Siku Terasa Nyeri Parah? Waspada Cedera Siku Hiperekstensi!

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 14 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Nyeri sendi, termasuk di bagian siku, bisa terjadi karena berbagai penyebab. Salah satunya adalah siku yang mengalami hiperekstensi. Jika tidak ditangani dengan tepat, siku yang hiperekstensi bisa merusak jaringan di sekitar sendi siku Anda. Bahkan, Anda bisa jadi lebih mudah terkilir. Maka itu, yuk, ketahui lebih lanjut mengenai siku hiperekstensi!

Apa itu siku hiperekstensi?

Siku hiperekstensi atau disebut juga siku hyperextended adalah salah satu bentuk cedera siku yang umum terjadi. Kondisi ini terjadi ketika siku Anda digerakkan atau ditekuk terlalu jauh ke belakang, melebihi rentang gerak normalnya. Adapun cedera tersebut dapat menyebabkan nyeri pada siku, kerusakan ligamen di siku, serta menimbulkan dislokasi tulang.

Siku hiperekstensi bisa dialami oleh siapa saja. Namun, cedera ini lebih sering terjadi pada atlet atau seseorang yang bermain olahraga kontak fisik. Orang yang tersandung, terjatuh, dan melakukan aktivitas yang menahan beban juga mungkin bisa mengalami kondisi ini.

Adapun tingkat keparahan cedera ini bisa beragam. Seseorang bisa mengalami cedera dan sakit ringan yang berkembang seiring waktu. Namun, cedera ini pun bisa terjadi secara tiba-tiba yang langsung menimbulkan nyeri parah.

Apa gejala yang terjadi pada siku hiperekstensi?

nyeri siku

Gejala yang menandakan terjadinya siku hiperekstensi ini bisanya adalah adanya bunyi letupan di bagian siku dan siku langsung terasa sakit. Ini yang membedakan siku hiperekstensi dengan nyeri siku lainnya, seperti tennis elbow.

Selain tanda yang umum tersebut, tanda, ciri-ciri, atau gejala lainnya yang bisa terjadi pada cedera siku hiperekstensi adalah:

  • Sakit ketika menggerakan atau menyentuh siku.
  • Sakit di bagian depan lengan dekat sendi siku saat meluruskan lengan, tepat setelah cedera.
  • Pembengkakan, kemerahan, dan kekakuan di sendi siku.
  • Kehilangan kekuatan dari lengan.
  • Mati rasa di area lengan.
  • Kejang otot di bisep, yaitu jaringan otot di depan lengan di atas sendi siku, tepat setelah cedera.

Jika Anda mengalami gejala-gejala di atas, terutama jika setelah mengalami cedera, sebaiknya Anda segera mengunjungi dokter untuk memastikan apakah Anda mengalami siku hiperekstensi atau bentuk cedera lain, seperti patah tulang atau robekan otot.

Anda pun perlu segera ke ruang gawat darurat jika gejala di atas disertai dengan kelainan atau perubahan bentuk siku, atau jika ada bagian tulang yang menembus kulit Anda. Ini merupakan tanda cedera siku hiperekstensi yang parah. Kondisi ini dapat mengganggu sirkulasi darah di tangan dan lengan Anda.

Apa penyebab dari siku hiperekstensi?

Siku dibentuk oleh tiga sendi yang saling berhubungan, yaitu sendi humeroulnar, humeroradial, dan superior radioulnar. Kondisi siku dapat menekuk ke depan (fleksi) dan membuka ke belakang (ekstensi) dipengaruhi oleh sendi humeroulnar. Sendi ini menghubungkan tulang lengan atas (humerus) dan tulang lengan bawah (ulna).

Siku mengalami hiperekstensi ketika humeroulnar menekuk ke belakang yang melebihi rentang gerak normalnya. Ini biasanya terjadi jika ada tekanan atau pukulan yang memaksa sendi untuk bergerak ke belakang terlalu jauh.

Kondisi ini bisa terjadi ketika seseorang:

  • Berolahraga yang melibatkan kontak fisik, terutama tekanan atau pukulan ke arah lengan, seperti tinju, sepak bola, rugby dan seni bela diri.
  • Sedang melakukan aktivitas fisik lain di mana lengan menahan beban, seperti angkat berat atau senam.
  • Menahan diri ketika jatuh dengan posisi tangan yang membebani siku.

Selain kondisi di atas, ada beberapa faktor yang juga bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami siku hiperekstensi, seperti:

  • Usia lanjut

Tulang dan ligamen akan menjadi semakin lemah seiring pertambahan usia, sehingga jadi lebih mudah keluar dari jangkauan gerak seharusnya. Selain itu, lansia juga kerap memiliki masalah dengan penglihatan dan keseimbangan sehingga risiko cedera yang tidak disengaja lebih mungkin terjadi.

  • Olahraga fisik

Risiko cedera pada siku lebih tinggi pada atlet yang melakukan latihan olahraga sehari-hari, seperti gulat, sepak bola, atau angkat beban.

  • Riwayat cedera

Cedera yang pernah terjadi sebelumnya pada siku dapat membuat sendi, ligamen, dan otot lebih lemah dari biasanya, sehingga lebih tinggi kemungkinannya untuk mengalami cedera kembali. Penelitian yang dipublikasikan di Deutsche Zeitschrift für Sportmedizin menyebutkan, risiko cedera tiga lebih besar pada orang atau atlet yang telah mengalami dua atau lebih cedera pada sebelumnya.

Bagaimana penanganan untuk siku hiperekstensi?

mengatasi nyeri sendi

Sebagian besar penderita siku hiperekstensi bisa diobati dengan pengobatan rumahan. Namun, pengobatan secara medis juga dimungkinkan bila kondisi cedera dan sakit pada siku Anda sudah parah. Berikut beberapa cara untuk mengatasi siku hiperekstensi yang umumnya dilakukan:

1. Istirahat dan batasi gerakan

Dalam beberapa hari pertama setelah cedera, Anda perlu memberi waktu pada siku Anda untuk sembuh. Oleh karena itu, Anda perlu beristirahat serta hindari peregangan siku dan olahraga atau aktivitas apapun yang mengharuskan penggunaan lengan.

Jika perlu kembali ke rutinitas harian Anda, gunakan alat khusus untuk menjepit siku agar tidak menekuk dan bergerak. Tanyakan kepada dokter kapan Anda boleh melepas alat penjepit tersebut serta menggerakan siku dan melakukan aktivitas normal seperti biasa.

2. Kompres es

Mengompres dengan es bertujuan untuk meredakan rasa sakit dan bengkak yang terjadi. Caranya, bungkus es dengan kain atau handuk dan letakkan di area siku yang cedera selama 20 menit. Kemudian, lepaskan dan tunggu selama 20 menit baru kompres kembali area siku tersebut.

Ulangi sesering mungkin selama minggu pertama setelah cedera. Namun, jangan tempelkan es langsung ke kulit Anda karena dapat mengakibatkan kerusakan pada jaringan kulit.

3. Gunakan perban elastis

Membungkus siku dengan perban elastis di sekitar siku juga bisa dilakukan untuk mencegah dan mengurangi pembengkakan. Perban elastis ini juga bisa membantu Anda membatasi gerakan siku, sehingga siku lebih mudah untuk istirahat.

Lilitkan perban di sekitar siku Anda, pastikan cukup kuat agar memberikan tekanan, tetapi jangan terlalu kencang hingga menimbulkan rasa sakit atau mati rasa dan dapat mengganggu peredaran darah.

4. Angkat siku

Jika memungkinkan, letakkan siku Anda di atas ketinggian jantung selama beberapa hari pertama setelah cedera. Ini bertujuan untuk membantu mengurangi pembengkakan.

Angkat siku ke atas dengan diganjal beberapa bantal sambil duduk atau berbaring. Sebaiknya, Anda juga menggunakan gendongan siku saat sedang bergerak.

5. Konsumsi obat pereda nyeri

Beberapa obat antinyeri dan antiradang juga dapat digunakan sebagai pereda nyeri pada siku hiperekstensi. Obat-obatan yang bisa digunakan, seperti aspirin, ibuprofen, atau naproxen. Tanyakan kepada dokter berapa dosis yang tepat untuk Anda dan berapa lama Anda perlu meminumnya.

6. Terapi fisik

Terapi fisik dilakukan ketika Anda sudah dapat menggerakan kembali siku dan rasa sakitnya sudah minim. Terapis fisik atau dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan peregangan ringan atau gerakan latihan khusus untuk membantu pemulihan.

7. Operasi

Operasi dibutuhkan ketika kondisi siku hiperekstensi Anda menimbulkan kerusakan pada ligamen, tendon, tulang atau struktur lain pada siku Anda. Prosedur operasi bertujuan untuk memperbaiki struktur siku yang rusak tersebut.

5 Gerakan Sederhana yang Manjur Atasi Siku Tangan Akibat Tennis Elbow

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Manfaat Minyak Bunga Kamboja, Minyak Esensial dengan Wangi yang Menenangkan

Minyak bunga kamboja mungkin tidak sepopuler minyak esensial lainnya. Padahal, minyak bunga kamboja memiliki beragam manfaat. Berikut contohnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 6 Januari 2020 . Waktu baca 3 menit

Redakan Nyeri Saat Persalinan Dengan Kompres Hangat, Begini Caranya

Kompres hangat saat melahirkan dipercaya dapat mengurangi rasa sakit. Eits, tapi ketahui terlebih dahulu bagaimana cara aman menggunakannya!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Persalinan, Melahirkan, Kehamilan 20 April 2019 . Waktu baca 4 menit

7 Penyebab Kaki Kesemutan yang Jarang Disadari

Tiba-tiba kaki terasa kebas dan kesemutan? Jangan diabaikan, bisa jadi tanda suatu penyakit tertentu. Jadi apa saja yang bisa jadi penyebab kaki kesemutan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Kesehatan Otak dan Saraf 2 April 2019 . Waktu baca 3 menit

Kok, Ada Sensasi Kesetrum Saat Siku Terbentur? Kenapa, Ya?

Sesaat setelah siku terbentur benda keras tanpa sengaja, Anda biasanya akan merasakan sensasi seperti kesetrum yang menjalar sepanjang tangan.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Kesehatan Otak dan Saraf 19 November 2018 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ganglion

Kista Ganglion

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 1 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit
Tennis elbow atau epikondilitis lateral adalah rasa sakit pada siku yang dapat terjadi karena rusaknya otot dan tendon di area siku.

Tennis Elbow (Epikondilitis Lateral)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 1 Desember 2020 . Waktu baca 11 menit
dislokasi bahu

6 Penyebab Muncul Rasa Nyeri pada Bahu dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 17 November 2020 . Waktu baca 10 menit
sakit siku tangan sakit

5 Gerakan Sederhana yang Manjur Atasi Siku Tangan Akibat Tennis Elbow

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 11 Maret 2020 . Waktu baca 5 menit