Penyakit Jantung Koroner (PJK)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 14 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu penyakit jantung koroner (PJK)?

Definisi atau pengertian dari penyakit jantung koroner (PJK) adalah kondisi ketika aliran darah menuju jantung terhambat. Penyakit ini juga bisa disebut sebagai penyakit jantung iskemik maupun penyakit arteri koroner.

PJK terjadi karena adanya penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah arteri. Penyumbatan terjadi karena ada penumpukan kolesterol yang membentuk plak di dalam pembuluh arteri untuk jangka waktu yang lama. Proses penyempitan dinding arteri ini disebut dengan aterosklerosis.

Jika plak kolesterol pecah, akan terbentuk gumpalan-gumpalan darah yang menyumbat arteri koroner dan menghambat aliran darah yang kaya akan oksigen menuju jantung. Kondisi ini disebut sebagai serangan jantung.

Artinya, penyakit jantung koroner adalah salah satu penyebab serangan jantung. Seiring berjalannya waktu, jika tidak segera diobati, penyakit jantung koroner dapat menyebabkan otot jantung melemah sehingga menimbulkan komplikasi seperti gagal jantung dan aritmia (gangguan irama jantung). 

Seberapa umumkah penyakit jantung koroner (PJK)?

Penyakit jantung koroner bisa dialami oleh siapa saja, tanpa terkecuali. Selain itu, penyakit ini termasuk ke dalam jenis penyakit jantung kronis yang menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian di dunia.

Namun, orang keturunan etnis Afrika dan penduduk Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memiliki potensi paling tinggi untuk mengalami penyakit jantung koroner. Setidaknya, 5-9% orang dewasa yang berusia 20 tahun ke atas menderita penyakit jantung koroner.

Anda dapat mengurangi kemungkinan terkena gangguan ini dengan mengurangi faktor risiko. Konsultasikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & Gejala

Apa saja tanda dan gejala penyakit jantung koroner (PJK)?

Setelah mengetahui apa itu penyakit jantung koroner, kini saatnya Anda memahami gejala dari penyakit tersebut. Gejala penyakit jantung koroner tidak selalu muncul secara langsung pada awal mula terjadinya penyakit.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, ada beberapa gejala penyakit jantung koroner yang sebaiknya Anda waspadai. Di antaranya adalah:

1. Nyeri dada (angina)

Angina adalah nyeri dada yang teramat sangat intens akibat otot jantung tidak mendapatkan cukup pasokan darah kaya oksigen. Rasa sakitnya mirip dicubit atau dada tertindih benda berat.

Sensasi dicubit tersebut dapat menyebar ke pundak, lengan, leher, rahang, dan punggung bagian kiri. Bisa juga seperti menembus dari depan dada ke punggung. Rasa nyeri dapat muncul dan menjadi lebih parah saat pasien sedang beraktivitas berat, misalnya berolahraga.

Perlu Anda ketahui juga bahwa gejala angina pada pria dan wanita berbeda. Wanita cenderung lebih sering mengalami serangan jantung yang diawali kemunculan rasa nyeri spesifik di bawah dada dan perut bagian bawah.

Namun perlu diingat juga, tidak semua nyeri dada adalah gejala penyakit jantung koroner. Nyeri dada akibat penyakit jantung koroner umumnya biasa disertai oleh gejala lainnya, seperti keringat dingin.

2. Keringat dingin dan mual

Ketika pembuluh darah menyempit, otot-otot jantung akan kekurangan oksigen, sehingga menyebabkan suatu kondisi yang disebut iskemia.

Kondisi ini akan memicu suatu sensasi yang sering dideskripsikan sebagai keringat dingin. Di sisi lain, iskemia juga dapat memicu reaksi mual dan muntah.

3. Sesak napas

Jantung yang tidak berfungsi normal akan kesulitan memompa darah ke paru-paru,  sehingga Anda akan kesulitan bernapas.  Selain itu, cairan yang berkumpul di paru-paru juga menyebabkan sesak napas bertambah parah.

Sesak napas yang menjadi gejala dari penyakit jantung koroner biasanya terjadi bersamaan dengan nyeri dada.

Kapan harus periksa ke dokter?

Apabila Anda merasakan nyeri pada bagian dada yang terasa sangat intens, atau Anda curiga Anda terkena serangan jantung, segera pergi ke unit gawat darurat terdekat.

Terkadang orang yang mengalami penyakit jantung koroner keliru mengira angina sebagai “masuk angin”. Salah diagnosis ini sering kali membuat orang yang mengalami penyakit jantung koroner terlambat mendapatkan penanganan yangt efektif. 

Oleh sebab itu, konsultasikan dengan dokter apabila Anda memiliki tekanan darah tinggi, kolesterol (lemak darah) tinggi, diabetes, obesitas, atau apabila Anda merokok.

Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit jantung koroner. Diagnosis dan pengobatan dini dapat membantu mencegah komplikasi dan mengurangi tingkat keparahan penyakit.

Penyebab

Apa penyebab penyakit jantung koroner (PJK)?

Ada banyak penyebab dari penyakit jantung koroner. Meski begitu, penelitian menunjukkan bahwa tekanan darah tinggi, kolesterol dan trigliserida tinggi, diabetes, obesitas, kebiasaan merokok, dan peradangan pada pembuluh darah merupakan faktor utama yang dapat merusak dinding arteri. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya penyakit jantung koroner.

Saat arteri rusak, plak akan lebih mudah menempel pada arteri dan lambat laun menebal. Penyempitan pembuluh kemudian akan menghambat aliran darah kaya oksigen ke jantung.

Jika plak ini pecah, trombosit akan menempel pada luka di arteri dan membentuk gumpalan darah yang memblokir arteri.  Hal ini dapat menyebabkan angina semakin parah.

Ketika bekuan darah cukup besar maka arteri akan tertekan, yang menyebabkan infark miokard yang juga sering disebut sebagai serangan jantung. 

Faktor-faktor Risiko

Apa yang meningkatkan risiko penyakit jantung koroner (PJK)?

Beberapa faktor yang dapat memengaruhi penyakit jantung koroner adalah:

  • Usia lanjut

Semakin tua, arteri akan semakin menyempit dan rapuh.

  • Jenis kelamin

Pria lebih memiliki risiko terkena penyakit arteri koroner daripada wanita.

  • Genetik

Apabila ada anggota keluarga Anda menderita gangguan jantung, maka risiko penyakit jantung koroner meningkat.

  • Merokok

Nikotin dapat menyebabkan penyempitan arteri sementara karbon monoksida menyebabkan kerusakan pembuluh.

  • Riwayat kesehatan

Memiliki riwayat tekanan darah tinggi dan/atau kadar lemak darah yang tinggi.

  • Trauma atau stres

Memiliki trauma mental atau stres psikologis berat jangka waktu panjang.

Sementara itu, aterosklerosis dapat disebabkan oleh kebiasaan gaya hidup dan kondisi seperti:

  • Jarang atau bahkan tidak aktif bergerak.
  • Kelebihan berat badan atau obesitas.
  • Makan makanan kurang sehat.
  • Merokok.
  • Kolesterol tinggi.
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Diabetes.

Meski demikian, tidak memiliki risiko tidak berarti Anda bebas dari kemungkinan terkena penyakit arteri koroner. Anda perlu berkonsultasi dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Komplikasi

Apa komplikasi dari penyakit jantung koroner?

Menurut National Blood, Lung, and Blood Institute penyakit arteri koroner dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang masih berkaitan erat dengan kondisi kesehatan jantung. Berikut adalah beberapa komplikasi dari penyakit jantung koroner:

1. Nyeri dada (Angina)

Selain menjadi salah satu gejala dari penyakit arteri koroner, angina rupanya juga termasuk salah satu komplikasi yang mungkin terjadi. Pasalnya, saat pembuluh arteri di dalam tubuh menyempit, jantung Anda tidak menerima darah sesuai dengan kebutuhannya.

Hal ini dapat menyebabkan angina atau sesak napas. Kondisi ini biasanya muncul saat Anda sedang melakukan aktivitas fisik.

2. Serangan jantung

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, penyakit jantung koroner merupakan salah satu penyebab utama dari serangan jantung. Saat plak kolesterol yang terdapat pada pembuluh darah arteri pecah dan membentuk gumpalan darah, kemungkinan akan terjadi penyumbatan total pada pembuluh darah arteri.

Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya serangan jantung. Hal ini disebabkan saat penyumbatan terjadi, jantung tidak menerima darah yang kaya akan oksigen sesuai dengan kebutuhan. Terhambatnya aliran darah menuju jantung dapat menyebabkan kerusakan pada otot jantung.

Semakin cepat Anda segera mendapatkan penanganan terhadap serangan jantung, semakin kecil pula kerusakan yang terjadi pada otot jantung.

3. Gagal jantung

Penyakit jantung koroner juga dapat menyebabkan gagal jantung. Gagal jantung adalah kondisi di mana sebagian jantung Anda mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi lain yang tidak didapatkannya karena tersumbatnya pembuluh darah.

Gagal jantung juga bisa terjadi saat jantung Anda telah mengalami kerusakan akibat serangan jantung. Artinya, jantung Anda mungkin sudah tidak bisa berfungsi dengan baik untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

4. Gangguan ritme jantung

Komplikasi lain yang juga mungkin terjadi karena penyakit arteri koroner adalah gangguan ritme jantung atau bisa dikenal sebagai aritmia. Kondisi ini biasanya terjadi karena asupan darah menuju jantung tidak mencukupi kebutuhan.

Hal lain yang bisa menjadi penyebab terjadinya aritmia adalah adanya jaringan pada jantung yang  mengganggu impuls listrik jantung.

Diagnosis & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes diagnosis penyakit jantung koroner (PJK) di rumah sakit?

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh dokter atau ahli medis profesional untuk mendiagnosis penyakit arteri koroner, di antaranya:

1. Elektrokardiogram (EKG)

Pemeriksaan menggunaan elektrokardiogram merupakan salah satu cara yang bisa ditempuh untuk mendiagnosis penyakit jantung koroner. Alat ini berfungsi untuk merekam sinyal-sinyal listrik yang bergerak melalui jantung di dalam tubuh. EKG seringkali dapat mendiagnosis bukti serangan jantung sebelum terjadi atau yang sedang berlangsung.

2. Ekokardiogram

Ekokardiogram adalah tes untuk mendiagnosis kondisi penyakit arteri koroner. Alat ini menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar jantung Anda. Selama pemeriksaan menggunakan ekokardiogram, dokter Anda dapat menentukan apakah semua bagian jantung bekerja normal ketika memompa darah.

Dengan ekokardiogram, dokter dapat mengetahui beberapa bagian yang lemah dan mungkin rusak saat serangan jantung terjadi. Dokter juga bisa mendiagnosis beberapa kondisi penyakit jantung lainnya dengan alat ini.

3. Tes stres EKG

Jika gejala penyakit jantung koroner paling sering muncul saat Anda sedang berolahraga, dokter mungkin akan meminta Anda berjalan di atas treadmill atau mengendarai sepeda statis saat pemeriksaan menggunakan EKG.

Tes ini dikenal sebagai tes stres, dan pada beberapa kasus tertentu, dokter akan meminta Anda untuk menggunakan obat-obatan untuk menstimulasi jantung dalam tes stres sebagai ganti tes olahraga.

Sebagian tes stres dilakukan menggunakan ekokardiogram. Contohnya, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan menggunakan ultrasound sebelum dan sesudah Anda mencoba berjalan kaki di atas treadmill atau mengendarai sepeda statis.

Tes stres nuklir adalah tes lain yang dapat membantu mengukur seberapa banyak dan seberapa cepat aliran darah ke otot jantung Anda. ini dilakukan untuk mengetahui kondisi jantung saat Anda beristirahat atau sedang tidak melakukan apapun dan selama Anda stres.

4. Kateterisasi jantung dan angiogram

Untuk mengamati seberapa lancar aliran darah ke jantung Anda, dokter mungkin menyuntikkan zat pewarna khusus ke dalam pembuluh darah di jantung Anda. Tes ini dikenal sebagai angiogram.

Pewarna disuntikkan ke dalam arteri jantung melalui tabung (kateter) panjang, tipis, fleksibel melalui arteri.  Pada proses kateterisasi jantung, pewarna yang masuk tadi akan menguraikan bintik-bintik yang akan menampilkan adanya sumbatan pada tampilan gambar di layar.

Jika ditemukan adanya penyumbatan yang butuh perawatan, balon akan didorong melalui kateter dan dipompa untuk meningkatkan aliran darah di arteri koroner Anda.

5. CT scan jantung

Computerized Tomography atau CT Scan dapat membantu dokter Anda melihat deposit kalsium di arteri Anda. Kelebihan kalsium dapat mempersempit arteri sehingga ini dapat menjadi pertanda kemungkinan penyakit arteri koroner.

Selain itu, dokter juga dapat merekomendasikan prosedur  X-ray dan ultrasound untuk menyimpulkan kondisi Anda.

Apa saja pilihan pengobatan untuk penyakit jantung koroner (PJK)?

Beberapa obat yang digunakan untuk mengatasi penyakit arteri koroner adalah:

1. Obat-obatan penurun kolesterol

Obat penurun kolesterol dapat membantu mengurangi kadar kolesterol di dalam tubuh, sehingga mengurangi jumlah penumpukan lemak yang menempel pada pembuluh darah arteri.

Jenis obat-obatan penurun kolesterol yang dapat digunakan untuk mengatasi PJK adalah statin, niasin, dan juga fibrat.

2. Aspirin

Aspirin merupakan salah satu obat pengencer darah yang dapat membantu untuk melarutkan darah yang tersumbat. Selain itu, aspirin juga bisa mengurangi risiko stroke atau serangan jantung.

Namun, dalam beberapa kasus, aspirin mungkin bukan pilihan yang baik. Beri tahu dokter jika Anda menderita gangguan pembekuan darah. Di samping itu, pastikan bahwa penggunaan aspirin sudah disetujui oleh dokter. 

3. Beta blockers

Beta blockers dapat menurunkan tekanan darah dan mencegah risiko infark miokard.

4. Nitrogliserin

Nitrogliserin dan inhibitor enzim yang mengubah angiotensin juga dapat membantu mencegah risiko serangan jantung yang mungkin muncul saat mengalami penyakit jantung koroner.

5. Prosedur operasi

Selain penggunaan obat-obatan, Anda juga bisa menjalani prosedur operasi sebagai pengobatan terhadap penyakit arteri koroner ini. Beberapa di antaranya adalah:

  • Pemasangan stent atau ring jantung untuk memperlebar arteri koroner yang menyempit.
  • Bedah koroner seperti operasi bypass jantung adalah pengobatan yang paling umum untuk PJK.
  • Dokter juga dapat melakukan angioplasti jika diperlukan.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit jantung koroner (PJK)?

Untuk mengendalikan perkembangan penyakit arteri koroner, Anda perlu menerapkan pola hidup sehat, seperti:

1. Berhenti merokok

Merokok adalah salah satu penyebab utama terjadinya penyakit arteri koroner. Pasalnya, kandungan nikotin dalam rokok membuat pembuluh darah menyempit dan memaksa jantung untuk bekerja lebih keras.

Selain itu, karbon monoksida yang dihasilkan rokok mengurangi oksigen di dalam darah dan merusak dinding pembuluh darah. Oleh sebab itu, jika Anda seorang perokok, segera hentikan kebiasaan yang tidak sehat untuk jantung Anda ini.

2. Kontrol tekanan darah

Anda perlu mengontrol tekanan darah Anda setidaknya dua tahun sekali. Namun, jika dokter merasa bahwa tekanan darah Anda lebih tinggi dari angka normal, Anda mungkin disarankan untuk lebih sering melakukan pemeriksaan. Tekanan darah yang normal biasanya kurang dari 120 sistolik dan 80 diastolik mmHg.

3. Periksa kadar kolesterol di dalam tubuh

Periksakan kepada dokter mengenai kadar kolesterol Anda sejak saat masih berusia 20 tahun setidaknya selama lima tahun sekali. Jika hasil tes kolesterol Anda di luar batas normal, dokter akan menyarankan Anda untuk lebih sering melakukan pemeriksaan kolesterol.

4. Rutin berolahraga

Rutin berolahraga dapat membantu Anda untuk menjaga berat badan dan mengontrol kadar gula darah di dalam tubuh, mengontrol kadar kolesterol dalam darah, dan mengontrol tekanan darah. Semua hal tersebut adalah faktor risiko dari penyakit jantung koroner.

Atas izin dokter, Anda sebaiknya memaksimalkan kesempatan berolahraga sebanyak 150 menit dalam satu minggu. Anda boleh melakukan olahraga apa saja selama tidak melebihi batas kemampuan. Sebagai contoh, cobalah untuk berjalan kaki selama 30 menit sebanyak lima kali dalam seminggu.

5. Jaga pola makan yang sehat

Agar mengurangi risiko mengalami penyakit jantung koroner, Anda bisa mulai menerapkan pola makan sehat untuk jantung. Anda juga bisa menerapkan kebiasaan memasak yang sehat untuk jantung agar Anda dan anggota keluarga di rumah terhindar dari penyakit ini.

Makanan yang baik untuk kesehatan jantung termasuk makanan yang terbuat dari sayur-sayuran, buah, gandum, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Lalu, hindari makanan yang kaya akan lemak jenuh, kolesterol, dan natrium.

Pasalnya, makanan-makanan ini dapat meningkatkan berat badan Anda. Sementara, obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, termasuk PJK.

6. Kelola stres

Mengelola stres merupakan salah satu cara yang juga bisa Anda lakukan untuk mencegah terjadinya penyakit jantung, termasuk PJK. Lakukan cara yang sehat untuk dapat mengelola stres, misalnya relaksasi otot, yoga, dan menarik napas dalam-dalam.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

You are already subscribed to notifications.
Sumber

Coronary Artery Disease. Retrieved 29 May 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/coronary-artery-disease/symptoms-causes/syc-20350613

Coronary Heart Disease. Retrieved 29 May 2020, from https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/coronary-heart-disease

Coronary Heart Disease. Retrieved 29 May 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/coronary-heart-disease/

Coronary Heart Disease. Retrieved 29 May 2020, from https://www.bhf.org.uk/informationsupport/conditions/coronary-heart-disease

Coronary Heart Disease. Retrieved 29 May 2020, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/coronary-heart-disease

Yang juga perlu Anda baca

8 Cara Ampuh Mencegah Penyakit Jantung dan Kekambuhannya

Kabar baik, berbagai masalah jantung dapat Anda cegah. Cara mencegah penyakit jantung pun beragam. Apa saja tindakan pencegahan penyakit jantung?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Penyakit Jantung, Kesehatan Jantung 5 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

Saling Berkaitan, Ini Tips Cegah Hipertensi dan Atrial Fibrilasi

Hipertensi dan atrial fibrilasi berhubungan erat terhadap kualitas kesehatan. Cari tahu langkah cerdas bagaimana cara mencegah hipertensi dan dampaknya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Maria Amanda
Konten Bersponsor
Hipertensi, Kesehatan Jantung 30 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Cara Mudah Ukur Kebugaran Jantung dan Paru, Tak Perlu Periksa ke Rumah Sakit

Cepat lelah dan kehabisan napas bisa jadi tanda kebugaran jantung dan paru-paru Anda kurang baik. Tapi bagaimana cara mengukurnya? Simak di sini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Kebugaran, Hidup Sehat 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Diabetes Tipe 2

Diabetes tipe 2 adalah tingginya kadar gula darah karena berkurangnya kemampuan tubuh memakai insulin. Umumnya, ini terjadi karena gaya hidup tak sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Penyakit Diabetes, Diabetes Tipe 2 8 September 2020 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Syok Hipovolemik

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 24 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Bolehkah Ibu Hamil Makan Daging Kambing?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Kenapa Kita Tak Boleh Terlalu Banyak Makan Makanan Asin?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

5 Penyakit yang Banyak Menyerang Lansia di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 12 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit