Kekurangan Gizi pada Anak: Tanda, Jenis, dan Cara Mengatasinya

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal update Mei 15, 2020
Bagikan sekarang

Supaya tumbuh kembangnya optimal, Anda harus memastikan asupan nutrisi anak setiap usia terpenuhi dengan baik. Sayangnya, kebutuhan zat gizi yang tinggi ini kadang tidak sejalan dengan asupan harian yang anak dapatkan. Akibatnya, anak pun bisa menderita kekurangan gizi. Memang, isu dan permasalahan mengenai anak kurang gizi mungkin sudah jarang terdengar di daerah perkotaan. Namun, di daerah yang masih belum terjamah oleh teknologi, masih banyak ditemukan anak yang menderita kekurangan gizi.

Apa itu kondisi kekurangan gizi?

Sumber: BBC

Kekurangan gizi adalah dampak dari tidak terpenuhinya kebutuhan gizi anak yang telah berlangsung sejak lama. Bahkan, kondisi ini dapat dimulai ketika bayi atau masih berada di dalam kandungan. Oleh karena itu, ibu hamil disarankan agar dapat memenuhi kebutuhan gizinya dengan baik selama masa kehamilan.

Tidak hanya sampai di situ saja, setelah bayi lahir pun pemenuhan gizi untuk anak masih perlu diperhatikan setidaknya sampai ia berusia 2 tahun. Hal tersebut harus menjadi perhatian utama yang tidak boleh disepelekan.

Pasalnya, sedari kehamilan sampai 2 tahun awal usia anak merupakan masa emas yang akan menentukan kehidupan anak selanjutnya.

Kurangnya nafsu makan anak di usia tertentu, kurangnya ketersediaan makanan, dan gangguan pada proses pencernaan dapat menjadi penyebab kurang gizi. Maka, penting untuk orangtua menjaga kesehatan pencernaan anak.

Kurang gizi juga dapat diperparah bila anak sering mengalami penyakit infeksi. Akibatnya, kurang gizi pada anak bisa membuat pertumbuhan dan perkembangan otak anak serta fisiknya terganggu. Inilah yang nantinya akan berdampak pada kehidupan anak di kemudian hari.

Secara garis besar, anak kurang gizi umumnya mempunyai berat badan kurang (underweight), kurus (wasting), pendek (stunting), serta kekurangan vitamin dan mineral. Di Indonesia sendiri, masalah kurang gizi pada anak masih menjadi perhatian yang serius.

Berdasarkan data Riskesdas 2013, jumlah anak balita yang menderita gizi kurang yakni sebesar 13,9 persen, pendek (stunting) sebesar 19,2 persen, dan kurus (wasting) sebesar 6,8 persen.

Apa saja gejala umum ketika anak kurang gizi?

anak lemas

Anak yang mengalami kurang gizi dapat dilihat dari berbagai tanda-tanda yang muncul, yakni:

  • Nafsu makan rendah
  • Anak mengalami gagal tumbuh (dilihat dari berat badan, tinggi badan, atau keduanya yang tidak sesuai dengan umurnya)
  • Kehilangan lemak dan massa otot tubuh.
  • Kekuatan otot tubuh menghilang.
  • Sangat mudah untuk marah, terlihat lesu, bahkan dapat menangis secara berlebihan.
  • Mengalami kecemasan dan kurang perhatian terhadap lingkungan sekitar.
  • Sulit berkonsentrasi dengan baik.
  • Kulit dan rambut kering, bahkan rambut mudah sekali rontok.
  • Pipi dan mata tampak cekung.
  • Proses penyembuhan luka sangat lama.
  • Rentan terserang penyakit, dengan proses penyembuhan yang cenderung lama.
  • Risiko komplikasi meningkat jika melakukan operasi.

Bukan tidak mungkin juga, perkembangan dalam hal perilaku dan kemampuan intelektual anak terbilang sangat lambat. Bahkan, anak bisa sampai mengalami kesulitan belajar ketika asupan gizi dalam tubuhnya kurang.

Singkatnya, anak yang mengidap kurang gizi biasanya memiliki satu atau lebih dari gejala tersebut. Namun, beberapa jenis kondisi kurang gizi umumnya juga punya gejala khasnya masing-masing.

Apa saja permasalahan kekurangan gizi pada anak?

Menurut WHO, ada berbagai permasalahan yang timbul ketika anak mengalami kurang gizi (undernutrition), meliputi:

1. Berat badan kurang (underweight)

anak timbang berat badan

Berat badan anak kurang atau underweight ditandai ketika berat badan anak tidak setara dengan berat normal di kelompok usianya.

Namun, kondisi ini juga menunjukkan ketidakselarasan antara berat dan tinggi badan anak. Dalam arti, berat anak biasanya terlalu ringan untuk ukuran tinggi badan yang dimilikinya.

Oleh karena, berat badan kurang dapat diukur dengan menggunakan indikator berat badan berbanding dengan usia (BB/U) atau berbanding dengan tinggi badan (BB/TB).

Anak dikatakan memiliki berat badan kurang ketika nilai pengukuran z score di grafik pertumbuhan berada di antara <-2 SD sampai -3 standar deviasi (SD).

Selain tubuh yang kurus, gejala khas lainnya yang muncul ketika berat badan anak kurang yakni rentan sekali terserang penyakit.

2. Kurus (wasting)

anak kurang gizi

Berbeda dengan berat badan kurang (underweight), anak yang sangat kurus (wasting) memiliki berat yang sangat rendah dan tidak sesuai dengan tinggi badan. Berat badan anak yang mengalami wasting biasanya jauh berada di bawah rentang normal yang seharusnya.

Indikator yang digunakan untuk menilai kemungkinan wasting pada anak yakni berat badan berbanding dengan tinggi badan (BB/TB). Kondisi anak kurang gizi berat juga kerap digunakan untuk menggambarkan wasting. Pasalnya, anak yang bertubuh sangat kurus biasanya sudah tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup dalam waktu lama.

Bahkan, anak tersebut juga bisa saja mengalami penyakit yang berhubungan dengan kehilangan berat badan, misalnya diare.

Gejala khas yang mudah terlihat jika anak mengalami wasting yaitu memiliki tubuh yang sangat kurus karena berat badannya sangat rendah.

3. Pendek (stunting)

anak stunting sebagai tanda kurang gizi

Pendek (stunting) adalah kondisi yang membuat pertumbuhan tubuh anak terganggu, sehingga tinggi badan anak tidak normal atau tidak setara dengan teman-teman seusianya.

Stunting tidak terjadi dalam waktu singkat, melainkan sudah terbentuk sejak lama karena tidak tercukupinya kebutuhan nutrisi anak selama masa pertumbuhan.

Selain asupan gizi, stunting juga disebabkan oleh penyakit infeksi berulang serta berat badan lahir rendah (BBLR). Sejak anak berusia 3 bulan, kondisi stunting umumnya sudah mulai meningkat, hingga prosesnya semakin melambat saat anak berusia sekitar 3 tahun.

Mulai sejak inilah grafik pertumbuhan tinggi badan anak bergerak mengikuti grafik normal, tapi dengan penilaian yang berada di bawah normal.

Indikator yang digunakan untuk menilai kemungkinan stunting pada anak yakni tinggi badan berbanding dengan usia (TB/U).

Anak dinyatakan bertubuh stunting jika grafik pertumbuhan tinggi badan sesuai usianya berada di angka kurang dari -2 SD. Ada berbagai gejala stunting yang biasanya tampak pada anak.

Mulai dari perawakan tubuh yang jauh lebih pendek ketimbang teman-teman sebayanya, berat badan rendah untuk anak seusianya, serta pertumbuhan tulang yang lambat.

4. Kekurangan vitamin dan mineral

anak kurang gizi

Defisiensi vitamin dan mineral pada anak, terjadi karena kurangnya asupan gizi yang optimal sesuai dengan kebutuhannya.

Bahkan bukan anak kurang gizi saja yang bisa mengalami kekurangan vitamin dan mineral, tapi anak dengan berat badan normal pun punya risiko yang sama. Tanda kekurangan vitamin menjadi salah satu kondisi anak kurang gizi.

Padahal, berbagai vitamin dan mineral punya peran yang tidak main-main di dalam tubuh. Zat gizi mikro tersebut bisa membantu kerja seluruh organ tubuh, termasuk otak.

Kondisi kurang gizi terkait vitamin dan mineral sebenarnya bisa terjadi karena tubuh anak tidak memperolah cukup asupan vitamin dan mineral jenis apa pun.

Akan tetapi, mengutip dari WHO, beberapa jenis kekurangan vitamin dan mineral yang paling umum yaitu:

Vitamin A

Kekurangan vitamin A terjadi ketika asupan vitamin A anak dari makanan harian tidak mampu mencukupi kebutuhannya.

Kondisi tersebut bisa semakin memburuk jika anak rentan terserang penyakit infeksi, seperti diare dan campak.

Sulit melihat di malam hari merupakan salah satu gejala khas karena kekurangan vitamin A. Dalam kondisi yang lebih parah, kekurangan vitamin A pada anak bisa mengakibatkan kebutaan karena rusaknya bagian retina dan kornea mata.

Jika tidak segera diatasi, anak yang kekurangan vitamin A berisiko mengalami masalah pernapasan dan penyakit infeksi. Di sisi lain, kondisi ini juga mengarah pada terhambatnya laju pertumbuhan serta perkembangan tulang anak.

Ketika anak mengalami kekurangan vitamin A, beberapa gejala yang muncul meliputi:

  • Kulit dan mata kering
  • Pertumbuhan terhambat
  • Penglihatan anak kurang optimal pada malam hari atau saat kondisi cahaya redup
  • Infeksi pada saluran pernapasan
  • Proses penyembuhan luka lambat

Segera konsultasikan ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Zat besi

Kurangnya asupan mineral zat besi berisiko membuat anak mudah terkena anemia. Kurang darah atau anemia terjadi ketika simpanan zat besi yang ada di dalam darah habis, serta persediaannya di dalam otot sangat sedikit.

Jika sudah sampai mengalami anemia, artinya kondisi kekurangan zat besi yang dialami anak tergolong parah. Dengan kata lain, kadar hemoglobin dan hematokrit yang ada di dalam sel darah merah telah berada di bawah nilai normal atau cut off.

Selain karena kadar zat besi yang kurang, anemia juga bisa disebabkan oleh kondisi peradangan dan perdarahan. Kekurangan mineral zat besi pada anak berisiko menurunkan produktivitas hariannya, serta perkembangan fisik dan kognitifnya.

Jika benar anak mengalami kurang gizi karena zat besi, berbagai gejala yang akan terlihat seperti:

  • Kulit pucat
  • Mudah lelah
  • Pertumbuhan dan perkembangan lambat
  • Nafsu makan menurun
  • Merasa kesulitan dalam bernapas
  • Sering mengalami penyakit infeksi
  • Keinginan untuk makan makanan tertentu meningkat, seperti es krim, sumber karbohidrat, atau lainnya

Segera konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Yodium

Yodium adalah jenis mineral yang penting untuk mendukung produksi hormon tiroid, tiroksin, dan triodotyronine. Kurang yodium bisa membahayakan kesehatan tubuh dan gizi anak, bahkan pada kelangsungan hidupnya.

Berbagai gejala kekurangan yodium pada anak seperti:

  • Pembengkakan di leher (gondok)
  • Kelelahan parah
  • Rambut mudah rontok
  • Kulit kering
  • Detak jantung melambat
  • Kesulitan dalam belajar dan berkonsentrasi

Apabila anak Anda menunjukkan tanda-tanda seperti yang disebutkan sebelumnya, sebaiknya segera bawa anak Anda ke dokter.

Dokter akan memeriksanya lebih lanjut untuk mengetahui penyebab dan cara penanganan yang tepat sesuai kondisi anak.

Bagaimana cara mengatasi kurang gizi pada anak?

kekurangan gizi pada anak

Sebenarnya penanganan kurang gizi pada anak akan disesuaikan kembali dengan tingkat keparahan dan kondisi khusus yang dialami masing-masing anak. Adanya komplikasi yang turut menyerati gizi kurang juga akan menjadi pertimbangan tersendiri.

Namun secara umumnya, berikut beragam pengobatan yang dapat dilakukan untuk memulihkan anak yang kurang gizi:

Pengaturan pola makan

Seorang dokter dan ahli gizi dapat merekomendasikan pola makan yang sehat dan bergizi yang akan membantu memenuhi kebutuhan gizi harian anak. Di samping itu, cara ini secara perlahan juga akan membantu memulihkan kembali kondisi anak.

Pasalnya, anak yang kurang gizi, entah karena wastingstuntingunderweight, atau kekurangan vitamin dan mineral, membutuhan perhatian khusus.

Jumlah tambahan kalori dan berbagai zat gizi lainnya untuk anak biasanya jauh lebih banyak ketimbang anak-anak seusianya yang tidak mengalami kurang gizi.

Pemantauan secara berkala

Rutin memeriksaan kondisi kesehatan anak bisa membantu memastikan asupan kalori dan nutrisi hariannya sudah tepat. Jika di tengah-tengah pengobatan kebutuhan nutrisi harian anak mengalami perubahan, dokter dapat menyarankan penyesuaian kebutuhan anak yang seharusnya.

Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah kurang gizi pada anak?

anak kurang gizi

Intinya, Anda sebagai orangtua harus berusaha memenuhi kebutuhan gizi anak agar tidak kurang. Ingat, anak sedang dalam masa pertumbuhan, jadi kebutuhan gizinya cukup tinggi.

Berikan selalu anak makanan dengan gizi seimbang yang terdiri dari empat kelompok makanan utama, yaitu:

  • Buah-buahan dan sayuran, setidaknya berikan anak 5 porsi per hari.
  • Makanan sumber karbohidrat, yaitu nasi, kentang, roti, pasta, dan sereal.
  • Makanan sumber protein, yaitu daging, telur, ayam, ikan, kacang-kacangan dan produknya.
  • Susu dan produk susu, seperti keju dan yogurt.

Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan anak Anda serta memantau pertumbuhan dan perkembangannya. Bawa anak ke Posyandu, Puskesmas, atau klinik kesehatan setiap bulan untuk melakukan penimbangan.

Berikan imunisasi lengkap pada anak untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak sehingga anak terhindar dari penyakit infeksi. Berikan juga kapsul vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus sampai anak berusia 5 tahun.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perkembangan Anak Usia 12 Tahun, Apakah Sudah Sesuai?

Memasuki usia 12 tahun, anak Anda masih akan mengalami berbagai tahapan perkembangan yang baru. Apa saja yang akan dialami anak pada usia ini?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Annisa Hapsari

Perkembangan Anak Usia 11 Tahun, Apakah Sudah Sesuai?

Pada usia 11 tahun, anak akan mengalami tahapan perkembangan baru yang meliputi fisik, kognitif, psikologi, dan bahasa. Apa saja yang dialami anak saat itu?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Annisa Hapsari
Kesehatan Anak, Parenting April 30, 2020

Cara Mengajari Anak Menulis dengan Baik dan Rapi

Saat masuk sekolah dasar (SD), kadang anak belum mampu menulis dengan baik dan rapi. Berikut cara mengajari anak menulis yang dapat Anda lakukan.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Annisa Hapsari
Parenting, Tips Parenting April 27, 2020

Perkembangan Anak Usia 9 Tahun, Apakah Sudah Sesuai?

Perkembangan anak usia 9 tahun mencakup perkembangan fisik, kognitif, emosional, sosial, dan bahasa. Apa saja yang dialami anak pada usia ini?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Annisa Hapsari
Kesehatan Anak, Parenting April 26, 2020

Direkomendasikan untuk Anda

Manfaat Protein Whey untuk Daya Tahan Tubuh Anak

Manfaat Protein Whey untuk Daya Tahan Tubuh Anak

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh Roby Rizki
Tanggal tayang Mei 22, 2020
Tahap-tahap Perkembangan Anak Usia 6-12 Tahun

Tahap-tahap Perkembangan Anak Usia 6-12 Tahun

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Annisa Hapsari
Tanggal tayang Mei 14, 2020
6 Tips Agar BAB Anak Lancar dan Tidak Keras

6 Tips Agar BAB Anak Lancar dan Tidak Keras

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh Maria Amanda
Tanggal tayang Mei 14, 2020
Peran dan Manfaat Nutrisi dalam Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Anak

Peran dan Manfaat Nutrisi dalam Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Anak

Ditulis oleh Roby Rizki
Tanggal tayang Mei 4, 2020