Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Berat Badan Tak Juga Turun? Bantu dengan Diet Hormon Ini!

    Berat Badan Tak Juga Turun? Bantu dengan Diet Hormon Ini!

    Tahukah Anda bahwa berat badan bisa dipengaruhi oleh beberapa hormon di tubuh? Sebagai solusinya, diciptakanlah diet hormon yang akan membantu menyeimbangkan hormon dalam tubuh guna bantu menurunkan berat badan.

    Apa itu diet hormon?

    Diet hormon adalah pola makan yang berfokus untuk menyeimbangkan kadar hormon dalam tubuh. Program diet ini dibuat oleh seorang ahli naturopati bernama Natasha Turner. Naturopati yaitu ilmu yang memiliki gagasan utama pada metode pengobatan alternatif.

    Sang ahli berlandasan bahwa ketidakseimbangan hormon tertentu dalam tubuh dapat menyebabkan kondisi berat badan yang berlebih. Hormon bisa diibaratkan pesan yang menggerakkan tubuh dan pikiran serta diproduksi oleh kelenjar pada sistem endokrin.

    Hormon menjadi pengendali sebagian besar fungsi yang terjadi dalam tubuh manusia, dari kondisi yang paling sederhana seperti perasaan lapar, hingga yang kompleks seperti sistem reproduksi, emosi dan suasana hati.

    Pengelolaan kadar hormon-hormon diet dengan benar tentu dapat mempercepat keberhasilan program penurunan berat badan Anda. Hormon-hormon yang berperan termasuk di bawah ini.

    1. Leptin

    Leptin termasuk hormon untuk diet yang diproduksi oleh sel lemak dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan nafsu makan serta rasa lapar.

    Lemak tubuh yang berlebihan dapat menimbulkan kondisi di mana otak Anda tak lagi sensitif terhadap leptin sekalipun kadar leptin dalam tubuh Anda tengah tinggi (leptin resisten). Kondisi ini lalu menyebabkan otak Anda terus mengirim sinyal lapar.

    2. Kortisol dan serotonin

    Pelepasan hormon kortisol seringkali merupakan alasan mengapa Anda ingin segera mencari makanan dengan kandungan gula tinggi saat dalam kondisi stres.

    Reaksi ini terjadi karena tubuh membutuhkan energi lebih untuk mengatasi kondisi stres tersebut. Namun, reaksi ini juga dapat berdampak pada meningkatnya kadar lemak pada perut Anda.

    Kebalikan dari kortisol, hormon serotonin berperan dalam menenangkan stres Anda.

    3. Insulin

    Insulin termasuk hormon diet yang akan dilepaskan setiap kali Anda selesai mengkonsumsi suatu makanan yang mengandung gula. Kandungan gula yang berlebih dalam tubuh lalu akan disimpan dalam bentuk lemak oleh insulin.

    4. Irisin

    Sel lemak terdiri dari sel yang berfungsi untuk menyimpan lemak (sel lemak putih) dan sel yang berfungsi untuk membakar lemak guna menghangatkan tubuh (sel lemak coklat).

    Keberadaan irisin yang dihasilkan selama berolahraga diyakini mampu mengatasi resistensi insulin serta dapat mengubah sel lemak putih menjadi sel lemak coklat.

    Bagaimana cara menjalani diet hormon?

    diet atkins
    Sumber: Atkins

    Diet hormon biasanya dilakukan selama enam minggu dengan melalui tiga tahapan. Di bawah ini penjelasannya.

    Tahap 1

    Tahap pertama ini melibatkan proses detoksifikasi selama dua minggu. Anda disarankan untuk menghindari beberapa jenis makanan yaitu:

    Sebaliknya, makanan yang baik untuk Anda konsumsi pada tahap ini yaitu sayur, buah, kedelai, susu nabati, kacang-kacangan, unggas, ikan, dan telur. Anda juga boleh mengonsumsi suplemen nutrisi.

    Tahap 2

    Pada tahap kedua, Anda mulai boleh kembali mengonsumsi makanan yang dilarang saat tahap pertama secara perlahan sembari memperhatikan bagaimana tubuh Anda meresponsnya.

    Namun, tetap ada beberapa jenis makanan yang dianggap dapat menghambat hormon seperti sirup jagung, ikan dengan kadar merkuri tinggi, daging merah, serta kopi. Asupan tersebut sebaiknya tidak Anda konsumsi selama menjalani tahap kedua.

    Tahap 3

    Tujuan dari tahap ketiga yakni meningkatkan hormon irisin yang dapat bantu membakar lemak. Oleh karena itu, tahap ini akan berfokus pada kesehatan fisik secara keseluruhan.

    Di tahap inilah Anda harus mulai menjalani olahraga yang melatih kekuatan sembari menjaga kesehatan organ jantung Anda.

    Apakah diet hormon efektif?

    Melansir buku “The Hormone Diet” karya Natasha Turner, pola makan ini tak hanya menyeimbangkan kadar hormon untuk menurunkan berat badan, tapi juga mendorong pola hidup lebih sehat seperti tidur teratur, berolahraga, dan mengendalikan stres.

    Meski demikian, diet ini menjanjikan penurunan berat badan maksimal 5 kilogram, yang mana hal ini belum tentu tercapai. Sebab, diet hormon tidak menerapkan pembatasan kalori.

    Selain itu, kondisi tubuh setiap orang berbeda-beda. Maka, satu target dalam dua minggu belum tentu bisa terjadi pada semua orang yang menjalaninya.

    Diet hormon dapat menjadi salah satu langkah baik bila Anda ingin merasa lebih sehat. Namun, jika Anda ingin menurunkan berat badan, lakukanlah defisit kalori dengan mengurangi setidaknya sekitar 500 kalori dari angka yang diharuskan.

    Selain itu, konsumsilah makanan dengan gizi yang seimbang dengan menambahkan buah-buahan, sayur-mayur, serta sumber karbohidrat dan protein pada menu makan Anda.

    health-tool-icon

    Kalkulator BMI (IMT)

    Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

    Laki-laki

    Wanita

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Hormones. (n.d.). Medline Plus. Retrieved 31 May 2021, from https://medlineplus.gov/hormones.html

    Turner, N.. (2011). The Hormone Diet: A 3 Step Program to Help You Lose Weight, Gain Strength, and Live Younger Longer. Retrieved 31 May 2021.

    Leptin. (2018). Hormone Health Network. Retrieved 31 May 2021, from https://www.hormone.org/your-health-and-hormones/glands-and-hormones-a-to-z/hormones/leptin

    Insulin. (2018). Hormone Health Network. Retrieved 31 May 2021, from https://www.hormone.org/your-health-and-hormones/glands-and-hormones-a-to-z/hormones/insulin

     

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Theresia Evelyn Diperbarui Dec 16, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro