Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal Dampak Pola Asuh Permisif terhadap Perilaku dan Perkembang Anak

Mengenal Dampak Pola Asuh Permisif terhadap Perilaku dan Perkembang Anak

Pernahkah Anda mendapati orangtua yang memberikan kebebasan kepada anak untuk melakukan apa saja tanpa aturan yang tegas? Atau malah Anda sendiri yang mungkin menerapkannya pada si buah hati? Nah, ternyata metode tersebut dikategorikan ke dalam pola asuh permisif. Sebenarnya, adakah dampak pengasuhan tersebut bagi tumbuh kembang anak? Yuk, cari tahu di sini!

Apa itu pola asuh permisif?

penyebab anak nakal

Pengasuhan permisif termasuk ke dalam salah satu gaya pengasuhan utama yang dijelaskan oleh Diana Baumrind, seorang ahli psikologi klinis dari Amerika Serikat, pada tahun 1971.

Sesuai dengan namanya, pola asuh permisif adalah mengasuh anak dengan cara membebaskan, memberikan keterbukaan, dan mengizinkan ia untuk melakukan segala sesuatu yang diinginkan.

Metode ini cenderung tidak memberikan batasan dan aturan yang tegas kepada anak.

Orangtua juga bisa membiarkan anak menjalani hidupnya sendiri tanpa dituntut dan diarahkan. Hal ini membuat orangtua lebih berperan seolah sebagai teman daripada “orangtua” yang sebenarnya.

Namun, berbeda dengan pola asuh mengabaikan anak (neglected), pengasuhan permisif justru memberikan perhatian berupa kasih sayang yang melimpah kepada si kecil.

Selain itu, orangtua cenderung menuruti kemauan anak sehingga sangat identik dengan memanjakan.

Berikut beberapa contoh pola asuh permisif.

  • Membiarkan anak berleha-leha tanpa batasan, misalnya bermain game terus menerus.
  • Tidak memberikan teguran jika anak berperilaku buruk seperti bolos sekolah, merokok, dan lain-lain.
  • Tidak banyak menetapkan aturan terhadap anak. Jika ada aturan, cenderung tidak konsisten.
  • Menuruti semua permintaan anak meskipun tidak wajar.
  • Sulit meminta anak untuk berperilaku baik jika tidak disertai dengan imbalan.
  • Terlalu mempertimbangkan pendapat anak terhadap keputusan besar yang seharusnya tidak perlu dilibatkan.

Apakah ada dampak pola asuh permisif pada kehidupan anak?

Cara untuk Meningkatkan Kecerdasan Anak pada Usia 1 - 3 Tahun

Meskipun terkesan sangat menyayangi anak, gaya pengasuhan ini ternyata memberikan sejumlah efek negatif bagi tumbuh kembang anak.

Beberapa dampak yang dapat terjadi antara lain sebagai berikut.

1. Anak menjadi bandel

Kurangnya aturan yang tegas membuat anak menjadi tidak disiplin dan tidak patuh aturan.

Ia pun cenderung melawan perkataan orangtua sehingga tumbuh menjadi anak yang bandel dan sulit diatur.

2. Kurang berprestasi

Orangtua yang permisif cenderung tidak menuntut apa-apa dari anak.

Menurut studi yang diterbitkan oleh jurnal Frontiers in Psychology, hal tersebut dapat membuat anak kurang termotivasi untuk berprestasi, baik dalam bidang akademik maupun keterampilan lainnya.

3. Tidak terampil dalam bersosialisasi

Perilaku orangtua yang memanjakan dapat membuat anak merasa sebagai “raja di dalam rumah”.

Sayangnya, posisi itu belum tentu ia dapatkan di luar. Hal ini membuatnya cenderung menarik diri dari lingkungan sekitar.

4. Cenderung menjadi posesif

Pola asuh permisif cenderung menuruti semua keinginan anak dan memberikan apa yang ia inginkan.

Dampaknya, anak mungkin menjadi egois, posesif, dan enggan berbagi dengan orang lain.

5. Anak tidak memiliki prinsip hidup yang kuat

Karena orangtua jarang mengajarkan aturan dalam kehidupan, akibatnya anak menjadi tidak punya pegangan hidup.

Selain itu, ia pun menjadi lambat dewasa karena orangtua cenderung menganggapnya anak kecil yang tidak perlu diberi tanggung jawab.

6. Sulit berkeputusan

Orangtua yang permisif seringkali membiarkan si kecil berleha-leha. Akibatnya, ketika ditimpa masalah, anak menjadi sulit untuk memecahkannya.

Hal ini dapat membuatnya menjadi mudah stres dan sulit berkeputusan.

7. Anak cenderung agresif

Menurut studi yang diterbitkan oleh Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro, anak yang dirawat dengan pola asuh permisif lebih berisiko menunjukkan perilaku buruk bahkan melakukan tindak kekerasan.

Ini karena anak yang dididik dengan pengasuhan permisif umumnya sulit mengontrol diri dan emosinya.

8. Sulit mengubah kebiasaan buruk

Menurut studi dari University of Otago anak balita yang diasuh dengan gaya pengasuhan permisif cenderung sulit mengubah kebiasaan buruknya, seperti menonton TV secara berlebihan.

Ini karena anak tidak terbiasa diberikan aturan di rumah. Jika dibiarkan, kebiasaan buruk tersebut dapat berlanjut hingga dewasa.

9. Berisiko mengalami masalah gizi

Melansir studi dari jurnal Childhood Obesity, anak yang dimanjakan oleh pengasuhan yang permisif cenderung mengalami kelebihan berat badan.

Pasalnya, orangtua tidak mampu mengendalikan nafsu makan si kecil. Namun, pada anak yang lain mungkin akan mengalami sebaliknya.

Si kecil bisa saja kurang gizi dan menjadi kurus karena orangtua sulit memintanya untuk makan jika tidak berselera.

10. Lebih berisiko mengonsumsi minuman keras dan narkoba

Anak-anak yang dibiarkan bebas oleh orangtuanya berpotensi terjebak dalam pergaulan yang salah. Menurut Journal of Studies on Alcohol and Drugs, mereka tiga kali lebih berisiko mengonsumsi alkohol di usia muda dan menyalahgunakan narkoba.

Bagaimana meninggalkan pola asuh permisif?

pola asuh permisif

Meskipun sulit, mengubah cara mengasuh dan mendidik anak bukanlah hal yang mustahil.

Agar si kecil tidak berisiko mengalami sejumlah dampak buruk di atas, Michigan State University Extension menyarankan tips-tips berikut.

1. Menyusun aturan sederhana di rumah

Susunlah tugas sederhana di rumah dan aturan perilaku yang baik untuk anak. Jangan lupa untuk menentukan konsekuensi atau hukuman yang tegas jika anak melanggar aturan tersebut.

Libatkan anak saat menyusun itu semua agar ia menerimanya sebagai sebuah keputusan bersama dan merasa bertanggung jawab untuk mematuhinya.

2. Beri kesenangan setelah berbuat baik

Ajari si kecil bahwa setelah mengerjakan tugas di rumah seperti mencuci piring, ia boleh melakukan hal yang disukainya seperti menonton TV atau bermain game.

Namun, tetap batasi waktunya, misalnya hanya 30 menit saja.

Buatlah tugas yang sederhana saja agar si kecil tidak kesulitan dalam mengerjakannya, kemudian perlahan tingkatkan sesuai kemampuannya.

3. Tetap konsisten

Menerapkan aturan pada anak memang akan sulit, apalagi selama ini ia sudah terbiasa hidup bebas tanpa aturan dalam pola asuh permisif.

Namun, biasanya kondisi tersebut akan sulit pada awalnya saja. Jangan kendor saat si kecil berupaya untuk menegosiasi dan merajuk.

Jika Anda tetap konsisten terhadap aturan yang sudah ditetapkan, perlahan tapi pasti anak pun akan menurutinya.

4. Tetap beri keleluasaan

Menetapkan aturan bukan berarti Anda harus mengungkung dan mendikte anak. Tetap berikan keleluasaan padanya agar ia bebas bereksplorasi dan mencoba pengalaman baru.

Anak yang diberi keleluasaan akan lebih kreatif dan mampu berkembang sesuai minat dan bakatnya. Namun, pastikan untuk tetap menjaganya dalam batasan dan aturan yang wajar.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Muraco, J., Ruiz, W., Laff, R., Thompson, R., & Lang, D. Baumrind’s Parenting Styles. Retrieved 1 September 2021, from https://iastate.pressbooks.pub/parentingfamilydiversity/chapter/chapter-1-2/

Permissive parenting style. (2017). Retrieved 1 September 2021, from https://www.canr.msu.edu/news/permissive_parenting_style

Masud, S., Mufarrih, S., Qureshi, N., Khan, F., Khan, S., & Khan, M. (2019). Academic Performance in Adolescent Students: The Role of Parenting Styles and Socio-Demographic Factors – A Cross Sectional Study From Peshawar, Pakistan. Frontiers In Psychology, 10. doi: 10.3389/fpsyg.2019.02497

Sumargi, A., Prasetyo, E., & Winona Ardelia, B. (2020). PARENTING STYLES AND THEIR IMPACTS ON CHILD PROBLEM BEHAVIORS. Jurnal Psikologi, 19(3), 269-284.

Azman, Ö., Mauz, E., Reitzle, M., Geene, R., Hölling, H., & Rattay, P. (2021). Associations between Parenting Style and Mental Health in Children and Adolescents Aged 11–17 Years: Results of the KiGGS Cohort Study (Second Follow-Up). Children, 8(8), 672. doi: 10.3390/children8080672

Power, T. (2013). Parenting Dimensions and Styles: A Brief History and Recommendations for Future Research. Childhood Obesity, 9(s1), S-14-S-21. doi: 10.1089/chi.2013.0034

Bahr, S., & Hoffmann, J. (2010). Parenting Style, Religiosity, Peers, and Adolescent Heavy Drinking*. Journal Of Studies On Alcohol And Drugs, 71(4), 539-543. doi: 10.15288/jsad.2010.71.539

Howe, A., Heath, A., Lawrence, J., Galland, B., Gray, A., & Taylor, B. et al. (2017). Parenting style and family type, but not child temperament, are associated with television viewing time in children at two years of age. PLOS ONE, 12(12), e0188558. doi: 10.1371/journal.pone.0188558

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani Diperbarui 2 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto
x