Bagaimana Cara Pakai Obat Ranitidine Injeksi?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 1 Februari 2017 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Perut dan usus merupakan beberapa organ yang memiliki peranan penting dalam sistem pencernaan manusia. Sangat merepotkan bila terjadi gangguan pada organ-organ ini. Terlebih bila gangguan tersebut adalah penyakit lama yang kembali kambuh. Saat Anda mengalami gangguan pada perut atau usus Anda, obat apa yang Anda konsumsi? Ranitidine adalah obat yang biasa digunakan untuk menangani gangguan yang terjadi pada perut dan usus, serta mencegah masalah tersebut kambuh setelah berhasil ditangani. Ranitidine dapat diberikan dengan melalui mulut maupun dengan cari injeksi. Bagaimana pemakaian ranitidine injeksi ini?

Ranitidine juga biasa digunakan untuk menangani gangguan yang terjadi pada perut, tenggorokan seperti erosive esophagitis, refluks asam lambung (GERD) dan Zollinger-Ellison sindrom. Cara kerjanya adalah dengan menurunkan kandungan asam yang dihasilkan oleh perut Anda. Obat ini juga mungkin dapat digunakan untuk mencegah luka lain yang disebabkan oleh beberapa jenis obat seperti nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID) misalnya ibuprofen dan naproxen hingga pendarahan pada perut maupun usus.

Pemakaian ranitidine injeksi

Pemberian ranitidine dengan cara injeksi biasanya hanya dilakukan untuk pengobatan jangka pendek. Ranitidine akan diberikan dengan disuntikkan hanya saat Anda sedang dalam posisi tidak dapat mengkonsumsi obat tersebut dengan melalui mulut. Dokter Anda seharusnya akan menyarankan Anda untuk mengkonsumsi obat tersebut melalui mulut kembali saat kondisi Anda telah memungkinkan.

Sebelum memakai obat ini, ada baiknya Anda mendiskusikan kepada dokter Anda perihal alergi yang Anda miliki, pengobatan lain yang sedang Anda jalani, gangguan kesehatan yang Anda miliki serta bila Anda sedang mengandung dan menyusui.

Ranitidine injeksi biasanya diberikan dengan menyuntikkannya melalui pembuluh darah vena maupun otot sesuai instruksi dokter. Injeksi biasanya dilakukan selama 5 hingga 20 menit dengan selang waktu setiap 6 hingga 8 jam. Dosis yang diberikan dan lama perawatannya sendiri bergantung kepada kondisi medis pasien. Pada anak-anak, selain berdasarkan kondisi medis, pertimbangan lainnya adalah berapa berat badan anak tersebut.

Sebelum penggunaan, baik di klinik maupun kediaman Anda, ada baiknya untuk Anda melakukan pengecekan kondisi kemasan lebih dahulu. Injeksi yang dilakukan oleh Anda sendiri diperbolehkan, hanya jika Anda telah yakin benar-benar memahami instruksinya sesuai dengan yang dikatakan petugas kesehatan Anda. Ada baiknya juga Anda mengetahui bagaimana cara menyimpannya dan laporkan segera ke dokter saat Anda tidak merasakan adanya perubahan selama beberapa waktu pemakaian atau justru bertambah buruk.

Efek samping ranitidine injeksi

Beberapa efek samping mungkin terjadi, seperti sakit kepala, sulit buang air besar hingga nyeri dan muncul kemerahan pada daerah sekitar lokasi injeksi. Hubungi segera dokter Anda bila Anda bahkan mulai mengalami peningkatan efek samping seperti penglihatan jadi buram, perubahan suasana hati, perasaan kelelahan yang amat sangat, perubahan detak jantung, nyeri pada perut, warna urin menjadi gelap dan beberapa gejala infeksi seperti demam hingga mengigil.

Reaksi alergi mungkin terjadi namun akan sangat jarang. Gejala-gejala alergi yang biasanya terjadi seperti munculnya ruam, terasa gatal, bengkak dan kesulitan bernapas.

Dokter Anda tentu meresepkan Anda obat ini karena obat ini akan mampu mengobati penyakit Anda, bukan justru memberikan efek samping. Namun gejala-gejala seperti yang telah disebutkan jarang terjadi. Segera laporkan dokter Anda, bila Anda justru menemukan gejala-gejala lain selain yang telah disebutkan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Pilihan Pengobatan untuk Atasi Tipes

Gejala tipes umumnya dapat diobati di rumah. Selain minum obat dari dokter, apa saja cara mengobati tipes lainnya di rumah?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Infeksi, Demam Tifoid (Tifus) 20 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

6 Cara Menghangatkan Tubuh Saat Sedang Kedinginan

Mengenakan selimut dan pakaian tebal merupakan salah satu cara menghangatkan tubuh saat kedinginan. Apakah ada cara lainnya?

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kesehatan, Informasi Kesehatan 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Hati-hati, 8 Suplemen Herbal Ini Tak Boleh Dikonsumsi Sebelum Masuk Ruang Operasi

Meski bermanfaat bagi kesehatan, beberapa suplemen herbal dapat berisiko komplikasi berbahaya jika diminum menjelang operasi. Apa saja itu?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 20 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Konsumsi Kayu Manis Berlebihan, Hati-hati Risikonya untuk Kesehatan

Meski memiliki manfaat, perhatikan jumlah asupan kayu manis. Terlalu banyak mengonsumsi rempah ini memiliki risiko kayu manis yang berbahaya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Mengurangi Bau Badan

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
tips lari untuk penderita rematik

6 Kesalahan Saat Olahraga Lari yang Wajib Dihindari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
strategi menahan lapar

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
gerak peristaltik dan sindrom usus malas

Mengulik Gerak Peristaltik dan Hubungannya dengan Sindrom Usus Malas

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit