home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Sakit pada Kaki Padahal Sudah Amputasi, Kok Bisa?

Sakit pada Kaki Padahal Sudah Amputasi, Kok Bisa?

Setelah menjalani amputasi, baik pada tangan maupun kaki, Anda mungkin masih dapat merasakan keberadaan anggota tubuh yang telah hilang. Ya, individu yang harus menjalani proses ini dapat mengalami berbagai sensasi pada bagian tubuh yang hilang tersebut. Sebagai contoh, rasa sakit tajam atau menusuk, nyeri, kram otot, atau panas terbakar. Sensasi ini dikenal dengan istilah phantom pain. Untuk mendapatkan pemahaman mengenai phantom pain, simak penjelasan berikut ini.

Apa itu phantom pain?

amputasi bikin kanker tulang kambuh

Phantom pain adalah rasa sakit berkelanjutan yang mungkin Anda rasakan setelah menjalani amputasi, padahal bagian tubuh tersebut sudah tidak lagi ada.

Anda bisa saja merasa bahwa anggota tubuh yang telah hilang masih ada, tetapi dengan ukuran yang telah menyusut menjadi lebih kecil. Rasa nyeri ini paling sering terjadi pada orang yang mengalami amputasi lengan atau kaki.

Namun, phantom pain juga bisa terjadi pada bagian tubuh lain yang mengalami amputasi, seperti payudara, penis, mata, hingga lidah. Timbulnya rasa sakit ini paling sering terjadi tepat setelah operasi selesai.

Rasa sakitnya dapat terasa seperti banyak hal, misalnya terbakar, terkilir, gatal, atau seperti mendapat tekanan. Bahkan, sensasi yang terasa pada bagian tubuh yang hilang sebelum amputasi juga mungkin muncul kembali.

Nah, lamanya waktu dari seorang individu merasakan phantom pain bisa berbeda dari satu orang ke yang lainnya. Phantom pain dapat berlangsung hanya satu dua detik, beberapa menit, berjam-jam, bahkan harian.

Bagi kebanyakan orang, phantom pain bisa hilang dalam enam bulan pertama setelah amputasi, tapi banyak yang terus mengalami keluhan ini selama bertahun-tahun.

Apa penyebab munculnya phantom pain setelah amputasi?

Tidak seperti rasa sakit yang terjadi karena trauma langsung pada anggota tubuh, phantom pain mungkin terjadi karena campur aduk pengiriman sinyal rasa sakit dari otak atau sumsum tulang belakang.

Ini tandanya, meski salah satu anggota tubuh sudah tidak ada, ujung saraf pada lokasi amputasi terus mengirim sinyal rasa sakit ke otak. Hal ini membuat otak berpikir anggota tubuh tersebut masih ada.

Terkadang, memori otak terhadap rasa nyeri terus bertahan hingga otak menafsirkannya sebagai rasa sakit yang sesungguhnya. Padahal, sinyal rasa sakit tersebut datang dari saraf yang cedera.

Selain itu, para ahli menduga bahwa akar penyebab fenomena misterius ini berasal dari bagian otak yang bernama cortex somatosensorik. Bagian otak ini adalah area yang menyimpan data peta somatotopik, pusat penyimpanan segala informasi mengenai tubuh yang bertanggung jawab untuk indera sentuhan.

Setelah amputasi, otak mengalami penyesuaian peta somatotopik akibat adanya anggota tubuh yang hilang. Persepsi otak terhadap anggota tubuh tersebut tidak akan hilang dan bisa muncul kembali ke permukaan melalui bagian tubuh yang masih ada.

Contohnya, saat Anda menyentuh lengan yang masih ada, kaki yang mengalami amputasi seolah seperti sedang disentuh juga.

Ini dilakukan otak dengan berupaya memberikan respons untuk menyambungkan kembali sirkuit-sirkuit saraf yang tidak lagi menerima rangsangan dari bagian tubuh yang telah mengalami amputasi.

Seperti jenis lain dari rasa sakit, Anda mungkin menemukan bahwa kegiatan atau kondisi tertentu akan memicu phantom pain. Beberapa pemicu ini mungkin termasuk:

  • Sentuhan.
  • Buang air kecil atau buang air besar.
  • Hubungan seks.
  • Angina.
  • Merokok.
  • Perubahan tekanan udara.
  • Herpes zoster.
  • Paparan udara dingin.

Bagaimana cara mengatasi phantom pain?

Individu yang mengalami phantom pain sering kali enggan untuk memberi tahu orang lain bahwa sedang mengalami kondisi tersebut. Mengapa?

Para individu ini merasa takut mendapat anggapan sebagai orang gila karena kondisinya. Namun, penting untuk Anda ketahui bahwa meski bagian tubuhnya sudah hilang, rasa sakit yang muncul benar-benar nyata.

Oleh sebab itu, jika Anda mengalami phantom pain, jangan ragu untuk memberi tahu orang lain segera agar tim medis bisa segera memberikan penanganan atas kondisi ini.

Menurut Amputee Coalition, penanganan terhadap kondisi ini bisa berasal dari berbagai pendekatan. Akan tetapi, kombinasi penggunaan obat-obatan dan penanganan non-medis biasanya dapat memberikan hasil yang efektif.

Contohnya, jika mengalami patah tulang, dokter biasanya akan menyarankan pengobatan untuk sementara waktu. Namun, Anda bisa membantu proses pengobatan patah tulang tersebut dengan perawatan rumah.

Untuk penanganan phantom pain, khususnya yang terjadi pada kaki setelah amputasi, Anda bisa mengonsumsi obat yang secara langsung mengganggu sinyal rasa sakit pada otak dan sumsum tulang belakang.

Tak hanya itu, ada pula terapi non-obat tertentu untuk membantu mengatasinya, seperti akupunktur atau hipnotis, yang juga bekerja memengaruhi pemahaman otak Anda terhadap sinyal-sinyal ini.

Ada banyak kategori yang berbeda dari obat yang dapat menurunkan rasa sakit Anda, meliputi:

Dokter juga sering merekomendasikan pemasangan anggota tubuh palsu (prostesis fungsional) sebagai cara penanggulangan rasa sakit semu ini.

Dengan begitu, otot-otot pada bagian tubuh yang mengalami amputasi bisa kembali pulih dan rasa nyeri otot berkurang.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Annisa Hapsari Diperbarui 3 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x