home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apa yang Terjadi Jika Anak Sering Makan Mie Instan?

Apa yang Terjadi Jika Anak Sering Makan Mie Instan?

Anak sering makan mie instan sebaiknya tidak Anda biarkan ya Bu. Pasalnya, bahan-bahan yang terdapat pada makanan tersebut tidak aman untuk kesehatan si kecil. Apa saja bahaya makan mie instan yang sebaiknya ibu waspadai? Yuk simak penjelasan berikut.

Sejumlah bahaya makan mie instan untuk anak

Selain mudah didapat, mudah disajikan, dan rasanya enak, mie instan menjadi salah satu jenis makanan yang banyak dikonsumsi baik oleh orang dewasa maupun anak-anak.

Namun perlu ibu waspadai beberapa bahaya yang berisiko ditimbulkan jika anak sering makan mie instan, antara lain sebagai berikut.

1. Meningkatkan risiko penyakit jantung di usia muda

Mie instan dan makanan instan lain biasanya tinggi akan lemak, terutama lemak jenuh. Lemak pada makanan berfungsi untuk memberi rasa dan tekstur.

Sebenarnya anak membutuhkan lemak untuk membentuk jaringan saraf serta hormon, juga sebagai cadangan energi. Namun jika jumlahnya berlebihan akan menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Selain itu, kandungan lemak pada mie instan termasuk jenis lemak jenuh. Akibatnya, jika anak sering makan mie instan maka kadar kolesterol jahat (Low Density Lipoprotein) dalam tubuhnya akan meningkat.

Perlu ibu ketahui bahwa anak-anak juga memungkinkan memiliki kolesterol tinggi. Jika ini dibiarkan menumpuk, maka dapat meningkatkan risiko penyakit jantung di kemudian hari.

Penumpukan kolesterol ini tidak terjadi dalam waktu singkat. Sehingga jika sejak kecil anak sudah memiliki kadar kolesterol yang tinggi, bukan tidak mungkin serangan jantung dan penyakit stroke dapat ia alami pada usia muda.

2. Memicu kenaikan berat badan

Selain meningkatkan risiko penyakit jantung, asupan lemak berlebih akibat anak terlalu sering makan mie instan juga dapat menyebabkan kenaikan berat badan bahkan obesitas.

Melansir Orthoinfo, kelebihan berat badan di usia muda berisiko menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti:

  • meningkatkan risiko diabetes tipe 2,
  • ketidakseimbangan hormonal,
  • gangguan pertumbuhan tulang,
  • penyakit pada sendi,
  • berisiko penyakit pada paru-paru,
  • berisiko penyakit jantung,
  • gangguan tidur, dan
  • sindrom metabolik.

Selain menyebabkan masalah bagi tubuh,obesitas pada anak juga dapat menyebabkan masalah psikologis. Beberapa contohnya seperti anak kurang percaya diri dan cenderung menjadi sasaran bully di antara teman-temannya.

3. Berisiko hipertensi pada anak

Mie instan memiliki kadar garam yang relatif tinggi. Untuk mencari tahu, cobalah Anda periksa berapa persen kadar natrium atau sodium yang terdapat pada satu bungkus mie instan.

Jika jumlahnya sudah cukup besar untuk orang dewasa, maka bagi anak bisa jadi sudah melebihi kebutuhan natrium dan sodium dalam sehari. Inilah yang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi bila anak sering makan mie instan.

Ibu perlu pahami bahwa hipertensi juga bisa dialami oleh anak. Bahkan menurut Center for Disease Control and Prevention, 1 dari 6 anak yang berusia 8 hingga 17 tahun memiliki tekanan darah yang tinggi.

Meskipun efeknya tidak segera terlihat, tetapi tekanan darah yang tinggi merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung dan stroke di kemudian hari. Oleh karena itu, konsumsi garam berlebih sebaiknya sudah dihindari sejak kecil.

4. Diduga menjadi penyebab anak lebih hiperaktif

Makanan instan merupakan salah satu jenis makanan yang mengandung berbagai macam zat aditif mulai dari pengawet hingga pewarna buatan.

Benjamin Feingold adalah dokter ahli alergi yang pertama kali mengemukakan bahwa zat pewarna dan pengawet makanan berisiko pada perilaku anak.

Penelitian terhadap 300 jenis zat aditif tersebut menunjukkan hasil bahwa pewarna dan pengawet makanan berhubungan dengan gangguan hiperaktif dan gangguan perilaku pada anak seperti ADHD (Attention-Deficit Hyperactivity Disorder).

Penelitian yang dicantumkan dalam buku berjudul Why Your Child Is Hyperactive yang terbit di New York pada tahun 1975 ini terus dijadikan rujukan oleh para ahli hingga saat ini.

Meski begitu, hubungan antara zat aditif dengan kejadian hiperaktif pada anak masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Ini karena masih terdapat berbagai perbedaan pendapat di kalangan para ahli.

Bagaimana jika anak terpaksa makan mie instan?

Jika anak tidak memiliki pilihan makanan lain selain mie instan, ibu bisa menyiasatinya dengan menambahkan sayuran dan lauk ke dalam mie instan yang dimakan si kecil. Tujuannya agar ia tetap terpenuhi kebutuhan nutrisinya.

Selain itu, kurangilah porsi mie instan yang disajikan, misalnya hanya setengah bungkus saja dan kombinasikan dengan sayuran yang direbus.

Namun untuk berhati-hati terhadap berbagai risiko kesehatan, upayakan sebisa mungkin agar anak tidak sering makan mie instan dan makanan cepat saji lainnya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Food additives and their possible effects is controversial. (2017). Retrieved 23 April 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/adhd/expert-answers/adhd/faq-20058203

Del-Ponte, B., Anselmi, L., Assunção, M., Tovo-Rodrigues, L., Munhoz, T., & Matijasevich, A. et al. (2019). Sugar consumption and attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD): A birth cohort study. Journal Of Affective Disorders, 243, 290-296. doi: 10.1016/j.jad.2018.09.051

Arnold, L., Lofthouse, N., & Hurt, E. (2012). Artificial Food Colors and Attention-Deficit/Hyperactivity Symptoms: Conclusions to Dye for. Neurotherapeutics, 9(3), 599-609. doi: 10.1007/s13311-012-0133-x

CDC VitalSigns – Reducing Sodium in Children’s Diets. (2014). Retrieved 23 April 2021, from https://www.cdc.gov/vitalsigns/children-sodium/

Fats (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2017). Retrieved 23 April 2021, from https://kidshealth.org/en/parents/fat.html

How Childhood Obesity Impacts Bone and Muscle Health – OrthoInfo – AAOS. Retrieved 23 April 2021, from https://orthoinfo.aaos.org/en/staying-healthy/the-impact-of-childhood-obesity-on-bone-joint-and-muscle-health

Weiss, B. (2012). Synthetic Food Colors and Neurobehavioral Hazards: The View from Environmental Health Research. Environmental Health Perspectives, 120(1), 1-5. doi: 10.1289/ehp.1103827

Food additives. (2019). Retrieved 23 April 2021, from https://www.food.gov.uk/safety-hygiene/food-additives#food-colours-and-hyperactivity

 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani
Tanggal diperbarui 22/02/2017
x