Gejala Intoleransi Laktosa Pada Anak yang Mesti Diperhatikan Ortu

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Anak minum susu atau makan es krim itu biasa, bahkan susu telah menjadi kebiasaan dari sebagian besar anak. Sayangnya, susu yang banyak dijual di pasaran mengandung laktosa, protein yang memang ada di dalam susu. Ya, beberapa anak, mungkin termasuk buah hati Anda, punya intoleransi terhadap laktosa. Jika dibiarkan minum susu yang ada kandungan laktosanya, akan menimbulkan gangguan kesehatan. Lantas, tahu dari mana jika si kecil mengalami intoleransi laktosa?  Sejak kapan itu bisa diketahui? Yuk simak apa saja gejala intoleransi laktosa pada anak.

Apa itu intoleransi laktosa?

intoleransi laktosa lactose intolerance

Intoleransi laktosa adalah kondisi ketika tubuh hanya memproduksi sangat sedikit enzim laktase yang bertugas memecah laktosa. Jadi orang dengan kondisi ini akan kesulitan mencerna laktosa.

Laktosa sendiri adalah jenis gula yang harus dicerna oleh enzim laktase untuk diubah menjadi bentuk yang lebih kecil, yaitu glukosa dan galaktosa.

Ketika jumlah enzim laktase tidak mencukupi, laktosa tidak akan diserap di usus kecil. Laktosa akan melewati usus halus kemudian menumpuk di usus besar, tempat bakteri usus akan memfermentasi sisa bahan makanan menjadi gas dan asam.

Laktosa pun akan difermentasi dalam usus besar ini, karena masih dalam ukuran yang besar, akhirnya gagal dicerna dan akhirnya timbul berbagai gejala intoleransi laktosa. Biasanya setelah 30 menit sampai 2 jam setelah mengonsumsi produk yang mengandung laktosa gejala-gejalanya akan muncul.

Sejak kapan anak bisa terkena intoleransi laktosa?

memberi makan balita

Intoleransi laktosa sebenarnya tidak terlalu umum terjadi pada bayi, biasanya gejala mulai muncul ketika si kecil berusia kurang lebih 3 tahun.

Sebenarnya, semua bayi dilahirkan dengan enzim laktase di usus mereka. Nah, ketika bayi bertambah usia, jumlah enzim laktasenya bisa menurun, sehingga perlu diproduksi oleh tubuh.

Bayi yang lahir prematur cenderung memiliki intoleransi laktosa yang disebut dengan developmental lactase deficiency. Kondisi ini bisa berlangsung beberapa saat setelah lahir. Meskipun begitu, sebagian besar bayi prematur yang mengalami kondisi tersebut tetap bisa menyusu ASI yang mengandung laktosa.

Dalam beberapa kasus, memang ada yang sejak bayi tidak bisa mencerna laktosa, ini disebut defisiensi laktosa kongenital. Namun, kejadian ini sangat jarang.

Ini merupakan kondisi ketika bayi tidak dapat memecah laktosa dalam ASI atau susu formula. Hal ini terjadi karena adanya hubungan dengan gen yang diwarisi dari orangtuanya.

Bayi yang mengalami kondisi ini bisa mengalami diare yang parah dan jika tidak diberikan makanan yang benar-benar bebas laktosa, bayi ini bisa mengalami dehidrasi berat hingga penurunan berat badan yang drastis.

Apa saja gejala intoleransi laktosa?

diare pada anak

Gejala intoleransi laktosa yang muncul akan tergantung dengan berapa banyak jumlah laktosa yang masuk dalam tubuh anak. Semakin banyak laktosa yang masuk dalam perut si kecil, semakin banyak atau parah gejala intoleransi laktosa yang akan dirasakan oleh anak.

Gejala ini juga bisa terjadi dalam beberapa menit atau bahkan beberapa jam setelah minum susu atau mengonsumsi produk yang termasuk produk susu, ini juga tergantung seberapa besar anak Anda masih bisa mentoleransi laktosa. Artinya, semakin parah tingkat intoleransinya, maka bisa semakin lama gejala intoleransi laktosa yang muncul.

Beberapa gejala intoleransi laktosa yang akan timbul pada anak adalah:

  • Mual
  • Perut nyeri atau perut kram
  • Perut kembung
  • Perut bergas
  • Diare

Bagaimana saya tahu kalau si kecil benar-benar intoleransi laktosa atau tidak?

minum susu saat pilek

Salah satu cara untuk mencari tahu apakah anak Anda intoleransi terhadap laktosa adalah dengan mencoba menghindari semua produk susu pada makanan atau minuman anak. Lakukan selama setidaknya 2 minggu untuk melihat apakah gejala yang selama ini mengganggu semakin menghilang, atau tidak.

Setelah dua minggu, coba berikan kembali produk susu dalam jumlah yang sangat kecil dari waktu ke waktu. Jika gejala-gejala intoleransi muncul kembali. Konsultasikan ke dokter anak Anda. Sebaiknya lakukan tes untuk melihat apakah anak benar-benar intoleransi atau tidak. Tes ini dinamakan dengan hydrogen breath test.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca