backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Ortu Perlu Waspada, Ini 5 Kenakalan Remaja yang Kerap Dilakukan

Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita · General Practitioner · None


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

Ortu Perlu Waspada, Ini 5 Kenakalan Remaja yang Kerap Dilakukan

Remaja menjadi fase peralihan yang membuat anak memiliki keingintahuan yang sangat besar. Di usia ini, banyak remaja berani mencoba banyak hal dari yang positif sampai negatif. Oleh karenanya, kenakalan remaja menjadi sesuatu yang biasa terjadi tetapi sebenarnya tak boleh dibiarkan. Lantas, apa saja contoh kenakalan remaja ini dan apa yang harus orangtua lakukan?

Apa itu kenakalan remaja?

Kenakalan remaja, sering disebut juga perilaku menyimpang remaja, merujuk pada perilaku yang dianggap melanggar norma sosial atau hukum yang umumnya terkait dengan kelompok usia remaja atau muda.

Kenakalan remaja bisa sangat bervariasi dalam tingkat keparahan, mulai dari pelanggaran ringan hingga tindakan kriminal serius.

Ini bisa mencakup berbagai perilaku, seperti kekerasan, pencurian, kenakalan seksual, penyalahgunaan narkoba, perilaku berisiko, hingga pelanggaran hukum.

Faktor-faktor seperti lingkungan keluarga, teman sebaya, pengaruh media, dan kondisi sosial ekonomi dapat berperan dalam mendorong atau mencegah kenakalan remaja.

Juga, penting untuk diingat bahwa masa remaja adalah waktu perkembangan yang kompleks ketika seseorang mencari identitasnya, sehingga normal jika memiliki dorongaan yang tinggi untuk mencoba hal-hal baru.

Contoh dan ciri-ciri kenakalan yang dilakukan remaja

Berikut beberapa contoh kenakalan pada remaja serta ciri-ciri yang bisa dikenali.

1. Kecanduan alkohol

Penelitian dalam Consequences of Underage Drinking menunjukkan bahwa orang yang mulai minum alkohol di usia dini akan mempunyai masalah pada kemudian hari.

Apalagi, usia remaja masih merupakan masa perkembangan otak anak.

Anda juga harus berhati-hati karena salah satu contoh kenakalan remaja ini dapat mengganggu perubahan hormon di masa pubertas, baik untuk perempuan maupun laki-laki.

Tanda atau ciri-ciri kecanduan alkohol pada remaja meliputi berikut ini.

  • Konsumsi alkohol jauh melebihi batas yang direkomendasikan atau sesuai dengan usianya.
  • Kesulitan mengontrol jumlah konsumsi alkohol.
  • Toleransi yang meningkat, sehingga memerlukan jumlah alkohol yang lebih besar untuk mencapai efek yang sama seperti sebelumnya.
  • Munculnya gejala penarikan setelah cukup lama tanpa alkohol, seperti gemetar, kecemasan, atau mual.
  • Keterlibatan dalam perilaku berisiko, seperti mengemudi dalam keadaan mabuk atau terlibat dalam tindakan kriminal.
  • Perubahan perilaku dan suasana hati yang drastis atau penurunan prestasi sekolah.
  • Prioritas hidup yang terganggu dan menyebabkan remaja mengabaikan tanggung jawab sekolah atau aktivitas lainnya.
  • Penurunan minat dalam aktivitas yang biasanya dinikmati.
  • Perubahan dalam hubungan sosial dengan keluarga dan teman.

2. Narkoba

Penyalahgunaan narkotika sudah bukan lagi fenomena baru di kalangan anak sekolah. Bahkan, ini menjadi contoh kenakalan remaja yang menyebar dengan luas dan cepat.

Ada bukti statistik bahwa kontak pertama anak dengan narkoba umumnya dimulai saat kelas 6 sampai 8 (usia 12—14 tahun).

Hal ini juga berkaitan dengan efek kecanduan yang dikutip dari Medline Plus, bahwa orang yang mencoba-coba narkoba pada usia muda memiliki kesempatan lebih tinggi mengidap kecanduan pada kemudian hari.

Kebanyakan individu mulai menyalahgunakan setidaknya satu substansi sebelum menjadi pecandu. Inilah sebabnya penting untuk melihat tanda-tanda dari penyalahgunaan zat pada remaja dan dewasa muda awal.

Berikut beberapa tanda atau ciri-ciri pengguna narkoba sebagai salah satu kenakalan remaja.

  • Perubahan secara tiba-tiba atau ekstrem dalam berteman, pola makan, jam tidur yang tidak teratur, serta penampilan fisik.
  • Bekas suntikan atau jeratan di lengan atau kaki (bisa disembunyikan dengan memakai lengan panjang di hari yang sangat panas).
  • Mata kemerahan, sering sakit, keringat berlebih, bau aneh dari tubuh, tremor, sering mimisan, dan perubahan fisik lainnya.
  • Menjadi tidak bertanggung jawab, memiliki penilaian yang buruk, dan secara umum kehilangan minat.
  • Melawan peraturan atau menjauhi keluarga.
  • Di kamar terdapat kotak obat atau perlengkapan obat-obatan, meskipun anak tidak sakit.
  • Anda mengalami kehilangan uang, barang berharga, dan anak sering meminta uang dengan paksa padahal sebelumnya tidak pernah berbuat demikian.
  • Menutup diri, berdiam diri, mengisolasi, terlibat dalam aktivitas mencurigakan.
  • Memaksa untuk mendapatkan privasi lebih, mengunci pintu, dan menghindari kontak mata.
  • Membolos, nilai rapor menurun, dan sering bermasalah di sekolah.

3. Merokok

Merokok juga bisa dikategorikan sebagai kenakalan remaja. Berdasarkan data dari Kesehatan Kementerian RI, hampir 80% dari total perokok di Indonesia mulai merokok ketika usianya belum mencapai 19 tahun.

Kelompok usia yang paling banyak merokok di Indonesia adalah usia 15—19 tahun. Sementara itu, di urutan kedua adalah kelompok usia 10—14 tahun.

Menurut WHO, Indonesia adalah negara ketiga dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah Cina dan India.

Remaja yang merokok memiliki status kesehatan yang buruk dibandingkan dengan yang tidak merokok. Akibat yang paling sering dialami oleh para perokok muda adalah sakit kepala dan sakit punggung.

Selain itu, ketika anak sudah mulai merokok, maka akan sulit untuk dihentikan. Hal ini berlaku ketika anak sudah mulai kecanduan. Pasalnya, tubuh dan pikiran dengan cepat beradaptasi dengan kandungan nikotin.

4. Kabur dari rumah

Saat mempunyai masalah yang cukup berat, ada sebagian remaja yang mencari jalan keluar dengan kabur dari rumah.

Biasanya, cara ini dilakukan jika ia merasa muak dengan kondisi di rumah, entah itu pertengkaran orangtua yang selalu terjadi atau merasa tidak diperhatikan.

5. Seks bebas

Seks bebas menjadi salah satu kenakalan remaja yang kasusnya terus bertambah. Padahal dulu, seks adalah hal yang tabu dilakukan sebelum menikah.

Namun, seiring dengan pergeseran zaman, seks sebelum nikah bahkan dianggap sebagai salah satu gaya hidup para remaja.

Apa penyebab kenakalan remaja?

anemia pada remaja

Berikut beberapa hal yang menyebabkan anak terjerumus dalam kenakalan remaja.

1. Mengalami krisis identitas

Remaja kerap mengalami krisis identitas yang ditandai dengan perkembangan emosi yang tidak stabil yang membuatnya mudah dipengaruhi orang lain, terutama teman terdekatnya.

Pada fase ini, anak cenderung mencoba-coba banyak hal yang sekiranya cocok untuknya dan membuatnya merasa lebih baik.

Sebagai contoh, ia merasa dengan merokok semua beban pikirannya hilang dan merasa lebih keren.

Dari coba-coba itulah, lama-lama hal yang dilakukan menjadi kebiasaan yang akan terbawa sampai dewasa nanti.

2. Memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, masing-masing anak akan melalui tahap perkembangan remaja.

Ini merupakan fase transisi dari anak-anak sebelum ia menjalani masa menjadi dewasa.

Pada fase ini, anak cenderung mempunyai rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Oleh karenanya, banyak hal yang ia ingin coba untuk pertama kali dalam hidupnya.

3. Pembuktian harga diri

Ego dan harga diri juga kerap menjadi alasan mengapa anak remaja akhirnya terjerumus pada hal-hal negatif.

Sebagai contoh, ketika teman-temannya merokok dan minum alkohol, kemudian anak Anda ditawari tetapi ia menolak.

Kemudian teman-temannya mengatakan bahwa “Ah payah, ga keren dan ga laki banget sih”.

Ketika anak mendengar ucapan tersebut, ego dan harga dirinya merasa tercoreng. Akhirnya, ia mau mencoba rokok dan alkohol untuk membuktikan bahwa ucapan itu tidak benar.

4. Stres

Pertengkaran orangtua, cekcok dengan pacar, atau masalah lain yang membuatnya stres bisa memicu anak terjerumus dalam kenakalan remaja.

Ketika ia merasa stres dan tidak diperhatikan, bahkan oleh orangtuanya sendiri, saat itu pula ia merasa perlu melampiaskan stresnya pada hal lain.

Hal inilah yang kemudian membuat anak terjerumus dalam kenakalan remaja.

Oleh karena itu, masa remaja merupakan fase di mana anak sebenarnya butuh dibimbing, bukan dibiarkan karena dianggap sudah besar.

Kombinasi semua hal inilah yang akhirnya bisa menjerumuskan anak ke dalam kenakalan remaja.

Tips melindungi anak dari kenakalan remaja

penyebab anemia pada remaja

Jika Anda tak cepat-cepat mengambil langkah bijak, bukan tidak mungkin anak ikut terseret arus kenakalan remaja yang semakin mengkhawatirkan.

Berikut beberapa hal yang perlu Anda lakukan sebagai bentuk pencegahan dan cara mengatasi kenakalan remaja.

1. Ajak anak diskusi

Anda bisa memancing obrolan dari topik yang paling sederhana. Misalnya, menanyakan apa saja aktivitas anak di sekolah dan bagaimana anak biasanya bergaul dengan teman-temannya.

Setelah itu, barulah Anda giring obrolan ke topik utama.

Jelaskan pada anak apa itu kenakalan remaja secara umum, apa saja hal-hal yang masuk ke dalam tindakan tersebut, dan apa bahayanya jika ia masuk dalam lingkaran tersebut.

2. Dukung anak melakukan hobi yang ia sukai

Masa remaja adalah fase anak sedang aktif-aktifnya mencoba berbagai kegiatan. Jadi, apa pun kegiatan yang dipilih anak selama tergolong positif, dukunglah.

Intinya, alihkan perhatian anak dari kenakalan remaja melalui berbagai aktivitas positif yang ia sukai.

3. Terapkan aturan yang tegas di rumah

Menerapkan aturan tegas di rumah merupakan cara jitu yang bisa dilakukan orangtua untuk menghindari pergaulan bebas pada remaja.

Beberapa aturan yang perlu ditegakkan misalnya soal jam pulang malam. Sampaikan pada setiap anak, baik itu laki-laki maupun perempuan, tidak boleh pulang larut malam.

Mintalah anak-anak untuk sampai di rumah setidaknya pada pukul 8 malam, kecuali jika memang ada urusan lain dengan alasan yang kuat.

4. Pantau aktivitas anak

Usahakan Anda selalu memantau dan mengawasi kegiatan untuk menghindari kenakalan pada remaja.

Berikan pemahaman bahwa apa yang Anda lakukan ini bukan sebagai bentuk kekangan, tapi pengawasan. Salah satu bentuk pantauan misalnya selalu bertanya ke mana ia pergi dan bersama siapa.

Katakan pada anak bahwa sebagai orangtua Anda hanya khawatir dan ini adalah cara Anda untuk tetap bisa menjaganya meski berjauhan.

5. Kenali setiap teman-teman anak Anda

Dalam banyak kasus, perilaku anak remaja tercermin dari lingkungan pertemanan mereka sehari-hari. Maka dari itu, pastikan Anda mengenali teman-temannya dengan baik.

Mengetahui lingkaran pertemanan anak juga memungkinkan Anda untuk mengenal orangtua anak-anak lain.

Alhasil, Anda juga bisa bertukar pikiran dan informasi tentang tips mendidik anak dengan orangtua lainnya.

6. Beri pendidikan seksual

Anak remaja punya rasa penasaran yang tinggi tentang seks dan seksualitas. Ini adalah bagian alami dari proses tumbuh kembangnya.

Namun, jika rasa penasaran ini tidak didampingi oleh pengetahuan mumpuni, penyalurannya bisa keliru.

Oleh karena itu, pendidikan seksual adalah salah satu pelajaran penting dalam mendidik remaja.

Yang bisa orangtua lakukan dalam edukasi seks

  • Pendidikan seksual bukan hanya mengenai hubungan seks semata. Anda dapat mulai dengan menjelaskan mengenai perbedaan tubuh laki-laki dan perempuan secara umum serta perubahan tubuh ketika puber.
  • Berikan pemahaman kepada anak bahwa melakukan seks bebas berakibat fatal pada kehidupannya.
  • Sampaikan juga padanya bahwa seks di luar nikah, apalagi berganti-ganti pasangan, bisa membuatnya terkena penyakit kelamin.
  • Katakan padanya bahwa Anda tidak melarang anak untuk dekat dengan lawan jenis tetapi tetap harus tahu batasan dan bertanggung jawab.

Dengan cara di atas, pendidikan seksual dini bukan hanya menjaga anak remaja dari pergaulan bebas akibat ingin “coba-coba” karena penasaran, tetapi juga melindungi anak dari bahaya pelecehan seksual oleh orang-orang sekitarnya.

Jika perlu, Anda juga bisa berkonsultasi kepada ahlinya jika kenakalan remaja yang terjadi pada buah hati Anda tak juga teratasi.

Catatan

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Damar Upahita

General Practitioner · None


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan