Ini 4 Gaya Pengasuhan Orangtua pada Anak yang Perlu Diketahui

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 19 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Setiap orangtua mempunyai cara pola asuh yang berbeda-beda. Penting untuk diketahui Anda dan pasangan bahwa hal ini nantinya akan memengaruhi bagaimana anak akan bersikap. Maka dari itu, sebaiknya Anda mengetahui apa saja gaya parenting atau pengasuhan orangtua di masa perkembangan anak seperti di bawah ini.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Mengapa gaya pengasuhan pada anak itu penting?

gaya pengasuhan

Pola asuh yang Anda terapkan, akan terus berkembang sejak ia berada di masa balita hingga memasuki masa remaja.

Tidak hanya itu saja, gaya pengasuhan juga penting dilakukan untuk mendukung pertumbuhan serta perkembangannya hingga ia beranjak dewasa.

Dikutip dari American Psychological Association, mengasuh anak bukan hanya sekadar keterampilan dan mengikuti aturan dari buku.

Akan tetapi, ada berbagai aspek lainnya dari kebiasaan, budaya, hingga nilai agama yang akan Anda ajarkan kepada anak.

Lalu, dikutip pula dari Pregnancy Birth, & Baby, kebanyakan orangtua menggunakan campuran gaya pengasuhan. Walaupun, banyak pula yang condong pada satu gaya parenting.

Setiap gaya atau pola asuh ini nantinya dapat memberikan hasil yang berbeda untuk anak.

Jenis gaya pengasuhan orangtua pada anak

gaya pengasuhan

Gaya pengasuhan atau parenting yang umum digunakan saat ini berasal dari seorang psikolog, yaitu Diana Baumrind.

Ia memperhatikan bahwa setiap anak yang belum masuk sekolah menunjukkan jenis perilaku perkembangan sosial yang berbeda.

Maka dari itu, teori Baumrind mengatakan bahwa ada hubungan erat antara jenis gaya pengasuhan dengan perilaku anak.

Berikut beberapa jenis pola asuh yang perlu diketahui orangtua, di antaranya adalah:

1. Authoritarian (otoriter)

Ini merupakan gaya pengasuhan orangtua yang mengharapkan agar anak patuh dengan segala perintah tanpa ada pengecualian atau pertanyaan apa pun.

Lalu, orangtua juga mengendalikan anak melalui kedisiplinan yang cukup ketat hingga hukuman apabila peraturan yang sudah dibuat tidak diikuti.

Ciri-ciri dari pola asuh otoriter adalah:

  • Tidak responsif dengan kebutuhan anak.
  • Mempunyai aturan yang sangat ketat.
  • Mempunyai ekspektasi tinggi agar anak berperilaku baik.

Sebagai contoh, ketika anak mempertanyakan mengenai peraturan yang sudah dibuat, Anda akan menjawab “Pokoknya ini peraturan dari ayah yang harus diikuti”.

Tidak ada negosiasi antara orangtua dan anak mengenai peraturan tersebut.

Namun, Anda perlu memperhatikan bahwa dengan gaya pengasuhan ini, ada kemungkinan anak mengalami kepercayaan diri yang menurun hingga melakukan kenakalan di masa remaja.

Hal ini bisa saja terjadi karena dalam pola asuh otoriter, pendapatnya tidak didengar.

Tidak hanya itu saja, anak juga bisa merasakan kurangnya kasih sayang, kekesalan, atau kemarahan yang terpendam karena pola asuh jenis ini tergolong keras.

Ada kemungkinan anak juga terbiasa berbohong untuk menghindari hukuman dari orangtua.

2. Authoritative (suportif)

Berbeda dengan pola asuh sebelumnya, gaya pengasuhan yang satu ini orangtua tergolong suportif dan memberikan respon terhadap pilihan anak.

Akan tetapi, Anda tetap memberikan batasan agar tetap terlihat tegas pada anak.

Maka dari itu, orangtua berusaha mengontrol perilaku anak dengan menjelaskan aturan sekaligus berdiskusi.

Ini dilakukan agar Anda tetap mengetahui bagaimana sudut pandangnya walaupun belum pasti menuruti keinginan anak.

Ciri-ciri dari pola asuh authoritative adalah:

  • Mempunyai peraturan yang jelas dan masuk akal.
  • Suportif dan responsif.
  • Menghargai setiap pendapat.

Pada gaya pengasuhan yang satu ini, Anda akan memperlihatkan wibawa sebagai orangtua sekaligus menjadi teman untuk anak.

Jadi, di satu sisi orangtua mempertimbangkan pendapat anak mengenai peraturan yang dibuat.

Namun, di sisi lain, Anda juga  memberikan konsekuensi apabila ada aturan yang dilanggar.

Tidak hanya itu saja, Anda juga tetap berlaku adil dengan memberikan pujian atau hadiah ketika anak berhasil melakukan sesuatu.

Maka dari itu, anak bisa belajar bertanggung jawab dengan apa yang sudah disepakati sebelumnya.

Anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini cenderung mempunyai pribadi ramah, mandiri, energik, dapat mengendalikan diri, hingga mempunyai tujuan untuk hidupnya nanti.

3. Permisif

Gaya pengasuhan permisif cukup berbeda dengan dua pola asuh sebelumnya. Pada metode ini, orangtua menerapkan pola asuh yang hangat, tetapi terlihat lemah di mata anak.

Hal ini karena Anda tidak menerapkan batasan serta belum tegas dengan peraturan.

Ciri-ciri dari pola asuh permisif adalah:

  • Responsif terhadap anak.
  • Sedikit atau bahkan tidak mempunyai peraturan.
  • Terlalu sabar.
  • Lemah lembut dan toleran.

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa gaya pengasuhan ini, orangtua hanya sedikit menetapkan batasan dan aturan untuk anak.

Maka dari itu, bukan tidak mungkin Anda akan terlihat memanjakan anak serta sulit untuk berkata tidak dengan keinginannya.

Hal ini akan semakin terlihat ketika Anda selalu berpikiran ”Tidak apa-apa, mereka hanya anak-anak. Jadi, ya sudah boleh.”

Namun, Anda juga perlu berhati-hati dengan gaya parenting ini karena anak tidak memiliki batasan. Anak hanya akan menganggap Anda sebagai teman, bukan orangtua.

Ini juga bisa memengaruhi perilaku anak yang tidak bisa menghargai aturan, kurang mandiri, agresif, hingga tidak sabaran,

4. Uninvolved (tidak peduli)

Ini merupakan jenis gaya pengasuhan orangtua yang memberikan sedikit dukungan emosional kepada anak.

Tidak hanya itu saja, orangtua juga bisa dikatakan gagal untuk mengajarkan standar perilaku di kehidupan sosial.

Ciri-ciri dari pola asuh uninvolved adalah:

  • Bersikap dingin dan tidak responsif.
  • Tidak menerapkan peraturan apa pun.
  • Tidak melibatkan diri dalam kehidupan anak..
  • Tidak peduli atau merasa acuh tak acuh.

Sebagai contoh, Anda tidak pernah menanyakan pekerjaan rumah atau apa saja yang dilakukan anak di sekolah. Bahkan, Anda hanya sedikit meluangkan waktu untuk anak.

Jadi, bisa dikatakan pada gaya pengasuhan ini orangtua tidak banyak tahu mengenai karakter anak. Lalu, anak juga tidak mendapatkan perhatian, pedoman, serta bimbingan.

Hal ini bisa jadi karena Anda mengharapkan anak bisa belajar mengenai kehidupan dengan sendirinya.

Maka dari itu, ada kemungkinan ini bisa mengakibatkan terjadinya masalah kepercayaan diri serta kurangnya kebahagiaan pada anak.

Bagaimana menentukan gaya pengasuhan untuk anak?

Gaya pengasuhan dapat memengaruhi harga diri serta kepercayaan diri anak. Salah satu kunci pola asuh yang efektif adalah dengan memperkuat hubungan Anda dengan anak serta saling menghormati.

Maka dari itu, ketika ada masalah, Anda dan anak bisa menyelesaikannya dengan cara yang adil melalui negosiasi.

Dapat dikatakan, dari keempat gaya pengasuhan, para peneliti menganggap bahwa pola asuh authoritative tergolong ideal untuk diterapkan.

Pasalnya, metode ini dianggap paling mampu membuat anak kuat secara akademis serta stabil secara emosional.

Hal ini karena anak dibebaskan untuk menyampaikan pandangan, tetapi orangtua tetap pemberi keputusan, bimbingan, serta dukungan.

Namun, Anda bisa mengombinasikan keempat pola asuh ini dengan mengambil nilai positif dari tiap metode.

Apa pun pola asuh yang akan diterapkan orangtua kepada anak, selipkan pula nilai budaya, sosial, serta agama yang Anda percayai.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Kesalahan Orangtua Dalam Mendidik Anak yang Perlu Dihindari

Tugas orangtua adalah merawat dan mendidik anak. Sayangnya, masih banyak orangtua yang melakukan kesalahan mendidik anak. Apa saja? Lihat di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 8 Maret 2019 . Waktu baca 4 menit

Si Kecil Kepergok Mencuri? Hadapi Dengan 4 Cara Bijak Ini

Memergoki anak mencuri mainan atau benda milik temannya, tentu membuat Anda khawatir. Coba simak cara menghadapi sekaligus mendisiplinkannya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 29 November 2018 . Waktu baca 4 menit

4 Cara Mengakali Anak Supaya Tidak Minta Gendong Terus

Menggendong anak memang ada batas waktunya, apalagi jika ia sudah lincah berjalan. Namun, bagaimana cara menghentikan kebiasaan anak minta gendong?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 5 Oktober 2018 . Waktu baca 4 menit

Begini Dampaknya Jika Orangtua Sering Mengkritik Anak Habis-habisan

Anak-anak sering membuat masalah dan Anda perlu memberinya kritik. Namun ingat, terlalu berlebihan mengkritik anak bisa berdampak buruk bagi kesehatannya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Penyakit pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 2 Oktober 2018 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

menghadapi orangtua

Kesal Menghadapai Orangtua yang Memojokkan Anda? Hadapi dengan 3 Langkah Bijak Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
memberikan hadiah ke anak

Aturan Memberikan Hadiah ke Anak Agar Tak Berdampak Negatif

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
manfaat berjalan tanpa alas kaki untuk anak

Bebaskan Si Kecil Berjalan “Nyeker” untuk Memperkuat Tulang Kakinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 11 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
stres pada anak

Kenali Gejala Stres pada Anak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 14 November 2020 . Waktu baca 11 menit