Feses Bayi, Ketahui Warna dan Kondisi yang Normal dan Tidak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21/07/2020 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Saat bayi lahir, pasti ada beberapa hal yang sering menjadi kekhawatiran Anda sebagai seorang ibu. Anda yang menjadi orang tua baru pasti memiliki pertanyaan berbagai hal mengenai kesehatan dan perawatan bayi baru lahir. Namun, Anda juga harus mengenal pup bayi Anda. Mengapa? Karena kesehatan bayi  dapat dilihat dari kondisi tinjanya. Apakah tinja si kecil normal? Seperti apa warna feses bayi yang sehat dan tidak? Berikut penjelasan lengkapnya.

Mengenal feses bayi sesuai asupan nutrisi yang dikonsumsi

feses bayi

Tinja bayi menjadi penentu kondisi kesehatan bayi, terutama soal pencernaan. Skrining bayi baru lahir juga mencakup tekstur dan warna feses. Biasanya tekstur dan warna feses dipengaruhi oleh asupan nutrisi yang dikonsumsi si kecil. Berikut penjelasan kotoran bayi yang perlu diketahui orangtua.

Feses bayi baru lahir

Mengutip dari Blank Children’s Hospital, bayi yang baru dilahirkan memiliki warna feses kehijauan, agak hitam, teksturnya lengket, dan tidak berbau.

Tekstur feses seperti itu disebut mekonium yang terdiri dari cairan ketuban, lendir, dan sel-sel kulit yang tertelan saat bayi di dalam rahim. Mekonium hanya berlangsung dalam satu atau dua hari ke depan.

Setelah dua hingga empat hari, pup bayi akan mulai berubah, warna lebih ringan, menjadi hijau dan tidak begitu lengket, dan hal ini pertanda bahwa usus si kecil dalam keadaan baik-baik saja.

Anda boleh panik jika kondisi fesesnya masih seperti ini setelah 48 jam, atau bayi Anda justru tidak mengeluarkan mekonium dalam waktu 48 jam setelah lahir.

Feses bayi yang mengonsumsi ASI

Setelah empat hari, warna kotoran bayi akan berubah. Untuk bayi yang mengonsumsi ASI, warna pup bayi kuning keemasan sampai cokelat kehijauan. 

Kondisi feses bayi yang minum ASI terlihat lebih pucat dan teksturnya sedikit berair seperti diare. Biasanya kalau bayi yang mengonsumsi ASI dalam keadaan sehat, fesesnya tidak menimbulkan bau.

Feses bayi yang mengonsumsi susu formula

Untuk bayi yang mengonsumsi susu formula, warna pup yang sehat adalah kuning atau cokelat dengan tekstur seperti mentega. Namun, ukuran kotoran bayi yang minum susu formula biasanya lebih bau dari bayi yang minum ASI.

Tanda bahwa bayi Anda sedang tidak sehat adalah ketika warna fesesnya hitam 4 hari setelah kelahiran. Disertai dengan warna merah atau berdarah, berwarna putih atau abu-abu, dan teksturnya berair dan secara konsisten besar, keras, atau sulit untuk keluar.

Jika Anda khawatir tentang warna atau tekstur feses si kecil, segera hubungi dokter untuk konsultasi.

Warna dan kondisi feses bayi mulai dari yang sehat sampai tidak sehat

warna feses bayi

Pada bayi, kondisi kesehatannya bisa dilihat dari warna feses yang dikeluarkan setiap hari. Bila orangtua memerhatikan warna pup bayi, frekuensi buang air besar, sampai teksturnya, Anda bisa mengetahui apakah si kecil dalam kondisi sehat atau tidak.

Hal ini terutama dalam hal masalah pencernaan. Berikut penjelasan seputar warna tinja bayi dari yang sehat sampai tidak.

Warna feses bayi hijau

Bila bayi yang sering diberi suplemen zat besi, warna fesesnya akan menjadi hijau. Kondisi ini akan semakin sering ketika usia bayi 4-6 bulan dan mulai diberikan MPASI yang berwarna hijau, seperti sayuran jenis bayam, ke dalam menu makanannya. 

Warna feses oranye, kuning, kecokelatan

Ini adalah kondisi pup bayi yang normal pada bayi yang menyusui ASI atau minum susu formula. Teksturnya juga sering cair atau terkadang padat.

Setelah menyusu, terkadang gas mengumpul di perut bayi dan membuatnya kembung. Penting untuk Anda mengetahui cara menyendawakan bayi yang tepat.

Feses bayi berwarna hitam

Bila Anda melihat kotoran si kecil berwarna hitam secara keseluruhan atau sekadar bercak, tandanya bayi mencerna darah saat menyusui langsung lewat puting ibu. 

Meski ini tidak membahayakan, tapi perlu diperiksa ke dokter bila feses bayi berwarna hitam berlangsung terus menerus. 

Tekstur feses keras seperti kerikil

Bila bayi Anda mengeluarkan feses dengan tekstur keras seperti kerikil, kemungkinan ia mengalami konstipasi atau sembelit. Biasanya bayi mengalami ini ketika dikenalkan dengan makanan padat saat usia 6 bulan atau memasuki fase MPASI. 

Tekstur pup yang seperti ini bisa juga sebagai tanda bayi memiliki sensitivitas terhadap susu yang dikonsumsi atau kandungan makanan tertentu. 

Feses berwarna merah pekat

Kotoran bayi berwarna merah bisa disebabkan oleh makanan yang dikonsumsi, misalnya buah naga atau tomat. Namun bila si kecil tidak mengonsumsi makanan yang berwarna merah dan warna feses merah darah, bisa menjadi tanda bayi memiliki alergi protein susu.

Namun bila ia mengalami diare bersamaan dengan warna pup merah, kemungkinan bayi memiliki infeksi bakteri. 

Feses bayi berwarna putih

Bila si kecil mengeluarkan kotoran berwarna putih, ini tanda bahwa ia tidak mencerna makanan dengan baik. Warna putih menandakan empedu tidak mencerna makanan dengan benar.

Warna pup bayi berubah-ubah sesuai usia, sehingga perlu diperhatikan bila perubahannya menuju ke arah tidak sehat. 

Penyebab feses bayi berdarah dan berlendir

Alasan kenapa bayi menangis

Pada beberapa kasus, ada kondisi yang membuat feses bayi berdarah. Agar tidak salah langkah dalam penanganannya ketahui penyebabnya antara lain: 

1. Fisura ani

Fisura ani atau anal fisure merupakan sebuah kondisi ketika terdapat robekan kecil pada lapisan lubang anus. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga pada anak kecil dan bayi. 

Seperti yang dilansir dari Kids Health, fisura ani terjadi saat BAB bayi terlalu besar dan keras. Feses tersebut kemudian berusaha untuk melewati anus bayi, sehingga membuat lapisan anus robek. 

Akibatnya, pada daerah anus terasa sakit dan gatal, terutama ketika sedang buang air besar dan menjadi penyebab bayi menangis. Kondisi ini sebenarnya cukup umum terjadi pada bayi dan akan sembuh jika Anda melakukan perawatan pada daerah tersebut.

Beberapa cara berikut bisa Anda lakukan agar BAB berdarah pada bayi Anda tidak terulang kembali. 

  • Memberi air putih yang banyak
  • Berikan makanan yang cukup serat
  • Mengoleskan salep untuk mempercepat penyembuhan

Bila feses pada bayi masih tetap berdarah selama beberapa hari, konsultasi kepada dokter. 

2. Alergi makanan

SPada dasarnya, bayi bisa alergi terhadap makanan apapun. Bahkan, ASI dari ibu yang memakan makanan pemicu alergi pada bayi juga menimbulkan reaksi yang sama.

Respons alergi dan peradangan tersebut biasanya berupa radang usus. Peradangan di usus dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya BAB berdarah pada bayi. Bila bayi tersedak karena makanan, ketahui cara menolong bayi tersedak.

3. Puting yang berdarah

Salah satu alasan BAB berdarah pada bayi adalah menyusui dari puting ibu yang berdarah.

Darah yang berasal dari puting tersebut akhirnya masuk ke sistem pencernaan mereka dan membuat BAB bayi berdarah. Akan tetapi, para ibu tidak perlu khawatir. Kondisi ini tidak membahayakan buah hati Anda.  

4. Gangguan dan infeksi pada usus

Jika BAB berdarah pada bayi juga disertai oleh diare, bisa jadi buah hati Anda terkena infeksi bakteri usus. Berbagai bakteri penyebab infeksi pada usus bayi dan diare berdarah, antara lain: 

  • Shigella
  • Salmonella
  • E. Coli
  • Campylobacter

Bila bayi Anda mengalami kondisi ini, Anda harus memastikan mereka tetap minum ASI sebanyak-banyaknya agar tidak terjadi dehidrasi pada bayi. Selain itu, Anda juga dapat memberikan cairan oral yang sudah disetujui oleh dokter. 

Gangguan dan infeksi pada usus sebenarnya dapat diatasi di rumah, tetapi Anda perlu waspada bila si kecil mengalami hal di bawah ini:

  • Demam
  • Tanda-tanda dehidrasi
  • Menolak untuk minum dan makan
  • Sering menangis
  • Mengalami 8 kali diare selama 8 jam terakhir
  • Diare masih terjadi selama 1 minggu walaupun telah diberikan antibiotik

Segera konsultasikan kepada dokter bila bayi mengalami hal di atas.

5. Infeksi

Infeksi bakteri atau virus yang menyerang tubuh bayi dapat membuat usus iritasi dan menyebabkan peradangan. Oleh karena itu, produksi lendir pada feses bayi pun meningkat.

Selain itu, BAB bayi yang berlendir juga bisa menjadi gejala awal demam. Jika warna feses bayi menjadi hijau atau berlendir yang disertai dengan darah, mungkin saja terjadi iritasi yang cukup parah.

6. Tumbuh gigi

Pada saat tumbuh gigi, kebanyakan bayi sangat rewel dan bahkan bisa mengeluarkan lendir pada fesesnya. Produksi air liur yang berlebih dan peradangan karena tumbuh gigi menyebabkan iritasi usus sehingga membuat kotoran bayi menjadi berlendir.

7. Intususepsi

Intususepsi merupakan penyakit yang dapat dialami oleh bayi. Biasanya, kondisi ini memengaruhi usus kecil dan usus besar. Sebagian usus terlipat sehingga menyebabkan penyumbatan seperti cincin.

Situasi ini sering terjadi pada bayi berumur lima hingga sembilan bulan. Penyakit ini juga menjadi salah satu penyebab mengapa kotoran bayi berlendir.

Cara mengatasi buang air besar (BAB) berdarah pada bayi

 kurang gizi

Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan BAB berdarah. Mulai dari infeksi saluran pencernaan, robekan pada anus akibat bayi sembelit, alergi makanan, hingga kondisi medis tertentu seperti pembentukan polip dan inflammatory bowel disease (IBD).

BAB bayi berdarah ini sering mengganggu jam tidur bayi. Secara umum, berikut cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi BAB berdarah pada bayi:

1. Menjaga area sekitar anus tetap bersih

Apabila BAB berdarah disebabkan oleh robekan pada anus, Anda harus menjaga anus bayi tetap bersih guna mencegah infeksi. Anda perlu mengetahui cara memandikan bayi baru lahir yag tepat.

Pastikan Anda selalu membersihkan area anus dan pantat bayi setiap ia selesai BAB. Bersihkan menggunakan air dan sabun khusus bayi, lalu keringkan dengan handuk lembut. Anda juga bisa menggunakan krim pelembap untuk mencegah ruam dari perlengkapan bayi baru lahir yang dimiliki.

2. Mengoleskan krim atau petroleum jelly

Mengutip National Health Services, robekan pada anus bayi dapat sembuh dengan sendirinya setelah beberapa minggu. Selama periode ini, Anda dapat mengoleskan petroleum jelly atau krim mengandung zink oksida guna mempercepat penyembuhan sambil pijat bayi.

Krim dan petroleum jelly memang tidak secara langsung mengatasi BAB berdarah pada bayi. Akan tetapi, kedua produk ini membantu melindungi anus dari iritasi sehingga BAB tidak lagi terasa menyakitkan ataupun disertai keluarnya darah. Penggunaan jelly ini juga sebagai cara untuk merawat kulit bayi.

3. Menyesuaikan pola makan bayi

Terkadang, BAB berdarah pada bayi merupakan reaksi alergi terhadap makanan tertentu. Beberapa bayi alergi susu sapi atau protein dalam ASI. Jika saluran cernanya sangat sensitif, protein susu bisa memicu peradangan parah pada usus hingga menyebabkan BAB berdarah.

Peradangan pada usus kemudian memicu perdarahan. Darah akhirnya keluar bersama feses. Guna mengatasi BAB berdarah pada bayi akibat alergi, Anda perlu mengenali apa saja makanan yang memicu alergi dan tidak memberikannya kepada bayi.

Segera konsultasi ke dokter jika tidak kunjung membaik.

Hal penting yang perlu diingat orangtua tentang feses bayi

warna feses bayi

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya,kondisi pup bayi dan anak sangat penting untuk diperhatikan karena dapat dijadikan indikator kesehatan mereka.  

Selain kondisi dan frekuensi normal buang air besar si kecil, ada beberapa hal lainnya yang perlu diingat oleh orangtua, yaitu:

1. Variasi warna dan konsistensi feses bayi

Frekuensi BAB bayi tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk melihat kondisi kesehatan mereka seperti apa. Ada beberapa faktor lainnya yang dapat menentukan apakah bayi Anda sehat atau tidak, seperti konsistensi dan warna feses

Sebenarnya, warna dan konsistensi feses bayi yang bervariasi cukup normal terjadi. Contoh, proses pencernaan bayi dapat melambat jika mereka mengonsumsi makanan yang padat dan warnanya berubah menjadi hijau. 

Apabila bayi diberikan tambahan zat besi, feses dapat berubah warna menjadi cokelat tua. Sedangkan, ketika terjadi iritasi ringan pada anus kemungkinan besar akan ada bercak darah pada bagian luar feses. 

Saat Anda menemukan darah, lendir, atau air pada feses bayi, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter. Umumnya, gejala tersebut menunjukkan bahwa sistem pencernaan bayi sedang terganggu. 

2. Tanda-tanda diare pada bayi

Normalnya, BAB bayi yang baru lahir lebih lunak dan sedikit berair, sehingga orangtua mungkin kesulitan untuk mengetahui ciri bayi mengalami diare

Jika bayi Anda mengalami diare, biasanya akan ada peningkatan frekuensi buang air besar. Sebagai contoh, lebih dari satu kali pergerakan usus setelah makan dan tinja terlihat berlendir. 

Diare pada bayi mungkin merupakan tanda adanya infeksi usus atau disebabkan oleh perubahan pola makan mereka. Jika bayi menyusui, mereka ternyata dapat mengalami diare akibat konsumsi asupan makanan dari sang ibu. 

3. Dehidrasi pada bayi

Tidak hanya diare, BAB bayi juga bisa menjadi faktor untuk melihat apakah mereka dehidrasi atau tidak. Masalah utama dari diare yang cukup mengkhawatirkan adalah dehidrasi atau kekurangan cairan.

Jika bayi mengalami demam tinggi dan masih berusia kurang dari dua bulan, segera hubungi dokter.

Namun, ketika bayi sudah berumur lebih dua bulan dan demamnya berlangsung lebih dari satu hari, cobalah untuk memeriksa urine dan suhu fesesnya. Kemudian, laporkan temuan tersebut pada dokter agar tahu apa yang perlu dilakukan. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Si Kecil Mengalami Ruam? Berikut 8 Cara Mengobatinya

Bayi yang keseringan pakai popok, memang rentan terkena ruam popok. Jangan khawatir, ikuti cara berikut ini untuk mengobati dan mengatasi ruam popok.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 25/06/2020 . Waktu baca 7 menit

Ilmuwan Jepang Ungkap Cara Sempurna Memeluk Bayi

Baru-baru ini ilmuwan jepang menemukan rahasia cara sempurna memeiuk bayi. Bagaimana caranya agar bayi nyaman dan tenang?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Parenting, Tips Parenting 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Apa yang Akan Terjadi Jika Muncul Kista Saat Hamil?

Munculnya kista saat hamil adalah hal yang umum terjadi. Walau biasanya tidak berbahaya, ibu hamil perlu memahami apa saja pengaruhnya terhadap kandungan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 14/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

MPASI 6 bulan makanan bayi 6 bulan, makanan bayi

Panduan Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) Bayi

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 19 menit
bayi demam naik turun

Penyebab Demam Naik Turun Pada Bayi (dan Cara Mengatasinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 21/07/2020 . Waktu baca 3 menit
cara memandikan bayi yang baru lahir

Agar Tidak Bingung, Berikut Cara Memandikan Bayi Baru Lahir

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 9 menit

Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit