5 Tanda Dehidrasi Pada Bayi dan Anak-anak

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 03/12/2019 . 5 menit baca
Bagikan sekarang

Di Indonesia, sejak tahun 1990-an, diare merupakan penyebab kematian terbanyak (23,2%) bagi bayi dan anak-anak. Menurut definisi Hippocrates, diare adalah buang air besar dengan frekuensi yang tidak normal, cenderung meningkat, konsistensi tinja menjadi lebih lembek atau cair. Definisi kemudian diperjelas oleh Departemen Kesehatan, diare adalah suatu kondisi di mana seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih dari 3x dalam satu hari.

Kenapa bayi dan anak-anak lebih rentan terkena diare?

Banyak penyebab mengapa bayi dan anak lebih sering terkena diare dibandingkan orang dewasa. Selain karena saluran pencernaan yang belum berkembang sempurna, faktor kebersihan juga memegang peranan penting. Secara garis besar, penyebab diare dapat dikelompokkan dalam 6 golongan besar yaitu infeksi (disebabkan oleh bakteri, virus atau infestasi parasit), malabsorpsi, alergi, keracunan, imunodefisiensi, dan sebab-sebab lainnya. Pada anak, penyebab yang sering ditemukan di lapangan adalah diare yang disebabkan infeksi dan malabsorpsi. Sedangkan pada dewasa biasanya disebabkan oleh keracunan.

Dehidrasi pada bayi akibat diare bisa berakibat kematian

Peningkatan pengeluaran tinja dalam sehari dapat menguras jumlah cairan tubuh dalam waktu singkat. Apalagi jika ditambah anak mengalami muntah dan sulit makan, keseimbangan asam basa dan elektrolit tubuh juga akan terganggu. Anak akan jatuh pada keadaan dehidrasi. Tentunya hal ini membahayakan dan dapat menimbulkan kematian.

Dehidrasi pada diare menjadi tolak ukur penanganan diare. WHO membagi derajat dehidrasi berdasarkan banyaknya cairan yang hilang menjadi dehidrasi ringan, sedang, dan berat, sedangkan berdasarkan tonisitas plasma dapat dibagi menjadi dehidrasi hipotonik, isotonik, dan hipertonik. Untuk derajat yang berdasarkan tonisitas plasma biasanya dilakukan oleh dokter dengan pemeriksaan lebih lanjut.

Sebagai orangtua, kita cukup memperhatikan banyaknya cairan yang hilang akibat diare. Orangtua harus paham tanda-tanda dehidrasi, sehingga nantinya jeli melihat kondisi si kecil saat diare. Penanganan dehidrasi yang tepat mampu meningkatkan angka kesembuhan dan mempersingkat lama penyembuhan. Yuk, kenali tanda-tanda berikut ini.

Bagaimana mengetahui jika bayi Anda dehidrasi?

1. Perhatikan kondisi umum si kecil

Derajat dehidrasi dapat dilihat secara sekilas dari kondisi umum anak. Biasanya pada dehidrasi ringan, anak masih sadar dan sangat rewel. Anak masih mau untuk minum karena sangat haus. Bila dehidrasi berlanjut ke derajat sedang, anak masih bisa terlihat rewel, gelisah, namun sudah malas untuk minum. Kadang-kadang anak juga terlihat mengantuk, namun tidak sering. Tapi, waspadalah, jika saat diare anak terlihat lebih banyak mengantuk, tertidur, lemas, berkeringat, dan kaki-tangannya dingin sampai terlihat kebiruan, itu artinya keadaan tersebut sudah masuk derajat berat. Anak mengalami penurunan kesadaran dan akan berakhir dengan koma.

2. Perhatikan ubun-ubun besar

Ubun-ubun besar pada bayi dan anak berusia < 2 tahun belum menutup sempurna. Oleh sebab itu, derajat dehidrasi bisa terlihat cukup jelas dari bentuk ubun-ubun besar. Pada dehidrasi ringan, bentuk ubun-ubun besar (UUB) anak masih tampak normal. Sedangkan pada dehidrasi sedang, UUB tampak mulai cekung dan semakin mencekung saat dehidrasi berat.

3. Perhatikan pola pernapasan dan hitung nadi anak

Pola pernapasan dan denyut nadi juga menjadi indikator untuk mengenali derajat dehirasi. Pada dehidrasi ringan, pola napas dan denyut nadi masih normal yaitu di bawah 120 kali per menit. Namun jika sudah masuk ke dehidrasi sedang, napas mulai dalam dan denyut nadi pun cepat dan lemah. Denyut nadi biasanya berkisar 120-140 kali per menit. Pada dehidrasi berat, pola napas abnormal yaitu nafas cepat dan dalam. Nadi biasanya sulit diraba, jika pun teraba biasanya < 120 kali per menit.

4. Perhatikan air mata dan selaput lendir

Air mata merupakan salah satu indikator jumlah cairan tubuh. Jika anak menangis dan masih mengeluarkan air mata, dehidrasinya masih ringan. Bisa air mata sudah tidak ada, masuk ke dehidrasi sedang. Bila mata sangat kering, anak sudah berada di derajat berat.

Selaput lendir bisa dilihat dari mulut. Pada dehidrasi ringan, mulut masih lembap, sedangkan pada dehidrasi sedang, mulut terlihat kering dan semakin sangat kering pada dehidrasi berat.

5. Perhatikan produksi air seni

Pada dehidrasi ringan, air seni berwarna kuning, namun anak masih sering buang air kecil. Pada dehidrasi sedang, anak sudah jarang buang air kecil dan warna air seni semakin pekat. Anak tidak lagi dapat buang air kecil pada dehidrasi berat.

Apa yang harus dilakukan saat melihat gejala dehidrasi pada anak?

Kita perlu aktif mencegah agar anak tidak jatuh pada kondisi dehidrasi. Segera bawa anak ke pelayanan kesehatan bila sudah ada tanda-tanda dehidrasi. Cara mencegah dehidrasi sebelum anak dibawa ke sarana kesehatan, cukup mudah. Berikan larutan gula-garam (oralit) yang dapat dibuat sendiri di rumah dengan takaran khusus. Bila tidak tersedia, anak dapat diberikan cairan rumah tangga misalnya air tajin, kuah sayur, sari buah, air teh, dan air matang.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Bagaimana Cara Menghadapi Ledakan Amarah Anak yang Bikin Jengah?

    Kemarahakn yang muncul dari anak tanpa diketahui alasannya kerap membuat Anda jengah. Begini cara menghadapi ledakan amarah anak dengan baik.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha
    Parenting, Tips Parenting 06/06/2020 . 4 menit baca

    Bukan Dimarahi, Ini 5 Cara Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua

    Supaya anak mau mendengarkan kata-kata orangtua, Anda perlu siasat khusus. Jangan malah dimarahi atau dibentak. Yuk, simak tips-tipsnya di sini.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Parenting, Tips Parenting 30/05/2020 . 4 menit baca

    Diare Jadi Tanda Anda Sedang Hamil Muda, Benar atau Tidak?

    Banyak wanita mengalami gangguan pencernaan seperti diare pada awal masa kehamilan. Namun, benarkah diare adalah tanda hamil muda?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Diah Ayu
    Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 23/05/2020 . 5 menit baca

    Pilihan Obat yang Ampuh untuk Meredakan Gejala Muntaber

    Muntaber dapat menyebabkan komplikasi berupa dehidrasi. Tenang, ada beberapa obat yang bisa membantu meredakan gejala muntaber. Apa saja?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Gangguan Pencernaan, Health Centers 21/05/2020 . 6 menit baca

    Direkomendasikan untuk Anda

    Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 menit baca
    mengatasi ruam popok bayi

    Si Kecil Mengalami Ruam? Berikut 8 Cara Mengobatinya

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 7 menit baca
    menyikat gigi bersama merupakan salah satu cara mendorong minat si kecil dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak

    5 Tips Ajarkan Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Willyson Eveiro
    Dipublikasikan tanggal: 16/06/2020 . 5 menit baca
    minyak esensial

    6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 13/06/2020 . 4 menit baca