home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Bahaya Mengonsumsi Alkohol Setelah Minum Obat

Bahaya Mengonsumsi Alkohol Setelah Minum Obat

Bagi sebagian orang, minum minuman keras atau yang mengandung alkohol sudah menjadi sebuah kebiasaan. Akibatnya, kebiasaan tersebut sulit dilepaskan dan tetap dilakukan bahkan ketika sedang sakit dan mengonsumsi obat-obatan baik yang diresepkan oleh dokter atau yang dibeli di apotek. Jika Anda perhatikan, beberapa obat mencantumkan peringatan pada kemasan atau brosur produk agar Anda menghindari konsumsi alkohol selama Anda masih minum obat tersebut. Ternyata, peringatan ini bersifat serius karena jika Anda meremehkan, mengonsumsi alkohol saat Anda masih dalam pengobatan bisa berakibat fatal.

Obat yang tidak boleh dikonsumsi bersama alkohol

Pada dasarnya minuman beralkohol seperti bir, wine, atau wiski tidak sebaiknya dikonsumsi ketika Anda sedang mengusahakan pengobatan misalnya pada batuk, flu, alergi, atau sakit kepala. Obat-obatan yang Anda konsumsi akan bereaksi dengan kandungan alkohol dan menghasilkan dampak yang berbahaya bagi tubuh. Selain itu, tubuh Anda akan semakin kesulitan menyembuhkan dan memulihkan diri dari penyakit yang sedang Anda lawan. Bahkan pada jenis obat tertentu, alkohol bisa mengurangi kemanjuran obat yang sedang Anda minum.

Obat-obatan yang tidak boleh dikonsumsi bersama dengan alkohol antara lain obat flu, obat pereda nyeri, obat penurun panas, obat pencernaan, obat radang sendi, dan obat penyakit jantung koroner. Masih banyak lagi jenis obat bebas dan antibiotik yang apabila dikonsumsi bersama alkohol bisa menyebabkan dampak yang berbahaya. Sebaiknya Anda langsung menanyakan pada tenaga kesehatan atau membaca pada brosur apakah obat yang Anda minum aman untuk dikonsumsi bersamaan dengan alkohol.

Efek samping mengonsumsi alkohol setelah minum obat

Alkohol bisa membuat Anda merasa mengantuk dan lemas. Maka, minum alkohol setelah minum obat bisa semakin meningkatkan efek ini. Anda akan kesulitan berkonsentrasi dan berpikir jernih. Akibatnya, kegiatan yang membutuhkan kewaspadaan Anda seperti mengambil keputusan atau mengemudikan kendaraan bermotor jadi sangat sulit bahkan hampir mustahil dilakukan. Selain itu, beberapa obat bisa bereaksi secara khusus jika dicampur dengan minuman beralkohol. Perhatikan efek sampingnya berikut ini.

Obat alergi

Mengonsumsi minuman beralkohol setelah minum obat alergi akan melemahkan kerja sistem saraf pusat Anda. Anda akan jadi lemas, mengantuk, dan pusing. Anda juga lebih berisiko mengalami overdosis.

Obat flu dan batuk

Hindari minuman beralkohol ketika Anda sedang menjalani pengobatan flu dan batuk. Mirip dengan obat alergi, Anda juga akan merasa lemas, pusing, dan berkunang-kunang jika mengonsumsi alkohol setelah minum obat flu dan batuk.

Obat pereda nyeri

Jika Anda minum obat pereda nyeri kepala, saraf, otot, atau sendi, jangan mengonsumsi alkohol sampai Anda benar-benar telah menghentikan pengobatan. Efek sampingnya adalah luka pada lambung, jantung berdebar hebat, perdarahan, kejang-kejang, sesak napas, dan hilangnya fungsi motorik Anda.

Obat penurun panas

Mengonsumsi alkohol setelah minum obat penurun panas seperti parasetamol akan menimbulkan efek samping yang berbahaya seperti sakit perut, kembung, dan jantung yang berdebar-debar. Anda juga akan semakin berisiko overdosis.

Obat radang sendi

Hati-hati jika Anda memiliki radang sendi dan Anda sedang dalam pengobatan. Minum alkohol setelah obat bisa membuat Anda pusing, berkunang-kunang, hingga luka dan perdarahan pada perut. Pada beberapa kasus, terutama para pecandu alkohol, Anda juga mungkin mengalami kerusakan hati.

Obat penyakit jantung koroner

Bagi Anda yang mengidap penyakit jantung koroner dan sedang minum obat, jangan mengonsumsi minuman beralkohol karena bisa meningkatkan risiko perubahan tekanan darah, sakit kepala, jantung berdebar, hingga hilang kesadaran atau pingsan.

Antibiotik

Beberapa antibiotik seperti amoksisilin, tinidazole, dan metronidazol bisa berdampak sangat berbahaya jika dikonsumsi bersamaan dengan minuman beralkohol. Efek samping setiap antibiotik berbeda-beda tapi secara umum biasanya mengonsumsi minuman beralkohol setelah minum antibiotik bisa menimbulkan mual dan muntah-muntah, diare, sakit kepala, dan jantung berdebar.

Risiko komplikasi mengonsumsi alkohol setelah minum obat

Selain efek samping yang telah disebutkan, mengonsumsi alkohol setelah minum obat juga meningkatkan risiko komplikasi yang berbahaya bagi kesehatan Anda dalam jangka panjang. Berikut adalah komplikasi yang mungkin terjadi sebagai dampak mengonsumsi alkohol setelah minum obat.

  • Kerusakan hati
  • Masalah pada jantung
  • Perdarahan organ dalam (internal bleeding)
  • Sesak napas
  • Depresi

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Harmful Interactions: Mixing Alcohol with Medicines. http://pubs.niaaa.nih.gov/publications/Medicine/Harmful_Interactions.pdf Diakses pada 27 September 2016.

Can You Drink Alcohol with Antibiotics? https://www.drugs.com/article/antibiotics-and-alcohol.html Diakses pada 27 September 2016.

Combining Antibiotics and Alcohol: Is It Safe? http://www.healthline.com/health/antibiotics-alcohol#Overview1 Diakses pada 27 September 2016.

Alcohol and Medication Interactions. http://www.webmd.com/mental-health/addiction/alcohol-interactions-with-medications?page=2 Diakses pada 27 September 2016.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Irene Anindyaputri
Tanggal diperbarui 06/10/2016
x