5 Pengaruh Buruk Media Elektronik yang Mungkin Terjadi Pada Anak

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Radio, televisi (TV), video game, dan gadget lainnya yang dapat mengakses internet kini memegang peranan penting bagi kehidupan anak-anak. Berbagai media di atas telah terbukti dapat memberikan efek positif maupun negatif pada anak, baik dalam aspek kecerdasan, emosi, dan perilaku. Anak-anak menghabiskan hampir 7 jam dalam sehari menggunakan media. Penelitian yang dilakukan oleh Strasburger dkk pada tahun 2005 menunjukkan bahwa sejumlah 2/3 anak di dunia telah mendapatkan akses TV, sebanyak 1/2 jumlah anak telah mengenal DVD player atau konsol game, dan 1/3 jumlah anak telah memiliki komputer, tablet, atau akses internet.

Saat ini, anak-anak sangat mudah mendapatkan akses terhadap media informasi dan hiburan. Sekitar 93% anak berusia 12-17 tahun telah mengerti internet dan 71% d iantaranya sudah memiliki ponsel pintar. Pengaruh buruk media terhadap kehidupan anak bukan hanya terbatas di mengganggu kegiatan belajar atau waktu tidur saja, namun juga berpengaruh terhadap sikap dan perilaku anak.

Menurut teori sosiologi, anak-anak sering kali mempelajari dan meniru apa yang dilihatnya di layar, apalagi jika perbuatan yang dilihatnya tersebut dinilai realistik dan dapat dilakukan. Orangtua dapat saja membatasi akses media oleh anak, namun terkadang dapat terjadi “third-person effect”, di mana remaja atau orangtua beranggapan bahwa efek buruk media dapat mempengaruhi setiap orang kecuali dirinya atau anak-anaknya.

Apa saja efek buruk yang mungkin terjadi jika anak dibiarkan terekspos ke media massa tanpa pengawasan?

1. Sifat agresif dan kekerasan

Pada usia 18 tahun, kebanyakan remaja telah menonton sekitar 200.000 adegan di TV. Penelitian lain menunjukkan 90% game yang ditujukan untuk anak justru mengandung kekerasan, hal ini bisa mengakibatkan anak meniru adegan kekerasan yang ia saksikan. Hubungan antara kekerasan di media dan sifat agresif anak hampir sekuat hubungan antara merokok dan kanker paru.

2. Seks

Efek paparan konten seksual di media dapat menyebabkan anak penasaran dan akhirnya terjerumus ke dalam poronografi. Pada anak berusia 10-17 tahun, hampir setengahnya pernah menonton konten pornografi, baik sengaja maupun tidak sengaja. Ini mengakibatkan terdapat peningkatan pelecehan seksual yang dilakukan oleh remaja pria, dan sifat permisif remaja wanita mengenai hal berbau seksual.

3. Penggunaan zat terlarang

Sekitar 70% film yang dibuat di Amerika mengandung adegan merokok, minum alkohol, atau penggunaan narkoba. Adegan di atas juga jarang disangkut pautkan dengan efek kesehatan yang bisa timbul, sehingga anak atau remaja menganggap hal tersebut tidak membahayakan kesehatan mereka, akibatnya beberapa anak dan remaja mungkin akan meniru tindakan tersebut.

4. Prestasi belajar

Anak-anak yang rutin menonton TV sejak berumur 1-2 tahun dapat meningkatkan risiko untuk terkena ADD (attention deficit disorder). Keberadaan TV di kamar anak juga terbukti dapat menurunkan prestasi belajar anak secara signifikan.

5. Obesitas dan gangguan makan

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa media turut berperan dalam peningkatan jumlah anak obesitas, dikarenakan adanya iklan junk food yang dapat mengubah pola makan anak, dan kebiasaan makan sambil menonton yang bisa meningkatkan jumlah snack yang dimakan anak. Media juga berperan dalam mendikte remaja tentang bagaimana bentuk tubuh yang ideal, terutama pada wanita, sehingga dapat timbul gangguan pola makan seperti bulimia dan anoreksia.

Efek positif media pada anak

Media tidak sepenuhnya berdampak negatif bagi anak dan remaja, pengunaan media yang tepat justru dapat memberikan efek positif yang besar. Berbagai pesan sosial maupun kesehatan terbukti lebih efektif jika disampaikan di waktu acara prime time TV, seperti ketika Rachel dalam serial TV Friends menceritakan kepada Ross bahwa dia hamil padahal mereka berhubungan menggunakan kondom, episode ini meningkatkan kesadaran masyarakat US bahwa kondom tidak 100% mencegah kehamilan dan meningkatkan jumlah konsultasi mengenai penggunaan kontrasepsi di US. Efek yang sama juga terjadi saat episode serial TV Grey’s Anatomy membahas tentang HIV dan kehamilan, dan masih banyak contoh lainnya.

Apa yang dapat orangtua lakukan?

AAP (The American Academy of Pediatrics) memberikan beberapa rekomendasi tentang bagaimana penggunaan media yang aman bagi anak:

  • Batasi penggunaan TV atau komputer pada anak di atas 2 tahun sebanyak 1-2 jam/hari.
  • Anak di bawah 2 tahun sebaiknya tidak diperbolehkan menggunakan TV, komputer, atau bermain game handphone.
  • Hindari pemasangan TV, video game, atau komputer pribadi di kamar anak.
  • Temani anak saat menonton TV, dan diskusikan dengan anak mengenai konten acara yang ditonton.
  • Perhatikan rating acara yang ditonton, pastikan anak menonton program yang sesuai dengan usianya.
  • Matikan TV jika tidak ada yang menonton atau saat waktu makan.

BACA JUGA:

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Mengenal Pinguecula, Ketika Bintik Kuning Muncul pada Mata

    Pinguecula adalah bintik kuning pada mata yang muncul pada konjungtiva, terutama di sisi mata yang dekat hidung. Berbahayakah kondisi ini?

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: dr. Ivena
    Kesehatan Mata, Penyakit Mata 21 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

    Aturan Memberikan Hadiah ke Anak Agar Tak Berdampak Negatif

    Memberikan hadiah ke anak merupakan cara baik untuk meningkatkan motivasi anak. Namun, hati-hati dalam memberikannya karena ini juga bisa berdampak buruk.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

    4 Cara Mengatasi Kebiasaan Anak Mengemut Makanan

    Kebiasaan anak mengemut makanan dalam waktu lama tanpa menelan, tentu sangat mengganggu. Anda perlu mencoba cara berikut ini untuk mengatasinya.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini
    Anak 1-5 Tahun, Gizi Balita, Parenting 16 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

    Bebaskan Si Kecil Berjalan “Nyeker” untuk Memperkuat Tulang Kakinya

    Melihat si kecil yang sibuk kesana kemari berjalan tanpa alas kaki sering membuat orangtua khawatir. Padahal, jalan nyeker bagus untuk kesehatan anak, lho!

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 11 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    Memahami Tumbuh Kembang Gigi dan Rahang Anak

    7 Trik Membujuk Anak Agar Tak Takut ke Dokter Gigi

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
    menonton tv terlalu dekat

    Benarkah Nonton TV Terlalu Dekat, Bisa Bikin Mata Anak Rusak?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Dipublikasikan tanggal: 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
    menggunakan media sosial

    Batasan Wajar Menggunakan Media Sosial Dalam Sehari, Menurut Psikolog

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
    bayi pakai empeng isap jempol

    Empeng Versus Isap Jempol, Mana yang Lebih Baik untuk Si Kecil?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 21 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit