Perdarahan Saat Hamil: Mana yang Normal, Mana yang Bahaya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/03/2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Perdarahan saat hamil, terutama pada trimester pertama, lebih umum daripada yang Anda duga. Bercak darah terjadi pada hampir sepertiga dari seluruh kehamilan dan seringnya tidak menimbulkan ancaman bagi ibu atau bayi. Demikian diungkap oleh Alyssa Stephenson-Famy, M.D., spesialis pengobatan ibu dan anak di University of Washington, Seattle, dilansir dari Parents.

Akan tetapi, perdarahan saat hamil, tak peduli sedikit-banyaknya, bisa menjadi indikasi berbagai komplikasi berbahaya. Jadi, kapan harus hubungi dokter saat terjadi perdarahan saat hamil?

Ciri-ciri perdarahan saat hamil yang masih normal

Wajar jika seorang wanita mengalami bercak perdarahan setelah berhubungan seks semasa hamil atau setelah menjalani tes internal yang dilakukan oleh dokter kandungan atau bidan.

Alasan perdarahan lainnya mungkin sama sekali tidak berhubungan dengan kehamilan dan masih tergolong normal yaitu:

  • Infeksi ragi
  • Infeksi saluran kencing
  • Ambeien — masalah yang umum ditemui ibu hamil
  • Perdarahan terobosan (menstruasi palsu karena kadar hormon belum cukup tinggi untuk menghentikan siklus menstruasi Anda)

Perdarahan saat hamil masih dianggap normal jika darah yang keluarnya hanya sedikit, kadang berupa bercak atau corengan saja, mirip seperti bercak perdarahan yang Anda alami di awal atau akhir menstruasi Anda.

Warna perdarahan saat hamil dapat bervariasi, mulai dari merah muda, merah tua, hingga kecokelatan (warna darah kering) — tapi tidak pernah berwarna merah terang.

Kebanyakan insiden perdarahan saat hamil terjadi antara minggu kelima dan delapan dan dalam kebanyakan kasus, berlangsung tidak lebih dari tiga hari.

Cobalah untuk tidak terlalu khawatir jika Anda mengalami bercak seperti ini. Pasalnya, risiko munculnya komplikasi kurang dari lima persen, dilansir dari My Pregnancy Baby.

Perdarahan saat hamil belum tentu tanda keguguran

Sekitar satu dari lima ibu hamil bisa mengalami perdarahan saat sedang mengandung. Perdarahan saat hamil biasanya berlangsung dalam trimester pertama kehamilan dan ini adalah normal.

Biasanya perdarahan saat hamil terjadi pada waktu yang sama saat dengan periode menstruasi Anda dan bisa berlangsung selama 1-2 hari.

Namun, jika perdarahan saat hamil terjadi pada trimester kedua atau ketiga kehamilan, sebaiknya Anda segera periksakan ke dokter.

Pasalnya, perdarahan yang tidak normal dan terjadi di usia kehamilan sebelum 20 minggu kerap menjadi tanda keguguran. Terutama jika perdarahan berat terjadi yang disertai dengan gejala lain (seperti nyeri dan kontraksi). 

Jenis perdarahan saat hamil yang harus segera diperiksakan ke dokter

Semua perdarahan saat hamil harus dilaporkan ke dokter atau bidan, bahkan jika pendarahan tampaknya telah berhenti.

Walaupun mungkin penyebabnya adalah hal yang kecil, tindakan yang diambil oleh dokter kandungan Anda berikutnya akan bergantung pada kondisi tubuh.

Adapun penyebab perdarahan saat hamil yang tidak normal termasuk:

1. Vasa previa

Vasa previa merupakan komplikasi kehamilan dengan kondisi pembuluh darah dari tali pusat berada di selaput ketuban dan dekat mulut rahim bagian dalam. Bila pembuluh darah pecah, hal ini bisa memicu cedera dan membahayakan janin.

Mengutip dari Amboss, vasa previa dialami oleh 1 dari 2500 kelahiran bayi di dunia. Ada beberapa faktor risiko dari vasa previa, seperti kelainan pada plasenta (velamentous umbilical cord insertion), kehamilan kembar, dan memiliki riwayat operasi di rahim.

Tanda dari vasa previa adalah perdarahan dari vagina tanpa ada rasa sakit dan terjadi secara tiba-tiba setelah ketuban pecah. Untuk mendiagnosis vasa previa, dokter akan melakukan USG transvaginal untuk melihat janin apakah menutupi jalan lahir atau tidak.

Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan apakah ada penurunan aliran darah dalam pembuluh darah atau tidak. Bila terjadi keadaan gawat, dokter akan melakukan operasi caesar untuk menyelamatkan ibu dan janin.

2. Bayi meninggal dalam kandungan (stillbirth)

Kondisi bayi meninggal dalam kandungan (stillbirth) ditandai dengan perdarahan saat hamil. WHO menyebutkan, stillbirth terjadi pada bayi di usia 28 minggu atau lebih tanpa ada tanda kehidupan dari janin.

Tanda yang bisa ibu hamil rasakan ketika bayi mengalami stillbirth adalah:

  • Nyeri perut atau kram
  • Perdarahan dari vagina
  • Kontraksi

Sementara itu, beberapa faktor risiko ibu hamil mengalami still birth yaitu:

  • Kegemukan
  • Merokok
  • Hamil di usia lanjut
  • Mengandung bayi lebih dari satu (kembar)
  • Mengalami komplikasi kehamilan

Bayi meninggal dalam kandungan (still birth) merupakan kondisi yang bisa terjadi pada siapa saja.

Namun, kondisi ini bisa dihindari dengan mengurangi faktor risikonya sehingga perlu diskusi dengan dokter bila ibu memiliki salah satu dari faktor risiko tersebut.

3. Rahim robek (uterine rupture)

Ini merupakan kondisi rahim robek saat persalinan dan dipicu oleh perdarahan dan terjadi secara tiba-tiba. Ketika mengalami hal ini, perut terasa sangat nyeri ditandai dengan jeda kontraksi secara tiba-tiba.

Faktor risiko yang meningkatkan ini adalah riwayat menjalani operasi caesar dan bedah transmiometrium.

4. Luka pada serviks

Perdarahan di masa kehamilan juga bisa disebabkan oleh trauma serviks. Hal ini terjadi tiba-tiba dan biasanya disebabkan karena hubungan seksual.

Biasanya ibu akan merasakan nyeri panggul ringan sampai sedang, tergantung pada tingkat kerusakan pada serviks. Tanda dari kondisi ini adalah memar dan area serviks jadi lebih lunak.

5. Plasenta previa

Terkadang plasenta menanamkan dirinya sendiri sangat rendah di bawah dinding rahim atau kadang-kadang tepat di atas leher rahim sehingga mengganggu proses persalinan.

Kondisi ini disebut plasenta previa dan terjadi pada sekitar 0,5 persen dari kehamilan yang bisa menyebabkan perdarahan saat hamil.

Plasenta previa pasti menyebabkan perdarahan saat hamil di beberapa titik dalam kehamilan Anda — biasanya setelah melewati 20 minggu.

Tanda paling umum dari perdarahan saat hamil yang ini adalah warna darah merah terang dari vagina selama paruh kedua kehamilan Anda.

Perdarahan saat hamil dapat berkisar dari ringan hingga berat dan seringnya menyakitkan. Beberapa wanita juga mengalami kontraksi yang disertai dengan perdarahan.

6. Plasenta abruptio

Plasenta abruptio atau pelepasan plasenta adalah kondisi serius di mana plasenta sebagian atau seluruhnya terpisah dari rahim sebelum bayi Anda lahir.

Kondisi ini bisa memutuskan jalur nutrisi dan oksigen untuk bayi Anda. Selain itu, plasenta apruptio juga menyebabkan perdarahan yang parah hingga bisa membahayakan ibu dan janin.

Jika Anda memiliki plasenta abruptio yang bisa menyebabkan perdarahan saat hamil, Anda mungkin melihat satu atau lebih tanda-tanda peringatan. Hubungi dokter segera jika Anda sedang hamil dan menyadari gejala berikut ini:

  • Perdarahan saat hamil di vagina dengan intensitas ringan hingga sedang.
  • Rahim yang terasa nyeri atau menyakitkan (mungkin juga terasa keras atau kaku).
  • Memiliki tanda-tanda persalinan dini (termasuk kontraksi teratur dan sakit punggung atau perut bawah).
  • Aktivitas janin dalam kandungan menurun dari biasanya.

7. Perdarahan

Jenis perdarahan yang satu ini harus langsung didiskusikan dengan dokter. Dilansir dari laman Amboss, perdarahan yang diiringi dengan keputihan berlendir dari vagina adalah tanda persalinan. Ini juga merupakan kondisi serviks yang melebar.

Seperti apa perdarahan yang jadi tanda keguguran?

Dilansir dari laman Parents, perdarahan saat hamil yang disebabkan karena keguguran pada awal kehamilan biasanya akan disertai dengan nyeri atau kram pada perut.

Selain itu, kondisi ini juga biasanya terjadi lebih berat dan lebih banyak, juga kadang terdapat gumpalan darah yang keluar bersamaan dengan perdarahan Anda.

Selain karena keguguran, perdarahan saat kehamilan awal juga bisa disebabkan oleh kehamilan ektopik alias kehamilan di luar kandungan.

Kehamilan ektopik terjadi saat telur yang telah dibuahi sperma menempel pada tempat lain selain rahim, biasanya di tuba falopi (saluran yang menghubungkan indung telur dan rahim).

Dalam Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan dari Kementerian Kesehatan, perdarahan sebagai tanda keguguran memiliki beberapa jenis, yaitu:

Keguguran iminens (abortus iminens)

Jenis keguguran yang satu ini ditandai dengan darah yang keluar sedikit. Selain itu, keguguran jenis ini biasanya disertai dengan intensitas nyeri perut yang tidak terlalu sakit.

Bila Anda mengalami keguguran iminens, tidak perlu pengobatan khusus. Anda hanya perlu mengurangi aktivitas fisik berlebihan dan hubungan seksual.

Kalau perdarahan sudah berhenti, pantau kondisi dengan pemeriksaan kadar Hb dan USG panggul setiap empat minggu sekali.

Sementara itu bila perdarahan tidak berhenti, Anda bisa mengecek kondisi janin lewat USG untuk melihat ada kemungkinan kondisi lain.

Keguguran insipiens (abortus insipiens)

Pada jenis keguguran insipiens, perdarahan terjadi cukup banyak dengan rasa sakit di perut yang cukup hebat.

Kalau Anda mengalami ini di usia kandungan kurang dari 16 minggu, segera lakukan pemeriksaan ke dokter untuk diberikan penanganan khusus.

Keguguran inkomplit (abortus inkomplit)

Abortus inkomplit adalah kondisi keguguran yang kehamilannya tidak bisa dilanjutkan kembali karena sebagian janin sudah keluar dari rahim.

Di situasi ini, Anda akan mengalami perdarahan sangat banyak disertai dengan nyeri perut yang membuatnya semakin berat. Ketika perdarahan terjadi, bisa ditemukan gumpalan seperti daging yang keluar dari jalan lahir.

Keguguran komplit (abortus komplit)

Mirip dengan keguguran inkomplit, keguguran komplit juga menyebabkan kehamilan tidak bisa dilanjutkan kembali.

Perbedaannya, di kondisi ini seluruh janin sudah keluar dari rahim. Untuk mengetahui dengan pasti, perlu dilakukan pemeriksaan dokter kandungan dan USG.

Hasil dari pemeriksaan tersebut akan menentukan langkah selanjutnya. Apakah hanya diberi obat-obatan atau perlu dilakukan prosedur kuret yang bertujuan untuk membersihkan rahim.

Saat terjadi perdarahan, sel telur tidak bisa berkembang membuatnya pecah dan jaringan tuba falopi meluruh hingga kemudian menyebabkan perdarahan.

Kondisi perdarahan saat hamil harus segera ditangani oleh dokter. Jika tidak secepatnya ditangani, ibu dapat mengalami kehilangan banyak darah sehingga menyebabkan lemah, pingsan, nyeri, shock, bahkan kematian.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Begini Efek Coronavirus (COVID-19) Terhadap Ibu Hamil

Infeksi virus tertentu memang cukup berpengaruh terhadap kesehatan ibu hamil. Lantas, bagaimana dengan efek coronavirus pada ibu hamil?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/01/2020 . Waktu baca 6 menit

Hati-Hati, Banjir Bisa Berdampak Buruk Terhadap Kesehatan Ibu Hamil

Untuk ibu hamil, banjir memiliki dampak yang tak bisa disepelekan. Agar tak sampai membahayakan janin, yuk ketahui dampak apa saja yang bisa muncul.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 03/01/2020 . Waktu baca 4 menit

Mengapa Ibu Hamil Lebih Cepat Merasa Lapar?

Perubahan kondisi tubuh yang begitu pesat selama kehamilan bisa memengaruhi nafsu makan, bahkan membuat ibu hamil cepat lapar. Inilah deretan penyebabnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 23/12/2019 . Waktu baca 4 menit

Benarkah Seks Saat Hamil Membuat Ibu Melahirkan Prematur?

Seks saat hamil masih dianggap hal yang tabu karena katanya bisa menyebabkan kelahiran prematur. Benarkah begitu? Tunggu dulu. Baca faktanya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Seks & Asmara 24/07/2019 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

nafsu seks ibu hamil

Kenali Perubahan Gairah Seks Ibu Hamil di Trimester Ketiga, Plus Tips Seks yang Aman

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 15/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Apa Akibatnya pada Janin Jika Ibu Merokok Saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020 . Waktu baca 8 menit
dampak memelihara hewan selama hamil

Hati-hati, Ini Risiko Memelihara Hewan Selama Hamil

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 05/04/2020 . Waktu baca 5 menit
PUPPP

Muncul Ruam dan Gatal Sebelum Melahirkan? Itu Adalah PUPPP

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 26/03/2020 . Waktu baca 4 menit