Kenali Penyebab dan Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 September 2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu jenis penyakit jantung yang serius dan banyak dialami. Bahkan, PJK juga dapat menjadi penyebab terjadinya serangan jantung. Namun, apa ya sebenarnya penyebab terjadinya penyakit jantung koroner? Bagaimana pula faktor risikonya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Penyebab penyakit jantung koroner

Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute, penyakit jantung koroner terbagi atas tiga tipe: obstructive coronary artery disease, nonobstructive coronary artery disease, dan coronary microvascular disease. 

Coronary artery disease biasanya memengaruhi pembuluh arteri yang lebih besar pada permukaan jantung. Orang yang mengalami kondisi ini biasanya mengalami baik yang obstructive maupun nonobstructive. Sementara itu, coronary microvascular disease memengaruhi pembuluh arteri yang lebih kecil pada otot jantung.

Penyebab dari jantung koroner ini tergantung pada tipenya. Bahkan, penyakit ini mungkin memiliki lebih dari satu penyebab yang harus Anda perhatikan. Di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Penumpukan plak

Salah satu penyebab jantung koroner adalah adanya penumpukan plak di dalam pembuluh arteri. Penumpukan plak ini disebut dengan aterosklerosis. Jika penumpukan ini terjadi selama bertahun-tahun, pembuluh darah arteri akan menyempit dan mengeras.

Hal ini dapat menyebabkan aliran darah yang kaya akan oksigen menuju jantung jadi terhambat. Kondisi inilah yang menjadi penyebab terjadinya penyakit jantung koroner. Jika pembuluh darah arteri pada jantung sudah tersumbat lebih dari 50%, artinya Anda mengalami obstructive coronary artery disease.

Sementara itu, Anda mungkin mengalami nonobstructive coronary artery disease jika pembuluh darah arteri telah mengalami penyempitan tapi masih belum pada tahapan yang parah. Plak-plak yang berukuran lebih kecil juga bisa terbentuk pada pembuluh darah yang lebih kecil di dalam jantung. Hal ini menyebabkan coronary microvascular disease. 

  • Masalah kesehatan yang memengaruhi pembuluh darah

Selain penumpukan plak, ada pula penyebab lain dari jantung koroner, misalnya masalah kesehatan yang dapat memengaruhi pembuluh darah. Sebagai contoh, pembuluh darah mungkin tidak dapat merespons dengan baik sinyal yang menunjukkan bahwa jantung membutuhkan lebih banyak darah yang mengandung oksigen.

Jika pembuluh darah bekerja dengan normal, ia akan melebar untuk memberi jalan pada aliran darah menuju jantung saat seseorang aktif secara fisik atau berada di bawah tekanan (stres). Namun, saat Anda mengalami penyakit jantung koroner, pembuluh darah mungkin tidak akan melebar, atau bahkan justru menyempit. Akibatnya, aliran darah menuju jantung malah menjadi terhambat.

Penyebab dari kondisi tersebut masih belum dapat diketahui dengan pasti. Namun, ada beberapa kemungkinan yang mungkin menjadi penyebab terjadinya masalah pada pembuluh darah, seperti:

  • Kerusakan pada dinding arteri atau pembuluh darah lainnya dari peradangan kronis, tekanan darah tinggi, atau diabetes.
  • Perubahan molekul yang biasanya terjadi seiring dengan pertambahan usia. Perubahan molekul ini memengaruhi kontrol terhadap gen dan protein di dalam sel.

Maka itu, jika Anda sudah mulai merasakan gejala jantung koroner, tidak ada salahnya memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan penyakit jantung yang efektif.

Faktor risiko penyakit jantung koroner

Selain penyebab jantung koroner, Anda mungkin juga perlu memerhatikan apa saja faktor risiko dari penyakit jantung koroner yang mungkin Anda miliki. Dengan mengetahui faktor-faktor risiko terhadap penyakit jantung ini, Anda mungkin bisa menentukan langkah pencegahan terhadap penyakit jantung yang sesuai dengan kondisi saat ini.

1. Usia yang semakin lanjut

Meski bukan faktor risiko yang bisa diubah, Anda tetap perlu memahami bahwa usia merupakan faktor risiko dari penyakit jantung koroner. Artinya, semakin bertambah usia, semakin meningkat pula risiko Anda terhadap salah satu jenis penyakit jantung ini.

Namun, bukan berarti semua orang yang bertambah tua pasti mengalami jantung koroner. Maka itu, agar usia Anda tidak menjadi penyebab dari penyakit jantung koroner, mulai terapkan gaya hidup sehat sejak dini. Dengan begitu, risiko Anda terhadap penyakit jantung koroner pun masih bisa dikontrol dengan baik.

2. Jenis kelamin laki-laki

Faktor risiko lain yang juga tidak bisa diubah adalah jenis kelamin. Dalam kasus ini, laki-laki lebih rentan mengalami penyakit jantung koroner dibanding wanita. Meski begitu, risiko wanita mengalami penyakit jantung koroner akan meningkat setelah mengalami menopause.

3. Riwayat keluarga mengalami gangguan jantung

Anda juga perlu memerhatikan riwayat kesehatan yang dimiliki oleh keluarga. Hal ini disebabkan riwayat kesehatan keluarga juga termasuk ke dalam faktor risiko dari penyakit jantung koroner. Apalagi jika anggota keluarga Anda mengalami penyakit jantung koroner di usia muda.

Risiko Anda akan semakin tinggi jika ayah atau saudara kandung laki-laki Anda mengalami penyakit jantung sebelum memasuki usia 55 tahun. Sementara, risiko Anda juga akan meningkat jika ibu atau saudara perempuan Anda mengalami kondisi tersebut sebelum memasuki usia 65 tahun.

Maka itu, agar kondisi ini tidak menjadi penyebab dari penyakit jantung koroner, tidak ada salahnya mengajak semua anggota keluarga Anda untuk menjaga kesehatan jantung dengan cara menerapkan gaya hidup sehat.

4. Kebiasaaan merokok

Kebiasaan merokok memang tidak baik untuk kesehatan jantung. Ya, merokok dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, termasuk jantung koroner. Bahkan, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko mengalami jantung koroner secara drastis.

Selain tidak baik untuk kesehatan jantung Anda, kebiasaan merokok juga tidak baik untuk orang di sekitar. Pasalnya, kebiasaan ini dapat membuat orang-orang di sekeliling Anda menghirup asap rokok. Asap rokok yang terhirup ini juga dapat meningkatkan risiko jantung koroner, meski orang tersebut tidak merokok.

5. Tekanan darah tinggi

Ada pula kondisi kesehatan lain yang dapat meningkatkan risiko Anda terhadap penyakit jantung. Ya, tekanan darah tinggi atau hipertensi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Mengapa? Pasalnya tekanan darah yang tidak terkontrol dapat menyebabkan pembuluh darah mengeras dan menebal. 

Hal tersebut membuat “jalan” darah menuju jantung menyempit, sehingga darah tidak dapat mengalir dengan lancar. Hal tersebut menjadi penyebab terjadinya jantung koroner.

6. Kadar kolesterol tinggi

Rupanya, kadar kolesterol yang tinggi di dalam darah dapat meningkatkan risiko Anda mengalami penyakit jantung koroner. Pasalnya, kadar kolesterol tinggi dapat meningkatkan risiko terbentuknya plak di dalam pembuluh darah. Plak yang menumpuk menjadi penyebab jantung koroner.

Kadar kolesterol tinggi dapat terjadi karena kadar kolesterol jahat (LDL) di dalam darah meningkat. Sementara, kadar kolesterol baik (HDL) justru menurun. Maka itu, usahakan untuk menurunkan kadar kolesterol di dalam darah agar bisa menurunkan risiko Anda mengalami penyakit jantung koroner.

7. Diabetes

Diabetes sering kali dikaitkan dengan penyakit jantung koroner. Hal ini mungkin disebabkan faktor risiko diabetes tipe 2 dan penyakit jantung koroner tidak jauh berbeda. Hal ini termasuk tekanan darah tinggi dan obesitas. Oleh sebab itu, agar kondisi ini tidak menjadi penyebab Anda mengalami penyakit jantung koroner, cobalah untuk menekan faktor risiko yang mungkin Anda miliki.

8. Berat badan berlebih

Memiliki berat badan berlebih juga tidak baik untuk kesehatan. Apalagi, kondisi ini juga dapat memperburuk faktor risiko lainnya, seperti kadar kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan diabetes. Maka itu, sebaiknya upayakan untuk mengontrol berat badan yang Anda miliki.

Anda bisa melakukannya dengan rutin melakukan olahraga yang baik untuk kesehatan jantung, dan juga menerapkan pola makan sehat untuk jantung.

9. Kurang aktif bergerak

Bermalas-malasan dan tidak aktif bergerak dapat meningkatkan risiko obesitas. Padahal, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, obesitas juga dapat meningkatkan risiko lain dari jantung koroner. Maka itu, tak heran jika orang yang jarang berolahraga atau tidak aktif bergerak dapat mengalami peningkatan risiko jantung koroner.

10. Stres tidak terkendali

Selain kondisi fisik, kondisi mental Anda juga bisa menjadi salah satu faktor risiko dari penyakit jantung. Apalagi, jika Anda sering berada di bawah tekanan atau stres. Pasalnya, stres yang tidak dapat diselesaikan dapat merusak pembuluh darah arteri. Hal ini menunjukkan bahwa stres dapat menjadi penyebab penyakit jantung koroner termasuk meningkatkan risiko lain dari penyakit jantung.

Maka itu, sebaiknya hindari hal-hal yang dapat memicu stres muncul. Pemicu stres antara orang satu dengan lainnya jelas berbeda. Hanya Anda yang memahami apa saja yang dapat menyebabkan stres melanda. Maka itu, hanya Anda yang bisa secara efektif mengelola stres yang mungkin muncul.

11. Pola makan tak sehat

Kebiasaan Anda dalam mengonsumsi makanan juga dapat menjadi faktor risiko. Apalagi jika Anda menganut pola makan yang tidak sehat. Ya, terlalu banyak mengonsumsi makanan yang kaya akan lemak jenuh, lemak trans, garam, dan gula berpotensi meningkatkan risiko Anda mengalami penyakit jantung koroner.

Jika Anda tidak segera mengatasi kondisi ini, dikhawatirkan pola makan ini menjadi penyebab penyakit jantung koroner. Maka itu, mulai benahi kebiasaan makan dan terapkan pola makan sehat. Sebagai contoh, mengonsumsi makanan yang kaya akan serat seperti sayur dan buah, gandum, serta biji-bijian dan kacang-kacangan.

Tidak hanya itu, cobalah untuk menerapkan cara memasak yang sehat untuk jantung. Hal ini tentu penting pula untuk meningkatkan kesehatan jantung. Lagipula kebiasaan memasak ini tidak hanya baik untuk Anda seorang, tapi juga seluruh anggota keluarga di rumah.

Untuk itu, cobalah untuk memeriksakan diri ke dokter dan mencari tahu risiko apa saja yang Anda miliki terhadap penyakit jantung yang satu ini. Dengan begitu, Anda mungkin bisa lebih menjaga kesehatan demi menghindari hal yang tidak diinginkan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Operasi Bypass Jantung (Coronary Artery Bypass Graft)

Operasi bypass jantung (CABG0 adalah perawatan untuk pasien penyakit jantung koroner. Yuk, pelajari lebih dalam prosedur medis ini pada ulasan berikut.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung 24 November 2020 . Waktu baca 8 menit

Penyakit Jantung (Penyakit Kardiovaskuler)

Penyakit jantung (kardiovaskuler) adalah berbagai kondisi akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah di jantung. Pelajari sakit jantung berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung 23 November 2020 . Waktu baca 11 menit

Berbagai Penyebab dan Cara Mengatasi Jantung Berdebar (Palpitasi)

Jantung berdebar (palpitasi) adalah kondisi yang berkaitan dengan detak jantung. Lantas, seperti apa gejala, penyebab, dan pengobatannya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung 23 November 2020 . Waktu baca 7 menit

Mengulik Gejala dan Penyebab Terjadinya Penyakit Jantung

Penyakit jantung dapat menyerang wanita dan pria tanpa memandang usia. Lantas, apa saja gejala dan penyebab penyakit jantung? Baca selengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung 22 November 2020 . Waktu baca 12 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Penyebab Serangan Jantung Pada Anak Muda

Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 5 menit
kateterisasi jantung adalah

Kateterisasi Jantung (Angiogram Koroner)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 7 menit
murmur jantung adalah

Murmur (Suara Berdesing) pada Jantung, Bahaya atau Tidak?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 24 November 2020 . Waktu baca 7 menit
transplantasi jantung adalah

Transplantasi Jantung

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 24 November 2020 . Waktu baca 8 menit