Bukan Hanya Ibu, Ini 6 Masalah Bayi Saat Menyusui yang Mungkin Terjadi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29/07/2020 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Adanya masalah yang tidak biasa pada bayi saat menyusui mungkin membuat ibu cemas dan khawatir. Ya, bukan hanya masalah ibu menyusui yang bisa terjadi, bayi juga dapat mengalami satu atau lebih perubahan. Apa saja masalah bayi saat menyusui dan bagaimana cara mengatasinya? Simak ulasan lengkapnya di bawan ini, ya!

Berbagai masalah bayi saat menyusui

Sejak bayi lahir, cara menyusui yang tepat sudah mulai diterapkan ibu demi memastikan buah hatinya mendapatkan manfaat ASI secara optimal.

Ini karena kandungan ASI penting untuk mendukung tumbuh kembang bayi sejak ia lahir, tak terkecuali ASI eksklusif selama enam bulan.

Namun, meski ada berbagai mitos ibu menyusui dan tantangan menyusui, ternyata bayi juga bisa mengalami satu atau beberapa masalah saat menyusui.

Agar tak mudah cemas, berikut beragam masalah bayi saat menyusui:

1. Berkeringat saat menyusu

Masalah bayi saat menyusui yang kerap terlihat yakni tubuhnya berkeringat selama menyusu. Saat sedang menyusui, Anda dan si kecil berada dalam jarak yang sangat dekat.

Bahkan, Anda dan bayi bisa dikatakan saling menempel dan bersentuhan antara kulit dengan kulit.

Hal ini akan membuat bayi merasa hangat, terlebih setelah menyusu cukup lama, maka panas dalam tubuh bayi akan semakin meningkat.

Nah, supaya tetap merasa nyaman, tubuh si kecil akan secara alami menurunkan suhu badannya saat itu.

Proses pendinginan tubuh secara alami ini merangsang tubuh untuk mengeluarkan panas dalam bentuk keringat.

Akhirnya, bayi pun berkeringat saat menyusu.

Jadi, sebenarnya bayi berkeringat saat menyusu itu masih tergolong normal dan tidak perlu dikhawatirkan.

Dengan catatan, keringat yang dihasilkan dari tubuh si kecil dalam jumlah yang wajar dan tidak berlebihan.

Sebaliknya, keringat yang berlebihan bisa menandakan adanya masalah kesehatan pada buah hati Anda.

Masalah keringat bayi yang tampak berlebihan saat menyusui bisa menjadi tanda awal adanya penyakit infeksi dan penyakit jantung bawaan.

Di sisi lain, bayi berkeringat saat menyusu juga bisa menjadi gejala adanya gangguan fungsi kelenjar tiroid bayi, misalnya hipertirodisme.

Perhatikan tanda yang tidak normal ketika bayi berkeringat saat menyusu:

  • Kesulitan bernapas saat menyusu
  • Tampak lelah saat menyusu
  • Menolak menyusu

Cara mengatasi bayi berkeringat saat menyusu

Bila keringat yang dialami bayi normal dan tidak disebabkan oleh masalah kesehatan tertentu, beberapa tips berikut bisa membantu agar ia merasa lebih nyaman saat menyusu:

Pastikan bayi mengenakan pakaian yang menyerap keringat

Misalnya saat cuaca sedang panas, biarkan ia memakai pakaian berbahan katun yang dapat menyerap keringat.

Hindari penggunaan topi atau penutup kepala lainnya saat sedang menyusui di rumah karena membiarkan kepalanya terbuka akan membantu menjaga suhu tubuhnya dalam keadaan normal.

Begitu pula saat cuaca dingin, beri ia pakaian yang sesuai agar membuatnya tetap nyaman bergerak.

Ibu juga harus mengenakan pakaian yang nyaman

Selama menyusui, bayi sangat dekat dengan Anda. Maka itu, penting untuk senantiasa memilih pakaian dengan bahan yang nyaman saat digunakan.

Pastikan bahan pakaian Anda dapat menyerap keringat dengan baik, serta sejuk dan lembut untuk bayi untuk mengatasi masalah bayi berkeringat saat menyusui.

Perhatikan suhu ruangan

Pastikan suhu ruangan nyaman untuk si kecil, tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin.

Ini akan membuat bayi lebih nyaman dan mencegahnya merasa sesak di dalam ruangan.

Pastikan posisi bayi nyaman saat menyusui

Kadang saat menyusui, tubuh dan kepala bayi berada dalam posisi yang sama untuk waktu yang lama. Kondisi ini bisa memicu kenaikan suhu pada wajah dan tubuhnya sehingga panas dan banyak mengeluarkan keringat.

Pastikan Anda menyesuaikan dengan posisi menyusui bayi yang nyaman.

2. Bayi sakit

obat sakit kepala untuk ibu menyusui

Masalah lain yang juga bisa dialami bayi saat menyusui yaitu sakit. Bayi sakit saat menyusui merupakan masalah yang kerap kali terjadi.

Meski begitu, Anda tidak perlu khawatir karena bayi bisa tetap menyusu ASI sembari diberikan obat sesuai dengan arahan dokter.

Bahkan, menyusui saat bayi sakit dapat membantu mempercepat penyembuhannya berkat adanya antibodi di dalam ASI.

Kebutuhan gizi harian bayi juga tetap dapat terpenuhi karena ASI mengandung nutrisi dan cairan yang pas untuk bayi.

ASI juga cenderung lebih mudah dicerna ketimbang susu formula sehingga tidak memperparah kondisi bayi, misalnya saat ia mengalami diare dan muntah.

Tergantung dari jenis penyakitnya, Anda mungkin akan melihat perubahan pada bayi mengalami masalah sakit saat menyusui.

Cara mengatasi masalah bayi sakit saat menyusui

Bayi yang sedang sakit biasanya sedikit minum ASI sehingga waktu menyusu menjadi lebih singkat di setiap jadwal menyusui hariannya.

Jika bayi sedikit minum ASI atau tidak terlalu lama saat menyusui, cara berikut bisa Anda coba untuk mengatasi masalah bayi yang sakit:

  • Terus tawarkan bayi Anda untuk menyusui sesering mungkin
  • Perhatikan apakah popok bayi basah dan awasi kemungkinan tanda-tanda dehidrasi
  • Pompa ASI Anda untuk mencegah pembengkakan payudara dan menjaga produksi ASI
  • Segera konsultasikan ke dokter agar bayi Anda bisa segera sembuh

Pastikan Anda menerapkan cara menyimpan ASI yang tepat setelah dipompa guna menjaga kualitasnya.

3. Masalah bayi tongue tie saat menyusui

Pilihan obat batuk untuk ibu menyusui

Tongue tie adalah kelainan bawaan pada lidah sejak bayi lahir. Lidah yang normal memiliki jaringan ikat yang panjang yang menyambungkan bagian bawah lidah dan dasar mulut.

Sementara pada bayi dengan tongue tie, jaringan ikat tersebut pendek sehingga pergerakan lidah dan mulut menjadi terbatas. 

Alhasil, bayi yang mengalami tongue tie bisa mengalami kesulitan ketika menyusu. Inilah mengapa tongue tie termasuk satu dari beberapa masalah bayi saat menyusui.

Bayi yang mengalami tongue tie biasanya sulit menempatkan lidah di bawah puting susu ibu karena pergerakan lidah terbatas.

Hal ini membuat puting susu ibu kerap mengalami nyeri, cedera, atau luka karena tergesek langsung dengan gusi bayi.

Dari sisi bayi, mempertahankan posisi untuk bisa terus melekat pada payudara ibu juga melelahkan. Itu sebabnya, bayi yang memiliki tongue tie hanya bisa menyusu sebentar.

Melansir dari Mayo Clinic, karena hanya menyusu sebentar, bayi akan cepat lapar kembali sehingga frekuensi menyusu menjadi semakin sering.

Ibu akan semakin sulit untuk menemukan waktu istirahat di antara waktu menyusui. Selain itu, rasa sakit pada puting yang dirasakan ibu setiap kali menyusui tentu menyulitkan prosesnya

Selain menyulitkan proses menyusui, bayi dengan tongue tie juga berpengaruh pada cara bayi makan, bicara, dan menelan nantinya.

Cara mengatasi masalah tongue tie bayi saat menyusui

Pengobatan untuk mengatasi tongue tie pada bayi bisa dilakukan dengan prosedur operasi perbaikan lidah.

Namun, penanganan tongue tie guna mempermudah bayi saat menyusui sebenarnya dapat dilihat kembali saat ia menyusui.

Perhatikan apakah bayi bisa mengisap puting ibu dengan baik, tidak kesulitan saat menelan, peningkatan berat badannya normal, dan puting tidak terasa sakit.

Bila semua hal tersebut masih berjalan dengan baik, tentu tidak masalah.

Akan tetapi, jika muncul berbagai masalah terkait keluhan tongue tie pada bayi saat menyusui, mungkin diperlukan tindakan lanjut sebagai penanganan.

Sebaiknya konsultasikan lebih lanjut dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat sesuai kondisi Anda dan bayi.

4. Bingung puting

asi terlalu banyak

Bayi bingung puting adalah kondisi ketika bayi sudah terbiasa minum susu dari dot sehingga sulit untuk mencari dan melekatkan mulutnya pada puting ibu saat menyusu langsung di payudara.

Sebenarnya, setiap bayi yang lahir punya naluri bagaimana caranya mengisap dan menyusu dari puting payudara ibunya.

Namun, ketika ia sudah terbiasa dan nyaman menyusu dari dot, biasanya bayi akan mengalami bingung puting.

Hal ini karena bayi harus membuka mulutnya dan menempel dengan baik di payudara ibu agar bisa mengisap payudara ibu dengan nyaman.

Sementara bila bayi mengisap dot, ia tidak harus bersusah payah untuk menyusu. Bayi hanya tinggal membuka mulutnya dan dot kemudian menghampiri mulutnya.

Selanjutnya, susu pun akan menetes sedikit demi sedikit dari lubang dot dan bayi tidak perlu sekuat tenaga mengisap dot.

Cara mengatasi masalah bingung puting pada bayi saat menyusui

Berikut upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi bingung puting pada bayi:

Terus susui bayi dari payudara

Satu hal yang harus terus Anda lakukan agar bayi tidak mengalami bingung puting adalah terus menawarkan bayi ASI langsung dari payudara Anda.

Awalnya mungkin Anda merasa kesulitan, bayi pun merasa kesulitan untuk menempel di payudara Anda.

Namun, jika terus-terusan dicoba (tanpa memaksa bayi), hal ini dapat membantu bayi untuk menemukan posisi nyamannya untuk menyusu di payudara ibu.

Bantu bayi saat menyusu

Anda mungkin bisa membantu bayi agar lebih mudah meraih payudara Anda.

Saat mulut bayi sudah terbuka, bantu bayi agar bisa menempel dan mengisap puting payudara Anda dengan baik.

Menyusui di waktu yang tepat

Bayi harus dalam kondisi yang lapar agar ia menyusu di payudara Anda dengan baik.

Bayi yang lapar biasanya akan mengisap payudara Anda dengan semangat sehingga bisa mendapatkan ASI lebih banyak.

Kurangi penggunaan botol susu, termasuk empeng

Terus-menerus menawarkan botol susu dan empeng pada bayi dapat membuat bayi tambah kesulitan untuk bisa menyusu dengan lancar dari payudara ibu.

Untuk itu, sebaiknya kurangi frekuensi penggunaan botol susu atau empeng, terutama saat bayi masih kecil atau belum pandai menyusu di payudara ibu dengan baik.

5. Gumoh

bedanya gumoh dan muntah bayi masalah saat menyusui

Masalah menyusui lainnya yang kerap dialami bayi yakni gumoh. Muntah dan gumoh sekilas tampak sama.

Ini karena muntah dan gumoh sama-sama membuat bayi mengeluarkan ASI yang biasanya terjadi setelah menyusui.

Meski begitu, sebenarnya muntah dan gumoh setelah bayi minum ASI adalah dua hal yang berbeda.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), gumoh adalah keluarnya ASI dalam jumlah tertentu usai menyusui.

Ketika bayi mengalami gumoh, ASI yang sudah ada di dalam mulutnya akan mengalir keluar dengan sendirinya.

Biasanya, gumoh kerap dialami oleh bayi yang berusia kurang dari 1 tahun dengan jumlah ASI yang keluar sekitar 1-2 sendok.

Ibu tak perlu cemas karena gumoh pada dasarnya normal dialami oleh bayi dan tidak menandakan adanya gejala atau kondisi medis lainnya.

Bahkan, bayi yang mengalami gumoh masih bisa terlihat aktif, nyaman, tidak mengalami masalah pernapasan, dan berat badannya juga dapat terus meningkat.

Lama waktu terjadinya gumoh yakni sekitar kurang dari 3 menit.

Cara mengatasi masalah gumoh pada bayi

Berikut cara mencegah sekaligus mengatasi gumoh pada bayi saat menyusui:

  • Pastikan bayi berada pada posisi tegak setelah selesai menyusu.
  • Biasakan memberikan ASI atau susu secukupnya kepada bayi dan tidak terlalu banyak.
  • Biarkan bayi bersendawa usai menyusu.
  • Hindari memberikan tekanan pada perut bayi setelah selesai menyusu.
  • Biarkan bayi tidur dalam posisi telentang.

6. Masalah galaktosemia pada bayi saat menyusui

jadwal waktu menyusui bayi

Galaktosemia adalah sebuah penyakit genetik yang sangat langka.

Berdasarkan Boston Children’s Hospital, kondisi ini terjadi saat bayi tidak dapat memproses galaktosa menjadi glukosa karena defisiensi enzim yang disebut sebagai GALT.

Bayi yang menderita galaktosemia terlahir normal, tetapi seiring dengan meningkatnya asupan ASI maka gejala yang dialami bayi bisa semakin terlihat.

Karbohidrat pada ASI sebagian besar mengandung laktosa yang nanti dipecah menjadi galaktosa di saluran pencernaan, dan diserap ke dalam darah.

Dalam kondisi normal, galaktosa akan diubah menjadi glukosa oleh GALT di dalam darah agar dapat digunakan oleh tubuh.

Namun, pada bayi penderita galaktosemia, hal tersebut tidak terjadi sehingga galaktosa menumpuk di dalam darah. Itulah alasan di balik penyebab mengapa ibu tidak boleh menyusui bayi yang mengalami galaktosemia. 

Cara mengatasi masalah galaktosa pada bayi saat menyusui

Bayi yang mengalami galaktosemia tidak bisa makan sembarang makanan. Kondisi galaktosemia yang dialaminya mengharuskan bayi diberikan makanan khusus tanpa kandungan galaktosa.

Hal ini bertujuan untuk mencegah munculnya komplikasi parah pada bayi seperti penyakit kuning, diare, muntah, masalah pada perkembangan, hingga kematian.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Obat untuk Memulihkan Puting Susu Lecet Saat Menyusui

Perlekatan mulut bayi yang salah pada puting dapat membuatnya lecet. Agar bisa menyusui dengan lancar, ada beberapa obat untuk memulihkan puting susu lecet.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Menyusui 06/09/2019 . Waktu baca 7 menit

Perlukah Ibu Minum Suplemen Penambah ASI?

Penggunakan suplemen penambah atau pelancar ASI kerap dijadikan jalan pintas guna mengoptimalkan pemberian ASI. Sebenarnya, efektif atau tidak, ya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Menyusui 03/09/2019 . Waktu baca 6 menit

Perlukah Minum Susu Pelancar ASI Selama Menyusui?

Ada beberapa makan dan minuman yang biasanya dikonsumsi untuk membantu meningkatkan produksi ASI. Lantas, bagaimana dengan susu pelancar ASI?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Menyusui 03/09/2019 . Waktu baca 7 menit

Berapa Lama Waktu Ideal untuk Menyimpan ASI?

Lama waktu penyimpanan ASI tidak selalu sama, karena tergantung dari tempat yang digunakan. Lantas, berapa lama masa ketahanan ASI berdasarkan tempatnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Menyusui 02/09/2019 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

puasa dan perubahan yang terjadi bagi ibu yang baru setelah melahirkan

4 Kiat Jitu Agar Produksi ASI Tetap Lancar Meski Sedang Berpuasa

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 12/05/2020 . Waktu baca 4 menit
Cara menyusui bayi prematur

Ini Cara Menyusui Bayi Prematur Agar Pertumbuhannya Optimal

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 06/01/2020 . Waktu baca 7 menit
ibu dengan diabetes

Bolehkah Ibu Dengan Diabetes Menyusui Bayinya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 12/11/2019 . Waktu baca 4 menit
asi terlalu banyak

Produksi ASI Terlalu Banyak Juga Tidak Baik, Ini Masalah yang Bisa Muncul

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 18/10/2019 . Waktu baca 7 menit