Osteopenia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu penyakit osteopenia?

Osteopenia adalah tahapan sebelum memasuki osteoporosis, yakni pengeroposan tulang. Dengan kata lain, osteopenia juga adalah kondisi yang menandakan rendahnya massa tulang. Itu artinya, tulang seseorang tidak lagi sekuat seharusnya sehingga cenderung mudah parah.

Orang yang memiliki kondisi ini memiliki tingkat kepadatan tulang sedikit lebih rendah dari batas normal, tapi belum dianggap sebagai osteoporosis.

Jika dianalogikan, orang dengan tulang sehat memiliki nilai A, orang dengan osteoporosis memiliki nilai D atau F, sedangkan orang dengan osteopenia memiliki nilai B atau C.

Meski begitu, seseorang dengan gangguan muskuloskeletal ini tidak selalu menyebabkan osteoporosis. Ini bergantung dengan faktor risiko lain yang dimiliki orang tersebut. Di samping itu, orang dengan osteopenia bisa mengambil langkah-langkah pencegahan agar osteoporosis tidak terjaga.

Seberapa umumkah penyakit ini?

Osteopenia adalah kondisi yang umum terjadi. Akan tetapi, sepertiga kasus lebih sering menyerang orang yang berusia di atas 50 tahun ke atas. Berdasarkan jenis kelamin, kondisi ini lebih sering menyerang wanita ketimbang pria.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala osteopenia?

Osteopenia adalah kondisi yang umumnya tidak menimbulkan gejala. Oleh karena itu, kondisi ini sulit sekali untuk dideteksi lebih awal. Meski begitu, beberapa orang dengan osteopenia mengalami gejala seperti penurunan tinggi badan.

Tinggi badan memang akan menurun sekitar 2,5 cm ketika puncak tinggi badan di usia dewasa sudah terlewati. Namun bila tinggi badan berkurang lebih dari angka yang disebutkan, ini bisa menjadi petunjuk adanya masalah pada kualitas tulang Anda.

Selain penurunan tinggi badan, terjadinya patah tulang (fraktur) juga bisa menunjukkan adanya kelainan tulang, seperti osteopenia.

Kapan harus periksa ke dokter?

Jika Anda menyadari berkurangnya tinggi badan lebih dari 2,5 cm tanpa penyebab yang jelas, pemeriksaan kesehatan ke dokter perlu dilakukan. Apalagi jika Anda sudah berusia di atas 50 tahun, dan pernah mengalami kecelakaan atau patah tulang.

Penyebab

Apa penyebab osteopenia?

Seiring bertambahnya usia, tulang Anda akan mengalami perubahan. Tulang baru akan tumbuh, kemudian tulang yang tua akan rusak dan tergantikan oleh tulang yang baru.

Saat usia Anda masih muda, tulang baru akan lebih cepat tumbuh ketimbang pemecahan tulang rusak oleh tubuh. Hal inilah yang menyebabkan massa tulang yang tinggi dan mencapai totalnya di usia 35 tahun.

Setelah melewati usia tersebut, tubuh akan memecah tulang tua lebih cepat ketimbang menciptakan tulang baru. Kondisi ini membuat massa tulang berkurang sehingga membuat tulang jadi lemah dan mudah patah. Menurunnya massa tulang secara alami ini adalah penyebab osteopenia.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya terkena penyakit ini?

Wanita diketahui lebih cenderung mengalami osteopenia ketimbang pria. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, yakni:

  • Wanita memiliki massa tulang yang lebih rendah secara menyeluruh dan menyerap lebih sedikit kalsium lebih rendah ketimbang pria.
  • Kecepatan pengeroposan tulang juga jadi lebih cepat setelah wanita mengalami menopause sehingga kadar estrogen menurun. Estrogen sendiri dibutuhkan untuk menjaga tulang tetap sehat.

Selain jenis kelamin, faktor lain yang dapat meningkatkan risiko osteopenia jadi lebih besar adalah:

  • Berusia di atas 65 tahun.
  • Mengalami menopause dini (mengalami menopause di usia muda, yakni di bawah usia 40 tahun).
  • Memiliki keluarga dengan riwayat osteopenia.
  • Menjalani operasi pengangkatan ovarium sehingga kadar estrogen menurun.
  • Memiliki masalah kesehatan, seperti hipertiroidism (aktivitas kelenjar tiroid yang berlebihan).
  • Punya kebiasaan minum alkohol berlebihan.
  • Merokok.
  • Menggunakan obat kortikosteroid atau anti konvulsan jangka panjang.
  • Memiliki gangguan makan, seperti anoreksia atau bulimia.

Diagnosis & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk diagnosis penyakit ini?

Cara terbaik untuk mendiagnosis osteopenia adalah dengan menjalani tes kepadatan tulang yang disebut dengan ini dual-energy x-ray absorptiometry (DXA). Lewat tes untuk menegakkan diagnosis ini menggunakan sinar X energi rendah untuk melihat kandungan kalsium tulang.

Kemudian, hasilnya akan dibandingkan dengan skor T (tulang orang dewasa muda yang sehat) dan skor Z (tulang orang lain dengan usia dan jenis kelamin yang sama). Paling umum, tes ini dilakukan untuk memeriksa tulang belakang lumbar, pinggul, dan pergelangan tangan.

Perlu Anda ketahui bahwa skor T yang berkisar dari -1 hingga -2,5 dikategorikan sebagai osteopenia. Semakin rendah nilai skor T, semakin keropos tulang Anda.

Apa saja pilihan pengobatan untuk osteopenia?

Osteopenia dapat diobati dengan olahraga rutin, pemenuhan nutrisi yang dapat menjaga tulang tetap sehat, dan obat-obatan. Akan tetapi, penggunaan obat-obatan sangat perlu pertimbangan yang matang mengingat adanya risiko efek samping yang muncul jika digunakan dalam jangka panjang.

Menurut situs Harvard Medical School, jika hasil skor T kurang dari -2, Anda perlu melakukan latihan beban secara teratur dan mendapatkan vitamin D serta kalsium yang cukup dari makanan dan sinar matahari.

Jika skor T mendekati angka -2,5, dokter mungkin akan meresepkan obat tertentu untuk menjaga tulang Anda tetap kuat.

Beberapa obat yang mungkin diresepkan dokter untuk mengobati osteopenia adalah:

Bisfonat

Obat ini diresepkan untuk mencegah osteopenia agar tidak menjadi osteoporosis. Beberapa contoh dari obat ini adalah alendronate (Fosamax),ibandronate (Boniva), risedronate (Actonel), dan zoledronic acid (Reclast, Zometa, Aclasta).

Dosis mingguan atau bulanan bisa sama efektifnya dengan dosis harian dan seringkali lebih baik ditoleransi. Ibandronate dapat diberikan secara intravena setiap tiga bulan; asam zoledronat setahun sekali untuk mengobati osteoporosis dan sekali setiap dua tahun.

Efek samping dari obat ini adalah asam lambung naik, iritasi kerongkongan, demam, dan nyeri pada kaki dan lengan. Agar tidak terjadi iritasi kerongkongan, obat harus diminum setelah puasa semalaman, kecuali minum air putih dan hindari berbaring.

Raloxifene (Evista)

Obat osteopenia ini dapat meniru hormon estrogen sehingga bisa membantu menjaga tulang tetap sehat. Efek samping dari obat ini adalah hot flashes, kram kaki, dan pembekuan darah. Anda yang memiliki risiko tinggi terkena stroke dan punya hipertensi biasanya tidak diresepkan oleh dokter.

Estrogen terkonjugasi / bazedoksifen (Duavee)

Obat ini diresepkan pada wanita dengan osteopenia yang masih memiliki rahim utuh. Penggunaan obat biasanya diberikan bersamaan dengan obat seperti raloxifene (Evista) untuk meningkatkan kepadatan tulang dan mencegah patah tulang.

Penggunaan jangka pendek cukup aman, namun penggunaan jangka panjang masih diamati efeknya oleh para ahli.

Penggunaan obat ini harus sangat berhati-hati karena bisa menimbulkan efek samping yang bisa membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, saat konsultasi bicarakan dengan dokter mengenai kesehatan tubuh Anda.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi osteopenia?

Pengobatan untuk penderita osteopenia sangat berkaitan dengan perubahan gaya hidup yang lebih sehat. Ini sama juga dengan pengobatan yang harus Anda jalani di rumah.

Anda bisa menerapkan latihan angkat beban untuk memperkuat tulang, membangun otot, meningkatkan keseimbangan tubuh, dan mencegah patah tulang. Selain angkat beban, Anda juga bisa mencoba jalan cepat, jalan santai, jogging, atau menaiki tangga.

Untuk pemenuhan vitamin D dan kalsium, konsumsi produk susu tanpa lemak, seperto yogurt, keju, dan susu. Kombinasikan dengan kacang-kacangan, salmon, ayam, brokoli, dan buah jeruk.

Jika Anda ingin mengonsumsi suplemen tertentu untuk menguatkan tulang, baiknya bicarakan dulu dengan dokter yang merawat kondisi Anda.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah penyakit osteopenia?

Selain bisa diobati, osteopenia juga bisa dicegah. Cara mencegah osteopenia yang bisa Anda lakukan adalah:

  • Berhenti merokok dan menjauhi asap rokok.
  • Menggunakan obat-obatan tertentu di bawah pengawasan dokter, terutama obat kortikosteroid dan obat antikejang.
  • Lakukan olahraga secara rutin, setidaknya 30 menit sehari.
  • Tingkatkan konsumsi makanan yang kaya vitamin D dan kalsium, seperti ikan, produk susu tanpa lemak, kacang-kacangan, biji-bijian, dan buah serta sayur. Bagi Anda yang memiliki gangguan makan, ikuti aturan diet yang direkomendasikan dokter atau ahli gizi.
  • Lakukan tes kepadatan tulang jika Anda sudah mengalami menopause, berusia 65 tahun ke atas. Namun, konsultasikan hal ini lebih lanjut pada dokter.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenapa Kita Tak Boleh Terlalu Banyak Makan Makanan Asin?

Makanan tinggi garam bukan hanya membuat Anda berisiko mengalami tekanan darah tinggi. Simak berbagai bahaya makanan asin pada tubuh kita.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Hidup Sehat, Tips Sehat 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi fatal yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya. Kapan harus vaksin MMR?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

Mengenal Berbagai Efek Samping Imunisasi: Bahaya Atau Tidak?

Jangan sampai berbagai efek samping imunisasi (vaksin) bikin Anda takut apalagi ragu diimunisasi. Pelajari dulu seluk-beluknya di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

11 Prinsip Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Sehari-hari

Banyak kebiasaan sehari-hari yang tanpa Anda sadari dapat berdampak negatif pada kesehatan mulut dan gigi. Begini cara mengakalinya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 16 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

bikin kopi yang sehat

6 Cara Praktis Membuat Kopi Anda Lebih Sehat dan Nikmat

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
daging ayam belum matang

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
perlukah lansia minum susu

Apakah Lansia Masih Perlu Minum Susu? Berapa Banyak yang Dibutuhkan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
obat herbal dan alami untuk kanker prostat

Pedoman Memilih Suplemen dan Obat Herbal yang Aman Dikonsumsi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit