Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Amfoterisin B (Amphotericin B)

Amfoterisin B (Amphotericin B)

Amfoterisin B adalah obat untuk mengatasi infeksi jamur yang parah. Obat dengan nama lain amphotericin B ini tergolong sebagai obat keras.

Jadi, Anda hanya bisa mendapatkan amfoterisin dengan resep dokter. Di Indonesia, obat ini berbentuk salep mata dan cairan injeksi atau suntikan.

Golongan obat: Antifungi

Merek dagang: Fungicid

Apa itu amfoterisin B?

Amfoterisin B adalah untuk mengobati penyakit akibat infeksi jamur parah dan menyeluruh (sistemik), seperti histoplasmosis, meningitis akibat jamur Cryptococcus, blastomycosis, aspergillosis, dan coccidioidomycosis.

Obat ini juga mampu mengobati infeksi di mata atau keratitis akibat jamur Candida. Dokter mungkin akan memberikan obat in kepada pasien HIV yang terkena infeksi jamur parah.

Dokter juga bisa memberikan obat ini untuk pasien neutropenia, yakni kondisi yang menyebabkan neutrofil terlalu rendah. Neutrofil sendiri merupakan komponen sel darah putih yang membantu meningkatkan kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.

Mengutip buku berjudul Nelson Textbook of Pediatrics, Amphotericin B bekerja dengan cara merusak lapisan pelindung jamur dan membuat lapisan tersebut bocor sehingga jamur pun mati.

Dosis amfoterisin B

protamin sulfat

Amfoterisin B dalam bentuk salep mata 3,5 gram memiliki kadar amfoterisin B sebesar 1% dan 3 persen atau setiap gramnya mengandung amfoterisin B sebesar 10 mg.

Sementara itu, sediaan injeksi mengandung amfoterisin B sebesar 5 mg/ml.

Inilah dosis amfoterisin B untuk sediaan injeksi.

Dosis untuk infeksi jamur sistemik pada dewasa

Amfoterisin B suntik sebanyak 1 mg/kg berat badan untuk mengecek toleransi, berikan suntikan di infus selama 20–30 menit dengan durasi 2-6 jam per hari. Lalu, berikan dosis awal sebanyak 0,25 mg/kg berat badan setiap hari.

Pada infeksi berat dan cepat menyebar, berikan suntikan obat dengan dosis awal 0,3 mg/kg berat badan setiap hari. Tingkatkan dosis secara bertahap sebesar 5–10 mg per hari hingga dosis harian sebesar 0,5–0,7 mg/kg berat badan.

Pastikan dosis harian tidak lebih dari 1,5 mg per hari. Durasi terapi bertahan selama 11 bulan.

Dosis untuk infeksi jamur sistemik pada anak

Dosis uji pertama diberikan sebanyak 1 mg selama 20–30 menit pertama. Pastikan anak dipantau selama 2–4 jam setelahnya.

Dosis awal sebesar 0,25 mg/kg berat badan. Pada kasus berat, dosis awal dinaikkan sebesar 0,3 mg/kg berat badan.

Tingkatkan dosis secara bertahap sebesar 5–10 mg per hari. Pada pengidap blastomycosis berat, dokter mungkin akan meningkatkan dosis sebesar 0,7–1 mg/kg berat badan.

Pada bayi baru lahir, pemberian obat hanya sebesar 1 mg/kg berat badan sekali sehari. Pastikan pemberian tidak lebih dari 1,5 mg/kg berat badan.

Dosis untuk keratitis

Gunakan obat sediaan salep mata sebanyak 1,5–5 mg/ml.

Aturan pakai amfoterisin B

Pemberian obat injeksi dilakukan dengan pemberian dosis awal untuk melihat reaksi tubuh. Reaksi ini biasanya timbul dalam waktu 1–3 jam. Obat injeksi hanya bisa diberikan oleh dokter atau perawat.

Saat memakai obat salep untuk mata, pastikan Anda cuci tangan terlebih dahulu, lalu pastikan kepala Anda diarahkan ke atas. Salah satu tangan menarik kelopak mata bawah dan sisi tangan lainnya memencet salep.

Lihat ke bagian atas dan tekan salep sepanjang kelopak mata bagian bawah. Pastikan ujung salep tidak menyentuh mata. Pejamkan mata sesaat, lalu kedipkan mata beberapa kali.

Efek samping amphotericin B

sindrom dumping dumping syndrome

Efek samping amfoterisin B di antaranya:

  • kram atau sakit perut,
  • lambung perih atau heartburn,
  • diare,
  • berat badan turun,
  • nyeri otot, tulang, atau sendi,
  • kekurangan energi,
  • ruam atau bengkak di bagian yang disuntik,
  • kulit pucat,
  • napas pendek,
  • pusing dan sakit kepala, serta
  • tangan dan kaki dingin.

Ada beberapa efek samping serius yang bisa muncul, yakni:

  • ruam di sekujur tubuh,
  • gatal-gatal atau melepuh,
  • mengi,
  • susah bernapas,
  • kulit dan mata menguning, dan
  • jumlah urine berkurang.

Peringatan dan perhatian saat pakai amfoterisin B

penyebab infeksi ginjal

Beri tahu dokter bila Anda alergi amfoterisin B atau komposisi lainnya yang ada pada obat ini. Beritahu dokter pula jika Anda memiliki kondisi berikut ini:

  • Menerima transfusi sel darah putih.
  • Penyakit jantung.
  • Masalah ginjal.
  • Diabetes.
  • Gangguan elektrolit.
  • Menerima terapi radiasi.
  • Akan atau baru menjalani operasi.

Pastikan obat hanya untuk pasien infeksi jamur yang berpotensi mengancam jiwa saja. Obat ini tidak untuk pengidap infeksi jamur ringan, seperti keputihan atau seriawan.

Apakah obat amphotericin B aman untuk ibu hamil dan menyusui?

Obat ini mungkin aman untuk ibu hamil. Studi pada hewan menunjukkan tidak ada risiko bagi ibu hamil dan janin. Namun, belum ada studi lebih lanjut pada manusia.

Obat ini belum diketahui terserap ke dalam ASI. Akan tetapi, karena reaksi obat ini berisiko memberikan reaksi serius pada bayi, pemberian obat ini sebaiknya mempertimbangkan manfaatnya yang lebih besar daripada efek samping obat.

Interaksi obat amfoterisin B dengan obat lain

Obat ini akan bereaksi dengan obat dengan bahan-bahan aktif berikut ini:

  • antineoplastic agents,
  • kortikosteroid dan kortikotropin (ACTH),
  • digitalis glycosides,
  • flucytosine,
  • imidazole,
  • aminoglycoside,
  • cyclosporine,
  • pentamidine, dan
  • tubocurarine.

Obat amfoterisin adalah obat antijamur untuk infeksi berat dan sistemik. Obat ini berbentuk injeksi dan salep mata. Untuk mendapatkannya, Anda hanya bisa menggunakan resep dokter.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Amphotericin B: Uses, Interactions, Mechanism of Action | DrugBank Online. (2021). Retrieved 27 December 2021, from https://go.drugbank.com/drugs/DB00681

Amphotericin B – Patient | NIH. (2021). Retrieved 27 December 2021, from https://clinicalinfo.hiv.gov/en/drugs/amphotericin-b/patient

Morand, K., Bartoletti, A., Bochot, A., Barratt, G., Brandely, M., & Chast, F. (2007). Liposomal amphotericin B eye drops to treat fungal keratitis: Physico-chemical and formulation stability. International Journal Of Pharmaceutics, 344(1-2), 150-153. doi: 10.1016/j.ijpharm.2007.04.028

Kliegman, R. M., Stanton, B. M., & Geme, J. S. (2015). Nelson textbook of pediatrics, 2-volume set, 20e.

Kementerian Kesehatan. (2021). Retrieved 27 December 2021, from http://e-fornas.binfar.kemkes.go.id/index.php/front/Daftarobat/obat_fornas

Amphotericin B dosage guide + max dose, adjustments. Drugs.com. (n.d.). Retrieved December 27, 2021, from https://www.drugs.com/dosage/amphotericin-b.html 

Intravenous sodium fluorescein enhances the … – scielo.br. (n.d.). Retrieved December 27, 2021, from https://www.scielo.br/j/rbof/a/9SyMwVfzHXdNJFMKNpdQTzn/?format=pdf 

Cek produk BPOM – BPOM RI. (n.d.). Retrieved December 27, 2021, from https://cekbpom.pom.go.id//home/produk/jst60kn0fis4od248ftk8ifls7/all/row/10/page/1/order/4/DESC/search/5/amphotericin%20b 

NHS. (2021). Retrieved 27 December 2021, from NHS. https://www.moorfields.nhs.uk/sites/default/files/How%20to%20use%20your%20eye%20ointment.pdf

MedlinePlus. (2021). Amphotericin B Injection: MedlinePlus Drug Information. Retrieved 27 December 2021, from https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682643.html

amphotericin B (conventional) (amphotericin B deoxycholate) dosing, indications, interactions, adverse effects, and more. (2021). Retrieved 27 December 2021, from https://reference.medscape.com/drug/amphotericin-b-conventional-amphotericin-b-deoxycholate-342582#5

RxList. (2021). Retrieved 27 December 2021, from https://www.rxlist.com/fungizone-drug.htm#interactions

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui Jan 17
Ditinjau secara medis oleh Apt. Seruni Puspa Rahadianti, S.Farm.