Pembukaan Sudah Lengkap, Tapi Bayi Tidak Keluar? 5 Hal Ini Bisa Jadi Penyebabnya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Terbukanya leher rahim (serviks) adalah tanda dari proses kelahiran bayi yang disebut pembukaan. Proses pembukaan persalinan umumnya berawal dari pembukaan 1 dan diakhiri dengan pembukaan 10 saat bayi lahir. Namun pada beberapa kasus, bayi bisa saja tidak kunjung keluar walaupun ibu sudah mengalami pembukaan lengkap. Apa saja faktor yang menyebabkan kondisi ini?

Penyebab bayi sulit keluar saat pembukaan

Proses pembukaan dan persalinan dapat berlangsung selama beberapa puluh menit hingga berjam-jam.

Bagi ibu yang baru pertama kali melahirkan, durasi persalinan di atas 20 jam sudah tergolong lama dan bisa membahayakan kondisi ibu maupun janin.

Normalnya bayi akan keluar setelah pembukaan lengkap. Namun dalam beberapa kasus, bayi tak kunjung lahir meski pembukaan serviks sudah sampai 10.

Berikut adalah sejumlah faktor yang dapat menjadi penyebabnya:

1. Ketidaksesuaian ukuran kepala bayi dan panggul ibu

tanda-tanda melahirkan

Sekalipun ibu telah mengalami pembukaan lengkap, bayi berisiko tidak bisa keluar jika terdapat ketidaksesuaian antara ukuran kepala bayi dan panggul ibu.

Kondisi ini dapat terjadi dalam dua bentuk, yakni:

  • Kepala atau badan bayi terlalu besar untuk melewati panggul ibu
  • Panggul ibu terlalu sempit atau memiliki bentuk yang tidak normal

Melansir American Pregnancy Association, kondisi yang secara medis disebut sebagai cephalopelvic disproportion ini terjadi pada 1 dari 250 kehamilan.

Ibu hamil biasanya perlu menjalani tindak lanjut berupa operasi caesar guna mengeluarkan janin dengan segera.

2. Kontraksi kurang kuat

kontraksi palsu kontraksi Braxton Hicks

Frekuensi kontraksi akan terus bertambah selama persalinan. Menjelang kelahiran bayi, kontraksi dapat terjadi setiap 2-3 menit sekali.

Kontraksi yang tidak cukup kuat akan menyebabkan bayi tidak bisa keluar sekalipun pembukaan telah lengkap.

Untuk menilai seberapa kuat kontraksi, dokter biasanya perlu meraba area perut ibu. Kontraksi dikatakan efektif jika otot perut cukup tegang dan semakin sering terjadi menjelang kelahiran.

Jika kontraksi tidak cukup efektif, ibu disarankan menjalani induksi persalinan.

3. Placenta previa

hamil lagi setelah plasenta previa

Plasenta previa adalah kondisi ketika plasenta (ari-ari) menutupi sebagian atau seluruh serviks. Adanya plasenta pada jalur lahir dapat menyebabkan perdarahan hebat selama kehamilan hingga saat persalinan.

Jika plasenta tidak kembali ke posisi awalnya hingga menjelang persalinan, ibu hamil tidak disarankan untuk mengejan.

Hal ini bertujuan untuk mencegah perdarahan, tapi kekurangannya adalah bayi tidak bisa keluar walaupun pembukaan telah lengkap.

4. Posisi janin tidak normal

Sumber: Health Reflect

Posisi terbaik bagi janin untuk lahir adalah terbalik dengan kepala berada di bawah. Posisi ini memungkinkan kepala janin untuk keluar lebih dahulu sehingga badan dapat mengikuti dengan mudah.

Namun, janin terkadang juga bisa berada pada posisi tidak normal hingga menjelang persalinan.

Posisi yang tidak normal bisa menyebabkan bayi tidak keluar ketika pembukaan besar. Beberapa posisi tersebut antara lain:

  • Kepala janin di bawah, tapi muka janin menghadap jalur lahir sehingga menutupinya
  • Sungsang, baik bokong ataupun kaki terlebih dahulu
  • Horizontal, tidak diawali dengan kepala, bokong, ataupun kaki

5. Kondisi darurat dan gawat janin

lupus pada ibu hamil lupus saat hamil

Kondisi selama persalinan dapat menghambat atau bahkan menghentikan seluruh proses persalinan.

Bagi ibu, kondisi darurat biasanya berkaitan dengan perdarahan, tekanan darah tinggi, atau ibu sudah kelelahan melewati proses persalinan yang lama.

Sementara bagi janin, berikut adalah beberapa kondisi yang tergolong gawat:

Jika terjadi kondisi darurat, proses persalinan harus segera diselesaikan guna menyelamatkan ibu dan janin.

Dokter akan memberikan rekomendasi cara untuk membuat bayi keluar saat pembukaan yang lengkap tidak juga berefek apa pun.

Faktanya, beberapa faktor penghambat persalinan memang tidak dapat dihindari. Walau demikian, Anda bisa mengurangi risikonya dengan menjalani pemeriksaan kandungan rutin selama kehamilan.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: November 22, 2019 | Terakhir Diedit: November 19, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca