Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

3 Fase yang Dilalui Selama Sakit Demam Berdarah (DBD)

3 Fase yang Dilalui Selama Sakit Demam Berdarah (DBD)

Memasuki pergantian musim dari kemarau ke hujan atau sebaliknya, cuaca umumnya jadi tidak menentu. Selama musim pancaroba inilah penyakit demam berdarah dengue alias DBD biasanya banyak terjadi. Demam berdarah itu sendiri terjadi dalam beberapa fase kemunculan penyakit. Apa yang harus diketahui soal siklus atau fase demam berdarah?

Proses terjadinya demam berdarah (DBD)

demam berdarah dbd

Penularan demam berdarah atau DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes albopictus. Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua nyamuk Aedes pasti membawa virus dengue.

Hanya nyamuk Aedes betina yang pernah terinfeksi virus dengue yang bisa menularkan virus tersebut ke manusia.

Merangkum penjelasan dari Centre for Health Protection, seekor nyamuk Aedes betina dapat terinfeksi virus apabila nyamuk itu sebelumnya mengisap darah manusia yang sedang mengalami demam akut.

Demam akut dapat mulai terjadi sejak dua hari sebelum suhu tubuh naik sampai 5 hari setelah gejala demam terasa pertama kali. Ini juga lumrah disebut dengan viremia, kondisi akibat adanya kadar virus tinggi dalam tubuh.

Virus itu kemudian akan mendekam dulu dalam tubuh nyamuk yang sehat itu selama 12 hari sesudahnya. Proses ini disebut juga sebagai masa inkubasi.

Setelah fase atau masa inkubasi virus DBD selesai, artinya virus sudah aktif dan nyamuk dapat mulai bisa menularkan penyakit demam berdarah ke manusia lewat gigitannya.

Apabila nyamuk pembawa virus itu menggigit manusia, virusnya akan masuk dan mengalir dalam darah manusia kemudian mulai menginfeksi sel-sel tubuh yang sehat.

Ketika tubuh mendeteksi kedatangan virus tersebut, sistem imun akan langsung menghasilkan antibodi khusus yang bekerja sama dengan sel darah putih untuk melawannya.

Respons imun juga mencakup pelepasan sel T sitotoksik (limfosit) untuk mengenali dan membunuh sel tubuh yang terinfeksi.

Keseluruhan proses ini adalah masa inkubasi demam berdarah pada tubuh manusia, yang kemudian diakhiri dengan munculnya berbagai gejala DBD.

Gejala biasanya mulai muncul sekitar empat hingga 15 hari masa inkubasi, setelah gigitan nyamuk pembawa virus DBD pertama kalinya.

Fase yang harus dilewati selama sakit demam berdarah (DBD)

Orang yang sakit demam berdarah atau DBD biasanya melalui tiga fase penyakit, sejak kemunculan gejala pertama kali sampai benar-benar sembuh.

Siklus DBD ini menandakan bahwa tubuh Anda sedang berperang melawan virus dengue yang dibawa oleh nyamuk.

Fase penyakit demam berdarah sering juga disebut sebagai Siklus Pelana Kuda.

Disebut demikian karena ketika digambarkan, laju perkembangan penyakitnya terlihat tinggi-rendah-tinggi yang mirip seperti alas duduk orang berkuda.

Berikut adalah penjelasan dari fase atau siklus demam berdarah (DBD) yang harus Anda ketahui.

1. Fase demam

Fase demam adalah fase pertama demam berdarah yang terjadi segera setelah virus mulai menginfeksi.

Gejala paling khas yang muncul pada fase ini adalah demam tinggi lebih dari 40 derajat Celsius yang muncul tiba-tiba. Demam tinggi biasanya berlangsung selama 2-7 hari.

Gejala yang harus diperhatikan selama fase awal

Berbarengan dengan demam tinggi, gejala DBD pada fase pertama sering meliputi munculnya ruam kemerahan khas demam berdarah pada sekujur badan dan kulit wajah.

Di fase ini akan muncul juga keluhan nyeri persendian dan otot di seluruh tubuh serta sakit kepala.

Pada beberapa kasus ditemukan gejala berupa nyeri dan infeksi tenggorokan, sakit di sekitar bola mata, penurunan nafsu makan, hingga mual dan muntah.

Gejala-gejala awal inilah yang menyebabkan penurunan jumlah sel darah putih dan trombosit yang akan mengarahkan dokter pada diagnosis demam berdarah.

Apabila demam berlangsung selama lebih dari 10 hari, kemungkinan demam tersebut bukanlah karena demam berdarah.

Sementara pada anak kecil yang terkena DBD, fase demam berdarah di awal dapat ditandai dengan dengan kejang dan demam tinggi. Anak juga mungkin akan mengalami dehidrasi.

Dibanding orang dewasa, anak-anak cenderung lebih mudah kurang cairan saat demam tinggi.

Hal yang bisa dilakukan selama fase demam berdarah awal

Berbagai gejala DBD awal dapat membuat penderita kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari. Kebanyakan orang mungkin jadi harus cuti sakit atau absen sekolah karena badan terasa sangat lemah.

Maka selama fase pertama ini, pasien demam berdarah dianjurkan untuk memperbanyak minum air putih.

Mencukupi kebutuhan cairan tubuh dapat membantu menurunkan demam dan mencegah terjadinya dehidrasi.

Ketika demam cepat mereda kemungkinan besar berarti penyakit demam berdarahnya tidak begitu parah.

Namun, pasien juga harus terus dipantau karena fase DBD yang satu ini rentan beralih menjadi fase kritis.

2. Fase kritis

Setelah melewati fase demam, orang yang sakit demam berdarah rentan mengalami fase kritis yang sering kali mengecoh.

Fase kritis disebut mengecoh karena di tahap ini demam akan turun drastis hingga ke suhu tubuh normal (sekitar 37 derajat Celcius) sehingga penderita merasa sudah sembuh.

Beberapa orang bahkan ada yang sudah kembali beraktivitas seperti biasa.

Padahal, justru di fase inilah kondisi Anda bisa berubah fatal jika menghentikan pengobatannya. Jika fase ini diabaikan dan tidak ditangani dengan tepat, trombosit darah akan semakin turun.

Penurunan trombosit secara drastis dapat menyebabkan perdarahan yang terlambat disadari.

Gejala yang harus diperhatikan selama fase kritis

Selama masa peralihan dari fase demam ke kritis, pasien akan berisiko tinggi untuk mengalami kebocoran plasma darah dari pembuluh, kerusakan organ tubuh, dan perdarahan hebat.

Dalam 3 sampai 7 hari pertama setelah lewat dari fase demam, pasien DBD sangat berisiko mengalami kebocoran pembuluh. Mulai dari sinilah tandanya Anda sudah memasuki fase demam berdarah kritis.

Gejala kebocoran pembuluh darah pada fase demam berdarah ini dapat dilihat secara jelas.

Tanda-tandanya, penderita demam berdarah bisa terus-menerus mimisan dan muntah-muntah, hingga merasakan sakit perut yang tidak tertahankan.

Pemeriksaan di laboratorium juga menunjukkan pasien mengalami pembesaran organ hati.

Perlu diketahui juga bahwa fase kritis juga bisa terjadi tanpa kebocoran plasma yang disertai perdarahan luar.

Jadi meski dari tampak luar Anda tidak mengeluarkan darah, sebetulnya tubuh Anda sedang mengalami perdarahan internal yang lebih parah.

Hal yang bisa dilakukan selama fase kritis demam berdarah

Orang yang sedang berada di tahap atau siklus ini sebetulnya harus tetap melanjutkan pengobatan DBD meski tampak sehat. Pasalnya, kondisi tubuh orang tersebut belum sembuh sepenuhnya.

Jika tidak segera mendapatkan pengobatan, trombosit pasien akan terus menurun secara drastis dan dapat mengakibatkan perdarahan yang sering tidak disadari.

Oleh sebab itu, cara satu-satunya untuk melewati siklus atau masa kritis DBD adalah mendapatkan penanganan medis sesegera mungkin.

Pasien harus cepat ditangani oleh tim medis karena fase kritis ini berlangsung tidak lebih dari 24-38 jam.

3. Fase penyembuhan

Apabila pasien demam berdarah sudah berhasil melewati fase kritis, ia umumnya akan kembali mengalami demam.

Namun, hal ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Fase ini justru merupakan tanda-tanda bahwa pasien demam berdarah mulai sembuh.

Pasalnya, seiring dengan naiknya suhu tubuh, trombosit juga akan perlahan ikut naik ke taraf normal. Cairan tubuh yang tadinya turun selama dua fase pertama juga pelan-pelan mulai kembali normal pada 48-72 jam setelahnya.

Masa penyembuhan demam berdarah juga dapat dilihat dari peningkatan nafsu makan, sakit perut yang mereda, serta rutinitas berkemih yang juga kembali normal.

Secara umum, orang yang sakit DBD bisa dikatakan akan sembuh jika jumlah trombosit dan sel darah putihnya kembali normal setelah dilihat melalui tes darah khusus DBD.

Waktu yang umumnya dibutuhkan bagi pasien demam berdarah untuk sembuh sepenuhnya adalah 1 minggu.

Perawatan selama berlangsungnya siklus demam berdarah

Hal paling pertama dan paling penting untuk dilakukan adalah segera ke dokter begitu merasakan gejala-gejala siklus awal DBD.

Dokter nantinya akan mendiagnosis seberapa parah kondisi DBD Anda, dan menentukan harus diopname di rumah sakit atau istirahat di rumah saja.

Sepanjang siklus atau fase demam berdarah, Anda juga wajib mengonsumsi banyak cairan. Cairan yang dikonsumsi tidak hanya dapat diperoleh dari air mineral saja, tetapi dari buah atau sayur, makanan berkuah lain, hingga cairan elektrolit.

Di awal siklus demam berdarah, cairan elektrolit baik diminum untuk mencegah kebocoran plasma yang menjadi risiko fase kritis. Contoh minuman yang mengandung elektrolit adalah minuman isotonik, susu, oralit, dan jus buah.

Selain itu, Anda juga dapat mengonsumsi makanan yang direkomendasikan untuk pasien DBD.

Asupan makanan dan minuman yang tepat sangatlah penting, terutama sebelum dan selama fase demam berdarah telanjur kritis, salah satunya adalah dengan mengonsumsi jambu biji merah.

Jambu biji merah mengandung trombinol yang mampu merangsang tubuh bekerja lebih aktif menghasilkan lebih banyak keping darah sehat. Ini bertujuan untuk memicu pembentukan platelet atau trombosit darah baru.

Namun karena pasien yang sedang dalam siklus DBD perlu asupan yang mudah dicerna, maka sebaiknya jambu biji merah diolah menjadi jus.

Kandungan air dalam jus juga baik untuk mencegah dehidrasi sehingga dapat mempercepat penyembuhan demam berdarah.

Selama perawatan sepanjang tiap fase demam berdarah, pasien juga diwajibkan beristirahat total untuk mempercepat pemulihan tubuh.

Istirahat berbaring di tempat tidur, minum obat pereda nyeri, dan minum cairan dan makanan penambah trombosit bisa menghindari komplikasi parah dari DBD.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

About Dengue – CDC. (2019). Retrieved November 11, 2020, from https://www.cdc.gov/dengue/about/index.html 

Through Mosquito Bites – CDC. (2019). Retrieved November 11, 2020, from https://www.cdc.gov/dengue/transmission/index.html

Testing Guidance – CDC. (2019). Retrieved November 11, 2020, from https://www.cdc.gov/dengue/healthcare-providers/testing/testing-guidance.html 

Clinical Presentation – CDC. (2019). Retrieved November 11, 2020, from https://www.cdc.gov/dengue/healthcare-providers/clinical-presentation.html 

Clinical diagnosis – WHO. (n.d.). Retrieved November 11, 2020, from https://www.who.int/csr/resources/publications/dengue/012-23.pdf 

Demam Berdarah – Centre for Health Protection. (2016). Retrieved November 11, 2020, from https://www.chp.gov.hk/files/pdf/df_factsheet_indonesian_tc.pdf 

Symptoms and Treatment – CDC. (2019). Retrieved November 11, 2020, from https://www.cdc.gov/dengue/symptoms/index.html 

Aedes aegypti – Factsheet for experts – European Centre for Disease Prevention and Control. (2016). Retrieved November 11, 2020, from https://www.ecdc.europa.eu/en/disease-vectors/facts/mosquito-factsheets/aedes-aegypti 

Schaefer, T. & Wolford, R. W. (2019). Dengue Fever, StatPearl Publishing.

Kalayanarooj S. (2011). Clinical Manifestations and Management of Dengue/DHF/DSS. Tropical medicine and health, 39(4 Suppl), 83–87. https://doi.org/10.2149/tmh.2011-S10 

Bhaskar, E., Praveena, R., Sowmya, G., & Moorthy, S. (2013). Categorization of dengue fever according to phase of illness—a suggestion for clinical studies using single diagnostic sample. The Brazilian Journal Of Infectious Diseases, 17(5), 622-623. https://doi.org/10.1016/j.bjid.2013.05.003

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri Diperbarui 17/05/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri