Paroxetine

Ditinjau secara medis oleh Apt. Seruni Puspa Rahadianti, S.Farm. · Farmasi · Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita


Ditulis oleh Ilham Fariq Maulana · Tanggal diperbarui 02/01/2023

Paroxetine

Salah satu obat antidepresan yang diresepkan psikiater adalah paroxetine (paroksetin). Kenali dosis, aturan pakai, dan efek samping obat ini.

Golongan obat: antidepresan.

Merek dagang paroxetine:

Apa itu obat paroxetine?

Paroxetine adalah obat golongan antidepresan. Obat ini biasanya digunakan untuk mengobati depresi, serangan panik, OCD (obsessive compulsive disorder), gangguan kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma.

Obat ini bekerja dengan membantu mengembalikan keseimbangan zat kimia otak, yaitu serotonin.

Paroxetine dikenal sebagai jenis obat depresi selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI). Obat ini dapat meningkatkan mood, kualitas tidur, nafsu makan, dan tingkat energi.

Obat ini dapat membantu mengelola rasa takut, cemas, pikiran yang tidak diinginkan, dan sejumlah serangan panik.

Paroksetin juga dapat mengurangi dorongan untuk melakukan suatu aktivitas berulang kali, seperti mencuci tangan, menghitung, dan memeriksa sesuatu, yang bisa mengganggu produktivitas sehari-hari.

Paroxetine juga kerap digunakan untuk mengobati bentuk dari gangguan sindrom prahaid (premenstrual dysphoric disorder).

Selain itu, obat ini dapat digunakan untuk mengobati hot flashes yang terjadi saat menopause.

Dosis paroxetine

Antidepresan paling umum

Data BPOM menunjukkan paroxetine tidak tersedia di Indonesia.

Umumnya obat ini memiliki sediaan berupa tablet atau kapsul biasa, tablet lepas lambat, atau suspensi.

Gangguan obsesif kompulsif (OCD)

  • Dewasa: dosis awal 20 mg setiap hari sebaiknya di pagi hari, dapat ditingkatkan secara bertahap dengan penambahan 10 mg dengan interval minimal 1 minggu sesuai respons pasien. Dosis pemeliharaan adalah 40 mg setiap hari, maksimal 60 mg setiap hari.
  • Lansia: dosis minum maksimal 40 mg setiap hari.

Gangguan kecemasan

  • Dewasa: dosis paroxetine sebanyak 20 mg setiap hari sebaiknya diminum pagi hari. Dosis dapat ditingkatkan secara bertahap dengan penambahan 10 mg dengan interval minimal 1 minggu. Dosis minum maksimal 50 mg setiap hari.
  • Lansia: dosis minum maksimal 40 mg setiap hari.

Gangguan disforia pramenstruasi

  • Dewasa: dalam bentuk tablet lepas lambat dosis awal 12,5 mg sekali sehari sebaiknya di pagi hari, dapat ditingkatkan menjadi 25 mg sekali sehari setelah selang waktu minimal 1 minggu.

Dosis dapat diberikan secara terus menerus, setiap hari selama siklus menstruasi, atau secara intermiten selama siklus menstruasi.

Gangguan stres pasca trauma

  • Dewasa: dosis awal 20 mg setiap hari, sebaiknya diminum pagi hari. Ini dapat ditingkatkan secara bertahap dengan penambahan 10 mg dengan interval minimal 1 minggu sesuai respons pasien. Dosis minum maksimal 50 mg setiap hari.
  • Lansia: dosis minum maksimal 40 mg setiap hari.

Gangguan depresi mayor

Dewasa: dosis 20 mg setiap hari untuk tablet biasa. Dosis dapat ditingkatkan secara bertahap dengan penambahan 10 mg dengan interval minimal 1 minggu. Dosis minum maksimal 50 mg setiap hari.

Untuk tablet lepas lambat dosis awal 25 mg setiap hari, dosis dapat ditingkatkan dengan peningkatan 12,5 mg setiap hari dengan interval minimal 1 minggu sesuai dengan respons pasien.

Dosis minum maksimal 62,5 mg setiap hari. Semua dosis diberikan sebagai dosis harian tunggal, sebaiknya di pagi hari.

Lansia: dosis minum maksimal 40 mg setiap hari. Dosis awal 12,5 mg setiap hari, dan dapat ditingkatkan hingga 50 mg setiap hari.

Gangguan panik

Dewasa: dosis awal 10 mg setiap hari untuk tablet biasa. Ini dapat ditingkatkan secara bertahap dengan penambahan 10 mg dengan interval minimal 1 minggu sesuai dengan respons pasien.

Perawatan yang disarankan 40 mg setiap hari. Dosis minum maksimal 60 mg setiap hari.

Untuk tablet lepas lambat, dosis paroxetine awal 12,5 mg setiap hari, dapat ditingkatkan dengan peningkatan 12,5 mg setiap hari dengan interval minimal 1 minggu. Dosis maksimal 75 mg setiap hari.

Semua dosis diberikan sebagai dosis harian tunggal sebaiknya di pagi hari.

Lansia: Dosis minum maksimal 40 mg setiap hari. Untuk tablet lepas lambat, dosis awal 12,5 mg setiap hari, dapat ditingkatkan hingga 50 mg setiap hari.

Gejala vasomotor terkait dengan menopause

  • Dewasa: dosis minum 7,5 mg sekali sehari sebaiknya pada waktu tidur.

Aturan pakai paroxetine

Paroxetine hadir dalam bentuk tablet, suspensi, tablet lepas lambat, dan kapsul untuk diminum.

Tablet, suspensi, dan tablet lepas lambat biasanya diminum sekali sehari di pagi atau sore hari, dengan atau tanpa makanan.

Kapsul biasanya diminum sekali sehari sebelum tidur dengan atau tanpa makanan.

Kocok botol cairan dengan baik sebelum digunakan untuk mencampur obat secara merata.

Telan tablet atau kapsul secara utuh, jangan mengunyah, memotong, atau menghancurkannya.

Anda mungkin perlu beberapa minggu atau lebih lama sebelum merasakan manfaat penuh dari paroxetine.

Lanjutkan untuk meminum obat ini bahkan jika sudah merasa sehat. Jangan berhenti mengonsumsi obat ini tanpa berbicara dengan dokter.

Efek samping paroxetine

Obat ini mungkin menyebabkan efek samping obat. Efek samping dapat berbeda-beda pada tiap orang.

Efek samping umum

Pasien mungkin akan mengalami efek samping yang umum terjadi seperti:

  • sakit kepala,
  • pusing,
  • kelemahan,
  • kesulitan berkonsentrasi,
  • kegugupan,
  • kelupaan,
  • kebingungan, dan
  • kantuk.

Efek samping serius

Beberapa pasien mungkin bisa mengalami efek samping berat atau serius seperti:

  • melihat sesuatu atau mendengar suara yang tidak ada (berhalusinasi),
  • pingsan,
  • detak jantung cepat, berdebar, atau tidak teratur,
  • sakit dada,
  • sulit bernafas,
  • kejang, dan
  • perdarahan atau memar yang tidak normal.

Peringatan dan perhatian saat pakai obat paroxetine

memilih obat antidepresan terbaik ampuh

Sebelum menggunakan obat ini, beri tahu dokter jika Anda memiliki kondisi berikut ini.

  • Alergi terhadap paroxetine atau bahan apa pun dalam tablet paroxetine.
  • Baru saja mengalami serangan jantung dan memiliki kadar natrium yang rendah dalam darah.
  • Menggunakan monoamine oxidase inhibitors (MAO). Anda perlu menunggu setidaknya 2 minggu sebelum mulai menggunakan MAO.

Ketahui beberapa reaksi pengobatan berikut ini sebelum menggunakan paroksetin.

1. Risiko pada lansia

Bicarakan dengan dokter tentang risiko dan manfaat mengonsumsi paroxetine jika Anda berusia 65 tahun atau lebih.

Orang dewasa yang lebih tua biasanya tidak boleh mengonsumsi antidepresan ini karena tidak seaman atau se-efektif obat lain yang dapat digunakan untuk mengobati kondisi yang sama.

2. Risiko glaukoma

Anda perlu tahu kalau paroksetin dapat menyebabkan glaukoma sudut tertutup. Ini suatu kondisi di mana cairan tiba-tiba tersumbat dan tidak dapat mengalir keluar dari mata.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan peningkatan tekanan mata yang cepat dan parah yang dapat menyebabkan hilangnya penglihatan.

3. Risiko pada remaja

Antidepresan, termasuk yang mengandung SSRI, meningkatkan keinginan bunuh diri pada pasien anak dan dewasa muda.

Pertimbangkan untuk menghentikan pengobatan menggunakan kapsul paroxetine jika kondisi depresi memburuk.

Apakah obat paroxetine aman untuk ibu hamil dan menyusui?

Situs Dailymed menyebutkan bahwa kapsul paroxetine dapat menyebabkan kerusakan pada janin.

Studi menunjukkan bahwa bayi yang terpapar paroxetine pada trimester pertama kehamilan mungkin memiliki peningkatan risiko malformasi kardiovaskular.

Data menunjukkan bahwa risiko kelainan jantung ini dapat meningkat dari 1% menjadi 2% pada trimester pertama.

Paparan SSRI pada akhir kehamilan juga bisa menyebabkan peningkatan risiko komplikasi pada bayi baru lahir.

Selain itu, obat ini dapat terserap ke dalam ASI. Karena berisiko bagi bayi, ibu menyusui perlu memutuskan untuk berhenti menyusui atau berhenti mengonsumsi obat.

Interaksi obat paroxetine dengan obat lain

Konsumsi paroxetine dengan obat lain mungkin mengubah cara kerja obat atau meningkatkan risiko efek samping serius.

  • Konsumsi bersama phenobarbital, phenytoin, fosamprenavir, atau titonavir akan menurunkan efektivitas dari paroksetin.
  • Pemakaian dengan cimetidine akan meningkatkan kadar paroksetin dalam tubuh.
  • Sindrom serotonin berisiko terjadi karena pemakaian obat kelas SSRI dengan MAO secara bersamaan.
  • Efek antikoagulan dapat berubah ketika SSRI digunakan bersama dengan obat antiradang nonsteroid (NSAID), aspirin, warfarin, atau obat pengencer darah lainnya.

Konsultasikan kepada dokter mengenai riwayat penyakit, kondisi kesehatan, dan rencana kehamilan Anda sebelum menjalani pengobatan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

Apt. Seruni Puspa Rahadianti, S.Farm.

Farmasi · Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita


Ditulis oleh Ilham Fariq Maulana · Tanggal diperbarui 02/01/2023

Iklan
Iklan
Iklan