Alopecia (kebotakan)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 26 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu kebotakan? 

Alopecia atau yang dikenal sebagai kebotakan adalah masalah kulit kepala ketika jumlah rambut yang rontok lebih banyak dari rambut yang tumbuh. Normalnya, rambut manusia bisa rontok 50-100 per hari. Bila rambut yang rontok melebih 100 helai per hari, ada kemungkinan Anda mengalami alopecia. 

Ada beberapa jenis kebotakan yang dibagi menjadi 3 jenis berdasarkan gejalanya, yakni: 

  • Alopecia areata, kebotakan hanya pada titik tertentu di kepala
  • Alopecia totalis, rambut botak sepenuhnya dan merata di seluruh kulit kepala
  • Alopecia universalis, kehilangan semua rambut di tubuh

Jenis kebotakan yang paling sering dialami oleh banyak orang adalah alopecia areata. Alopecia dapat terjadi untuk sementara waktu. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa kulit kepala akan botak dalam waktu yang cukup lama. 

Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari faktor genetik, stres, hingga pertanda sebuah penyakit. Bila Anda merasa khawatir, sebaiknya konsultasikan dengan dokter spesialis kulit untuk mengatasi masalah kebotakan ini. 

Seberapa umum kondisi ini? 

Masalah kebotakan, terutama alopecia areata, dapat terjadi pada siapa saja. Faktanya, angka kasus kebo katakan terus meningkat di berbagai negara, termasuk di Indonesia, dengan risiko seumur hidup. 

Masyarakat dari segala usia, jenis kelamin, maupun ras apapun dapat mengembangkan alopecia. Pada beberapa kasus, kebotakan akan muncul setelah mengalami suatu penyakit, hamil, atau trauma. 

Selain itu, pria dan wanita yang sudah berusia lebih dari 50 tahun juga lebih berisiko mengalami kebotakan. 

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala kebotakan? 

Kebotakan yang disebabkan oleh kerontokan rambut dapat ditandai dengan berbagai hal, tergantung penyebabnya. Beberapa kasus dapat terjadi tiba-tiba, sedangkan yang lain secara bertahap, mulai dari kulit kepala hingga seluruh tubuh Anda. 

Berikut ini beberapa gejala alopecia yang paling sering terjadi. 

Garis rambut mundur dan menipis

Garis rambut yang mulai mundur dan menipis adalah salah satu gejala awal dari rambut rontok yang nantinya bisa berujung pada kebotakan. Kondisi ini dapat terjadi seiring bertambahnya usia. 

Pada pria, garis rambut mereka akan mundur, terutama ketika menginjak usia 30 tahun ke atas. Umumnya, masalah ini dimulai dari garis rambut di atas pelipis pada kedua sisi kepala, sedangkan garis rambut di bagian tengah tetap berada di dekat dahi. 

Pola surutnya garis rambut ini akan membentuk huruf V di atas kepala (widow peak). Seiring dengan berjalannya waktu, kedua sisi dan bagian belakang kepala akan botak dan menyisakan rambut di puncak kepala saja. 

Sementara itu, garis rambut yang pertama kali akan mundur pada wanita adalah bagian tengah hingga ke puncak kepala. Namun, kedua sisi dan bagian belakang rambut akan menetap. 

Kebotakan tidak merata 

Kebotakan yang tidak merata, alias alopecia areata ini adalah kondisi yang memungkinkan kulit kepala terasa gatal atau nyeri. Biasanya, gejala tersebut akan terasa sebelum rambut mulai rontok.

Rambut rontok tiba-tiba

Kerontokan rambut yang melebihi batas normal juga dapat menjadi salah satu tanda Anda mengalami kebotakan. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti trauma fisik atau emosional. 

Kerontokan yang parah ini dapat ditandai dengan adanya segenggam rambut yang jatuh saat disisir atau ketika mencuci rambut. Umumnya, kondisi ini dapat membuat rambut menipis, tetapi bersifat sementara. 

Gejala lainnya

Selain ketiga gejala umum di atas, ada beberapa tanda lainnya yang perlu diperhatikan terkait dengan penyakit alopecia, meliputi: 

  • Kulit kepala terkadang terasa terbakar atau gatal
  • Kulit berwarna peach, tampak mulus, dan berbentuk bulat
  • Kulit yang botak berupa pitak sebesar lingkara yang dapat terjadi di janggut atau alis
  • Rambut yang rontok tidak hanya terjadi di kulit kepala, melainkan juga anggota tubuh lainnya

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus ke dokter? 

Bila rambut rontok tidak kunjung membaik atau memburuk, segera periksakan diri ke dokter. Pasalnya, kebotakan mendadak adalah salah satu pertanda penyakit lain yang mungkin membutuhkan terapi khusus. 

Itu sebabnya, mengetahui apa penyebab kebotakan akan didahulukan sebelum mengobatinya dengan berbagai terapi. Konsultasikan dengan dokter kulit jika Anda merasa rambut rontok parah saat disisir atau keramas biasa. 

Penyebab

Apa saja penyebab kebotakan? 

Penyebab utama kebotakan atau alopecia adalah rambut rontok. Namun, ada berbagai faktor yang memicu hal tersebut, antara lain: 

Riwayat keluarga

Salah satu faktor yang dapat memicu alopecia adalah riwayat keluarga. Artinya, ketika salah satu anggota keluarga mengalami kebotakan, Anda juga berisiko mengembangkan masalah yang sama. Riwayat keluarga juga dapat mengindikasikan kapan usia akan mengalami kebotakan. 

Hormon

Selain dipengaruhi faktor genetik, kebotakan juga dapat dipicu oleh perubahan hormon kebotakan DHT (dihydrotestosterone). Hormon DHT dihasilkan dengan mengubah testosteron menjadi dihydrotestosterone oleh bantuan enzim tertentu. 

Lalu, sekitar 10% testosteron pada tubuh pria akan diubah menjadi hormon DHT yang menyebabkan folikel rambut mengecil. Akibatnya, tidak ada rambut yang tumbuh lagi di dalamnya. 

Sementara itu, kebotakan yang dialami wanita juga dapat disebabkan oleh perubahan hormon saat menopause

Fase pertumbuhan rambut baru pada wanita yang sudah menopause akan jauh lebih lambat dan rambut yang tumbuh tidak akan sekuat rambut biasanya. Alhasil, rambut pun mudah patah dan sulit untuk tumbuh kembali. 

Meski begitu, kondisi ini juga dapat terjadi pada remaja yang disebabkan oleh sindrom ovarium polikistik (PCOS). Kondisi ini menyebabkan menstruasi tidak teratur, berat badan berlebih, pertumbuhan rambut di wajah, dan kerontokan rambut. 

Stres

Sebenarnya, stres jangka pendek, seperti telat ke kantor, macet, atau banyak tugas, tidak akan memicu kebotakan. Meski begitu, stres jangka panjang dapat menjadi penyebab kebotakan. 

Pada saat tubuh dilanda stres atau merasakan emosi negatif, rambut akan semakin mudah rontok. Pasalnya, sebagian besar rambut Anda akan masuk ke dalam fase istirahat lebih awal ketika stres. Tiga bulan kemudian, rambut tersebut akan rontok. 

Itu sebabnya, kondisi yang disebut telogen effluvium ini menyebabkan kerontokan yang tidak wajar yang bisa berakibat alopecia. 

Kebiasaan mencabut rambut

Kebiasaan mencabut rambut atau trikotilomania ini biasanya terjadi ketika seseorang mengalami stres. Anda mungkin akan mencabut rambut tanpa sadar yang membuat rambut cepat rusak hingga mengalami kebotakan. 

Obat-obatan tertentu

Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti obat kanker, depresi, hingga hipertensi dapat memicu kebotakan. Selain itu, pil kontrasepsi dan suplemen vitamin A yang berlebihan juga dapat menimbulkan masalah yang sama. 

Faktor-faktor risiko

Apa saja faktor yang dapat meningkatkan risiko saya mengalami kebotakan? 

Berikut ini beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami alopecia. 

  • Faktor genetik
  • Berusia lebih dari 50 tahun
  • Wanita yang sudah memasuki masa menopause
  • Kekurangan gizi menyebabkan rambut mudah rapuh dan rontok
  • Mengalami penyakit tertentu, seperti diabetes, lupus, dan lichen planus
  • Memiliki warna, bentuk, tekstur, atau ketebalan kuku yang tidak normal
  • Stres

Diagnosis

Bagaimana mendiagnosis kondisi ini?

Dokter kulit biasanya akan mendiangosis masalah kebotakan berdasarkan pemeriksaan fisik, yakni melihat daerah yang mengalami kerontokan dan gejala Anda. Setelah itu, dokter mungkin akan menarik rambut secara lembut di dekat tepi area yang pitak. 

Hal ini bertujuan untuk menentukan apakah terdapat kelainan struktur pada akar atau batang rambut. Jika dokter masih ragu, Anda akan menjalani biopsi kulit kepala untuk memastikan diagnosis tersebut dan diperiksa di laboratorium. 

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja cara mengatasi masalah kebotakan? 

Umumnya, kebotakan adalah kondisi yang bersifat sementara dan akan tumbuh kembali dengan normal bila penyebabnya telah diatasi. Meski begitu, kebanyakan kasus menunjukkan bahwa alopecia adalah kondisi yang tidak dapat dihindari seiring bertambahnya usia. 

Jika Anda khawatir masalah ini dapat mengganggu penampilan, ada beberapa pilihan obat untuk mengatasi alopecia yang mungkin membantu, termasuk: 

Pakai obat-obatan tertentu

Bila kebotakan dipicu oleh masalah hormon atau gangguan sistem imun, terutama pada pria, cara mengatasi hal ini adalah dengan resep obat finasteride. Anda juga dapat memperoleh obat yang membantu mengatasi alopecia dengan minoxidil yang dijual bebas. 

Minoxidil dapat berbentuk cairan atau sabun yang biasanya digunakan pada kulit kepala dua kali sehari. Obat ini membantu mengurangi kerontokan dan menumbuhkan rambut kembali. 

Sementara itu, obat finasteride tersedia dalam bentuk oral dan hanya boleh diberikan untuk pria saja. Pil ini menghambat hormon DHT yang dapat membantu meningkatkan pertumbuhan rambut

Pada beberapa kasus, suntikan steroid juga membantu mengatasi masalah ketombe dengan menumbuhkan rambut baru dalam waktu  4 minggu. 

Perlu diingat bahwa Anda harus berkonsultasi dengan dokter kulit untuk mencari tahu obat mana yang paling tepat dengan penyebab kebotakan. 

Cangkok rambut

Selain obat-obatan, ada cara lain yang bisa Anda gunakan untuk mengatasi alopecia, yaitu operasi cangkok rambut. Cangkok rambut adalah prosedur implantasi rambut pada kulit kepala. 

Prosedur ini sebenarnya hanya dapat dilakukan oleh orang yang masih memiliki pertumbuhan rambut yang sehat di bagian belakang dan samping kepala. Itu sebabnya, cangkok rambut tidak membantu mereka yang botak plontos. 

Hal ini dikarenakan rambut di kedua bagian tersebut akan menjadi donor rambut untuk menutupi area yang botak. Meski terbilang cukup efektif menumbuhkan rambut, operasi ini membutuhkan biaya besar dan dapat menyebabkan rasa nyeri. 

Terapi laser

Salah satu jenis terapi yang kini tengah populer untuk mengatasi kebotakan adalah terapi laser dengan dosis rendah. Terapis laser diklaim dapat membantu menumbuhkan rambut dengan meningkatkan aliran darah di kulit kepala. 

Bahkan, terapi ini juga membantu merangsang metabolisme folikel saat memasuki tahap katagen (kerontokan) dan telogen (fase rambut beristirahat). Dengan begitu, pertumbuhan rambut ketika berada dalam fase anagen akan semakin banyak. 

Meski terlihat efektif, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk melihat manfaat dan efek samping dari terapi laser terhadap masalah kebotakan. 

Penggunaan rambut palsu

Bila obat-obatan dan terapi tidak berhasil mengobati kebotakan, Anda mungkin memerlukan rambut palsu atau wig. 

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kebotakan?

Demi mendukung proses pengobatan yang diberikan oleh dokter, merawat rambut dan kulit kepala tentu menjadi hal yang penting agar cepat sembuh. Berikut ini ada berbagai kebiasaan yang perlu diperhatikan untuk membantu mengatasi kebotakan. 

  • Mencuci rambut dengan lembut
  • Pilih sampo dan kondisioner sesuai dengan jenis rambut
  • Hindari mengeriting, meluruskan, dan mewarnai rambut agar tumbuh secara alami
  • Tidak mengikat, menyanggul, atau mengepang rambut terlalu kencang
  • Hindari menarik atau menggosok rambut dan kulit kepala
  • Gunakan sisir bergigi lebar saat menyisir rambut
  • Batasi penggunaan hair dryer saat mengeringkan rambut
  • Ubah pola makan menjadi lebih tinggi dan bergizi bagi kesehatan rambut

Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan konsultasikan dengan dokter kulit untuk mendapatkan solusi yang tepat. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Fototerapi, Terapi Cahaya untuk Penyakit Kulit dengan Sinar UV

Pengobatan penyakit kulit dapat dilakukan dengan beberapa cara. Salah satunya dengan fototerapi atau terapi cahaya. Apa itu?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Kesehatan Kulit 9 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Ragam Penyebab Eksim Beserta Faktor Pemicu Kekambuhannya

Eksim membuat kulit memerah, kasar, pecah-pecah, terasa amat gatal, dan sangat kering. Apa sebenarnya penyebab eksim alias dermatitis atopik?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Kulit, Dermatitis 8 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

Dermatitis Seboroik

Dermatitis seboroik adalah jenis eksim di kulit kepala. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, dan perawatan rumahannya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Kulit, Dermatitis 8 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit

Uretritis Non-Gonore

Uretritis non-gonore adalah penyakit urologi yang menyerang kelamin. Cari tahu gejala, penyebab, dan cara mencegah dari salah satu jenis uretritis ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Urologi, Urologi Lainnya 8 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

daging ayam belum matang

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
komplikasi dermatitis

Berbagai Komplikasi yang Mungkin Muncul Akibat Penyakit Dermatitis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
dermatitis numularis

Dermatitis Numularis (Eksim Diskoid)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
dermatitis kontak

Dermatitis Kontak

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 10 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit