home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Selalu Merasa Seolah Anda Terancam Bahaya: Apa Bedanya Hipervigilance dan Paranoid?

Selalu Merasa Seolah Anda Terancam Bahaya: Apa Bedanya Hipervigilance dan Paranoid?

Setiap orang sepatutnya harus lebih waspada terhadap lingkungan sekitar untuk mengantisipasi potensi bahaya. Meski begitu, waspada yang masih dalam taraf wajar harus dibedakan dengan gangguan paranoia (paranoid) atau hipervigilance. Keduanya ditandai dengan perasaan waspada berlebihan atau pikiran yang membuat Anda selalu merasa seolah terancam, terteror, dan dalam bahaya besar meskipun tidak ada bukti ancaman nyata. Lantas, apa bedanya hipervigilance dan paranoia? Simak selengkapnya dalam ulasan berikut ini.

Apa itu hipervigilance?

Hypervigilance adalah sikap waspada berlebihan disertai dengan kecenderungan perilaku siap siaga untuk mencegah bahaya.

Alam bawah sadar seseorang yang mengalami hipervigilance, disebut hypervigilant, terus-menerus mengantisipasi potensi bahaya. Sikap waspada berlebihan membuat orang-orang hypervigilant selalu merasa dan bertindak seolah-olah selalu ada ancaman di sekitarnya.

Hal ini menyebabkan mereka jadi amat sangat peka terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitar mereka. Akibatnya, kondisi fisik dan mental mereka selalu berada dalam status siaga tinggi, agar siap untuk mendeteksi dan menanggapi setiap situasi bahaya.

Padahal sebenarnya, ancaman bahaya hanya ada di pikirannya saja alias tidak nyata. Mereka menganggapnya nyata karena otak mereka bekerja overthinking alias memikirkan sesuatu secara berlebihan, sehingga bereaksi berlebihan terhadap setiap sinyal sensorik yang masuk dari indra mereka.

Maka bukan tidak mungkin kalau sikap terlalu waspada ini bisa menimbulkan sejumlah masalah. Mulai dari masalah emosional pada diri sendiri, sulit untuk berinteraksi dengan orang lain, hingga jadi sulit berpikir jernih.

Sumber: Medical News Today

Apa bedanya hypervigilance dengan paranoid?

Melihat definisinya sekilas, Anda mungkin menganggap hypervigilance sama dengan paranoia. Seseorang yang mengalami hypervigilance mungkin menunjukkan beberapa perilaku yang tampaknya paranoid. Keduanya juga disertai dengan gejala kecemasan berlebihan. Ini karena paranoia dan hypervigilance sama-sama dapat disebabkan oleh trauma PTSD yang mendasarinya. Lalu, apa bedanya?

Orang yang hypervigilant terus-menerus waspada dan siaga terhadap potensi bahaya di lingkungan sekitarnya, tapi mereka menyadari sensitivitas dan sikapnya tersebut. Seseorang yang hipervigilant tidak lepas dari realita dan tidak mengalami flashback kembali mengalami kejadian traumatis yang dialaminya dulu.

Hypervigilant sangat paham dan sadar bahwa sebenarnya tidak ada alasan obyektif bagi mereka untuk merasa takut atau tegang, tetapi sulit untuk bersantai. Mereka merasa sangat waspada berlebihan sebagai cara mengantisipasi sesuatu yang buruk terjadi di masa depan. Itu sebabnya mereka mudah terkejut ketika dikagetkan oleh suara keras atau dicolek oleh orang lain.

Sementara itu, seseorang yang paranoid memiliki keyakinan yang salah dan keliru (delusi) bahwa ada sesuatu atau orang-orang di sekitarnya selalu berniat untuk mencelakai dirinya. Orang yang paranoid tidak akan sadar bahwa mereka mengalami paranoia dan sangat percaya bahwa khayalan mereka nyata.

Untuk menyimpulkan, orang yang paranoid bisa menunjukkan sikap hypervigilant karena mereka yakin bahwa sesuatu atau seseorang di luar sana berniat untuk mencelakakan mereka setiap saat, terutama saat ini. Sementara orang yang hypervigilant menunjukkan sikap waspada tinggi karena siapa tahu akan ada bahaya. Mereka tidak delusional, hanya punya kewaspadaan yang lebih tinggi untuk berjaga-jaga menangkal sesuatu atau seseorang yang membahayakan Anda di masa depan.

Apa penyebabnya sampai seseorang bisa bersikap waspada berlebihan?

Hypervigilance dapat dianggap sebagai pengalaman yang relatif umum, sebagai cara otak untuk melindungi tubuh dari bahaya. Kebanyakan kasusnya berakar dari masalah kesehatan mental yang disebabkan oleh trauma buruk di masa lalu, seperti gangguan kecemasan, fobia sosial, dan PTSD. Meski begitu, sikap hypervigilance juga mungkin saja menyertai penyakit mental seperti gangguan obsesif-kompulsif (OCD).

Selain berbagai penyebab di atas, sikap siaga yang tinggi juga bisa dipicu oleh:

  • Mengidap claustrophobia.
  • Lingkungan terlalu ramai.
  • Dikagetkan oleh suara keras.
  • Ingat trauma masa lalu.
  • Mengalami stres berat.
  • Merasa dihakimi.
  • Disakiti secara fisik, dst.

Sebaliknya, delusi paranoid dapat menjadi gejala pada banyak gangguan mental, seperti skizofrenia, gangguan skizoafektif, gangguan bipolar, dan depresi. Paranoia juga bisa hadir pada orang-orang demensia, delirium, dan sakau narkoba.

gangguan skizoafektif

Apa tanda dan gejala dari hipervirgilance?

Ada beberapa gejala fisik dari hypervigilance, tetapi kebanyakan gejala adalah tanda-tanda perilaku.

Gejala fisik:

Gejala fisik tidak selalu ditunjukkan oleh pengidap hypervirgilance. Namun, seseorang hypervigilant bisa mengalami:

  • Pupil membesar.
  • Berkeringat deras.
  • Napas dangkal dan cepat; terengah-engah.
  • Jantung berdebar.

Gejala perilaku

Sikap waspada berlebihan yang ditunjukkan orang-orang hypervigilant bisa berbeda satu sama lain. Namun umumnya, hypervigilance menyebabkan seseorang selalu merasa gelisah dengan tanda-tanda:

  • Sering cek lingkungan sekitar mereka sehingga sulit untuk fokus pada percakapan.
  • Mudah terkejut dan melompat atau berteriak pada hal-hal yang mereka dengar atau lihat tiba-tiba.
  • Cepat bereaksi terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar mereka dengan cara yang mungkin tampak berlebihan atau tidak bersahabat.
  • Merasa lingkungan yang ramai atau bising yang luar biasa sangat melelahkan.
  • Selalu memperhatikan gerak-gerik dan karakteristik orang-orang sekitar sedetil mungkin untuk melihat apakah mereka memegang senjata.
  • Overthinking terhadap satu situasi remeh.
  • Suka melebih-lebihkan kemungkinan hal buruk, padahal sebenarnya tidak separah yang dibayangkan.
  • Sangat sensitif/peka/mudah tersinggung terhadap nada suara atau ekspresi orang lain; selalu dimasukkan ke hati; menganggapnya sebagai isu pribadi
  • Sulit tidur nyenyak

Seseorang yang hypervigilant juga mudah panik, penuh rasa takut, serta selalu merasa cemas. Selain itu, suasana hati penderita juga mudah sekali berubah dan diselimuti oleh emosi yang meledak-ledak.

Lambat laun, kondisi ini bisa membuat mereka merasa amat sangat kelelahan.

Lalu, apa pengobatannya?

Pada umumnya, kecenderungan hypervigilance bisa surut sendiri seiring waktu. Anda bisa meredakan kecemasan tersebut dengan mencoba tarik napas panjang dan buang secara perlahan sampai tubuh serta pikiran Anda lebih rileks. Melakukan hal-hal ringan yang disukai juga bisa membantu mengelola stres agar tidak semakin menggerogoti Anda.

Namun apabila sikap waspada berlebihan Anda sudah sangat parah sampai menghambat aktivitas, ada baiknya untuk konsultasi ke psikolog. Psikolog dapat menganjurkan Anda ikut terapi perilaku dan kognitif (terapi CBT) untuk mengubah pola pikir Anda terhadap trauma yang dulu pernah Anda alami.

Dokter juga bisa meresepkan antidepresan; beta-blocker; obat anti-kecemasan, seperti buspirone; atau obat antipsikotik untuk kasus hypervigilance yang parah.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hypervigilance: What You Need to Know? https://www.medicalnewstoday.com/articles/319289.php?sr Accessed on July 27th 2018.

Hypervigilance: a Symptom of Post-Traumatic Stress Syndrome. https://www.verywellmind.com/hypervigilance-2797363 Accessed on July 27th 2018.

What is Hypervigilance. https://www.healthline.com/health/hypervigilance Accessed on July 27th 2018.

Foto Penulis
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri Diperbarui 02/08/2018
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus