Disari dari situs Direktorat Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes RI, gangguan cemas atau ansietas adalah kekhawatiran berlebihan yang bisa menggangu kegiatan Anda sehari-hari. Meski gejalanya sulit dikenali dalam sekejap mata, gangguan ini cukup umum ditemui dalam masyarakat. Namun, mengenali gejalanya saja tak cukup. Supaya tak terjebak dalam kondisi ini, Anda harus benar-benar memahami seluk-beluk gangguan cemas.

Apakah saya menderita gangguan cemas (ansietas)?

Kondisi psikis ini tak mengenal golongan, siapa saja bisa kena gangguan cemas. Gejala yang mungkin Anda rasakan antara lain selalu merasakan kecemasan terhadap hal-hal yang kecil sekalipun. Kecemasan ini tak hilang meski sudah berbulan-bulan.

Perasaan tersebut disertai dengan perubahan fisik yang cukup kentara, misalnya badan lemas, nyeri otot, atau gangguan pencernaan. Perubahan perilaku juga bisa diamati, contohnya menarik diri dari lingkungan sosial dan susah tidur.

Tak jarang orang yang menderita gangguan psikis ini tiba-tiba mengingat kembali trauma atau kenangan buruk yang pernah terjadi. Baik itu kejadian baru-baru ini atau bertahun-tahun lalu.

Bukankah semua orang pasti pernah cemas?

Betul. Kecemasan adalah reaksi psikis yang wajar bila Anda menghadapi situasi menegangkan. Namun orang dengan gangguan cemas akan merasa sangat khawatir terhadap berbagai hal, bahkan ketika dirinya sedang berada dalam situasi normal. Maka yang perlu digarisbawahi disini adalah intensitas kecemasannya.

Mengapa saya menderita ansietas?

Hingga kini belum ada rumus tertentu yang bisa menjelaskan penyebab ansietas. Faktornya bermacam-macam. Mulai dari faktor keturunan (genetik), gangguan neurokimia dalam otak, pengalaman buruk di masa lalu, atau kejadian tak diinginkan yang menorehkan luka pada batin seseorang seperti kehilangan orang tercinta.

Pengalaman tersebut begitu membekas dalam benak sehingga rasa cemas yang timbul saat itu seolah tidak bisa hilang. Kecemasan terus menghantui Anda meskipun situasi buruknya telah berlalu. Bahkan hal kecil seperti chat yang belum dibalas oleh seorang kawan bisa membuat Anda khawatir setengah mati.

Perbedaan gangguan cemas dan depresi

Gangguan cemas cukup erat kaitannya dengan salah satu gangguan jiwa yang sudah lebih dikenal awam, yaitu depresi. Bila Anda tidak segera menangani ansietas, Anda berisiko tinggi jatuh ke dalam lubang depresi.

Berbeda dengan ansietas yang membuat Anda merasa khawatir dan takut, depresi lebih membuat Anda merasa putus asa dan hampa. Namun, keduanya menunjukkan gejala yang mirip. Contohnya susah tidur, susah berkonsentrasi, dan suasana hati yang kacau.

Pentingnya mengenali dan menerima ansietas

Selama ini Anda mungkin berpikir, “Tak mungkin saya kena salah satu jenis gangguan kejiwaan. Saya kan tidak gila!”. Pemikiran seperti ini tak akan membantu Anda sama sekali. Orang yang sedang sakit flu tentu harus tahu dulu gejala dan penyakitnya, baru bisa menentukan langkah pengobatan yang tepat. Sama halnya dengan masalah kejiwaan.

Memang tak mudah untuk menerima fakta bahwa Anda mungkin mengidap ansietas. Akan tetapi, hal tersebut bisa jadi batu pijakan untuk memulihkan diri. Ingat, ansietas bukan berarti mental Anda lemah atau Anda kurang beriman. Ansietas adalah penyakit yang bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu.

Cara mengatasi ansietas

Bila kecemasan yang Anda alami sudah mengganggu aktivitas harian Anda, sebaiknya segera temui dokter. Anda mungkin akan diresepkan obat antidepresan atau obat tidur untuk membantu Anda lebih rileks. Bila perlu, Anda akan dirujuk ke terapis psikologi untuk menjalani sesi konseling.

Selain pergi ke dokter, Anda juga bisa memulihkan diri dengan berbagai cara mandiri. Misalnya menjaga pola hidup sehat dan mencoba teknik relaksasi seperti meditasi dan yoga. Menulis buku harian atau jurnal juga bisa membantu Anda mengelola emosi dan ansietas.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca