Apa Akibatnya Jika Ibu Mengandung Bayi Besar?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Mungkin Anda sudah mengetahui bahwa bayi yang lahir dengan berat rendah dapat meningkatkan risikonya untuk terkena berbagai penyakit saat ia besar nanti. Lalu, bagaimana dengan bayi besar atau yang mempunyai berat badan lebih dari normal?

Apa alasan terjadi bayi bisa berukuran besar?

Bayi dikatakan besar atau mempunyai berat badan berlebih jika beratnya sudah mencapai lebih dari 4000 gram. Bayi ini biasanya disebut dengan makrosomia. Hal yang menyebabkan bayi lebih dari ukuran normal, biasanya adalah karena ibu menderita diabetes gestasional, ibu mengalami obesitas, kelebihan kenaikan berat badan saat hamil, atau bayi lahir pada waktu kelahiran yang sudah sangat lewat.

Benarkah sulit melahirkan bayi besar?

Tantangan awal saat mempunyai bayi yang kelebihan berat badan sejak dalam kandungan adalah proses kelahirannya. Melahirkan bayi dengan berat badan normal saja tidak mudah, apalagi bayi dengan berat badan berlebih. Tentu, ini menjadi kesulitan sendiri bagi ibu dan dokter yang menangani kelahirannya, tetapi masih bisa untuk melahirkan normal.

Butuh waktu yang lebih lama untuk dapat melahirkan bayi besar. Risiko mengalami perdarahan yang lebih banyak dan luka perineum yang lebih parah juga bisa terjadi selama proses kelahiran. Jika bayi Anda mempunyai berat lebih dari 4500 gram, bayi Anda akan mengalami distosia bahu selama proses kelahiran dengan kemungkinan sebesar 1/13.

Distosia bahu adalah sebuah kondisi di mana bahu terjebak di dalam setelah dokter berhasil menarik kepalanya keluar. Kemungkinan hal ini terjadi lebih besar pada bayi dengan berat badan yang lebih besar. Ini merupakan situasi yang jarang terjadi, tapi sangat serius karena dapat menyebabkan cedera parah bahkan kematian. Penanganan yang baik dapat membuat bayi Anda berhasil keluar dari tubuh Anda dengan selamat, ini membutuhan teknik tertentu.

Jika melahirkan normal terasa sangat sulit dan mempunyai banyak risiko, Anda dapat melahirkannya dengan cara operasi caesar. Bagi Anda yang mempunyai diabetes saat hamil, Anda mungkin akan disarankan untuk melahirkan dengan cara operasi caesar.

Selain itu, mungkin dokter Anda akan menginduksi persalinan lebih awal setelah usia kandungan mencapai 38 minggu. Namun, menginduksi persalinan lebih awal tidak menunjukkan manfaat apapun, menurut American College of Obstetrics and Gynecologists. Sebaiknya diskusikan dengan dokter Anda dan rencanakan dengan baik persalinan Anda sebelum hari kelahiran.

Apa ada risiko kesehatan pada bayi besar?

Kesulitan saat persalinan membawa risiko kesehatan pada bayi. Bahu bayi yang terjebak di bawah tulang panggul ibu selama persalinan dapat menyebabkan kerusakan saraf pada bahu, lengan, dan leher bayi. Kerusakan saraf terjadi pada 2-16% bayi yang memiliki distosia bahu. Ini lebih mungkin terjadi jika bayi Anda sangat besar.

Namun, juga dapat disebabkan oleh tekanan dari kontraksi yang sangat kuat. Jika bayi Anda memiliki beberapa kerusakan saraf atau tulang leher bayi rusak karena proses persalinan, ia masih dapat pulih sepenuhnya.

Selain kerusakan saraf, kesulitan saat melahirkan bayi yang berukuran lebih dari normal juga dapat mengakibatkan bayi memerlukan bantuan pernapasan setelah persalinan dan memiliki kelainan otot-otot jantung yang lebih tebal.

Komplikasi lain yang dapat terjadi jika bayi Anda terlalu besar adalah:

1. Kadar gula darah lebih rendah

Bayi yang didiagnosis dengan makrosomia lebih mungkin mempunyai kadar gula darah yang lebih rendah dari normal. Bayi besar biasanya dilahirkan dari seorang ibu yang menderita diabetes saat kehamilan (diabetes gestasional).

Ibu dengan diabetes yang mengalami peningkatan kadar gula darah lebih mungkin untuk mempunyai bayi ukuran lebih dari normal, karena zat gizi utama yang mengontrol pertumbuhan bayi adalah gula. Kelebihan gula darah dan produksi insulin dapat menyebabkan kelebihan pertumbuhan dan penyimpanan lemak, sehingga membuat bayi menjadi besar.

Di dalam rahim, bayi-bayi ini terbiasa dengan kadar gula darah yang tinggi, tetapi ketika mereka lahir, sumber makanan bayi ini terputus. Akibatnya, bayi besar cenderung memiliki gula darah rendah dan perlu dimonitor setelah lahir.

2. Bayi obesitas

Penelitian menunjukkan bahwa risiko obesitas meningkat karena berat bayi lahir juga meningkat. Bayi besar atau obesitas biasanya berasal dari ibu yang juga obesitas. Ibu obesitas memiliki risiko dua atau tiga kali lebih tinggi untuk mengalami diabetes gestasional selama kehamilan dibandingkan dengan wanita yang tidak obesitas.

Ibu obesitas sebaiknya menghindari kenaikan berat badan yang berlebihan saat kehamilan sebagai upaya untuk menurunkan risiko diabetes gestasional dan melahirkan bayi dengan ukuran lebih dari normal.

3. Sindrom metabolik

Jika bayi Anda didiagnosis dengan makrosomia, ia berisiko mengembangkan sindrom metabolik selama masa kanak-kanak. Sindrom metabolik merupakan sekelompok kondisi  yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah, tingginya kadar gula darah, kelebihan lemak tubuh di sekitar pinggang, atau kadar kolesterol tidak normal. Sindrom metabolik dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes.

 Menurut Dr. Kristin Atkins, spesialis ibu dan bayi di University of Maryland School of Medicine, cara terbaik bagi perempuan untuk mencegah bayi besar adalah untuk memantau apa yang mereka makan dan mengendalikan diabetes jika mereka didiagnosis dengan diabetes saat kehamilan.

Kalkulator Hari Perkiraan Lahir

Kalkulator ini dapat memperkirakan kapan hari persalinan Anda.

Cek HPL di Sini
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Ciri-Ciri Hamil dari yang Paling Sering Muncul Sampai Tak Terduga

Telat haid dan mual-mual adalah tanda-tanda hamil yang paling umum. Namun, tahukah Anda, mimisan dan sakit kepala juga termasuk ciri-ciri hamil muda?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 19 Januari 2021 . Waktu baca 13 menit

Kapan Kehamilan Bisa Mulai Terdeteksi dengan Test Pack?

Meski Anda mungkin sudah hamil dua hari setelah berhubungan seks, beberapa test pack pengecek kehamilan mungkin belum bisa langsung mendeteksinya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Kesuburan, Kehamilan 18 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Cara Menggugurkan Kandungan Ketika Kehamilan Bermasalah

Aborsi boleh saja dilakukan apabila ada indikasi medis. Apa saja pilihan cara menggugurkan kandungan yang aman? Simak selengkapnya di halaman ini. 

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 15 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Positif Hamil Atau Gejala Mau Haid? Begini 10 Cara Membedakannya

Mungkin Anda sedang harap-harap cemas menunggu jadwal mens selanjutnya. Membedakan tanda hamil atau haid itu susah-susah gampang, lho!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 14 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit

Direkomendasikan untuk Anda

tanda bayi akan lahir

Kenali 5 Tanda-Tanda Bayi Akan Lahir Dalam Waktu Dekat

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
bercak darah tanda hamil atau menstruasi

Apa Bedanya Bercak Darah Tanda Hamil atau Menstruasi?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
program dan cara cepat hamil

7 Cara Cepat Hamil yang Perlu Dilakukan Anda dan Pasangan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
garis hitam di perut linea nigra

Kenali Linea Nigra, Garis Hitam “Khas” di Perut Ibu Hamil

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit