3 Penyebab Kematian Bayi Baru Lahir yang Paling Umum di Indonesia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 14 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Neonatus adalah sebutan bagi bayi yang baru lahir atau usianya 0-28 hari. Bayi usia kurang dari satu bulan mempunyai tubuh yang sangat lemah dan rentan terkena penyakit. Itulah kenapa bayi yang baru lahir perlu mendapatkan perhatian khusus supaya kesehatannya tetap optimal. Sebab jika tidak, hal ini bisa berakibat fatal dan menyebabkan kematian. Memangnya, apa saja penyebab kematian bayi baru lahir di Indonesia? Berikut penjelasannya.

Penyebab kematian bayi baru lahir di Indonesia

Dilansir dari siaran pers Kemenkes RI, angka kematian bayi di Indonesia tercatat mengalami penurunan menjadi 10.294 kasus pada tahun 2017. Meski tampak menguntungkan, Badan Pusat Statistik justru mengungkap fakta mencengangkan bahwa setiap jamnya, ada 8 bayi baru lahir yang meninggal di Indonesia.

Bila diakumulasikan, ini artinya ada sekitar 192 bayi yang harus meregang nyawa setiap harinya. Hal ini ditegaskan oleh Dr. Budihardja Singgih, DTM & H, MPH, selaku Senior Government Advisor dari USAID Jalin, yang ditemui oleh tim Hello Sehat di Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (18/12) dalam workshop yang digawangi oleh USAID Jalin.

Dr. Budihardja yang pernah menjabat sebagai Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI ini menegaskan bahwa angka tersebut masih terbilang cukup tinggi. Bukan hanya menjadi tugas pemerintah atau para dokter saja, seluruh masyarakat juga ikut andil dalam menurunkan angka kematian bayi baru lahir.

Sebelum mencari solusinya, Anda tentu harus tahu dulu penyebab kematian bayi baru lahir di Indonesia. Berikut penjelasan selengkapnya.

1. Asfiksia

bayi disunat

Asfiksia merupakan penyebab kematian bayi baru lahir yang paling utama di Indonesia. Asfiksia adalah kondisi saat bayi kekurangan oksigen sebelum atau selama kelahiran. Hal ini ditandai dengan kulit bayi yang membiru, sesak napas, detak jantung menurun, dan lemah otot.

“Biasanya, asfiksia itu disebabkan karena persalinan macet alias bayi tidak keluar-keluar saat persalinan. Atau bisa juga karena bayinya sudah hampir keluar, tapi terhambat di tengah jalan. Nah, hal inilah yang paling sering jadi penyebab kematian bayi baru lahir,” jelas Dr. Budiharja.

2. Infeksi

merawat tali pusar

Menurut WHO, infeksi masuk ke dalam tiga penyebab kematian bayi baru lahir paling umum di dunia. Ada banyak hal yang bisa memicu terjadinya infeksi pada bayi baru lahir, di antaranya:

Selain itu, infeksi pada bayi baru lahir cukup sering terjadi di daerah-daerah yang fasilitas persalinannya belum optimal. Ambil contoh pada kasus persalinan, alat-alat bersalin yang dibutuhkan tentu harus dalam kondisi steril. Jika tidak, alat-alat tersebut rentan terpapar mikroorganisme yang dapat memicu infeksi pada ibu hamil dan bayi baru lahir.

Begitu juga dengan perawatan tali pusat, alat-alat yang digunakan juga harus bersih dan steril. Sebab jika tidak, bayi akan rentan terkena infeksi dan penyakit lainnya, atau bahkan menyebabkan kematian.

3. Berat badan lahir rendah

Bayi dikatakan memiliki berat lahir rendah apabila berat badannya kurang dari 2.500 gram atau 2,5 kilogram (kg). Menurut Dr. Budihardja, bayi yang beratnya kurang dari 2.500 gram rentan mengalami masalah kesehatan atau bahkan kematian sewaktu lahir.

“Tapi kalau masih di antara 2.000 sampai 2.500 gram, biasanya masih bisa diselamatkan. Kalau sudah di bawah itu, akan sulit sekali (dilahirkan dalam kondisi selamat),” ungkapnya.

Apakah kematian bayi baru lahir bisa dicegah?

Banyaknya kasus kematian bayi baru lahir di Indonesia tentu harus menjadi perhatian semua pihak. Bukan hanya dari kalangan dokter, tim medis, maupun pemerintah saja, tapi juga perlu dukungan dari masyarakat. Baik ibu hamil itu sendiri, suami, hingga keluarganya.

Karena penyebab kematian bayi baru lahir itu berbeda-beda, maka cara pencegahannya pun berbeda pula. Selain dengan meningkatkan kualitas layanan kesehatan, upaya menjaga keselamatan bayi baru lahir juga ditentukan oleh kesehatan ibunya sendiri.

Supaya berat badan bayi saat lahir normal, dalam artian tidak kurang maupun tidak lebih, ibu wajib menjaga pola makannya saat hamil. Contohnya dengan memperbanyak makan sayur dan buah, makanan tinggi serat dan asam folat, dan jenis makanan sehat lainnya. Semakin terpenuhi kebutuhan gizi ibu saat hamil, maka kesehatan ibu dan bayinya pun akan semakin optimal.

Begitu juga dengan asfiksia dan infeksi pada bayi baru lahir, kedua masalah kesehatan ini juga bisa dicegah sedini mungkin.

“Sedangkan untuk mencegah asfiksia pada bayi, itu sebenarnya bisa dicegah sejak awal. Misalnya kalau sudah tahu persalinannya macet, maka bisa segera dilakukan operasi caesar. Jadi, bayi tidak perlu lama-lama di jalan lahir yang bisa bikin kehabisan oksigen,” papar Dr. Budihardja.

Sementara untuk mencegah infeksi, pastikan fasilitas kesehatannya bersih dan higienis. Mulai dari alat-alat hingga ruang bersalin, pastikan semuanya dalam kondisi yang bersih dan steril sehingga bayi dapat terhindar dari risiko infeksi.

“Kecuali jika bayi lahir prematur, tentu kita tidak bisa mencegah berat bayi lahir rendah. Artinya, tidak semua bisa dicegah, tapi kebanyakan penyebab kematian bayi baru lahir bisa dicegah sedini mungkin,” tutup Dr. Budihardja.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Rubella (Campak Jerman)

Rubella atau campak Jerman adalah penyakit menular yang disebabkan virus. Apa gejala dan penyebabnya? Bagaimana mencegah kondisi ini?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Infeksi pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 2 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit

Growing Pain

Growing pain biasanya lebih sering terjadi pada anak laki-laki dari pada perempuan. Kenapa itu bisa terjadi? Bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Penyakit Pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 31 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Scarlet Fever, Demam Sekaligus Kemerahan pada Kulit Anak

Demam scarlet atau juga dikenal eritema disebabkan oleh berkembangnya bakteri pada penderita angina. Penyakit ini biasa menyerang anak kecil.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Penyakit Infeksi pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 27 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Memaksa Anak Jago Olahraga

Banyak orangtua yang memaksa anak untuk berprestasi dalam olahraga. Ambisi orang tua yang lebih besar membuat olahraga bagi anak kehilangan manfaat aslinya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 9 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat mual anak cara mengatasi mual anak

Daftar Obat Mual untuk Anak, Mulai dari Resep Dokter Sampai Perawatan di Rumah

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
obat pilek bayi

Pilihan Obat Pilek yang Bisa Diberikan pada Anak dan Bayi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
menonton tv terlalu dekat

Benarkah Nonton TV Terlalu Dekat, Bisa Bikin Mata Anak Rusak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
gigi susu anak apakah akan tanggal semua

Mulai Kapan Gigi Susu Anak Copot? Apakah Pasti Akan Copot Semua?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 6 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit