Masa pemulihan operasi caesar yang relatif lebih lama dibandingkan persalinan pervaginam kerap menimbulkan pertanyaan tentang kapan waktu yang tepat untuk hamil lagi.
Masa pemulihan operasi caesar yang relatif lebih lama dibandingkan persalinan pervaginam kerap menimbulkan pertanyaan tentang kapan waktu yang tepat untuk hamil lagi.

Selain soal waktu, masih ada banyak hal lain yang perlu Anda pertimbangkan jika ingin hamil kembali setelah caesar. Apa saja contohnya? Simak dalam uraian berikut ini.
Secara umum, Anda sebaiknya menunggu atau memberi jeda selama 12–18 bulan setelah operasi caesar sebelum hamil lagi.
Tujuan utama pemberian jeda antarkehamilan adalah untuk memastikan bahwa luka bekas operasi caesar sudah sembuh dan ibu sudah pulih.
Jeda ini juga memungkinkan ibu untuk menyesuaikan diri dengan peran barunya sebagai orangtua serta memberikan pengasuhan yang optimal kepada bayinya.
Pemberian jeda antarkehamilan sebenarnya tidak hanya berlaku untuk persalinan caesar, tetapi juga persalinan normal alias melalui vagina.
Hanya saja, jeda setelah persalinan caesar memang relatif lebih lama karena fase pemulihannya lebih panjang.

Terkadang, kehamilan kedua bisa terjadi di luar waktu yang direncanakan. Anda tidak perlu menyalahkan diri sendiri jika mengalami ini tidak lama setelah caesar.
Namun, Anda perlu lebih berhati-hati karena kehamilan yang terlalu cepat setelah operasi caesar dinilai dapat meningkatkan berbagai risiko berikut.
Pada dasarnya, risiko plasenta previa memang lebih besar pada wanita yang memiliki riwayat persalinan caesar.
Mengutip sebuah studi terbitan American Journal of Obstetrics and Gynecology (2015), risiko plasenta previa pada wanita yang menjalani operasi caesar bisa meningkat hingga dua kali lipat.
Plasenta previa adalah kondisi saat plasenta menutupi sebagian atau seluruh dinding rahim bagian bawah atau leher rahim. Normalnya, plasenta terletak di sisi atas atau samping rahim, bukan di bawahnya.
Akibat kondisi tersebut, plasenta bisa menutup jalan lahir janin. Dalam kondisi ini, ibu hamil berisiko mengalami perdarahan hebat selama kehamilan dan persalinan.
Kondisi ini juga dapat menghalangi keinginan Anda untuk menjalani persalinan normal setelah caesar (VBAC). Persalinan caesar biasanya menjadi pilihan demi meminimalkan risiko perdarahan.
Risiko lainnya bagi wanita yang hamil terlalu cepat setelah melahirkan caesar adalah abruptio plasenta. Ini adalah kondisi ketika sebagian atau seluruh plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum melahirkan.
Karena fungsi utama plasenta adalah menyalurkan nutrisi dan oksigen ke janin, kondisi ini bisa mengganggu perkembangannya.
Hubungan antara kedua kondisi ini belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, luka yang mungkin terbentuk pada rahim selama proses operasi caesar dinilai bisa membuat rahim melemah.
Akibatnya, plasenta mungkin tidak bisa menempel sempurna pada lapisan rahim sehingga menyebabkan abruptio plasenta.
Jika Anda punya rencana hamil lagi setelah operasi caesar, usahakan untuk membicarakannya terlebih dahulu dengan dokter. Pasalnya, kehamilan yang terlalu dini bisa meningkatkan risiko ruptur uteri.
Ruptur uteri adalah kondisi saat dinding rahim robek atau pecah selama proses persalinan. Komplikasi persalinan ini memang lebih sering terjadi pada pasien yang punya luka pada rahim, termasuk karena operasi caesar.
Dengan berbagai risiko yang ada, bukan berarti ibu hamil dengan riwayat operasi caesar tidak bisa melakukan persalinan pervaginam. Hanya saja, Anda perlu membicarakannya terlebih dahulu dengan dokter.
Pada dasarnya, persalinan caesar dan pervaginam sama-sama baik. Metode persalinan terbaik adalah yang tidak membahayakan ibu dan janin.
Anda sebenarnya tidak dilarang untuk hamil lagi setelah menjalani operasi caesar. Akan tetapi, Anda memang disarankan untuk memberikan jeda antarkehamilan.
Supaya kehamilan berikutnya tidak terasa lebih berat dan risiko komplikasi bisa diminimalkan, gunakan beberapa poin berikut sebagai pertimbangan sebelum hamil lagi setelah operasi caesar.
Seperti yang dijelaskan di atas, Anda sebaiknya memberi waktu jeda selama 12–18 bulan sebelum hamil kembali pasca-operasi caesar.
Semakin lama waktu yang diberikan untuk pemulihan, semakin siap pula rahim Anda menghadapi kehamilan. Tak hanya soal fisik, ini juga bisa menjadi waktu untuk memulihkan kesiapan mental.

Menunda kehamilan bukan berarti Anda harus menghindari hubungan ranjang. Sebagai pencegahan, Anda bisa menggunakan alat kontrasepsi, seperti kondom.
Meski begitu, Anda sebaiknya menunggu selama kurang-lebih enam minggu setelah operasi caesar untuk berhubungan ranjang. Pada masa ini, leher rahim biasanya sudah menutup dan tidak ada lagi perdarahan.
Alih-alih fokus pada kehamilan itu sendiri, Anda bisa memanfaatkan masa pemulihan setelah caesar untuk mempersiapkan fisik dan mental terlebih dahulu.
Contoh dari persiapan kehamilan adalah memperhatikan masa subur, mengonsumsi makanan sehat, dan menjaga berat badan.
Jangan lupa untuk mempertimbangkan si Kecil yang baru saja dilahirkan. Pasalnya, hamil lagi berarti Anda harus membagi energi untuk masa pemulihan operasi caesar, perkembangan janin, dan tumbuh-kembang bayi yang sudah dilahirkan.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Planning another pregnancy. (2020, December 2). nhs.uk. Retrieved 06 January 2025, from
Multiple C-sections. (2023, October 17). University of Utah Health | University of Utah Health. Retrieved 06 January 2025, from https://healthcare.utah.edu/womens-health/pregnancy-birth/multiple-c-sections
Placental abruption. (n.d.). Better Health Channel – Better Health Channel. Retrieved 06 January 2025, from https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/healthyliving/placental-abruption
Getting pregnant after c-section. 2021. Tommy’s. Retrieved 06 January 2025, from https://www.tommys.org/pregnancy-information/giving-birth/after-caesarean-section
Munoz, J. L., Hernandez, B., Ireland, K. E., & Ramsey, P. S. (2021). Short interval pregnancy is associated with pathology severity in placenta accreta spectrum (PAS). The Journal of Maternal-Fetal & Neonatal Medicine, 35(25), 8863-8868. Retrieved 06 January 2025, from https://doi.org/10.1080/14767058.2021.2005571
Downes, K. L., Hinkle, S. N., Sjaarda, L. A., Albert, P. S., & Grantz, K. L. (2015). Previous prelabor or intrapartum cesarean delivery and risk of placenta previa. American Journal of Obstetrics and Gynecology, 212(5), 669.e1-669.e6. Retrieved 06 January 2025, from https://doi.org/10.1016/j.ajog.2015.01.004
Uterine rupture: Signs, symptoms, risks & treatment. (n.d.). Cleveland Clinic. Retrieved 06 January 2025, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/24480-uterine-rup
Versi Terbaru
15/01/2025
Ditulis oleh Annisa Hapsari
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita
Diperbarui oleh: Edria