Perbedaan Peran Ayah dan Ibu Bagi Anak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29 November 2019 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Orangtua memiliki tanggung jawab yang sama dalam mengasuh anak, namun memiliki peran yang berbeda bagi anak. Ayah dan ibu memiliki caranya masing-masing dalam mengasuh anak, hal ini memberikan pengalaman yang bervariasi bagi anak dari setiap orangtuanya. Penelitian menunjukkan bahwa ayah dan ibu cenderung mempunyai kontak yang berbeda pada bayinya setelah beberapa minggu pertama kehidupannya. Peran ibu lebih melibatkan interaksi verbal yang lembut, sedangkan peran ayah cenderung melibatkan interaksi fisik.

Pendekatan yang berbeda dari kedua orangtua ke anak tampaknya membawa dampak menguntungkan pada anak. Orangtua memiliki cara unik dan berbeda dalam berinteraksi dengan anaknya. Hal ini memberikan variasi dalam pengalaman interaksi orang tua dengan anak dan juga menumbuhkan pemahaman bahwa setiap orangtua merupakan individu yang terpisah dan berbeda.

Peran ayah bagi anak

Walaupun mungkin waktu yang dihabiskan ayah dengan anak lebih sedikit dibandingkan dengan waktu antara anak dan ibu, tetapi peran ayah sangat penting bagi anak. Berikut ini beberapa peran ayah dalam pengasuhan anak:

Mengajarkan anak mengambil risiko

Ayah cenderung mendorong anaknya untuk mengambil risiko. Hal ini biasanya dilakukan pada anak yang lebih tua saat anak perlu belajar untuk mandiri. Ayah akan memuji anak saat ayah percaya anak sukses melakukan sesuatu. Sedangkan ibu akan sering memuji anak dengan tujuan untuk menghibur atau membantu anak agar lebih bersemangat mengerjakan sesuatu. Hasilnya adalah anak akan lebih bekerja keras untuk mendapat pujian dari ayah mereka. Seorang ayah ingin melihat anaknya sukses, bahkan lebih sukses darinya, sehingga mendorong anak untuk bekerja lebih keras dan berani mengambil risiko.

Merangsang aktivitas fisik

Berbeda dengan interaksi antara ibu dan anak, interaksi ayah dan anak lebih sering dilakukan dengan bercanda dan bermain fisik. Secara keseluruhan, interaksi antara anak dan ayah kurang terkoordinasi. Interaksi fisik antara anak dan ayah dapat menunjukkan kepada anak bagaimana menangani emosi, seperti kejutan, rasa takut, dan kegembiraan.

Panutan kesuksesan/prestasi

Penelitian menunjukkan bahwa jika ayah menunjukkan kasih sayang, mendukung, dan terlibat dalam kegiatan anaknya, ayah dapat berkontribusi besar terhadap perkembangan kognitif, bahasa, dan sosial anak, serta berkontribusi pada prestasi akademik, kepercayaan diri, dan jati diri anaknya. Anak yang dekat dengan ayahnya cenderung memiliki prestasi baik di sekolahnya dan memiliki lebih sedikit masalah dalam perilaku.

Terutama untuk anak laki-laki, mereka akan menjadikan ayah sebagai panutan untuk dirinya. Mereka akan meminta persetujuan ayah atas segala sesuatu yang mereka lakukan dan sebisa mungkin melakukan kesuksesan yang sama seperti ayah mereka, bahkan jika bisa lebih dari ayahnya.

Peran ibu bagi anak

Ibu merupakan guru pertama bagi anak-anaknya. Ibu mengajarkan pelajaran-pelajaran berharga untuk anaknya mulai dari anak lahir, sampai anak tumbuh dewasa. Berikut ini beberapa peran ibu dalam pengasuhan anak:

Sebagai pelindung

Ibu adalah pelindung bagi anak-anaknya. Sejak lahir, anak sudah merasakan kehadiran ibu, sentuhan ibu, dan suara ibu yang semuanya membuat anak merasa aman. Saat anak menangis biasanya yang dicari anak adalah ibunya, ini merupakan reaksi pertama dari segala sesuatu yang mengganggunya karena ibu merupakan tempat anak untuk merasa aman dan nyaman. Anak merasa terlindungi bila di dekat ibunya. Ibu melindungi anak dari bahaya lingkungan, dari orang asing, dan dari diri mereka sendiri.

Saat anak mulai tumbuh dewasa, ibu tetap menjadi pelindungnya, lebih dari pelindung dalam segi emosional. Ibu selalu mendengarkan keluhan anaknya dan selalu ada untuk memberikan kenyamanan saat anak membutuhkannya. Ibu selalu ingin anaknya merasa aman. Jika anak dapat mempercayai ibu, anak akan percaya diri dan memiliki keamanan emosional. Jika anak tidak dapat menemukan keamanan, biasanya dapat menyebabkan anak mempunyai banyak masalah emosional dan psikologis.

Merangsang mental dan emosional

Ibu selalu berinteraksi dengan anaknya, melalui permainan atau percakapan, yang merangsang kemampuan kognitif anak. Bahkan permainan bentuk fisik dengan ibu tetap mengikuti aturan yang dibutuhkan anak untuk mengkoordinasikan mental tindakan mereka. Ibu yang membuat  mental anak kuat untuk menghadapi dunia luar ketika ia pertama kali meninggalkan rumah untuk sekolah.

Sebagai seorang ibu dan pengasuh utama di awal-awal kehidupan anak, ibu menjadi orang pertama yang membuat ikatan emosional dan keterikatan dengan anak. Anak akan belajar emosi pertamanya kepada ibu. Hubungan ibu dan anak yang terbentuk selama tahun-tahun awal akan sangat mempengaruhi cara anak berperilaku dalam pengaturan sosial dan emosional di tahun-tahun berikutnya. Seorang ibu dapat dengan mudah memeluk anak dan berbicara tentang perasaan dengan anaknya sehingga ibu lebih bisa untuk mengajarkan anak bagaimana menangani emosi yang lebih baik.

Seorang ibu adalah orang yang mengerti kebutuhan dan suasana hati anaknya. Ibu tahu apa keinginan anaknya bahkan ketika anak belum berbicara kepadanya. Sebagai seorang ibu, seberapa cepat ibu bereaksi terhadap kebutuhan anak dan bagaimana ibu mencoba untuk mengurus kebutuhan anak akan banyak mengajarkan anak tentang memahami orang lain dan kebutuhan emosional.

Mengajarkan disiplin

Seorang ibu harus menjaga keseimbangan antara memberi aturan ketat dan memanjakan anak. Ibu harus menanamkan rasa tanggung jawab pada anak. Ibu adalah orang yang membuat anak mempelajari pelajaran pertama hidupnya. Ibu adalah orang yang membuat anaknya memahami apa yang dikatakannya, kemudian anak belajar mengikuti perintah ibu dengan perlahan. Ibu mengajarkan anak makan, mandi, dan mengajarkan kepadanya bagaimana mengekspresikan kebutuhannya. Ibu juga yang mengajarkan bagaimana mengelola dan berkomitmen dengan waktu, dengan cara mengajarkan anak melakukan rutinitas dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    4 Cara Mengatasi Kebiasaan Anak Mengemut Makanan

    Kebiasaan anak mengemut makanan dalam waktu lama tanpa menelan, tentu sangat mengganggu. Anda perlu mencoba cara berikut ini untuk mengatasinya.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini
    Anak 1-5 Tahun, Gizi Balita, Parenting 16 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

    Bebaskan Si Kecil Berjalan “Nyeker” untuk Memperkuat Tulang Kakinya

    Melihat si kecil yang sibuk kesana kemari berjalan tanpa alas kaki sering membuat orangtua khawatir. Padahal, jalan nyeker bagus untuk kesehatan anak, lho!

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 11 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

    Berapa Lama Waktu Bermain Video Game yang Pas untuk Anak?

    Video game dapat memberi manfaat. Namun tanpa batasan waktu, bermain video game bisa berakibat buruk pada anak. Berapa lama waktu ideal bermain video game?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit

    Kenapa Orangtua Wajib Rutin Berkomunikasi Dengan Anak?

    Komunikasi dengan anak bukan hanya berbasa-basi dan berbicara, tetapi juga mendengarkan keluh kesah anak. Ini adalah kunci penting kualitas hubungan Anda.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    Memahami Tumbuh Kembang Gigi dan Rahang Anak

    7 Trik Membujuk Anak Agar Tak Takut ke Dokter Gigi

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
    menonton tv terlalu dekat

    Benarkah Nonton TV Terlalu Dekat, Bisa Bikin Mata Anak Rusak?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Dipublikasikan tanggal: 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
    bayi pakai empeng isap jempol

    Empeng Versus Isap Jempol, Mana yang Lebih Baik untuk Si Kecil?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 21 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
    memberikan hadiah ke anak

    Aturan Memberikan Hadiah ke Anak Agar Tak Berdampak Negatif

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit