Apakah Si Kecil Perlu Vaksin Tifoid Supaya Kebal dari Penyakit Tifus?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Demam tifoid (typhoid) atau tifus memengaruhi lebih dari 21 juta orang setiap tahunnya dan sudah ada 200.000 orang meninggal akibat penyakit ini, dikutip dari Web MD. Maka itu, penyakit ini tidak bisa dianggap remeh, terlebih bila menyerang anak-anak. Pasalnya, daya tahan tubuh anak cenderung masih lemah dan belum sekuat orang dewasa. Meski begitu, memberikan vaksin tifoid untuk anak bisa jadi salah satu cara mencegah penyakit ini. Lantas, kapan vaksin ini bisa diberikan pada anak?

Jangan remehkan tifus pada anak

Demam tifoid atau tifus adalah penyakit infeksi akut yang disertai demam yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Bakteri ini biasanya menempel pada makanan atau minuman yang dikonsumsi, ataupun menyebar dari orang yang terinfeksi tifoid.

Pada dasarnya, gejala tifoid pada anak-anak tidak jauh berbeda dengan yang biasanya dialami orang dewasa. Tanda paling umum dari penyakit tifoid pada anak yang harus Anda waspadai, yaitu saat anak mengalami demam tinggi yang biasanya akan berlangsung hingga dua sampai tiga minggu ke depan. Sakit kepala, kelelahan berlebih, tubuh menggigil, serta diare bisa mengiringi tifus yang menyerang anak.

Bila tifoid masih terjadi hingga memasuki minggu ke tiga, biasanya anak akan mulai menunjukkan tanda-tanda mengigau dan sulit berkonsentrasi. Jika telah memasuki tahap ini, tandanya tifus pada anak sudah memasuki tahap kritis dan harus segera ditangani. Penanganan yang terlambat dapat menyebabkan gejala tifoid makin parah atau bahkan komplikasi.

Penyebab tifoid disebabkan oleh bakteri, maka itu ia bisa menyerang siapapun yang tidak menjaga kebersihannya dengan baik. Cara pencegahan yang paling mudah adalah sellu menjaga kebersihan diri serta makanan. Vaksin tifoid juga bisa jadi pilihan dalam mencegah penyakit tifoid.

Lalu, kapan vaksin tifoid untuk anak perlu diberikan?

Nah, karena penyakit tifoid bisa memicu terjadinya komplikasi yang cukup serius, maka diperlukan pencegahan yang tepat. Salah satunya bisa dengan cara melakukan vaksin tifoid.

Menurut anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin tifoid sebaiknya diberikan untuk anak di atas usia dua tahun dan selanjutnya diulang setiap 3 tahun.

Penting untuk Anda ingat bahwa meskipun vaksin bekerja dalam mencegah infeksi penyakit, tapi kerja vaksin tidak selalu efektif 100 persen, termasuk vaksin tifoid. Maka itu, tetap saja Anda harus memastikan bahwa kebersihan diri si kecil dan makanannya tetap terjaga supaya tak terkena bakteri penyebab demam tifoid.

Seberapa efektif vaksin tifoid dalam mencegah penyakit tifus?

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), persentase keberhasilan vaksin yang diberikan pada anak bisa berbeda-beda yakni sebesar 90-100 persen tergantung kondisinya.

Meski begitu, saat seorang anak sudah mendapatkan vaksin tifoid, kemudian ia terserang demam tifoid di kemudian hari maka gejala yang dialaminya akan lebih ringan daripada anak lainnya yang belum mendapatkan vaksin tifoid.

Apakah ada efek samping dari vaksin tifoid?

Umumnya, efek samping yang ditimbulkan setelah vaksin diberikan tidak terlalu serius. Namun hal ini tentu bisa berbeda-beda tergantung dengan respon masing-masing tubuh. Meski begitu, vaksin ini aman untuk diberikan pada si kecil. Bila Anda ragu, sebaiknya konsultasikan dulu pada dokter apakah si kecil membutuhkan vaksin ini atau tidak.

Efek samping yang bisa muncul pada anak setelah mendapatkan vakin tifoid adalah demam, sakit kepala, dan muncul kemerahan di area kulit yang disuntikkan vaksin.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca