home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengadaptasi Pola Asuh yang Dapat Mencegah Anak Melakukan Bullying

Mengadaptasi Pola Asuh yang Dapat Mencegah Anak Melakukan Bullying

Dalam kasus bullying di lingkungan sekolah atau pertemanan, anak-anak tidak hanya menjadi korban, tapi juga bisa menjadi pelakunya. Alasan anak melakukan tindakan bullying bisa berkaitan dengan kondisi psikologis ataupun masalah dalam kemampuan bersosialisasi. Namun, sedikit banyak, pola asuh orangtua ikut berkontribusi. Lantas, pola asuh seperti apa yang harus diterapkan ataupun dihindari untuk mencegah anak melakukan bullying?

Pola asuh otoriter memicu anak menjadi pelaku bullying

Pola asuh orangtua turut membentuk kepribadian anak. Itu sebabnya, mengadopsi pola asuh yang tepat akan mencegah anak melakukan tindakan bullying.

Sebagian besar, anak akan mencontoh perilaku yang ditunjukkan orangtua di rumah. Cara orangtua memperlakukan sang anak pun akan memengaruhi mereka untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Studi bertajuk Understanding the Psychology of Bullying menyebutkan bahwa penyebab anak melakukan bullying memang tidak hanya dari lingkungan keluarga. Lingkungan sosial, seperti pertemanan, sekolah, lingkungan tempat tinggal juga memengaruhi sikap bullying anak.

Meski begitu, terdapat pola asuh, atau parenting style, yang nyatanya juga berkontribusi terhadap tindakan bullying yang dilakukan anak.

Studi tersebut menjelaskan bahwa kecenderungan anak menjadi pelaku bullying atau perundungan akan meningkat saat orangtua menunjukkan perilaku agresif atau tindak kekerasan di rumah, baik secara fisik maupun verbal. Pola asuh yang mengekang, seperti tidak melibatkan pendapat anak saat berkomunikasi dan jarang menunjukkan dukungan pada anak, juga ikut berpengaruh.

Orangtua yang menggunakan kekerasan fisik sebagai bentuk hukuman atas kesalahan anak juga berisiko lebih tinggi membuat mereka melakukan bullying.

Salah satu studi pada tahun 2015 dalam jurnal Child Abuse & Neglect, mendapati bahwa orangtua yang menghukum dengan kekerasan fisik membuat anak terbiasa dengan tindak kekerasan. Anak jadi ikut menunjukkan perilaku agresif ketika mencoba beradaptasi di lingkungan sosialnya.

Anak yang kerap mendapatkan hukuman fisik melihat tindak kekerasan sebagai alat untuk “mengontrol” orang lain. Dengan memiliki kendali atas situasi di sekelilingnya, anak merasa lebih mudah menyesuaikan diri di lingkungan pertemanannya.

Dalam klasifikasi pola asuh yang ditentukan psikolog Diana Baumrind, pola asuh orangtua di atas disebut dengan pola asuh otoriter (authoritarian parenting style).

Pola asuh otoriter patut dihindari bukan hanya untuk mencegah anak melakukan bullying. Cara ini juga sekaligus memutus mata rantai perilaku bullying di lingkungan keluarga sendiri. Pasalnya, apabila dibiarkan, saat dewasa ia bisa ikut membesarkan anak-anaknya dengan pola asuh serupa sehingga melanggengkan tindakan bullying.

Pola asuh yang mencegah anak jadi pelaku bullying

Lantas, pola asuh seperti apa yang dapat mencegah anak melakukan tindakan bullying? Pola asuh autoritatif bisa diterapkan dalam upaya mencegah anak melakukan tindakan bullying.

Dalam klasifikasi Baumrind, pola asuh autoritatif berarti gaya komunikasi orangtua yang lebih demokratis. Orangtua bertugas membimbing anak memahami permasalahan di sekelilingnya dan mengetahui konsekuensi atas perbuatannya.

Ketika berbuat salah, orangtua akan mendorong anak untuk bertanggung jawab dan memperbaiki kesalahannya. Hal ini tentu dilakukan tanpa memberikan hukuman yang menyakiti secara fisik dan mental.

Salah satu yang bisa dijadikan contoh adalah perlunya mengajarkan anak untuk menjunjung rasa saling menghargai perbedaan. Pola asuh semacam ini bisa mencegah anak untuk melakukan tindakan bullying alias perundungan.

Anda bisa menceritakan bahwa setiap orang diciptakan dengan kondisi berbeda. Setiap orang juga memiliki latar belakang yang berbeda dan masing-masing memiliki pribadi yang unik. Intinya, Anda perlu mencoba membiasakan anak untuk toleran terhadap perbedaan di lingkungan sekitarnya.

Meski begitu, yang perlu diwaspadai adalah jangan sampai akhirnya Anda “bablas” dan akhirnya melakukan pola asuh permisif. Dalam pola asuh ini, Anda cenderung memberikan kebebasan pada anak tanpa batasan jelas. Jika dilakukan berlebihan, ujungnya Anda cenderung memanjakan anak. Anak pun bisa merasa mendapatkan pembenaran dari orangtua atas tindakan bullying yang ia lakukan.

Pola asuh permisif yang mengabaikan juga bisa membuat anak memiliki masalah psikologis internal. Ia bisa jadi merasa tidak diterima oleh lingkungan di sekelilingnya.

Menurut American Psychological Association, sebagian besar anak pelaku bullying memang cenderung memiliki kondisi psikologis yang lemah atau tidak stabil, termasuk kerap merasa kurang percaya diri. Mereka mengintimidasi anak lainnya demi meningkatkan kepercayaan diri. Cara itu juga mereka lakukan untuk memperkuat posisinya di lingkungan pertemanan mereka.

Apabila anak memiliki masalah seperti ini dalam bersosialisasi atau bahkan merasa tidak diterima, berikanlah dukungan dan perhatian lebih. Perhatian dan dukungan dari orang di sekitar akan membuat anak merasa aman dan tak mudah tertekan ketika menghadapi penolakan di lingkungan sosialnya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Teaching Kids Not to Bully (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2020). Retrieved 11 May 2020, from https://kidshealth.org/en/parents/no-bullying.html

How parents, teachers and kids can take action to prevent bullying – American Psychological Association. (2020). Apa.org. Retrieved 11 May 2020, from https://www.apa.org/helpcenter/bullying

Why Do Kids Bully? | Stomp Out Bullying. (2020). Stompoutbullying.org. Retrieved 11 May 2020, from https://www.stompoutbullying.org/get-help/about-bullying-and-cyberbullying/why-do-kids-bully

Understanding the Roles of Parents and Caregivers in Community-Wide Bullying Prevention Efforts | Stop Bullying. (2020). Stopbullying.gov. Retrieved 11 May 2020, from https://www.stopbullying.gov/sites/default/files/2017-09/hrsa_guide_parents-and-caregivers_508v2.pdf

Swearer, S. M., & Hymel, S. (2015). Understanding the psychology of bullying: Moving toward a social-ecological diathesis–stress modelAmerican Psychologist70(4), 344.

Gómez-Ortiz, O., Romera, E., & Ortega-Ruiz, R. (2016). Parenting styles and bullying. The mediating role of parental psychological aggression and physical punishment. Child Abuse & Neglect, 51, 132-143. doi: 10.1016/j.chiabu.2015.10.025

Efobi, A., & Nwokolo, C. (2014). Relationship between parenting styles and tendency to bullying behaviour among adolescentsJournal of Education and Human Development3(1), 507-521.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Fidhia Kemala
Tanggal diperbarui 30/05/2020
x