Berat Badan Tak Juga Turun? Coba Bantu Dengan Diet Hormon Ini

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Demi memiliki penampilan yang menarik, berat badan tentu menjadi salah satu indikator penting yang akan Anda beri perhatian lebih, bukan? Seorang ahli naturopati, Natasha Turner, meyakini bahwa ketidakseimbangan beberapa hormon tertentu dalam tubuh dapat menyebabkan kondisi berat badan yang berlebih. Hormon-hormon ini lalu dikenal dengan sebutan hormon diet. Hormon apa saja yang termasuk dalam hormon diet ini? Simak penjelasannya berikut.

Hormon adalah pesan berupa zat kimia yang mampu menggerakkan tubuh dan alam pikiran Anda yang diproduksi oleh kelenjar pada sistem endokrin. Hormon menjadi pengendali sebagian besar fungsi yang terjadi dalam tubuh manusia, dari kondisi yang paling sederhana seperti perasaan lapar, hingga yang kompleks seperti sistem reproduksi, emosi dan suasana hati.

Jenis-jenis hormon diet

Seperti yang telah disebutkan di atas, hormon juga ambil andil dalam rasa lapar hingga rasa kenyang Anda. Dengan kata lain, naik turunnya hormon diet dalam tubuh Anda dapat mempengaruhi berat badan Anda. Pengelolaan kadar hormon-hormon diet dengan benar tentu dapat mempercepat keberhasilan program penurunan berat badan Anda. Hormon-hormon tersebut antara lain:

1. Leptin

Leptin adalah salah satu hormon diet yang diproduksi oleh sel lemak dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan rasa lapar. Suatu penelitian mengungkapkan bahwa, lemak tubuh yang berlebihan dapat menimbulkan kondisi di mana otak Anda tak lagi sensitif terhadap leptin sekalipun kadar leptin dalam tubuh Anda tengah tinggi (leptin resisten). Kondisi ini lalu menyebabkan otak Anda terus mengirim sinyal lapar. Menurut seorang ahli endokrinologi, Scott Isaacs, Anda dapat mengatasi kondisi leptin resisten ini dengan membiasakan diri mengkonsumsi sejumlah sayur sebelum jam 10 pagi, guna menunda rasa lapar.

2. Kortisol dan Serotonin

Pelepasan hormon kortisol oleh kelenjar adrenal, seringkali adalah alasan mengapa Anda segera ingin mencari suatu makanan dengan kandungan gula yang tinggi saat dalam kondisi stress. Reaksi ini terjadi karena tubuh membutuhkan energi yang lebih untuk mengatasi kondisi stress tersebut. Namun reaksi ini juga dapat berdampak pada meningkatnya kadar lemak pada perut Anda.

Kebalikan dari kortisol, serotonin berperan dalam menenangkan stress Anda. Sehingga, untuk mengatasi cara kerja kortisol tersebut, Anda dapat mengkonsumsi asparagus dan bayam yang kaya akan vitamin B untuk meningkatkan kadar serotonin dalam tubuh. Memiliki tidur malam yang cukup juga dapat dilakukan untuk mengendalikan kadar kortisol dalam tubuh.

3. Insulin

Insulin adalah hormon diet yang akan dilepaskan setiap kali Anda selesai mengkonsumsi suatu makanan yang mengandung gula. Kandungan gula yang berlebih dalam tubuh lalu akan disimpan dalam bentuk lemak oleh insulin. Makan dengan frekuensi yang sering namun porsi yang sedikit dapat dilakukan untuk menjaga konsistensi kadar gula dan insulin dalam tubuh.

4. Irisin

Sel lemak terdiri dari sel yang berfungsi untuk menyimpan lemak (sel lemak putih) dan sel yang berfungsi untuk membakar lemak guna menghangatkan tubuh (sel lemak coklat). Studi yang baru-baru ini dilakukan berhasil mengungkapkan bahwa irisin, salah satu hormon diet yang dihasilkan selama tubuh berolahraga, diyakini mampu mengatasi resisten insulin serta dapat mengubah sel lemak putih menjadi sel lemak coklat. Sehingga, untuk meningkatkan kadar irisin dalam tubuh, penelitian tersebut menyarankan Anda untuk berolahraga, bersepeda misalnya, empat hingga lima kali dalam seminggu, dengan lama tiap satu sesi kira-kira 20 hingga 35 menit.

Semoga berhasil!

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

5 Jenis Makanan yang Sebaiknya Dihindari Saat Sarapan

Nasi uduk atau donat mungkin menjadi pilihan sarapan Anda. Sayangnya,keduanya termasuk sarapan tidak sehat. Yuk, cek makanan yang harus dihindari pagi hari.

Ditulis oleh: Monika Nanda
Tips Makan Sehat, Nutrisi 30 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

7 Resep Kreasi Kale yang Bukan Cuma Salad

Tertarik ingin mulai makan kale, tapi banyak restoran yang hanya menyediakan salad? Kenapa tidak coba buat sendiri kreasi lauk-pauk lezat di rumah.

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Resep Sehat, Nutrisi 22 Desember 2020 . Waktu baca 11 menit

Daftar Makanan Sumber Energi yang Tak Akan Bikin Gemuk

Jika Anda masih ingin berdiet ria tanpa harus kehabisan tenaga, beragam pilihan makanan sumber energi ini tetap aman untuk dimakan tanpa harus takut gemuk.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Fakta Gizi, Nutrisi 22 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

6 Makanan Paling Sehat untuk Sarapan

Saat sarapan, yang penting bukan porsinya, tapi apa yang kita makan. Pastikan salah satu (atau lebih) makanan ini ada di menu makan Anda setiap pagi.

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Tips Makan Sehat, Nutrisi 22 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

olahraga untuk mantan penderita sembuh dari pasien kanker survivor

Panduan Olahraga untuk Mantan Penderita Kanker

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
makanan untuk penderita maag makanan untuk penderita asam lambung

11 Makanan dan Minuman Terbaik untuk Penderita Sakit Maag

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 11 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit
4 Alternatif Pengganti Kopi Anda di Pagi Hari

4 Alternatif Sehat Pengganti Kopi di Pagi Hari

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Dipublikasikan tanggal: 5 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
bab setelah makan

Langsung BAB Setelah Makan, Apakah Normal?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 1 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit