home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Apa Bahaya Gula Rafinasi dan Kenapa Dilarang Pemerintah?

Apa Bahaya Gula Rafinasi dan Kenapa Dilarang Pemerintah?

Siapa yang tidak suka rasa manis dari gula? Tampaknya, hampir sebagian besar orang menyukai gula meski dalam takaran yang berbeda-beda. Gula memang bisa membuat rasa makanan dan minuman menjadi lebih nikmat. Inilah yang menyebabkan gula tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, begitu pun dengan gula rafinasi.

Sayangnya, jenis gula yang satu ini dapat meningkatkan risiko penyakit diabetes tipe 2 dan penyakit kronis lainnya. Sebenarnya apa itu gula rafinasi? Simak ulasannya berikut ini.

Apa itu gula rafinasi?

gula batu atau gula kristal

Gula rafinasi adalah gula yang telah melalui proses pengolahan dan pemurnian dari gula kristal.

Awalnya, produsen mengambil sari batang tebu, lalu menyaringnya dengan kapur sirih untuk menghilangkan kotoran yang berasal dari proses pemanenan.

Sari tebu kemudian direbus hingga membentuk gula kristal (granulated sugar).

Proses pengolahan ini menghasilkan gula mentah mengandung sukrosa yang belum dapat dikonsumsi. Produsen juga masih harus memisahkan kristal gula dari sirupnya.

Setelah kristal gula dan sirup gula terpisah, produsen akan mengolah kristal gula lebih lanjut untuk menghilangkan warnanya dan zat lain yang bukan gula.

Mereka lalu memisahkan lagi kristal gula dari cairan yang tersisa melalui proses sentrifugasi. Proses ini menghasilkan kristal gula yang bersih dan sirup kental berwarna kecokelatan yang disebut molasses (gula tetes).

Kristal gula kemudian melewati proses pengolahan lebih lanjut hingga menghasilkan gula rafinasi yang berwarna putih bersih.

Produk akhir ini digunakan dalam berbagai industri karena lebih murni dan mempunyai penampilan yang lebih bersih dari gula mentah.

Anda dapat menemukan gula ini dalam berbagai produk makanan kemasan, minuman ringan, selai, kue, dan saus.

Konsumsi gula rafinasi dilarang pemerintah

Menurut SK Menperindag No.527/MPT/KET/9/2004, gula rafinasi hanya diperuntukkan bagi industri sebagai bahan baku atau zat tambahan dalam proses produksi.

Produsen juga dilarang menjual gula rafinasi kepada distributor, pedagang eceran, dan konsumen. Pasalnya, produk ini berpotensi menyebabkan sejumlah masalah kesehatan.

Sebagai contoh, penelitian pada The American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa konsumsi gula rafinasi dalam jumlah besar berkaitan dengan obesitas dan diabetes tipe 2.

Konsumsi gula ini juga mengakibatkan penuaan pada kulit melalui proses alami glikasi.

Glikasi merupakan proses ketika molekul gula memasuki aliran darah dan menutup molekul protein pada kulit. Lama-kelamaan, kulit menjadi gelap dan kusam.

Banyaknya dampak negatif gula rafinasi bagi kesehatan menjadi alasan kuat mengapa proses penjualan produk ini amat dibatasi.

Setiap industri dan perusahaan yang menerima produk ini pun harus memberikan laporan distribusi kepada pihak terkait.

Dampak konsumsi gula rafinasi bagi kesehatan

Hati-hati, Ini 4 Masalah Kesehatan yang Bisa Muncul Akibat Gula Rafinasi

Tidak jauh berbeda dengan jenis gula lainnya, konsumsi gula rafinasi yang berlebihan juga bisa memberikan dampak sebagai berikut.

1. Mempercepat penambahan berat badan

Sebagian besar makanan dan minuman manis dalam kemasan biasanya juga tinggi kalori.

Sekalipun Anda tidak makan banyak, berbagai produk tinggi gula ini akan tetap menyumbangkan kalori dalam jumlah besar ke dalam tubuh Anda.

Jika jumlah kalori yang masuk lebih banyak dari yang terbakar, tubuh harus menyimpan kelebihan kalori ini dalam bentuk lemak.

Hasilnya, jaringan lemak Anda pun bertambah sehingga berat badan naik dengan cepat.

2. Hipoglikemia

Selain meningkatkan kadar gula darah, konsumsi gula rafinasi juga bisa menyebabkan hipoglikemia alias rendahnya kadar gula darah.

Ini lantaran ketika Anda mengonsumsi gula, pankreas akan melepaskan insulin untuk menjaga gula darah tetap stabil.

Hormon insulin bekerja dengan mengubah gula dari makanan menjadi glukosa sebagai energi.

Pada kondisi hipoglikemia, kadar gula darah yang amat rendah membuat Anda mengalami gejala berupa rasa lapar, kulit pucat, gemetar, dan badan lemas.

3. Kekurangan vitamin dan mineral

Tubuh Anda perlu lebih banyak vitamin B kompleks, kalsium, serta magnesium untuk mengolah gula rafinasi dengan tingkat kemurnian yang tinggi.

Saat Anda mengonsumsi gula ini, persediaan berbagai zat mikro tersebut akan ikut terkuras.

Dalam jangka panjang, kekurangan vitamin B kompleks dapat mengganggu fungsi saraf dan proses pembentukan energi.

Sementara itu, kekurangan kalsium dan magnesium dapat meningkatkan risiko osteoporosis dan artritis (radang sendi).

4. Meningkatkan risiko diabetes tipe 2

Konsumsi makanan tinggi gula rafinasi atau pemanis tambahan dapat menyebabkan obesitas.

Saat Anda mengalami obesitas, Anda lebih rentan terhadap resistensi insulin. Ini merupakan kondisi ketika sel tubuh tidak mampu merespons insulin dengan baik.

Tubuh pun kehilangan kemampuannya untuk menjaga kadar gula darah dalam rentang yang normal.

Lambat laun, kondisi ini dapat berujung menyebabkan penyakit diabetes tipe 2. Anda pun akan berisiko lebih tinggi untuk mengalami berbagai komplikasinya.

5. Meningkatkan risiko penyakit jantung

Sebuah penelitian pada 2014 dalam jurnal JAMA Internal Medicine menemukan kaitan konsumsi gula dengan risiko penyakit jantung.

Pada penelitian tersebut, orang yang mendapatkan 17 – 18% asupan kalori dari gula berisiko 38% lebih besar untuk mengalami kematian akibat penyakit jantung.

Konsumsi gula berlebih, khususnya gula rafinasi, dapat meningkatkan tekanan darah dan peradangan kronis dalam tubuh.

Ditambah dengan tingginya risiko obesitas, semua ini menjadi faktor-faktor yang membuat Anda lebih rentan mengalami penyakit jantung.

Gula rafinasi merupakan salah satu komoditas yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Anda mungkin tak sadar telah menemukannya dalam berbagai makanan dan minuman sehari-hari. Meski begitu, Anda tetap bisa membatasi asupannya.

Mulailah dengan mengurangi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula. Perbanyak pula asupan makanan alami dan kaya akan zat gizi.

Saat ngidam makanan manis, Anda pun bisa menggunakan pemanis alami pengganti gula.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Sugars defined. (2014). Retrieved 15 September 2021, from https://www.canr.msu.edu/news/sugars_defined

The sweet danger of sugar – Harvard Health. (2017). Retrieved 15 September 2021, from https://www.health.harvard.edu/heart-health/the-sweet-danger-of-sugar

Sugar and diabetes. (2021). Retrieved 15 September 2021, from https://www.diabetes.org.uk/guide-to-diabetes/enjoy-food/eating-with-diabetes/food-groups/sugar-and-diabetes

Reactive hypoglycemia: What causes it?. (2021). Retrieved 15 September 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diabetes/expert-answers/reactive-hypoglycemia/faq-20057778

Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 527/MPP/Kep/9/2004 tentang Ketentuan Impor Gula. (2004). Retrieved 15 September 2021, from http://jdih.kemendag.go.id/peraturan/download/1473/2

Malik, V., Pan, A., Willett, W., & Hu, F. (2013). Sugar-sweetened beverages and weight gain in children and adults: a systematic review and meta-analysis. The American Journal Of Clinical Nutrition, 98(4), 1084-1102. doi: 10.3945/ajcn.113.058362

Hu, F. (2010). Are refined carbohydrates worse than saturated fat?. The American Journal Of Clinical Nutrition, 91(6), 1541-1542. doi: 10.3945/ajcn.2010.29622

Yang, Q., Zhang, Z., Gregg, E., Flanders, W., Merritt, R., & Hu, F. (2014). Added Sugar Intake and Cardiovascular Diseases Mortality Among US Adults. JAMA Internal Medicine, 174(4), 516. doi: 10.1001/jamainternmed.2013.13563

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 30/09/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro