home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apakah Setelah Keguguran Pasti Harus Dikuret?

Apakah Setelah Keguguran Pasti Harus Dikuret?

Bagi calon ibu, keguguran merupakan suatu hal yang menyakitkan. Baik dari segi fisik dan mental. Setelah keguguran, biasanya prosedur yang dokter lakukan adalah kuret. Namun, bisakah keguguran selesai begitu saja tanpa kuret? Haruskah melakukan kuret setelah mengalami keguguran? Berikut penjelasannya.

Alasan perlu kuret setelah keguguran

Mengutip dari Mayo Clinic, dilatasi dan kuretase adalah prosedur untuk membersihkan jaringan janin di dalam rahim.

Oleh karena itu, setelah keguguran biasanya ibu melakukan kuret agar rahim kembali bersih dari jaringan janin yang gagal berkembang.

Namun, tidak semua keguguran perlu melakukan kuret. Ini tergantung dari adanya sisa jaringan janin atau tidak dalam rahim ibu.

Bila ada sisa jaringan janin dalam rahim, dapat menyebabkan perdarahan setelah keguguran lebih parah dan juga infeksi.

Maka dari itu, dokter akan melakukan kuret untuk mencegah dan mengobati kondisi yang bisa terjadi setelah keguguran. Ambil contoh, perdarahan berat dan infeksi.

Tidak hanya itu, prosedur kuret juga bisa mendiagnosis atau mengobati perdarahan rahim yang tidak normal.

Perdarahan yang tidak normal seperti pertumbuhan fibroid, polip, ketidakseimbangan hormonal, kanker rahim, dan setelah aborsi.

Efek samping setelah kuret karena keguguran

Setelah kuret, biasanya ibu akan merasakan sedikit rasa sakit. Beberapa hal yang bisa ibu rasakan setelah melakukan kuret adalah:

Hal-hal tersebut normal terjadi setelah ibu melakukan kuret. Ibu juga sudah bisa melakukan aktivitas sehari-hari setelah satu atau dua hari sesudah kuret.

Selain gejala umum, ada kondisi dan efek samping yang membuat ibu perlu memeriksakan diri ke dokter.

Efek samping setelah kuret karena keguguran yang perlu ibu waspadai yaitu:

  • perdarahan berat atau berkepanjangan,
  • demam,
  • keputihan yang berbau busuk, dan
  • nyeri atau sakit pada perut.

Bila mengalami hal tersebut, segera hubungi dan konsultasikan ke dokter.

Kemungkinan komplikasi setelah melakukan kuret karena keguguran

Kuret biasanya merupakan prosedur yang aman dan jarang menyebabkan komplikasi. Meski begitu, terdapat risiko yang bisa timbul setelah melakukan kuret.

Berikut beberapa kemungkinan komplikasi setelah melakukan kuret.

Perforasi rahim

Terkadang prosedur kuret bisa menimbulkan komplikasi, walau jarang terjadi, salah satunya adalah perforasi rahim.

Ini adalah kondisi ketika alat bedah menusuk dan menyebabkan perlubangan di rahim.

Perforasi rahim lebih sering terjadi pada ibu yang baru pertama hamil dan pada wanita yang sudah menopause.

Untuk pemulihan, biasanya perforasi rahim bisa sembuh dengan sendiri tanpa pengobatan yang serius.

Kerusakan rahim

Saat terjadi kerobekan pada leher rahim, ini membuat kondisi rahim tidak lagi baik. Kerusakan rahim termasuk komplikasi kuret setelah keguguran yang jarang terjadi.

Namun, bila ini terjadi, dokter dapat memberikan tekanan, obat, atau menutup dengan jahitan untuk menghentikan perdarahan.

Tumbuh jaringan parut pada dinding rahim

Prosedur kuret setelah terjadi keguguran bisa memicu pembentukan jaringan parut dalam rahim. Meski begitu, kondisi ini sangat jarang terjadi.

Tumbuhnya jaringan parut pada dinding rahim bisa memicu masalah lain, misalnya:

  • siklus menstruasi menjadi tidak normal bahkan berhenti,
  • rasa sakit,
  • keguguran di kehamilan selanjutnya, sampai
  • ketidaksuburan.

Bila ibu mengalami keguguran saat janin usia lebih dari 20 minggu, risiko terbentuk jaringan parut dan komplikasi lain lebih besar.

Ada baiknya konsultasi dengan dokter terlebih dahulu bila sudah mengalami tanda keguguran, seperti keluar flek.

Nantinya, dokter akan memutuskan perlu melakukan kuret atau tidak, sesuai dengan kondisi ibu.

health-tool-icon

Kalkulator Hari Perkiraan Lahir-Hello Sehat

Gunakan kalkulator ini untuk menghitung hari perkiraan lahir (HPL) Anda. Ini hanyalah prediksi, bukan sebuah jaminan pasti. Pada umumnya, hari melahirkan sebenarnya akan maju atau mundur seminggu dari HPL.

Metode kalkulasi

Durasi siklus haid

28 hari

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Dilation and Curettage. (2021). Retrieved 28 May 2021, from https://www.acog.org/womens-health/faqs/dilation-and-curettage?utm_source=redirect&utm_medium=web&utm_campaign=otn

Dilation and curettage (D&C) – Mayo Clinic. (2021). Retrieved 28 May 2021, from https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/dilation-and-curettage/about/pac-20384910

D&C Procedure After a Miscarriage: Risks & Complications. (2017). Retrieved 28 May 2021, from https://americanpregnancy.org/healthy-pregnancy/pregnancy-complications/d-and-c-procedure-after-miscarriage-837/

Foto Penulis
Ditulis oleh Riska Herliafifah pada 12/05/2017
x