Dispepsia Fungsional

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/05/2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu dispepsia fungsional?

Dispepsia fungsional adalah sakit perut tanpa adanya luka (ulkus) dan tidak disertai penyebab yang jelas. Sakit perut jenis ini umum terjadi dan dapat berjangka panjang. Sakit perut non-ulkus dapat menyebabkan tanda-tanda dan gejala yang menyerupai ulkus lambung, seperti nyeri dan rasa tidak nyaman pada perut atas, sering kali disertai dengan kembung, sendawa dan mual.

Seberapa umum dispepsia fungsional terjadi?

Kondisi ini dapat terjadi pada pasien dengan usia berapa pun. Dispepsia fungsional dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Ciri-Ciri dan Gejala

Apa saja ciri-ciri dan gejala dispepsia fungsional?

Gejala-gejala dispepsia fungsional yang umum muncul adalah:

  • Sensasi terbakar atau rasa tidak nyaman pada perut atas atau dada bawah, kadang mereda dengan makanan atau obat-obatan antasida
  • Kembung
  • Sendawa
  • Cepat merasa kenyang
  • Mual

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter bila Anda mengalami gejala-gejala berikut ini:

  • Muntah darah
  • Feses berwarna gelap, hitam seperti aspal atau petis
  • Sesak napas
  • Nyeri yang menjalar ke rahang, leher, atau lengan

Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan Anda.

Penyebab

Apa penyebab dispepsia fungsional?

Sering kali, tidak jelas apa yang menjadi penyebab dari sakit perut non-ulkus ini. Dokter menganggap kondisi ini sebagai gangguan fungsional, di mana tidak selalu disebabkan oleh penyakit tertentu. Itu sebabnya kondisi ini disebut dengan dispepsia fungsional.

Faktor Pemicu

Apa yang membuat saya lebih berisiko terkena dispepsia fungsional?

Ada banyak faktor pemicu yang membuat Anda berisiko terkena dispepsia fungsional, antara lain:

  • Minum terlalu banyak alkohol atau minuman berkafein
  • Merokok
  • Menggunakan obat-obatan tertentu, terutama penawar rasa sakit yang dijual bebas, seperti aspirin dan ibuprofen (Advil, Motrin, IB, lainnya), yang dapat menyebabkan masalah pada perut

Diagnosis dan Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana dispepsia fungsional didiagnosis?

Dokter akan melihat ciri-ciri dan gejala serta melakukan pemeriksaan fisik. Beberapa tes diagnostik dapat membantu dokter menentukan penyebab rasa tidak nyaman, seperti:

  • Tes darah. Tes darah dapat membantu mengeliminasi kemungkinan penyakit lain yang dapat menyebabkan tanda-tanda atau gejala yang menyerupai sakit perut non-ulkus.
  • Tes bakteria. Dokter dapat menyarankan tes untuk melihat bakteri Helicobacter pylori (H. pylori) yang dapat menyebabkan gangguan pada perut. Tes H. pylori dapat menggunakan darah, feses, atau napas Anda.
  • Menggunakan scope untuk memeriksa sistem pencernaan Anda. Alat tipis, fleksibel dengan sinar (endoskop) dipasang melalui tenggorokan agar dokter dapat melihat esofagus, lambung dan bagian awal usus kecil (duodenum).

Bagaimana cara mengobati dispepsia fungsional?

Sakit perut non-ulkus yang berlangsung lama dan tidak dikendalikan dengan perubahan gaya hidup bisa saja membutuhkan pengobatan tertentu. Jenis perawatan yang Anda terima tergantung pada tanda-tanda dan gejala yang Anda alami. Pengobatan yang diberikan dapat mengombinasikan obat-obatan dan terapi perilaku.

Pengobatan yang dapat membantu mengatasi tanda-tanda dan gejala dari sakit perut non-ulkus meliputi:

  • Obat gas yang dijual bebas. Obat-obatan yang mengandung simethicone dapat meredakan dengan mengurangi gas. Contoh obat-obatan yang mengurangi gas meliputi Mylanta dan Gas-X.
  • Pengobatan untuk mengurangi produksi asam. Disebut sebagai H-2 receptor blockers, obat-obatan ini tersedia di apotek dan meliputi cimetidine (Tagamet HB), famotidine (Pepcid AC), nizatidine (Axid AR) dan ranitidine (Zantac 75). Versi yang lebih kuat tersedia dalam bentuk resep.
  • Pengobatan yang menghambat “pompa” asam. Proton pump inhibitors mematikan “pompa” asam dalam sel perut yang mensekresikan asam. Proton pump inhibitors mengurangi asam dengan menghambat kerja pompa-pompa kecil tersebut. Proton pump inhibitors yang dijual bebas meliputi lansoprazole (Prevacid 24 HR) dan omeprazole (Prilosec OTC). Proton pump inhibitors yang lebih kuat juga tersedia dengan resep.
  • Pengobatan untuk memperkuat sphincter esofagus. Agen prokinetik membantu lambung kosong dengan lebih cepat dan memperketat katup di antara lambung dan esofagus, mengurangi kemungkinan rasa tidak nyaman pada perut atas. Dokter dapat memberikan pengobatan metoclopramide (Reglan), namun obat ini belum tentu dapat digunakan semua orang dan dapat memiliki efek samping yang signifikan.
  • Antidepresan dosis rendah. Antidepresan trisiklik dan obat-obatan yang dikenal sebagai serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), diminum dalam dosis rendah, dapat membantu membatasi aktivitas neuron yang mengendalikan nyeri pada usus.
  • Antibiotik. Apabila hasil tes mengindikasikan adanya bakteri penyebab ulkus yang disebut H. pylori pada lambung Anda, dokter dapat memberikan antibiotik.

Bekerja sama dengan konselor atau terapis dapat membantu meredakan tanda-tanda dan gejala yang tidak dapat dibantu dengan pengobatan. Konselor atau terapis dapat mengajari Anda teknik relaksasi yang dapat membantu Anda mengatasi tanda-tanda dan gejala. Anda juga dapat mempelajari cara-cara untuk mengurangi stres dalam hidup Anda untuk mencegah kambuhnya penyakit.

Pencegahan

Apa saja yang dapat saya lakukan di rumah untuk mencegah atau mengobati penyakit ini?

Dokter dapat merekomendasikan perubahan gaya hidup untuk membantu mengendalikan sakit perut akibat kondisi ini.

Perubahan pola makan dan bagaimana Anda makan dapat mengendalikan tanda-tanda dan gejala. Cobalah untuk:

  • Mengonsumsi makanan lebih sering dengan porsi lebih sedikit. Perut yang kosong kadang dapat menyebabkan sakit perut non-ulkus. Perut yang kosong dengan asam dapat membuat Anda mual. Cobalah untuk mengonsumsi camilan, seperti cracker atau buah-buahan.
  • Hindari melewatkan waktu makan. Hindari porsi besar dan makan berlebihan. Makan porsi kecil dengan lebih sering.
  • Hindari makanan yang dapat memicu sakit perut non-ulkus, seperti makanan berlemak dan pedas, asam, minuman bersoda, kafein, juga alkohol.
  • Kunyah makanan dengan perlahan hingga halus. Luangkan waktu untuk makan dengan perlahan.

Teknik pengurang stres dapat membantu Anda mengendalikan tanda-tanda dan gejala. Untuk mengurangi stres, habiskan waktu melakukan hal yang Anda sukai, seperti hobi atau olahraga. Terapi relaksasi atau yoga juga dapat membantu.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenapa Saya Sakit Perut Setelah Buka Puasa?

Pernahkah Anda sakit perut setelah buka puasa? Bisa jadi ini karena pengaruh makanan yang Anda konsumsi saat berbuka. Apa lagi sebab lainnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Hari Raya, Ramadan 07/05/2020 . Waktu baca 3 menit

4 Tips Mencegah Maag Kambuh Saat Puasa

Puasa menjadi tantangan tersendiri untuk Anda yang memiliki maag. Namun, jangan khawatir, berikut tips-tips mencegah maag saat puasa.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hari Raya, Ramadan 07/05/2020 . Waktu baca 3 menit

Maag (Dispepsia)

Sakit maag adalah penyakit yang tak boleh disepelekan. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, obat, serta cara mencegahnya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z 13/04/2020 . Waktu baca 13 menit

5 Hal yang Harus Diketahui Orangtua Tentang Sakit Perut pada Anak

Saat anak sakit perut, banyak orangtua menganggap sepele. Padahal, tak seperti pada orang dewasa, sakit perut si kecil bisa berarti banyak hal.

Ditulis oleh: Priscila Stevanni
Serat Anak, Parenting, Nutrisi Anak 11/12/2019 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

minyak esensial

6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit
Konten Bersponsor

Anak Sering Sakit Perut, Apakah Orang Tua Harus Khawatir?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020 . Waktu baca 4 menit
akibat bahaya penyakit maag kronis akut

6 Komplikasi yang Mungkin Terjadi Akibat Penyakit Maag

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 21/05/2020 . Waktu baca 6 menit
pantangan makanan penyakit sakit maag

7 Pantangan Agar Gejala Maag Tidak Kumat

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 18/05/2020 . Waktu baca 6 menit