Berpisah Dengan Ibu Sedari Kecil Bisa Memicu Perilaku Agresif Pada Anak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 22 Desember 2017 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Lingkungan sangat memengaruhi perkembangan perilaku si kecil, apalagi lingkungan keluarga intinya. Ayah dan ibu adalah pedoman utama yang akan dilihat dan dipelajari oleh anak-anak. Ya, karena itulah anak-anak sebaiknya tumbuh di lingkungan keluarga yang harmonis dan ideal. Pasalnya, ketidakharmonisan suatu keluarga akan berdampak pada pembentukan perilaku anak.

Apalagi jika si kecil sudah berpisah dengan salah satu orangtuanya, terutama ibu. Maka, ada banyak dampak buruk yang bisa memengaruhi perilaku si kecil, salah satunya membuat anak agresif. Lantas, mengapa hal ini dapat terjadi?

Menurut penelitian, berpisah dengan ibu membuat anak agresif

Biasanya, anak berusia di bawah lima tahun (balita) cenderung dekat dengan ibu. Maka komunikasi dan ikatan yang dimiliki dengan ibunya lebih kuat. Pasalnya, hampir semua perawatan dan pengasuhan sejak anak lahir dilakukan oleh ibu. Bahkan beberapa penelitian menyatakan bahwa ikatan kuat antara anak dengan ibu sudah terbentuk ketika anak masih di dalam kandungan.

Maka dari itu, perpisahan antara anak dengan ibu akan membentuk perilaku yang negatif pada anak. Apalagi, jika si kecil sudah berpisah dengan ibunya sejak ia berusia di bawah 5 tahun karena alasan apa pun (misalnya perceraian). Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Attachment and Human Development menyatakan bahwa perpisahan dengan ibu akan membuat anak agresif, apalagi jika terjadi ketika si anak masih berusia 5 tahun atau balita.

Hal ini tentu saja dikaitkan dengan peran ibu yang sangat penting ketika itu. Maka, saat si kecil berpisah dengan ibunya, ia akan mengalami trauma psikologis karena kehilangan figur ibu yang dibutuhkan. Anak akan mudah marah, tidak dapat mengendalikan emosinya, dan lebih agresif.

Semua perilaku dan sifat anak agresif terjadi karena anak merasa kurang mendapatkan kasih sayang, pengasuhan, dan perhatian yang seharusnya ia dapatkan dari ibu. Meskipun memang mungkin perhatian dari keluarga yang lain, misalnya ayah atau saudara-saudaranya tetap dicurahkan untuk si kecil, tetapi tetap saja sosok seorang ibu hilang dari sisinya.

mengurangi stres pada anak remaja

Tak hanya ibu, lingkungan juga menentukan perilaku anak

Sudah ada banyak penelitian yang membuktikan bahwa anak yang tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga yang tidak harmonis, cenderung memiliki gangguan perilaku. Anak akan lebih sangat pendiam atau bahkan sebaliknya, sangat memberontak ketika beranjak dewasa nanti.

Kondisi ini disebabkan karena sedari kecil, anak sudah dihadapkan dengan permasalahan keluarga, apalagi bila hal ini menyangkut kedua orangtua yang seharusnya menjadi pedoman baginya. Jadi, ketika ada masalah yang cukup serius di keluarga tentu akan membuat perkembangan mental anak terganggu.

Mungkin, ketika anak masih kecil, dampak kejadian ini belum terlalu dirasakan. Namun, ketika ia sudah tumbuh dan beranjak dewasa maka sifat agresif yang dimiliki akan membuatnya kesulitan dalam bergaul dan mencari teman. Maka dari itu, sebaiknya ketahui penyebab pasti mengapa anak agresif dan kemudian atasi penyebabnya.

Pada akhirnya, bukan hanya sosok ibu yang akan menentukan perilaku anak. Bahkan anak-anak yang dibesarkan dengan ibunya pun bisa saja punya perilaku agresif apabila lingkungan tempat anak tumbuh kurang kondusif. Maka, yang seharusnya menjadi prioritas dalam pengasuhan anak adalah lingkungan yang penuh kasih sayang dan perhatian.

Bila anak menunjukkan perilaku yang negatif atau bahkan agresif, jangan langsung dimarahi, dibentak, atau dihukum. Justru yang perlu dilakukan adalah membimbing anak dengan penuh kelembutan, beri pemahaman bahwa perilakunya tidak baik, kemudian latih anak untuk meluapkan emosinya dengan cara yang lebih sehat.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Empeng Versus Isap Jempol, Mana yang Lebih Baik untuk Si Kecil?

Bayi cenderung mengisap jempolnya saat sedang tidak menyusu. Namun, lebih baik bayi pakai empeng untuk mencegahnya atau dibiarkan saja? Ini kata para ahli.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 21 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Aturan Memberikan Hadiah ke Anak Agar Tak Berdampak Negatif

Memberikan hadiah ke anak merupakan cara baik untuk meningkatkan motivasi anak. Namun, hati-hati dalam memberikannya karena ini juga bisa berdampak buruk.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Waktu Memandikan Bayi, Sebaiknya Pagi atau Sore Hari?

Ada yang bilang sebaiknya memandikan bayi di pagi hari, tapi ada juga yang bilang sore lebih pas. Yang benar yang mana? Simak jawabannya di sini, ya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 16 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

4 Cara Mengatasi Kebiasaan Anak Mengemut Makanan

Kebiasaan anak mengemut makanan dalam waktu lama tanpa menelan, tentu sangat mengganggu. Anda perlu mencoba cara berikut ini untuk mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Anak 1-5 Tahun, Gizi Balita, Parenting 16 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

usia bayi bisa melihat

Kapan Bayi Bisa Melihat Sekitarnya dengan Baik dan Jelas?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit
Memahami Tumbuh Kembang Gigi dan Rahang Anak

7 Trik Membujuk Anak Agar Tak Takut ke Dokter Gigi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
menonton tv terlalu dekat

Benarkah Nonton TV Terlalu Dekat, Bisa Bikin Mata Anak Rusak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
kulit bayi mengelupas

Kulit Bayi Mengelupas di Minggu Pertamanya, Apakah Berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 6 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit