak:

1. Alergi makanan

Alergi makanan adalah suatu kondisi yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan karena adanya senyawa tertentu dari makanan. Itu sebabnya, anak yang alergi terhadap jenis makanan tertentu biasanya akan mengalami gejala usai makan makanan tersebut.

Gejala alergi makanan beragam, bisa tergolong ringan, sedang, bahkan sampai parah. Kondisi ini biasanya membuat anak tidak bisa makan makanan tertentu, sehingga kehilangan sumber nutrisi dari makanan tersebut.

2. Intoleransi makanan

Sering dianggap sama dengan alergi makanan, padahal intoleransi makanan jelas berbeda. Intoleransi makanan adalah suatu kondisi yang dikarenakan tubuh anak tidak memiliki kemampuan untuk mencerna zat gizi tertentu dalam makanan.

Dalam hal ini, intoleransi makanan tidak melibatkan gangguan sistem imun seperti pada alergi makanan. Kondisi ini memang terjadi karena adanya gangguan di dalam tubuh anak, sehingga membuatnya tidak dapat mencerna suatu makanan. Ambil contohnya seperti intolerenasi laktosa.

3. Perubahan nafsu makan

Nafsu makan anak merupakan salah satu faktor yang memengaruhi asupan hariannya. Nafsu makan tidak selalu dalam keadaan prima.

Terkadang, anak bisa saja mengalami penurunan nafsu makan yang membuatnya enggan makan apa pun. Atau bahkan, nafsu makannya juga bisa sangat meningkat sehingga memicunya untuk makan apa pun dalam jumlah banyak

4. Kebiasaan makan

Beruntunglah jika buah hati Anda memiliki kebiasaan makan yang baik. Artinya, mau makan apa pun dan tidak pilih-pilih makanan. Pasalnya, tidak sedikit anak-anak yang menolak suatu jenis makanan, atau bahkan cenderung pemilih dan hanya mau makan makanan tertentu saja.

Hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena kebiasaan makan yang ditanamkan sejak kecil akan terus terbawa sampai anak beranjak dewasa.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca