Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Sebaiknya Kapan Anak Perlu Melakukan Pemeriksaan Feses?

Sebaiknya Kapan Anak Perlu Melakukan Pemeriksaan Feses?

Adanya masalah pada sistem pencernaan anak kadang tidak bisa dideteksi secara kasat mata. Dibutuhkan berbagai pemeriksaan untuk memastikan kondisi kesehatan tubuh anak, salah satunya melalui pemeriksaan feses. Sama seperti jenis pemeriksaan kesehatan lainnya, tes feses juga dianjurkan untuk dilakukan di waktu tertentu ketika memang dibutuhkan. Lantas, sebaiknya kapan si kecil perlu menjalani tes feses?

Apa itu pemeriksaan feses?

enkopresis anak BAB di celana

Pemeriksaan feses adalah sebuah tes yang menjadikan feses sebagai sampel utama guna memudahkan diagnosis jika ada masalah pada pencernaan. Meski sering dianggap sebagai kotoran yang perlu dibuang, tapi feses sebenarnya bisa memberikan informasi penting mengenai kondisi kesehatan tubuh.

Entah itu menyerang usus, lambung, dubur, maupun bagian lainnya dari sistem pencernaan. Normalnya, feses yang keluar dari tubuh tidak disertai dengan darah.

Namun jika ini terjadi, tandanya ada yang salah dengan sistem pencernaan anak. Itulah mengapa pemeriksaan feses dibutuhkan pada anak, khususnya untuk mendiagnosis gangguan pada sistem pencernaan.

Pasalnya, serangan virus, bakteri, serta parasit yang masuk ke dalam tubuh bisa berkembang sehingga membahayakan kesehatan anak. Bukan tidak mungkin, anak bisa sampai mengalami diare yang disertai dengan munculnya darah pada feses.

Kapan waktu terbaik anak melakukan pemeriksaan feses?

sindrom Angelman syndrome

Dokter biasanya baru akan menganjurkan anak untuk melakukan pemeriksaan feses ketika kotoran alami tubuh anak ini mengandung darah. Atau ketika anak mengalami diare parah yang telah berlangsung cukup lama dan tidak kunjung selesai.

Akan tetapi, waktu pasti anak dalam melakukan pemeriksaan ini tidak bisa ditentukan begitu saja. Dokterlah yang akan menyarankan waktu pemeriksaan terbaik sesuai dengan kondisi kesehatan yang sedang dialami anak.

Selanjutnya, pemeriksaan feses ini akan membantu menilai apakah jenis bakteri, virus, maupun parasit tersebut dapat menginfeksi saluran pencernaan, khususnya usus.

Sebenarnya ada banyak organisme mikroskopis seperti bakteri baik, yang hidup di dalam usus guna melancarkan proses pencernaan makanan. Akan tetapi, lain lagi ceritanya jika usus ternyata teinfeksi bakteri, virus, atau parasit berbahaya.

Kondisi tersebut tentu bisa mengakibatkan munculnya masalah kesehatan yang tidak sepele. Atas dasar inilah, pemeriksaan feses pada anak penting untuk dilakukan. Berbagai masalah kesehatan yang bisa dideteksi melalui pemeriksaan feses, meliputi:

  • Alergi atau peradangan di dalam tubuh, misalnya ketika anak mengalami alergi susu sapi.
  • Infeksi saluran pencernaan akibat serangan bakteri, virus, maupun parasit.
  • Gangguan pencernaan karena kesulitan dalam mencerna gula, lemak, atau zat gizi tertentu lainnya.
  • Muncul darah pada saluran pencernaan akibat ulkus atau masalah lainnya

Selain menganilisis darah, sampel feses juga memeriksa kandungan di dalamnya, contohnya kandungan lemak. Seharusnya, lemak dicerna sepenuhnya di dalam usus sehingga feses yang keluar dari tubuh tidak akan mengandung lemak.

Namun pada beberapa kondisi tertentu, lemak sulit diserap secara sempurna. Pada akhirnya, feses yang keluar masih memiliki kandungan lemak di dalamnya. Hasil pemeriksaan feses ini yang kemudian dipakai dokter untuk membantu diagnosis mengenai suatu penyakit.

Dalam beberapa kasus, pemeriksaan feses ini juga bisa disertai dengan tes kesehatan lainnya guna memastikan kondisi kesehatan anak.

Bagaimana cara melakukan pemeriksaan feses anak?

pemeriksaan laboratorium demam berdarah

Tes feses dilakukan dengan memasang bungkus plastik longgar di bagian tepi kloset atau tepatnya di bawah. Jadi saat anak buang air besar, feses bisa langsung tertampung di dalam plastik tersebut. Gunakan sarung tangan untuk mengambil plastik, kemudian segel sampai rapat.

Petugas kesehatan akan meneliti sampel feses tersebut di laboratorium, dan hasilnya akan keluar selama kurang lebih 3-4 hari. Beberapa hal yang dinilai dalam pemeriksaan feses anak seperti:

Memeriksa darah pada feses

Munculnya tinja pada feses biasanya disebabkan oleh diare atau perdarahan pada saluran pencernaan. Namun dalam kasus yang tidak terlalu berbahaya, darah juga bisa dikarenakan tekanan kuat saat mengejan sehingga membuat anus terluka.

Tes untuk menguji darah pada feses ini disebtu fecal occult blood test (FOBT).

Memeriksa jenis bakteri penyebab penyakit

Sampel feses di laboratorium bisa dibuat kultur guna mendeteksi adanya pertumbuhan bakteri penyebab penyakit. Proses ini dilakukan selama kurang lebih 48-72 jam, dengan meletakkan sampel feses tersebut ke dalam inkubator.

Jika hasilnya negatif, tandanya tidak ada bakteri jahat yang tumbuh pada feses. Dengan kata lain, tubuh anak bebas dari penyakit akibat bakteri.

Memeriksa jenis parasit

Jika anak mengalami gejala penyakit usus maupun diare yang tidak kunjung selesai, pemeriksaan feses akan membantu mendeteksi adanya telur maupun parasit yang sudah berkembang.

Ketika hasilnya positif, berarti memang ada infeksi parasit yang mendiami tubuh anak.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri Diperbarui 16/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x