Kenali Tanda Dehidrasi Pada Anak dan Bayi!

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 1 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Dehidrasi terjadi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan dibadingkan dengan asupan cairan yang masuk. Baik orang dewasa, bayi, maupun anak-anak bisa mengalami kondisi ini. Namun, dehidrasi bisa dikatakan sangat berbahaya apabila terjadi pada bayi, anak-anak, dan orang tua. Agar menghindari hal yang tidak diinginkan, Anda perlu mengetahui tanda-tanda dehidrasi pada anak maupun bayi di bawah ini!

Penyebab dehidrasi pada anak dan bayi

Tanda dehidrasi pada anak

Sudah menjadi hal yang alami ketika tubuh mampu mengeluarkan cairan dari keringat, urine, kotoran, hingga air mata.

Akan tetapi, cairan yang hilang ini bisa diganti dengan asupan cairan lainnya. Tubuh anak juga sudah mampu menjaga proses keseimbangan.

Namun, dikutip dari About Kids Health dehidrasi pada anak dan bayi bisa terjadi saat lebih banyak cairan yang keluar.

Tidak hanya karena kurang minum, tetapi juga bisa terjadi ketika anak sakit. Sebagai contoh saat mengalami diare, demam, juga muntah.

Dehidrasi bisa dialami oleh anak dan bayi karena cadangan cairan di dalam tubuhnya masih tergolong kecil.

Tanda dehidrasi pada anak dan bayi

Walaupun dehidrasi merupakan kondisi saat tubuh anak kekurangan cairan, rasa haus tidak selalu menjadi tanda awal.

Dehidrasi pada anak dan bayi juga dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu ringan dan parah.

Berikut ciri atau tanda anak yang mengalami dehidrasi, di antaranya:

Tanda dehidrasi ringan – sedang pada anak dan bayi

  • Lebih jarang buang air kecil ( Pada bayi, kurang dari enam popok basah per hari)
  • Mulut terasa kering
  • Lebih sedikit air mata saat menangis
  • Terlihat kurang aktif seperti lebih sedikit bermain
  • Kepala menjadi lebih lunak dna terlihat cekung pada bayi atau balita
  • Kotoran akan menjadi lebih encer karena diare
  • Apabila muntah, akan terjadi penurunan pergerakan usus

Tanda dehidrasi parah pada anak dan bayi

  • Menjadi sangat rewel
  • Terlihat lebih mengantuk dari biasanya
  • Tampilan mata menjadi lebih cekung
  • Tangan dan kaki menjadi dingin serta berubah warna
  • Kulit menjadi lebih keriput
  • Buang air kecil hanya satu hingga dua kali dalam sehari

Tidak hanya dari ciri anak dehidrasi yang disebutkan di atas, berikut penjelasan lengkapnya:

1. Perhatikan kondisi umum si kecil

Seberapa ringan atau parahnya tanda dehidrasi dapat dilihat secara sekilas dari kondisi umum pada anak.

Biasanya pada dehidrasi ringan, anak masih sadar dan sangat rewel. Anak masih mau untuk minum karena sangat haus.

Bila dehidrasi berlanjut ke tingkat sedang, anak masih bisa terlihat rewel, gelisah, tetapi sudah malas untuk minum.

Terkadang, ia juga terlihat mengantuk. Akan tetapi, waspadalah jika anak lebih banyak mengantuk, lemas, berkeringat, dan kaki-tangannya dingin sampai kebiruan.

Itu artinya keadaan anak sudah ke tingkat dehidrasi berat. Anak bisa mengalami penurunan kesadaran dan akan berakhir dengan koma.

2. Perhatikan ubun-ubun besar

Pada perkembangan bayi dan anak kurang dari 2 tahun, ubun-ubun besar (UUB) belum menutup  dengan sempurna.

Oleh sebab itu, tanda dehidrasi pada anak bisa terlihat cukup jelas dari bentuk ubun-ubun besar.

Pada dehidrasi ringan, bentuk ubun-ubun besar anak masih tampak normal. Sedangkan pada dehidrasi sedang, UUB tampak mulai cekung dan semakin mencekung saat dehidrasi berat.

3. Perhatikan pola pernapasan dan hitung nadi anak

Pola pernapasan dan denyut nadi juga menjadi indikator untuk mengenali gejala dehidrasi pada anak.

Pada dehidrasi ringan, pola napas dan denyut nadi masih normal yaitu di bawah 120 kali per menit.

Namun, jika sudah masuk ke dehidrasi sedang, napas mulai dalam dan denyut nadi pun cepat dan lemah.

4. Perhatikan air mata dan selaput lendir

Air mata merupakan salah satu indikator jumlah cairan tubuh. Jika anak menangis dan masih mengeluarkan air mata, gejala dehidrasinya masih ringan.

Ketika air mata sudah tidak ada, masuk ke dehidrasi sedang. Bila mata sangat kering, anak sudah berada di tingkat dehidrasi berat.

Sedangkan selaput lendir bisa dilihat dari mulut. Tanda dehidrasi ringan pada anak, yang terlihat seharusnya mulut masih lembap.

Apabila sudah mengalami dehidrasi sedang hingga berat, mulut terlihat kering dan semakin sangat kering.

5. Perhatikan produksi urine

Salah satu tanda dehidrasi ringan adalah air seni pada anak maupun bayi terlihat berwarna kuning dan ia masih sering buang air kecil.

Apabila sudah masuk ke tingkat dehidrasi sedang hingga parah, anak sudah jarang buang air kecil. Ditambah dengan warna urine yang semakin pekat.

Hal yang perlu Anda perhatikan pada gejala dehidrasi parah pada anak dan bayi, ia tidak lagi dapat buang air kecil.

Apa yang harus dilakukan saat melihat gejala dehidrasi pada anak?

Tanda dehidrasi pada anak

Dikutip dari Kids Health, orangtua sangat perlu untuk mengetahui tanda awal dehidrasi pada anak agar bisa merespons dengan cepat.

Perawatan anak dengan kondisi ini bergantung pada tingkat dehidrasi yang dialaminya.

Sebelum langsung dibawa ke dokter, berikan asupan cairan seperti ASI (pada bayi), susu, atau air mineral.

Hindari asupan cairan dengan kandungan kadar gula yang cukup tinggi karena dapar memperburuk kondisi dehidrasi.

Lalu, apabila dehidrasi disebebkan oleh diare, maka Anda bisa memberikan anak larutan oralit untuk mengembalikan hidrasi pada tubuh.

Apabila setelah 12 jam belum terlihat ada perubahan atau anak makin menunjukkan tanda dehidrasi maka sebaiknya Anda segera membawa anak ke rumah sakit agar ditangani dengan tepat.

Terutama, jika gejala dehidrasi dialami pada bayi yang berusia masih di bawah 6 bulan.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengapa Sembelit Bisa Muncul Padahal Diare Baru Saja Sembuh?

Sembelit dan diare adalah dua kondisi berbeda. Namun, tidak menutup kemungkinan sembelit setelah diare bisa terjadi. Mengapa?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Kesehatan Pencernaan, Konstipasi 18 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Penting! Ini 5 Manfaat Baca Buku untuk Tumbuh Kembang Anak

Membaca merupakan kegiatan posistif bagi siapa pun, termasuk anak-anak. Apa saja manfaat baca buku untuk anak? Cari tahu jawabannya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 5 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Diare

Diare atau mencret adalah penyakit yang sering dialami orang dewasa dan anak-anak. Berikut obat, penyebab, gejala, dan cara mengatasi diare.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Diare, Kesehatan Pencernaan 3 Februari 2021 . Waktu baca 12 menit

10 Penyebab Diare yang Tak Boleh Disepelekan

Penyebab diare (mencret) sangat beragam, dari mulai kondisi yang sifatnya sementara hingga tanda kondisi kesehatan kronis.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Diare, Kesehatan Pencernaan 3 Februari 2021 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mengobati-diare-pada-bayi

8 Ciri dan Tanda Bayi Diare yang Harus Orangtua Waspadai

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 24 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit
kanker penyebab BAB berdarah

BAB Sering Berdarah? Hati-hati, Bisa Jadi Tanda Kanker pada Saluran Cerna

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Ivena
Dipublikasikan tanggal: 24 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
anak cengeng

7 Cara Menghadapi Anak Cengeng Tanpa Drama

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Serba-Serbi Mengahadapi Anak Introvert

Serba-Serbi Membesarkan Anak Dengan Kepribadian Introvert

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Dipublikasikan tanggal: 20 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit