Perdarahan Saat Hamil: Mana yang Normal, Mana yang Bahaya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 19 September 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Perdarahan saat hamil, terutama pada trimester pertama, sangat umum terjadi. Mengutip dari American College of Obstetrician and Gynecologists (ACOG), perdarahan saat hamil muda terjadi pada 15-25 persen wanita. Akan tetapi, kondisi ini bisa menjadi tanda berbagai komplikasi berbahaya, berikut penjelasan lengkapnya. 

Ciri-ciri perdarahan saat hamil yang masih normal

perdarahan saat hamil

Wajar jika seorang wanita mengalami bercak perdarahan setelah berhubungan seksual saat hamil atau setelah menjalani tes internal yang dilakukan oleh dokter kandungan atau bidan.

Alasan perdarahan lainnya mungkin sama sekali tidak berhubungan dengan kehamilan dan masih tergolong normal yaitu:

  • Infeksi ragi
  • Infeksi saluran kencing
  • Ambeien — masalah yang umum ditemui ibu hamil
  • Perdarahan terobosan (menstruasi palsu karena kadar hormon belum cukup tinggi untuk menghentikan siklus menstruasi)

Perdarahan masih dianggap normal jika darah yang keluarnya hanya sedikit, kadang berupa flek saat hamil, mirip seperti bercak perdarahan yang dialami awal atau akhir menstruasi.

Warna perdarahan saat hamil dapat bervariasi, mulai dari merah muda, merah tua, hingga kecokelatan (warna darah kering) — tapi tidak pernah berwarna merah terang.

Kebanyakan perdarahan saat hamil terjadi antara minggu kelima dan delapan dan dalam kebanyakan kasus, berlangsung tidak lebih dari tiga hari.

Mengutip dari American College of Obstetrician and Gynecologists (ACOG), flek atau bercak darah bisa terjadi 1-2 minggu setelah pembuahan. Ketika sel telur yang sudah dibuahi menempel di lapisan rahim.

Di fase ini, leher rahim akan lebih sensitif dan mudah berdarah selama kehamilan karena banyak pembuluh darah yang berkembang di sana. Ini yang membuat perdarahan saat hamil muda setelah berhubungan seksual atau setelah pemeriksaan panggul.

Perdarahan saat hamil belum tentu tanda keguguran

perdarahan setelah keguguran

Sekitar 15-25 persen ibu hamil bisa mengalami perdarahan saat sedang mengandung. Perdarahan biasanya berlangsung dalam trimester pertama kehamilan dan ini adalah normal.

Biasanya perdarahan ketika hamil terjadi pada waktu yang sama saat dengan periode menstruasi dan bisa berlangsung selama 1-2 hari.

Namun, jika perdarahan saat hamil terjadi pada trimester kedua atau trimester ketiga kehamilan, sebaiknya segera periksakan ke dokter.

Pasalnya, perdarahan yang tidak normal dan terjadi di usia kehamilan sebelum 20 minggu kerap menjadi tanda keguguran. Terutama jika perdarahan berat terjadi yang disertai dengan gejala lain (seperti nyeri dan kontraksi). 

Jenis perdarahan saat hamil yang harus segera diperiksakan ke dokter

perdarahan saat hamil

Semua perdarahan ketika sedang hamil harus dilaporkan ke dokter atau bidan, bahkan jika pendarahan tampaknya telah berhenti.

Walaupun mungkin penyebabnya adalah hal yang kecil, tindakan yang diambil oleh dokter kandungan berikutnya akan bergantung pada kondisi tubuh.

Adapun penyebab perdarahan saat hamil yang tidak normal termasuk:

1. Vasa previa

Vasa previa merupakan komplikasi kehamilan dengan kondisi pembuluh darah dari tali pusat berada di selaput ketuban dan dekat mulut rahim bagian dalam. Bila pembuluh darah pecah, hal ini bisa memicu cedera dan membahayakan janin.

Mengutip dari Amboss, vasa previa dialami oleh 1 dari 2500 kelahiran bayi di dunia. Ada beberapa faktor risiko dari vasa previa, seperti kelainan pada plasenta (velamentous umbilical cord insertion), kehamilan kembar, dan memiliki riwayat operasi di rahim.

Tanda dari vasa previa adalah perdarahan dari vagina tanpa ada rasa sakit dan terjadi secara tiba-tiba setelah ketuban pecah. Untuk mendiagnosis vasa previa, dokter akan melakukan USG transvaginal untuk melihat janin apakah menutupi jalan lahir atau tidak.

Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan apakah ada penurunan aliran darah dalam pembuluh darah atau tidak. Bila terjadi keadaan gawat, dokter akan melakukan operasi caesar untuk menyelamatkan ibu dan janin.

2. Bayi meninggal dalam kandungan (stillbirth)

Kondisi bayi meninggal dalam kandungan (stillbirth) ditandai dengan perdarahan saat hamil. WHO menyebutkan, stillbirth terjadi pada bayi di usia 28 minggu atau lebih tanpa ada tanda kehidupan dari janin.

Tanda yang bisa ibu hamil rasakan ketika bayi mengalami stillbirth adalah:

  • Nyeri perut atau kram
  • Perdarahan dari vagina
  • Kontraksi

Sementara itu, beberapa faktor risiko ibu hamil mengalami stillbirth yaitu:

  • Kegemukan
  • Merokok
  • Hamil di usia lanjut
  • Mengandung bayi lebih dari satu (kembar)
  • Mengalami komplikasi kehamilan

Bayi meninggal dalam kandungan (stillbirth) merupakan kondisi yang bisa terjadi pada siapa saja.

Namun, kondisi ini bisa dihindari dengan mengurangi faktor risikonya sehingga perlu diskusi dengan dokter bila ibu memiliki salah satu dari faktor risiko tersebut.

3. Rahim robek (uterine rupture)

Ini merupakan kondisi rahim robek saat persalinan dan dipicu oleh perdarahan dan terjadi secara tiba-tiba. Ketika mengalami hal ini, perut terasa sangat nyeri ditandai dengan jeda kontraksi secara tiba-tiba.

Faktor risiko yang meningkatkan ini adalah riwayat menjalani operasi caesar dan bedah transmiometrium.

4. Luka pada serviks

Perdarahan di masa kehamilan juga bisa disebabkan oleh trauma serviks. Hal ini terjadi tiba-tiba dan biasanya disebabkan karena hubungan seksual.

Biasanya ibu akan merasakan nyeri panggul ringan sampai sedang, tergantung pada tingkat kerusakan pada serviks. Tanda dari kondisi ini adalah memar dan area serviks jadi lebih lunak.

5. Plasenta previa

Terkadang plasenta menanamkan dirinya sendiri sangat rendah di bawah dinding rahim atau kadang-kadang tepat di atas leher rahim sehingga mengganggu proses persalinan.

Kondisi ini disebut plasenta previa dan terjadi pada sekitar 0,5 persen dari kehamilan yang bisa menyebabkan perdarahan saat hamil.

Plasenta previa pasti menyebabkan perdarahan saat hamil di beberapa titik dalam kehamilan, biasanya setelah melewati 20 minggu.

Tanda paling umum dari perdarahan saat hamil yang ini adalah warna darah merah terang dari vagina selama paruh kedua kehamilan.

Perdarahan saat hamil dapat berkisar dari ringan hingga berat dan seringnya menyakitkan. Beberapa wanita juga mengalami kontraksi yang disertai dengan perdarahan.

6. Solusio plasenta

Solusio plasenta atau pelepasan plasenta adalah kondisi serius di mana plasenta sebagian atau seluruhnya terpisah dari rahim sebelum bayi lahir.

Kondisi ini bisa memutuskan jalur nutrisi dan oksigen untuk bayi. Selain itu, plasenta apruptio juga menyebabkan perdarahan yang parah hingga bisa membahayakan ibu dan janin.

Jika memiliki solusio plasenta yang bisa menyebabkan perdarahan saat hamil, Anda mungkin melihat satu atau lebih tanda-tanda peringatan. Hubungi dokter segera jika sedang hamil dan menyadari gejala berikut ini:

  • Perdarahan saat hamil di vagina dengan intensitas ringan hingga sedang.
  • Rahim yang terasa nyeri atau menyakitkan (mungkin juga terasa keras atau kaku).
  • Memiliki tanda-tanda persalinan dini (termasuk kontraksi teratur dan sakit punggung atau perut bawah).
  • Aktivitas janin dalam kandungan menurun dari biasanya.

Segera hubungi dokter bila memiliki tanda-tanda di atas.

7. Perdarahan saat hamil sebagai tanda persalinan

Jenis perdarahan yang satu ini harus langsung didiskusikan dengan dokter. Dilansir dari laman Amboss, perdarahan yang diiringi dengan keputihan berlendir dari vagina adalah tanda persalinan. Ini juga merupakan kondisi serviks yang melebar.

Seperti apa perdarahan saat hamil yang jadi tanda keguguran?

perdarahan saat hamil

Dikutip dari NHS, keluar darah saat hamil yang disebabkan karena keguguran biasanya akan disertai dengan kram perut dan sakit di bagian bawah perut.

Selain itu, kondisi ini juga biasanya terjadi lebih berat dan lebih banyak, juga kadang terdapat gumpalan darah yang keluar bersamaan dengan perdarahan.

Selain karena keguguran, perdarahan saat kehamilan awal juga bisa disebabkan oleh kehamilan ektopik alias kehamilan di luar kandungan.

Kehamilan ektopik terjadi saat telur yang telah dibuahi sperma menempel pada tempat lain selain rahim, biasanya di tuba falopi (saluran yang menghubungkan indung telur dan rahim).

Dalam Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan dari Kementerian Kesehatan, perdarahan sebagai tanda keguguran memiliki beberapa jenis, yaitu:

Keguguran iminens (abortus iminens)

Jenis keguguran yang satu ini ditandai dengan darah yang keluar sedikit. Selain itu, keguguran jenis ini biasanya disertai dengan intensitas nyeri perut yang tidak terlalu sakit. Keguguran (abortus) iminens artinya ancaman abortus yang terjadi diusia kehamilan <20 minggu. Dimana kondisi kehamilan ini masih bisa dipertahankan namun Anda tetap perlu berhati-hati. Tidak perlu pengobatan khusus. Anda hanya perlu mengurangi aktivitas fisik berlebihan dan tirah baring

Kalau perdarahan sudah berhenti, pantau kondisi dengan pemeriksaan kadar Hb dan USG panggul setiap empat minggu sekali.

Sementara itu bila perdarahan tidak berhenti, Anda bisa mengecek kondisi janin lewat USG untuk melihat ada kemungkinan kondisi lain.

Keguguran insipiens (abortus insipiens)

Pada jenis keguguran insipiens, perdarahan terjadi cukup banyak dengan rasa sakit di perut yang cukup hebat di usia kurang dari 20 minggu. Anda perlu segera ke dokter untuk mendapatkan penanganan selanjutnya. 

Keguguran inkomplit (abortus inkomplit)

Abortus inkomplit adalah kondisi keguguran yang kehamilannya tidak bisa dilanjutkan kembali karena sebagian janin sudah keluar dari rahim.

Di situasi ini, ibu hamil akan mengalami perdarahan sangat banyak disertai dengan nyeri perut yang membuatnya semakin berat. Ketika perdarahan terjadi, bisa ditemukan gumpalan seperti daging yang keluar dari jalan lahir. Anda perlu dilakukan kuretase untuk membersihkan sisa jaringan di dalam rahim.

Keguguran komplit (abortus komplit)

Mirip dengan keguguran inkomplit, keguguran komplit juga menyebabkan kehamilan tidak bisa dilanjutkan kembali.

Perbedaannya, di kondisi ini seluruh janin sudah keluar dari rahim. Untuk mengetahui dengan pasti, perlu dilakukan pemeriksaan dokter kandungan dan USG.

Hasil dari pemeriksaan tersebut akan menentukan langkah selanjutnya. Apakah hanya diberi obat-obatan atau perlu dilakukan prosedur kuret yang bertujuan untuk membersihkan rahim.

Saat terjadi perdarahan, sel telur tidak bisa berkembang membuatnya pecah dan jaringan tuba falopi meluruh hingga kemudian menyebabkan perdarahan.

Kondisi perdarahan saat hamil harus segera ditangani oleh dokter. Jika tidak secepatnya ditangani, ibu dapat mengalami kehilangan banyak darah sehingga menyebabkan lemah, pingsan, nyeri, shock, bahkan kematian.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hati-hati, Ini Risiko Memelihara Hewan Selama Hamil

Memiliki hewan peliharaan tentu menyenangkan. Namun, memelihara hewan selama hamil memiliki risiko penyakit yang perlu diwaspadai.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 5 April 2020 . Waktu baca 5 menit

Muncul Ruam dan Gatal Sebelum Melahirkan? Itu Adalah PUPPP

PUPPP atau PUPPS adalah masalah kulit yang sering terjadi pada ibu hamil. Namun, apa yang membuat kondisi ini terjadi dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 26 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit

Begini Efek Coronavirus (COVID-19) Terhadap Ibu Hamil

Infeksi virus tertentu memang cukup berpengaruh terhadap kesehatan ibu hamil. Lantas, bagaimana dengan efek coronavirus pada ibu hamil?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24 Januari 2020 . Waktu baca 6 menit

Mengapa Ibu Hamil Lebih Cepat Merasa Lapar?

Perubahan kondisi tubuh yang begitu pesat selama kehamilan bisa memengaruhi nafsu makan, bahkan membuat ibu hamil cepat lapar. Inilah deretan penyebabnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 23 Desember 2019 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

darah tinggi setelah melahirkan

Kenali Gejala dan Bahaya Tekanan Darah Tinggi Setelah Melahirkan

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
Masturbasi Saat Hamil

Masturbasi Saat Hamil, Boleh Atau Tidak?

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 12 Agustus 2020 . Waktu baca 3 menit
nafsu seks ibu hamil

Kenali Perubahan Gairah Seks Ibu Hamil di Trimester Ketiga, Plus Tips Seks yang Aman

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 15 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit

Apa Akibatnya pada Janin Jika Ibu Merokok Saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 31 Mei 2020 . Waktu baca 8 menit