Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Ini 4 Perbedaan Infeksi Virus Zika dan Demam Berdarah

Ini 4 Perbedaan Infeksi Virus Zika dan Demam Berdarah

Nyamuk tak hanya meninggalkan bekas bentol merah akibat gigitannya, namun juga risiko penyakit infeksi yang berbahaya. Salah satu penyakit yang ditularkan lewat gigitan nyamuk adalah demam Zika. Namun, sering kali penyakit ini sulit dibedakan dengan penyakit lain yang juga disebabkan oleh gigitan nyamuk, seperti demam berdarah (DBD). Agar Anda memiliki gambaran mengenai beda demam Zika dan demam berdarah, baca ulasannya berikut ini.

Apa beda demam Zika dan demam berdarah?

Zika adalah infeksi virus yang menular melalui gigitan nyamuk, khususnya yang tergolong dalam jenis Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

Nah, selain demam Zika, tahukah Anda penyakit lain yang bisa ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes? Ya, Anda mungkin lebih familiar dengan penyakit demam berdarah jika berbicara tentang nyamuk Aedes.

Demam berdarah dengue atau DBD juga merupakan infeksi virus yang disebabkan oleh gigitan nyamuk. Jika jenis nyamuk yang menyebabkan kedua penyakit tersebut sama, bagaimana cara membedakannya?

Untuk tahu lebih jelasnya mengenai beda demam Zika dan demam berdarah, simak ulasannya di bawah ini:

1. Gejala penyakit

Perbedaan yang cukup jelas menonjol antara infeksi virus Zika dan DBD adalah gejala yang ditimbulkan serta tingkat keparahannya.

Virus Zika sangat jarang menimbulkan gejala. Bahkan, menurut Mayo Clinic, sebanyak 4 dari 5 pasien demam Zika tidak mengalami gejala sama sekali. Bila terjadi keluhan, gejalanya cenderung ringan.

Demam yang timbul akibat infeksi virus Zika biasanya tidak lebih dari 38,5 derajat Celsius. Durasinya pun tidak berlangsung lama, biasanya setelah 1 minggu gejala akan mereda dan pasien kembali pulih.

Beda dengan Zika, demam berdarah ditandai dengan demam bersuhu tinggi dan lebih parah, yaitu sekitar 40 derajat Celsius. Ketika demam sudah turun, pasien justru berisiko memasuki fase DBD parah, bahkan sindrom syok dengue yang bisa berujung pada kematian.

Hal ini tentu berbeda dengan infeksi virus Zika yang jarang menimbulkan komplikasi dan sering kali membaik dalam waktu seminggu.

Ciri khas lain yang membuat infeksi virus Zika dan demam berdarah beda adalah munculnya gejala konjungtivitis. Konjungtivitis adalah peradangan konjungtiva, selaput bening yang melapisi bagian putih mata (sklera). Kondisi ini menyebabkan mata terlihat berair, memerah, serta terasa gatal.

Menurut studi yang tercantum di Emerging Infectious Diseases, konjungtivitis adalah gejala yang paling jelas dari infeksi virus Zika dan tidak terlihat di penyakit infeksi akibat gigitan nyamuk lainnya, seperti DBD.

2. Cara penularan

Meski sama-sama disebarkan melalui gigitan nyamuk Aedes, ternyata ada yang membedakan cara penularan virus Zika dan demam berdarah, lho.

Selain lewat gigitan nyamuk, virus Zika juga bisa ditularkan melalui hubungan intim dengan seseorang yang sudah terinfeksi virus sebelumnya. Virus tersebut bisa berpindah melalui hubungan intim, bahkan ketika pasangan yang terinfeksi virus tidak mengalami gejala demam Zika sama sekali.

Para ahli masih mencari tahu berapa lama virus Zika mampu bertahan hidup di dalam air mani dan cairan vagina. Satu yang pasti, virus Zika bisa hidup lebih lama di air mani dibanding dengan cairan tubuh lain, seperti darah dan urine.

Beda dengan virus Zika, risiko penularan virus demam berdarah melalui hubungan intim tergolong rendah, dan kasus kejadiannya pun sangat jarang ditemukan.

3. Kadar trombosit

Aspek lain yang membedakan infeksi virus Zika dan demam berdarah adalah kadar trombosit saat terserang penyakit.

Trombosit atau keping darah adalah bagian dari darah yang berperan dalam proses pembekuan darah. Jumlah trombosit normal berkisar antara 140.000-450.000 keping per mikroliter darah (mcL), baik pada anak-anak maupun orang dewasa.

Anda mungkin sudah tahu bahwa salah satu indikator yang menandakan seseorang terkena DBD adalah rendahnya kadar trombosit.

Biasanya, pasien demam berdarah memiliki kadar trombosit di bawah 140.000 mcL. Ini yang membuat pasien demam berdarah lebih berisiko mengalami perdarahan dalam, gagal fungsi organ, bahkan kematian.

Berbeda dengan DBD, infeksi virus Zika biasanya tidak diikuti dengan penurunan kadar trombosit. Pasien dengan demam Zika umumnya memiliki kadar trombosit yang normal dalam darahnya.

4. Bahaya dan komplikasi yang ditimbulkan

Satu lagi hal yang membuat infeksi virus Zika dan demam berdarah beda adalah komplikasi yang muncul akibat kedua penyakit tersebut.

Infeksi virus Zika diketahui berpotensi menyebabkan komplikasi berupa mikrosefali, yaitu kondisi ketika bayi terlahir dengan ukuran otak lebih kecil dan tulang tengkorak tidak sempurna.

Kelainan ini banyak ditemukan pada bayi yang dilahirkan dari ibu dengan infeksi virus Zika selama masa kehamilan. Sementara itu, mikrosefali sangat jarang ditemukan pada infeksi virus demam berdarah pada ibu hamil.

Itu dia beberapa hal yang membuat infeksi virus Zika dan demam berdarah beda, terlepas dari fakta bahwa kedua penyakit ini sama-sama ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes.

Jika Anda masih belum yakin apakah gejala-gejala yang Anda alami merupakan gejala infeksi Zika atau DBD, sebaiknya periksakan diri ke dokter terdekat.

Untuk mencegah penularan virus Zika dan demam berdarah, pastikan Anda menghindari gigitan nyamuk dengan menjaga kebersihan lingkungan rumah.

Selalu kenakan pakaian berlengan panjang dan oleskan losion antinyamuk dengan kandungan 10% DEET saat beraktivitas di luar ruangan di sore dan malam hari.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Zika Virus – CDC. (2020). Retrieved October 12, 2021, from https://www.cdc.gov/zika/symptoms/symptoms.html 

Dengue – CDC. (2020). Retrieved October 12, 2021, from https://www.cdc.gov/dengue/symptoms/index.html 

Zika virus infection and Zika fever: Frequently asked questions – Pan American Health Organization. (2016). Retrieved October 12, 2021, from https://www3.paho.org/hq/index.php?option=com_content&view=article&id=9183:2015-preguntas-frecuentes-virus-fiebre-zika&Itemid=41711&lang=en 

Penyakit Virus Zika (Zika Fever) – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). October 12, 2021, from https://infeksiemerging.kemkes.go.id/penyakit-virus/penyakit-virus-zika-zika-fever 

Zika virus – Mayo Clinic. (2021). Retrieved October 12, 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/zika-virus/symptoms-causes/syc-20353639 

Dengue fever – Mayo Clinic. (2020). Retrieved October 12, 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dengue-fever/symptoms-causes/syc-20353078 

Zika/Dengue/Chikungunya – Contra Costa HEalth Services. (2021). Retrieved October 12, 2021, from https://cchealth.org/mosquito-borne-illnesses/providers.php 

Alshammari, S. A., Alamri, Y. S., Rabhan, F. S., Alabdullah, A. A., Alsanie, N. A., Almarshad, F. A., & Alhaqbani, A. N. (2018). Overview of dengue and Zika virus similarity, what can we learn from the Saudi experience with dengue fever?. International journal of health sciences, 12(1), 77–82.

Yan, G., Pang, L., Cook, A. R., Ho, H. J., Win, M., Khoo, A….Chai, L. (2018). Distinguishing Zika and Dengue Viruses through Simple Clinical Assessment, Singapore. Emerging Infectious Diseases, 24(8), 1565-1568. https://doi.org/10.3201/eid2408.171883 

Watts, SA., Ocampo, CJ. (2019). Dermatological Manifestations in Dengue, Zika and Chikungunya. Dermatología Cosmética, Médica y Quirúrgica.

Grobusch, M. P., van der Fluit, K. S., Stijnis, C., De Pijper, C. A., Hanscheid, T., Gautret, P., Schlagenhauf, P., & Goorhuis, A. (2020). Can dengue virus be sexually transmitted?. Travel medicine and infectious disease, 38, 101753. https://doi.org/10.1016/j.tmaid.2020.101753

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. Diperbarui 22/10/2021