home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengenal Tanda-Tanda Tubuh Kekurangan Zinc

Mengenal Tanda-Tanda Tubuh Kekurangan Zinc

Tubuh Anda membutuhkan berbagai macam vitamin dan mineral agar bisa berfungsi baik, salah satunya adalah zinc. Meski hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit, tetapi seseorang bisa saja mengalami kekurangan zinc. Lantas, apa saja gejala yang mungkin dialami?

Tanda dan gejala kekurangan zinc

jerawat muncul terus

Seng atau zinc memiliki banyak fungsi penting bagi tubuh. Sejumlah manfaat mineral zinc, termasuk memelihara sistem imun, mempercepat penyembuhan luka, dan mendukung pertumbuhan.

Mineral ini juga termasuk zat mineral mikro, sama halnya seperti zat besi atau selenium. Ini berarti tubuh hanya membutuhkan zinc dalam jumlah kecil untuk memperoleh manfaatnya.

Meski begitu, seseorang mungkin bisa mengalami kekurangan zinc. Kondisi ini dapat terjadi saat tubuh tidak mendapatkan asupan mineral zinc yang memadai.

Berikut ini adalah beberapa tanda dan gejala yang perlu Anda perhatikan saat tubuh kekurangan zinc.

1. Rambut rontok

Kadar zinc yang rendah terkait dengan penyebab kerontokan rambut. Dalam beberapa kasus alopecia areata, yakni penyakit autoimun yang memicu kebotakan juga bisa disebabkan oleh kekurangan zinc.

Jika merasakan gejala rambut rontok ini terjadi pada diri Anda, sebaiknya jangan langsung panik. Tidak semua kasus defisiensi zinc bisa memicu kebotakan.

Lihatlah terlebih dahulu tanda dan gejala lainnya. Pasalnya, kebotakan parah yang menyisakan beberapa helai rambut di kepala umumnya terjadi pada kasus kekurangan zinc yang parah.

2. Muncul banyak jerawat

Penelitian menemukan obat oral atau topikal yang mengandung zinc bisa membantu meredakan jerawat.

Para ahli percaya bahwa mineral zinc memiliki sifat antiradang yang membantu mengurangi jumlah minyak dan bakteri yang menyebabkan munculnya jerawat.

Berdasarkan temuan ini, kemunculan banyak jerawat mungkin terkait kekurangan zinc. Namun, tentu saja masih banyak faktor yang memicu jerawat, seperti skincare, hormon, atau diet tertentu.

3. Kemampuan indra pengecap dan penciuman berkurang

Orang yang mengalami kekurangan zinc dapat mengalami penurunan kepekaan terhadap rasa dan bau.

Pasalnya, tubuh membutuhkan asupan zinc untuk menghasilkan enzim karbonik anhidrase. Bila produksi enzim ini terganggu, maka kemampuan indra pengecap dan penciuman mungkin berkurang.

Gangguan indra lebih sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua. Mereka lebih berisiko mengalami kekurangan mineral ini seiring bertambahnya usia.

Efek samping obat-obatan tertentu juga dapat memengaruhi kemampuan menerima rasa dan bau.

4. Gampang sakit dan sulit sembuh

Jangan pernah abaikan pilek yang tidak kunjung hilang. Hal ini karena kondisi ini dapat jadi salah satu gejala tubuh Anda kekurangan zinc.

Mineral zinc berperan penting dalam mengaktifkan sel T, yakni sel yang berfungsi mengendalikan respons imun dan menyerang mikroorganisme penyebab penyakit.

Defisiensi zat mineral ini juga dapat membuat luka kulit sulit sembuh. Pasalnya, tubuh Anda butuh zinc untuk membantu mempercepat proses penyembuhan luka.

5. Keterlambatan pertumbuhan

Gejala kekurangan zinc pada bayi dan anak-anak salah satunya adalah nafsu makan menurun. Kondisi ini tentu akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Masalah kesehatan ini bisa menyebabkan berat badan bayi dan anak-anak menurun tanpa alasan jelas.

Dalam kasus parah, defisiensi zinc akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit infeksi yang berisiko tinggi, termasuk yang menyebabkan kematian.

Apa saja dampak akibat tubuh kekurangan zinc?

Studi : COVID-19 Dapat Menyebabkan Disfungsi Ereksi

Kadar zinc dalam tubuh sangat bergantung pada asupan mineral yang Anda peroleh dari makanan. Namun, tidak semua zinc tersebut dapat terserap baik oleh tubuh.

Orang yang menjalani diet vegetarian dan vegan yang tinggi serat dapat menghambat penyerapan zinc.

Selain itu, masalah kesehatan tertentu, termasuk diabetes, penyakit ginjal, dan efek samping obat-obatan tertentu bisa memengaruhi kadar zinc dalam tubuh.

Kekurangan zinc yang cukup parah atau berlangsung lama bisa menyebabkan hipogonadisme pada pria.

Hipogonadisme adalah salah satu penyakit akibat kekurangan zinc. Hal ini ditandai dengan kelenjar seks yang menghasilkan hormon dalam jumlah sangat sedikit atau tidak sama sekali.

Penurunan hormon seks bisa memengaruhi kematangan seksual, produksi sperma, menyebabkan disfungsi seksual, hingga gangguan kesuburan pada pria.

Bagaimana cara mengatasi kekurangan zinc?

Anda perlu memenuhi kebutuhan mineral ini setiap harinya. Berdasarkan Permenkes No. 28 Tahun 2019, kebutuhan zinc pria adalah 11 mg per hari dan wanita adalah 8 mg per hari.

Jika terjadi gejala kekurangan zinc, perubahan pola makan adalah hal pertama yang bisa Anda lakukan.

Pertimbangkan untuk makan lebih banyak makanan yang mengandung zinc, seperti:

  • daging merah,
  • daging unggas,
  • biji-bijian,
  • tiram,
  • sereal yang difortifikasi zinc,
  • oatmeal, dan
  • susu.

Selain dari makanan, Anda bisa meningkatkan kadar mineral zinc dalam tubuh dengan minum suplemen.

Mineral zinc cukup mudah Anda temukan dalam berbagai suplemen multivitamin atau suplemen khusus yang memang hanya dominan mengandung mineral ini.

Jika Anda menggunakan suplemen, tetaplah berhati-hati karena mineral zinc dapat berinteraksi dengan antibiotik, obat-obatan arthritis, dan diuretik.

Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter bila Anda sedang menggunakan obat-obatan tersebut.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Zinc. National Institute of Health. (2021). Retrieved 7 December 2021, from https://ods.od.nih.gov/factsheets/Zinc-HealthProfessional/

Zinc Deficiency. HealthDirect Australia. (2021). Retrieved 7 December 2021, from https://www.healthdirect.gov.au/zinc-deficiency

Zinc Deficiency. MSD Manual. (2020). Retrieved 7 December 2021, from https://www.msdmanuals.com/home/disorders-of-nutrition/minerals/zinc-deficiency

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 Tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Retrieved 7 December 2021, from http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No__28_Th_2019_ttg_Angka_Kecukupan_Gizi_Yang_Dianjurkan_Untuk_Masyarakat_Indonesia.pdf

Gammoh, N. Z., & Rink, L. (2017). Zinc in Infection and Inflammation. Nutrients, 9(6), 624. https://doi.org/10.3390/nu9060624

Pisano, M., & Hilas, O. (2016). Zinc and Taste Disturbances in Older Adults: A Review of the Literature. The Consultant pharmacist : the journal of the American Society of Consultant Pharmacists, 31(5), 267–270. https://doi.org/10.4140/TCP.n.2016.267

Krebs, N. F., Miller, L. V., & Hambidge, K. M. (2014). Zinc deficiency in infants and children: a review of its complex and synergistic interactions. Paediatrics and international child health, 34(4), 279–288. https://doi.org/10.1179/2046905514Y.0000000151

Gupta, M., Mahajan, V. K., Mehta, K. S., & Chauhan, P. S. (2014). Zinc therapy in dermatology: a review. Dermatology research and practice, 2014, 709152. https://doi.org/10.1155/2014/709152

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui 14/12/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan