backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Anemia pada Anak, Saat Tubuh Kekurangan Sel Darah Merah

Ditinjau secara medis oleh dr. S.T. Andreas, M.Ked(Ped), Sp.A · Kesehatan anak · Rumah Sakit EMC Pekayon


Ditulis oleh Atifa Adlina · Tanggal diperbarui 05/01/2024

Anemia pada Anak, Saat Tubuh Kekurangan Sel Darah Merah

Anak-anak juga bisa mengalami masalah kesehatan yang biasa dialami orang dewasa, seperti anemia. Walaupun umum terjadi, sebaiknya Anda tidak menganggap sepele karena dapat memengaruhi kesehatan dan perkembangan anak nantinya. Apa saja penyebab dan pengobatan anemia pada anak? Simak dulu penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Apa itu anemia pada anak?

Anemia adalah kondisi ketika jumlah sel darah merah terlalu rendah.

Padahal, sel darah merah membawa hemoglobin, yaitu protein yang mengirimkan oksigen ke seluruh tubuh.

Mengutip dari Healthy Children, saat tubuh anak tidak mendapatkan cukup oksigen maka yang terjadi adalah organ tubuh tidak dapat bekerja secara normal.

Tak hanya itu saja, penurunan jumlah sel darah merah juga dapat memberikan tekanan pada tubuh sehingga anak merasakan lemas, pusing, hingga sesak napas.

Perlu Anda ketahui bahwa anemia pun menjadi salah satu masalah kesehatan yang serius.

WHO memperkirakan bahwa sekitar 42% anak di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia mengalaminya.

Apa saja gejala anemia pada anak?

Sebagian besar anak yang mengalami anemia biasanya tidak menunjukkan gejala.

Maka dari itu, penting bagi anak-anak untuk melakukan tes darah secara rutin.

Namun, Anda sebagai orangtua mungkin bisa melihat beberapa tanda atau gejala anemia, seperti:

  • terlihat pucat,
  • mudah lelah,
  • kerap merasa pusing,
  • napas terasa lebih berat,
  • jantung berdetak lebih cepat,
  • kulit menjadi kuning, atau
  • tidak nafsu makan,
  • urine berwarna gelap.

Pada kondisi tertentu, si kecil yang mengalami anemia karena kekurangan zat besi juga mungkin akan mengalami keterlambatan perkembangan dan gangguan perilaku.

Kapan harus membawa anak ke dokter?

Berikut adalah tanda serta gejala lainnya dari anemia yang membuat Anda sebaiknya segera membawa si kecil ke dokter, yaitu:

Kemungkinan ada gejala atau tanda lainnya yang tidak disebutkan. Konsultasikan lebih lanjut mengenai kondisi anak Anda.

Apa penyebab anemia pada anak?

anak yang sering sakit dan cara meningkatkan imun

Sebenarnya, ada tiga penyebab utama masalah kesehatan anemia termasuk yang terjadi pada anak, yaitu:

  • hilangnya sel darah merah karena perdarahan,
  • tubuh tidak mampu membuat cukup sel darah merah, juga
  • kondisi medis yang menyebabkan kerusakan sel darah.

Selain itu, penyebab lainnya dari kondisi ini juga dapat terbagi dalam beberapa klasifikasi atau jenis anemia, di antaranya adalah:

1. Anemia mikrositik

Ini merupakan jenis anemia yang terjadi karena jaringan atau organ tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup.

Kekurangan oksigen ini bisa terjadi karena tubuh tidak memiliki cukup sel darah merah serta hemoglobin.

Berikut adalah penyebab anemia mikrositik yang cukup sering terjadi pada anak, yaitu:

Thalasemia

Salah satu penyebab anemia mikrositik pada anak adalah thalasemia, kelainan darah bawaan yang mengakibatkan tubuh kekurangan hemoglobin. Ini bisa terjadi karena faktor keturunan.

Dalam kasus yang tergolong parah, thalasemia sebagai penyebab anemia juga bisa mengakibatkan terlambatnya masa puber.

Defisiensi zat besi

Sesuai dengan namanya, penyebab dari anemia mikrositik pada anak adalah karena tubuhnya kekurangan nutrisi zat besi.

Zat besi bermanfaat untuk membantu hemoglobin mengalirkan oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.

Apabila anemia defisiensi zat besi tidak diobati, hal ini dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

2. Anemia makrositik

Berbeda dengan anemia mikrositik, kondisi ni berarti sel darah merah anak lebih besar dari biasanya serta hemoglobin rendah.

Maka dari itu, ini menjadi jenis anemia yang tergolong langka.

Penyebab anemia makrositik pada anak kemungkinan adalah karena kekurangan vitamin B12 serta anaplastik.

Defisiensi vitamin B12

Menjadi salah satu penyebab anemia makrositik, anemia defisiensi vitamin ini terjadi saat tubuh anak kekurangan asupan vitamin B12 atau sumber makanan lainnya.

Padahal, vitamin B12 mempunyai peranan dalam proses eritropoiesis, yaitu saat tubuh menghasilkan sel darah merah baru untuk mengganti sel darah merah lama.

Anemia aplastik

Tergolong langka, anemia aplastik pada anak adalah karena tubuh berhenti memproduksi sel darah merah serta sel darah putih.

Jenis anemia ini penyebab utamanya biasanya karena kerusakan sumsum tulang yang mematikan produksi sel darah baru.

3. Anemia normositik

Ketika anak mengalami anemia normositik, bentuk serta ukuran sel darah merahnya dalam ukuran normal.

Akan tetapi, kemungkinan kadar sel darah merahnya belum cukup memenuhi kebutuhan tubuh.

Berikut adalah penyebab anemia normositik yang juga bisa terjadi karena adanya infeksi, penyakit kronis, hingga kelainan.

Hemolitik

Anemia hemolitik adalah kondisi saat sel darah merah mengalami kerusakan terlalu cepat sehingga tubuh tidak cukup mempunyai cukup sel darah yang sehat.

Penyebab utama dari jenis anemia pada anak ini kemungkinan adalah karena faktor keturunan akibat gen yang salah mengendalikan produksi sel darah merah.

Hilangnya darah

Kehilangan darah kronis dapat menjadi penyebab anemia, salah satunya adalah anemia normositik.

Namun, salah satu anemia akut ini tergolong jarang terjadi pada anak yang sehat.

Umumnya, kondisi ini terjadi akibat tumor serta gangguan sistem pencernaan seperti maag, gastritis, wasir, hingga kanker.

Faktor yang meningkatkan risiko anemia pada anak

Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat meningkatkan anak mengalami anemia, yaitu:

  • bayi lahir prematur,
  • berat badan saat lahir rendah,
  • kurangnya asupan nutrisi zat besi atau vitamin,
  • terlalu cepat minum susu sapi,
  • cedera sehingga kehilangan banyak darah,
  • penyakit jangka panjang, hingga
  • faktor keturunan.
  • Bagaimana cara mendiagnosis anemia pada anak?

    Dokter akan melakukan pemeriksaan rutin terlebih dahulu terhadap anak. Apalagi, sering kali anak tidak mengalami gejala.

    Sebagian besar jenis anemia pada anak dapat terdiagnosis dengan melakukan tes darah berikut.

    • Hemoglobin & hematokrit, mengukur jumlah hemoglobin dan sel darah merah.
    • Complete blood count (CBC), pemeriksaan trombosit, retikulosit, sel darah merah, dan putih.
    • Peripheral smear, pemeriksaan sampel kecil darah di bawah mikroskop.

    Tergantung dengan hasil tes darah, si kecil juga mungkin akan melakukan aspirasi sumsung tulang, biopsi, hingga keduanya.

    Pemeriksaan cairan atau jaringan akan dokter lakukan untuk mengetahui jumlah, ukuran, dan kematangan sel darah serta sel abnormal.

    Apa pengobatan anemia pada anak?

    dosis ibuprofen untuk anak

    Perawatan dan pengobatan anemia pada anak juga akan bergantung pada gejala, usia, kondisi kesehatan umum, serta seberapa parah kondisinya.

    Sebagian jenis anemia tidak memerlukan perawatan serta sebagian jenis lainnya mungkin perlu obat-obatan, transfusi darah, hingga transplantasi sel.

    Berikut adalah perawatan serta pengobatan yang mungkin akan dokter rekomedasikan.

    • Obat-obatan serta vitamin.
    • Operasi untuk mengangkat limpa.
    • Transfusi darah.
    • Transplantasi sel induk.

    1. Mengonsumsi suplemen

    Untuk anak yang mengalami anemia defisiensi zat besi, kemungkinan dokter akan memberikan suplemen zat besi serta mengubah pola makan.

    Jika penyebab kekurangan zat besi adalah kehilangan darah, dokter juga akan mencari sumber perdarahan.

    Kemungkinan perlu melakukan operasi untuk mengatasi anemia pada anak.

    2. Mendapatkan asupan vitamin B12

    Saat anak kesulitan menyerap vitamin B12 dari makanan, tidak menutup kemungkinan ia juga perlu mendapatkan suntikan vitamin. Pemberian dosis akan menyesuaikan dengan kondisi kesehatan.

    3. Transfusi darah

    Perawatan transfusi darah perlu dilakukan saat anak mengalami anemia penyakit kronis, aplastik, hingga thalasemia untuk merangsang produksi sel darah merah serta mengurangi kelelahan.

    Tindakan transplantasi sumsum tulang juga mungkin akan dokter rekomendasikan saat sumsum tulang anak tidak dapat membuat sel darah yang sehat.

    Bagaimana cara mencegah anemia pada anak?

    Kemungkinan Anda tidak bisa mencegah jenis anemia yang penyebabnya adalah faktor keturunan.

    Akan tetapi, Anda bisa mencegah terjadinya anemia defisiensi vitamin dan zat besi dengan melakukan hal di bawah ini.

    • Menyusui bayi agar mendapatkan cukup zat besi dari ASI.
    • Memberikan susu formula dengan tambahan zat besi.
    • Hindari pemberian susu sapi hingga usia anak satu tahun.
    • Pilih makanan yang menjadi sumber zat besi dan vitamin B12.

    Zat besi merupakan gizi yang penting untuk mencegah anemia dan mendukung tumbuh kembang anak.

    Dikutip dari ICHWB 2023, anak yang terpenuhi kebutuhan zat besi hariannya mengalami kenaikan tinggi badan 0,5cm lebih tinggi. 

    Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan asupan gizi seimbang, terutama dari sumber protein hewani yang kaya zat besi. Salah satunya adalah susu yang menjadi nutrisi tambahan pilihan untuk memenuhi kebutuhan zat besi si Kecil.

    Untuk bantu optimalkan kebutuhan zat besi harian si Kecil, berikan susu pertumbuhan yang terfortifikasi dengan zat besi dan vitamin C.

    Kombinasi zat besi dan Vitamin C dapat memaksimalkan penyerapan zat besi di dalam tubuh, untuk pencegahan anemia defisiensi besi.

    Konsultasikan pada dokter mengenai langkah pencegahan lain yang lebih efektif terutama jika ada riwayat keluarga dengan anemia.

    Catatan

    Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. S.T. Andreas, M.Ked(Ped), Sp.A

    Kesehatan anak · Rumah Sakit EMC Pekayon


    Ditulis oleh Atifa Adlina · Tanggal diperbarui 05/01/2024

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan