Apa Penyakit Asma Sudah Bisa Dideteksi Sejak Bayi?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Mengi (napas berbunyi lirih seperti ngik-ngik), sesak napas, dan batuk, merupakan salah satu gejala asma yang terjadi pada orang dewasa. Namun, jika bayi yang masih berusia di bawah satu tahun mengalami gejala tersebut, apa bisa dibilang gejala asma pada bayi? Kapan sebenarnya bayi bisa mendapatkan diagnosis asma? Cari tahu jawabannya di bawah ini. 

Apa itu asma?

Asma adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh peradangan dalam saluran pernapasan. Peradangan ini membuat saluran pernapasan bengkak dan sangat sensitif. Akibatnya, saluran pernapasan menyempit, menyebabkan kurangnya udara yang mengalir ke paru-paru.

Menurut WHO, asma adalah penyakit umum di antara anak-anak. Namun, para ahli juga belum mengetahui penyebab pastinya. Asma bisa memengaruhi orang-orang dari segala usia, tetapi paling sering dimulai pada masa kanak-kanak. Faktor risikonya antara lain adalah:

  • Memiliki infeksi pernapasan (risiko tertinggi)
  • Memiliki alergi, eksim (kondisi alergi pada kulit)
  • Orangtua atau kakek dan nenek memiliki asma (punya keturunan) 

Di antara anak-anak, anak laki-laki memiliki kecenderungan terkena asma lebih sering dibandingkan anak perempuan. Namun, di antara orang dewasa, wanita lebih sering terkena penyakit ini dibanding pria.

Bisakah terjadi asma pada bayi?

Umumnya dokter belum bisa mendiagnosis atau mendeteksi asma pada bayi. Kenapa begitu? Ini karena pada bayi usia dua tahun atau ke bawah, gejala-gejala asma yang mungkin muncul masih sangat mirip dengan gejala-gejala penyakit pernapasan lainnya. 

Sebanyak 30 persen bayi yang berusia di bawah 3 tahun, setidaknya mengalami satu sampai dua kali gejala mengi. Gejala mengi pada bayi ini umumnya sering didiagnosis sebagai bronkiolitis. Bronkiolitis adalah infeksi paru-paru yang umum terjadi. Kondisi ini menyebabkan peradangan dan penyumbatan pada saluran udara kecil (bronkiolus) pada paru-paru. Bronkiolitis hampir selalu disebabkan oleh virus.

Bronkiolitis diawali dengan gejala yang menyerupai pilek, tapi lantas meningkat menjadi batuk, napas berbunyi, dan kadang kesulitan bernapas. Gejala dari bronkiolitis pada bayi dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu, bahkan hingga sebulan. Berikut gejala bronkiolitis pada bayi yang wajib Anda ketahui:

  • Hidung berair
  • Hidung tersumbat
  • Batuk
  • Demam ringan (tidak selalu terjadi)
  • Kesulitan bernapas
  • Suara siulan
  • Infeksi telinga (otitis media) pada banyak bayi

Apa yang menyebabkan bronkiolitis pada bayi?

Bronkiolitis biasanya terjadi apabila virus menginfeksi bronkiolus, yaitu saluran udara yang paling kecil pada paru-paru. Infeksi menyebabkan bronkiolus membengkak dan meradang. Lendir menumpuk pada saluran udara tersebut, menyebabkan udara sulit mengalir bebas pada paru-paru.

Kebanyakan kasus bronkiolitis disebabkan oleh respiratory syncytial virus (RSV). RSV adalah virus umum yang menginfeksi hampir setiap anak-anak berusia 2 tahun. Wabah infeksi RSV terjadi setiap musim dingin. Bronkiolitis juga dapat disebabkan oleh virus lain, termasuk virus yang menyebabkan flu atau pilek. Bayi dapat terinfeksi kembali dengan RSV karena ada 2 turunan dari virus.

Ada beberapa hal yang bisa memicu perkembangan asma pada bayi

  1. Anda atau pasangan merokok. Hal ini bisa membuat bayi berisiko 4 kali terkena asma, dibanding dengan bayi yang bebas dari udara asap rokok di rumahnya.
  2. Ibu bayi merokok saat hamil
  3. Bayi Anda lahir dengan berat lahir rendah atau lahir prematur
  4. Salah satu atau kedua orang tua bayi Anda menderita asma, atau kondisi alergi lainnya, seperti eksim.
  5. Bayi memiliki kondisi alergi seperti eksim, atau alergi makanan.
  6. Bayi tinggal di rumah yang memiliki masalah lembab atau jamur.

Butuh pemeriksaan dokter untuk mendiagnosis asma

Anda memerlukan bantuan dokter untuk mendiagnosis asma karena masih sulit dideteksi jika bayi Anda berada di bawah usia 2 tahun. Dokter akan membantu memberikan diagnosis asma dengan mengidentifikasi melalui gejala gejala yang ditimbulkan kemudian juga dokter akan mempertimbangkan riwayat medis keluarga apakah ada yang memiliki asma atau tidak.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Distrofi Otot

Distrofi otot (muscular dystrophy) adalah sekelompok penyakit yang melemahkan otot. Cari tahu informasi lengkap seputar kondisi ini di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Muskuloskeletal, Myalgia (Nyeri Otot) 19 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit

Perkembangan Bayi 2 Minggu

Bayi Anda kini sudah memasuki usia 2 minggu. Bagaimana perkembangan bayi 2 minggu? Cari tahu kemampuan si kecil ketika berusia 2 minggu di sini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 6 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Perkembangan Bayi 1 Minggu

Bayi Anda kini sudah memasuki usia 1 minggu. Apa saja perkembangan bayi 1 minggu? Cari tahu kemampuan si kecil ketika berusia 1 minggu di sini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 6 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Tahap Demi Tahap Perkembangan Bayi Usia 0-11 Bulan

Satu tahun pertama merupakan masa tumbuh kembang yang paling penting. Yuk, simak tahap perkembangan bayi dari baru lahir hingga berusia 11 bulan berikut.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 6 Oktober 2020 . Waktu baca 16 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Konten Bersponsor
mencegah diabetes sejak dini

3 Langkah Lindungi Keluarga untuk Mencegah Diabetes Sejak Dini

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 20 November 2020 . Waktu baca 5 menit
antibodi bayi dari sang ibu

Pentingnya Persiapkan Daya Tahan si Kecil Sebelum dan Sesudah Lahir

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 10 November 2020 . Waktu baca 7 menit
Konten Bersponsor
meredakan demam setelah imunisasi

Si Kecil Demam Setelah Imunisasi? Redakan dengan Cara Ini

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 1 November 2020 . Waktu baca 4 menit
hemofilia hemophilia

Hemofilia

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 24 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit