Waspada Efek Samping Obat Pereda Nyeri yang Bisa Terjadi

    Waspada Efek Samping Obat Pereda Nyeri yang Bisa Terjadi

    Apakah Anda kerap menggunakan obat pereda nyeri alias painkiller? Sebaiknya Anda lebih berhati-hati dalam mengonsumsinya. Efek samping obat pereda nyeri bisa muncul akibat penggunaan jangka panjang.

    Efek samping obat pereda nyeri yang umum terjadi

    Terdapat banyak jenis obat pereda nyeri. Beberapa di antaranya bisa Anda dapatkan dengan mudah di apotek, bahkan tanpa resep dokter.

    Setiap jenis obat pereda nyeri akan memberikan manfaat apabila digunakan dengan tepat.

    Namun, ada pula yang lebih keras sehingga harus disertai dengan resep dokter.

    Berikut berbagai efek samping umum yang dapat Anda alami ketika mengonsumsi obat pereda nyeri.

    • Penglihatan kabur.
    • Sembelit.
    • Mulut kering.
    • Kelelahan.
    • Sakit kepala.
    • Insomnia.
    • Perubahan suasana hati.
    • Mual.
    • Masalah buang air kecil.
    • Penambahan berat badan.

    Anda dapat mencegah munculnya efek samping ini dengan meminum obat sesuai dosisnya dan jenis nyeri yang timbul.

    Efek samping serius obat pereda nyeri

    Selain itu, ada beberapa efek samping serius yang dapat terjadi akibat penggunaan obat pereda nyeri dalam jangka panjang.

    1. Gagal hati

    pembengkakan hati

    Overdosis obat pereda nyeri acetaminophen adalah penyebab utama terjadinya gagal hati akut akibat obat.

    Minum pereda nyeri dalam dosis berlebih menimbulkan stres oksidatif yang bisa mencederai hati.

    2. Sindrom Reye

    Anak-anak di bawah 18 tahun sebaiknya menghindari obat pereda nyeri jenis aspirin.

    Obat ini dapat menyebabkan Sindrom Reye, yakni kondisi langka yang menyebabkan otak membengkak dan hati kehilangan fungsinya.

    Hal ini umum terjadi di antara anak-anak yang mengonsumsi aspirin untuk mengobati gejala selama terinfeksi virus.

    3. Serangan jantung

    Obat antiradang nonsteroid (NSAID), seperti ibuprofen kerap digunakan untuk mengobati rasa nyeri dan pembengkakan.

    Namun, penggunaan jangka panjang dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

    Ibuprofen dapat memperburuk hipertensi atau mengembangkan risiko baru terjadinya tekanan darah tinggi.

    Risiko efek samping ini lebih besar terjadi pada mereka yang memiliki penyakit jantung.

    4. Tukak lambung

    Clarithromycin

    Penggunaan obat NSAID jangka panjang, termasuk aspirin dosis rendah, rupanya menjadi penyebab terjadinya cedera mukosa (jaringan tipis) gastrointestinal (saluran pencernaan).

    Riset dalam jurnal Australian prescriber (2017) menjelaskan bahwa pasien dengan beberapa faktor risiko bisa mengembangkan cedera saluran pencernaan.

    Faktor risiko tersebut seperti:

    • riwayat penyakit tukak lambung,
    • usia tua,
    • penggunaan NSAID bersama kortikosteroid dan antikoagulan, dan
    • penggunaan NSAID dosis tinggi dan jangka panjang.

    NSAID menghalangi enzim Cox-1 dan mengganggu produksi hormon prostaglandin di lambung, sehingga menyebabkan tukak dan perdarahan.

    Informasi tambahan

    Untuk menghindari efek samping obat, minum obat dengan dosis sesuai aturan pakai dalam kemasan atau anjuran dokter.
    Jika minum pereda nyeri yang diresepkan dokter, jangan menambah ataupun mengurangi dosis obat tanpa berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter.
    Apabila obat yang Anda konsumsi tidak memberikan perubahan, sampaikan masalah ini kepada dokter agar bisa mendapatkan alternatifnya.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    Apt. Seruni Puspa Rahadianti, S.Farm.

    Farmasi · Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita


    Ditulis oleh Ilham Fariq Maulana · Tanggal diperbarui 4 minggu lalu

    Iklan
    Iklan
    Iklan
    Iklan