3 Penyebab Bayi Muntah Setelah Menyusui Beserta Cara Penanganannya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Bayi normalnya akan merasa kenyang dan senang usai menyusu. Sayangnya, ada beberapa bayi yang justru merasa tidak nyaman, dan akhirnya muntah setelah selesai menyusui. Kenapa kondisi ini bisa terjadi, dan bagaimana cara yang tepat untuk menanganinya?

Apa penyebab bayi muntah setelah menyusui?

Sumber: Baby Center

Ibu mana yang tidak cemas ketika melihat buah hatinya menunjukkan ekspresi wajah tidak nyaman, dan beberapa saat kemudian muntah setelah menyusui. Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan si kecil muntah.

Namun jika muntah pada bayi terjadi setelah menyusui, berikut beberapa kemungkinan penyebabnya:

1. Terlalu banyak menyusu

Bayi memang sangat dianjurkan untuk minum ASI selama usia 6 bulan pertama, atau disebut juga dengan ASI eksklusif. Dengan catatan, jumlah ASI dalam sekali minum sebaiknya dalam porsi yang cukup, alias tidak terlalu sedikit atau berlebih.

Minum ASI dalam jumlah yang terlampau banyak justru dapat membuat bayi merasa kekenyangan. Sama halnya seperti orang dewasa yang terlalu banyak makan, perut bayi yang kebanyakan menyusu juga bisa terasa begah dan kurang nyaman.

Oleh karena merasa tidak nyaman, bayi akan otomatis memuntahkan ASI yang terlalu banyak diminumnya. ASI yang dimuntahkan usai menyusu ini bisa dalam jumlah sedikit maupun banyak.

Hanya saja, kasus muntah setelah selesai menyusui ini tidak selalu dialami oleh setiap bayi. Mungkin beberapa bayi jarang mengalaminya atau bahkan tidak pernah muntah setelah menyusu sama sekali. Namun, sebagian bayi lainnya bisa cukup sering mengalami ini.

2. Gastro-esophageal reflux (GERD)

Muntah sebenarnya bukanlah kondisi yang membahayakan. Namun dalam beberapa kondisi tertentu, muntah bisa menandakan adanya kondisi medis yang berbahaya.

Salah satu penyebab bayi muntah setelah menyusui bisa jadi karena ia mengalami gastro-esophageal reflux (GERD). GERD pada bayi terjadi ketika gas dan asam lambung dari dalam perut bayi, naik kembali ke kerongkongan.

Kenaikan asam lambung ini disebabkan oleh otot-otot pada katup kerongkongan, yang seharusnya menutup, justru rileks dan mudah terbuka.

Padahal normalnya, katup kerongkongan baru akan terbuka saat ada makanan atau minuman yang akan masuk ke dalam mulut. Inilah salah satu alasan mengapa si kecil muntah, entah itu selama ataupun setelah menyusui.

Jika si kecil memang mengalami GERD, gejalanya bisa muncul kapan saja. Namun, biasanya paling cepat terlihat dalam kurun waktu sekitar 1 bulan setelah kelahiran.

3. Alergi terhadap makanan atau minuman tertentu

Bayi yang sedang menyusu ASI eksklusif tentu tidak mengonsumsi makanan maupun minuman lainnya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bayi bisa mengalami alergi atau sensitif terhadap makanan dan minuman tertentu.

Hal ini biasanya dikarenakan ada makanan atau minuman yang Anda konsumsi sebelumnya, dan kemudian tercampur bersama ASI. Akibatnya, bayi meminum ASI yang telah bercampur bersama makanan dan minuman tertentu.

Jika kadarnya terlalu banyak di dalam ASI dan bayi merasa tidak nyaman, ia bisa saja mengalami muntah setelah selesai menyusui.

Bedakan muntah dan gumoh pada bayi

jadwal menyusui bayi

Muntah dan gumoh sekilas tampak sama. Ini karena muntah dan gumoh sama-sama membuat bayi mengeluarkan ASI yang biasanya terjadi setelah menyusui.

Meski begitu, sebenarnya muntah dan gumoh adalah dua hal yang berbeda. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), gumoh adalah keluarnya ASI dalam jumlah tertentu usai menyusui.

Ketika bayi mengalami gumoh, ASI yang sudah ada di dalam mulutnya akan mengalir keluar dengan sendirinya. Biasanya, gumoh kerap dialami oleh bayi yang berusia kurang dari 1 tahun, dengan jumlah ASI yang keluar sekitar 1-2 sendok.

Ibu tak perlu cemas, karena gumoh pada dasarnya normal dialami oleh bayi dan tidak menandakan adanya gejala atau kondisi medis lainnya.

Bahkan, bayi yang mengalami gumoh masih bisa terlihat aktif, nyaman, tidak mengalami masalah pernapasan, dan berat badannya juga dapat terus meningkat. Lama waktu terjadinya gumoh yakni sekitar kurang dari 3 menit.

Sedangkan muntah, tidak keluar dengan sendirinya. Melainkan membutuhkan usaha untuk mengeluarkan ASI yang sudah masuk ke dalam mulut, atau bahkan perut bayi.

Bayi biasanya terlihat seperti sedang mengejan, rewel, dan tidak nyaman. Hal ini bisa menandakan sedang ada yang tidak beres dengan sistem pencernaan bayi.

Bagaimana cara menangani bayi yang muntah setelah menyusui?

perawatan payudara bagi ibu menyusui cara menjaga kesehatan payudara

Bayi yang muntah setelah menyusui biasanya ditangani dengan cara yang berbeda-beda, tergantung penyebabnya. Bila muntah setelah menyusu muncul karena terlalu banyak jumlah ASI yang diminum, otomatis solusinya adalah mengurangi jumlah ASI.

Bukan berarti Anda harus membatasi jumlahnya. Hanya saja, pastikan bayi menyusu secukupnya, agar tidak membuatnya merasa kekenyangan.

Selain itu, jika muntah yang dialami si kecil disebabkan oleh GERD, biasanya si kecil bisa sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Namun, Anda bisa membantu memperbaiki asam lambung yang naik, dengan menempatkan bayi pada posisi duduk saat menyusui. Begitu pula setelah selesai menyusui, hindari langsung menidurkan bayi.

Pasalnya, hal ini justru dapat membuat asam lambung dengan mudah naik kembali ke kerongkongan. Sebagai solusinya, usahakan bayi tetap dalam posisi duduk sekitar 30 menit usai menyusu.

Berbeda lagi apabila kondisi muntah yang dialaminya setelah menyusu karena sensitif terhadap makanan dan minuman tertentu. Dalam hal ini, sebaiknya cari tahu makanan atau minuman apa yang mengganggu bayi.

Sebab seperti yang telah disinggung sebelumnya, makanan dan minuman yang Anda konsumsi bisa ikut tercampur bersama ASI. Jadi, ada baiknya untuk mengurangi atau menghindari konsumsi makanan dan minuman yang sensitif pada bayi.

Bagaimana aturan menyusui bayi kembali setelah muntah?

ibu menyusui minum es

Sah-sah saja untuk menyusui bayi kembali setelah muntah. Dengan catatan, ada aturan yang harus Anda perhatikan. Usahakan untuk terus menyusui si kecil setiap dua jam sekali, dengan lama waktu sekitar 10-15 menit dalam sekali menyusu.

Lakukan hal ini secara terus-menerus, sampai bayi berhasil tidak muntah lagi selama 8 jam. Setelah itu, baru Anda boleh kembali menyusui si kecil sesuai jadwal normalnya.

Misalnya sekitar 8-12 kali dalam sehari untuk usia bayi 1 bulan dan 7-9 kali sehari ketika usianya telah menginjak 2 bulan. Sementara di usia 3, 4, dan 5 bulan, frekuensi bayi menyusu bisa mencapai 7-8 kali sehari.

Berbeda dengan usia 6 bulan yang mengalami sedikit penurunan dalam frekuensi menyusui, yakni 4-6 kali dalam satu hari. Selanjutnya, amati terus perkembangan si kecil, sampai kondisinya membaik dan tidak lagi muntah usai menyusu.

Kapan harus membawa bayi ke dokter?

Meski bukan kondisi yang begitu membahayakan, tapi jangan tunda untuk segera memeriksakan si kecil ke dokter jika muntah disertai dengan gejala seperti:

  • Frekuensi muntah sangat sering.
  • Jumlah muntah sangat banyak.
  • Bayi muntah disertai rewel, demam, dan perut kembung.
  • Tidak mau menyusu.
  • Tidak mengalami peningkatan berat badan, atau berat badan justru menurun.
  • Cairan muntah berwarna kuning, hijau, atau bahkan mengandung darah.
  • Muntah semakin parah setiap kali selesai makan.

Berbagai tanda-tanda tersebut menunjukkan bahwa muntah pada bayi setelah menyusui bukan lagi hal yang sepele. Dokter akan membantu mencari tahu penyebab, sekaligus penanganan yang tepat sesuai dengan kondisi si kecil.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca