Apa Penyebab Penyakit Kuning Pada Bayi yang Baru Lahir?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 26/12/2019
Bagikan sekarang

Pernahkah Anda melihat kulit bayi yang baru lahir berwarna kuning? Atau, mungkin anak Anda yang baru lahir mengalami hal tersebut? Namun, sebaiknya Anda jangan khawatir. Ini merupakan hal yang normal terjadi pada bayi baru lahir. Sekitar 60% bayi baru lahir mempunyai warna kulit yang agak kekuningan. Hal ini biasa disebut dengan jaundice atau ikterus atau penyakit kuning pada bayi.

Apa itu penyakit kuning?

Jaundice atau ikterus atau di Indonesia lebih dikenal sebagai penyakit kuning pada bayi adalah perubahan warna pada kulit dan mata bayi yang baru lahir menjadi kuning. Jaundice biasa terjadi pada bayi baru lahir, terutama pada bayi prematur dan bayi yang mengalami ketidakcukupan cairan.

Jaundice bisa hilang dengan sendirinya atau dengan pengobatan ringan selama satu atau dua minggu. Atau, juga bisa membutuhkan waktu sampai dua bulan pada bayi prematur. Namun, jaundice juga bisa menjadi penyakit yang lebih serius, dalam kasus yang sangat jarang. Penyakit jaundice yang berat atau yang tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan otak yang disebut dengan kern-ikterus. Hal ini dapat menyebabkan masalah seumur hidup yang serius.

Apa yang menyebabkan penyakit kuning?

Penyakit kuning terjadi karena darah bayi mengalami kelebihan bilirubin, yaitu pigmen berwarna kuning pada sel darah merah. Bilirubin merupakan produk sampingan yang dibuat saat tubuh memecah sel darah merah yang sudah tua. Bilirubin ini akan dihilangkan dari darah oleh hati dan pada akhirnya akan dikeluarkan tubuh melalui feses.

Pada saat bayi masih dalam kandungan, tugas tersebut dilakukan oleh organ hati ibu. Namun, setelah bayi lahir, bayi harus melakukan pekerjaan tersebut sendiri. Nah, karena bayi baru lahir, hati bayi masih membutuhkan waktu untuk memulai pekerjaan barunya tersebut, sehingga belum siap untuk memecah bilirubin. Akhirnya, bilirubin menumpuk di darah bayi dan menyebabkan kulit dan mata bayi menguning.

Pada bayi prematur, tentu organ hatinya belum matang, sehingga ia lebih mungkin untuk mengalami jaundice. Jaundice juga lebih mungkin terjadi pada bayi yang mengalami ketidakcukupan cairan. Hal ini bisa terjadi karena ketidakcukupan cairan dapat menyebabkan kadar bilirubin dalam darah meningkat, sehingga menyebabkan jaundice.

Jaundice juga bisa disebabkan oleh hal lain, seperti infeksi, kekurangan enzim, masalah pada sistem pencernaan bayi (terutama hati), atau masalah pada jenis darah ibu dan bayi (inkompatibilitas Rh), tetapi hal ini jarang terjadi. Bayi Anda mungkin bisa mengalami masalah ini jika jaundice muncul kurang dari satu hari setelah lahir. Pada bayi sehat, jaundice biasanya baru muncul beberapa hari (2/ 3 hari) setelah bayi lahir.

Jaundice yang disebabkan oleh masalah rhesus (Rh) darah ibu terjadi karena ibu dan bayi memiliki jenis darah yang berbeda, sehingga tubuh ibu akan menghasilkan antibodi yang dapat melawan sel darah merah bayi. Hal ini juga akan menyebabkan penumpukan bilirubin dalam darah bayi. Sebenarnya, hal ini bisa dicegah dengan cara memberikan ibu suntikan Rh immune-globulin.

Apa saja yang bisa menjadi tanda penyakit kuning?

Bayi yang mempunyai penyakit kuning akan menunjukkan tanda seperti:

  • Warna kulit bayi akan menguning, pertama akan di mulai dari wajah, kemudian dada, perut, dan kaki
  • Bagian putih pada mata bayi juga akan menguning

Untuk mengetahuinya, Anda bisa menekan dengan lembut dahi atau hidung bayi. Jika kulit bayi yang Anda tekan tampak menguning setelahnya, mungkin bayi Anda mempunyai jaundice ringan.

Bayi yang mempunyai kadar bilirubin tinggi dalam darah, biasanya juga akan menunjukkan tanda-tanda seperti kurang bisa mengisap payudara ibu dengan baik (isapannya lebih lamban), bayi menjadi rewel atau gelisah, dan bisa sampai menangis dengan nada tinggi.

Apa obat untuk penyakit kuning?

Sebagian besar penyakit kuning dapat sembuh dengan sendirinya sehingga tidak perlu pengobatan. Anda bisa membantu mengurangi jaundice pada bayi dengan cara memenuhi kebutuhan nutrisi bayi. Memberi bayi asupan yang memadai dapat membantu kerja tubuh bayi dalam menghilangkan kelebihan bilirubin. Pastikan Anda menyusui bayi setidaknya 8-12 kali dalam sehari.

Namun, beberapa bayi dengan jaundice juga perlu menerima pengobatan. Bayi dengan jaundice bisa diobati dengan terapi cahaya (fototerapi), ini sangat aman dan efektif. Bayi akan ditempatkan dalam boks bayi yang disinari dengan sinar ultraviolet berwarna biru. Sinar ultraviolet ini akan diserap oleh kulit bayi yang akan membantu mengubah bilirubin ke dalam bentuk yang lebih mudah untuk dibuang oleh tubuh bayi melalui air seninya. Saat disinari, tubuh bayi tidak ditutupi oleh sesuatu apapun (telanjang), tetapi mata bayi ditutupi dengan penutup mata.

Fototerapi cukup efektif dalam mengobati jaundice pada bayi. Namun, jika bayi dengan jaundice terus mengalami peningkatan kadar bilirubin walaupun sudah melakukan fototerapi, perawatan intensif mungkin perlu dilakukan pada bayi. Bayi mungkin perlu melakukan transfusi darah yang dapat menggantikan darah bayi yang mengandung kadar bilirubin tinggi dengan darah donor yang mengandung kadar bilirubin normal.

 

BACA JUGA

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Berat Badan Bayi Ideal Usia 0-12 Bulan

    Berat badan bayi ideal merupakan patokan utama terhadap kualitas perkembangan dari bayi. Berapa seharusnya berat badan bayi di satu tahun pertamanya?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

    Berbagai Bahaya yang Ditimbulkan Akibat Melakukan Aborsi Sendiri

    Tahukah Anda, bahwa melakukan aborsi sendiri dapat menyebabkan munculnya penyakit ganas pada sang ibu? Itulah penyebab utama dari kematian ibu di dunia.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Adinda Rudystina
    Melahirkan, Kehamilan 01/04/2020

    Mencegah Anak Shopaholic, Begini Caranya

    Anak menjadi kecanduan belanja atau shopaholic memang merepotkan. Kita harus mencegahnya agar tidak terbiasa hingga dewasa. Berikut tips mencegahnya.

    Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Ihda Fadila

    5 Langkah Cerdas Menjelaskan COVID-19 dan Penyakit Pandemi pada Anak

    Ditetapkannya COVID-19 sebagai pandemi global oleh WHO meningkatkan kewaspadaan masyarakat, termasuk orangtua. Bagaimana menjelaskan COVID-19 ke anak?

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Coronavirus, COVID-19 16/03/2020

    Direkomendasikan untuk Anda

    memilih hewan untuk anak

    Tidak Perlu Bingung Pilih Hewan Peliharaan untuk Anak, Ini 5 Tips dan Manfaatnya

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 10/05/2020
    frekuensi normal BAB bayi baru lahir

    Begini Frekuensi Normal BAB Bayi yang Baru Saja Lahir

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 27/04/2020
    susu formula yang tidak bikin sembelit untuk bayi anak

    Pilihan Susu Formula Agar Bayi Tidak Sembelit

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 22/04/2020
    perkembangan psikologi anak

    Mendidik Anak yang Sukses, Lakukan Tips Berikut Ini!

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha
    Dipublikasikan tanggal: 11/04/2020