Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

6 Jenis Penyakit yang Paling Sering Menular Lewat Gigitan Nyamuk

6 Jenis Penyakit yang Paling Sering Menular Lewat Gigitan Nyamuk

Demam berdarah dengue (DBD) mungkin adalah yang pertama kali terlintas di benak Anda ketika membicarakan soal penyakit menular lewat gigitan nyamuk. Namun, ternyata bukan hanya DBD yang bisa menular lewat perantara nyamuk nakal. Untuk tahu apa saja jenis-jenis penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk dan bahayanya, simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Jenis-jenis penyakit di Indonesia yang menular lewat gigitan nyamuk dan bahayanya

Keberadaan nyamuk memang sering kali membuat Anda sebal, belum lagi jika harus merasakan gatal-gatal setelah digigit nyamuk. Di balik bentol bekas digigit nyamuk itu, ada juga penyakit infeksi yang berisiko ditularkan ke tubuh Anda, lho.

Supaya Anda lebih waspada, berikut adalah beberapa penyakit di Indonesia yang disebabkan oleh gigitan nyamuk, selain demam berdarah dengue:

1. Chikungunya

Chikungunya adalah penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya, yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus.

Ya, bahayanya digigit nyamuk jenis Aedes memang tidak hanya menimbulkan DBD, namun juga penyakit chikungunya.

Ciri-ciri jika Anda terserang infeksi chikungunya lewat nyamuk ini pun mirip dengan gejala DBD, mulai dari demam, menggigil, sakit kepala, dan bintik kemerahan yang menyebar di kulit.

Namun, umumnya yang membedakan adalah adanya rasa nyeri di persendian tubuh. Orang yang sakit chikungunya lebih rentan mengalami nyeri sendi di bagian lutut dan siku.

Hingga saat ini, belum ada obat tertentu atau vaksinasi yang tersedia untuk mengatasi chikungunya. Tetapi, orang yang pernah terinfeksi chikungunya dan sudah sembuh biasanya tidak akan terkena penyakit ini lagi di lain waktu.

2. Demam kuning (yellow fever)

Selain chikungunya, ada pula yellow fever atau biasa dikenal sebagai demam kuning. Penyakit ini biasanya dibawa dan ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes atau Haemagogus.

Biasanya, orang yang terkena demam kuning akan merasakan demam, sakit kepala, dan nyeri otot.

Sesuai dengan kata “kuning” pada nama penyakit ini, lama-lama infeksi akan menyebabkan kulit berubah warna kuning dan beberapa organ tubuh gagal berfungsi setelah Anda digigit nyamuk.

3. Malaria

Malaria adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh parasit dari gigitan nyamuk Anopheles, dan bahayanya pun cukup serius seperti penyakit infeksi lainnya.

Jika Anda digigit nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi, parasit Plasmodium penyebab malaria dapat dilepaskan ke dalam aliran darah Anda.

Infeksi gigitan nyamuk ini kemudian menyebabkan tubuh terus menggigil dan muncul demam yang umumnya berlangsung selama 2-3 hari. Jika berkembang parah tanpa diobati, malaria dapat menyebabkan koma.

4. Kaki gajah (filariasis)

Penyakit kaki gajah atau filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria seperti Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori.

Nah, cacing-cacing tersebut bisa terbawa oleh nyamuk jenis Culex, Anopheles, Mansonia, dan Aedes, dan ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk-nyamuk tadi.

Penyakit kaki gajah bisa berlangsung dalam waktu yang lama, bahkan hingga bertahun-tahun.

Jika tak segera diobati, infeksi gigitan nyamuk ini dapat menyebabkan demam, hingga pembengkakan kelenjar getah bening.

Tak hanya itu, tungkai kaki, lengan, buah dada, dan buah zakar bisa ikut membengkak dan terlihat agak kemerahan serta terasa panas.

Untungnya, sudah ada prosedur operasi yang dapat dilakukan untuk mengurangi pembengkakan di beberapa bagian tubuh.

5. Zika

Beberapa tahun belakangan ini, dunia digemparkan oleh bahayanya virus zika yang menular lewat gigitan nyamuk jenis Aedes aegypti. Virus zika sendiri bukan merupakan sebuah penyakit yang baru. Virus ini pertama kali ditemukan di Nigeria pada 1953.

Hanya 1 dari 5 orang yang terinfeksi zika menunjukkan gejala-gejala, antara lain demam, kulit berbintik merah, nyeri sendi, dan terjadi peradangan konjungtiva.

Pada beberapa kasus zika, dilaporkan terjadi gangguan saraf dan komplikasi autoimun.

Beberapa laporan kasus menyatakan virus zika bisa ditularkan dari ibu ke janin dalam kandungan, atau lewat hubungan seksual.

Zika dapat menyebabkan cacat lahir pada janin, seperti mikrosepalus (kepala bayi lebih kecil daripada ukuran tubuh akibat kelainan saraf).

6. Japanese encephalitis

Japanese encephalitis adalah penyakit radang otak akibat virus golongan flavivirus yang menular lewat gigitan nyamuk Culex, terutama Culex tritaeniorhynchus. Kejadian penyakit Japanese encephalitis pada manusia biasanya meningkat pada musim penghujan.

Sebagian besar penderita Japanese encephalitis hanya menunjukkan gejala yang ringan atau bahkan tidak bergejala sama sekali. Gejala dapat muncul 5-15 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi virus.

Gejala awal yang muncul dapat berupa demam, menggigil, sakit kepala, lemah, mual, dan muntah. Pada anak, infeksi Japanese encephalitis umumnya menyebabkan kejang.

Menurut data dari WHO, meski umumnya penyakit ini jarang menimbulkan gejala-gejala dan bersifat ringan, kasus kejadian Japanese encephalitis yang tergolong fatal mencapai 30%. Ini artinya, risiko untuk penyakit ini berkembang semakin parah cukup tinggi.

Sayangnya, hingga saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan penyakit ini. Pengobatan yang ada hanya berfokus pada meringankan gejala-gejala infeksi.

Bagaimana cara menghindari penyakit lewat gigitan nyamuk?

Banyak jenis penyakit menular lewat gigitan nyamuk yang bahayanya cukup parah, bahkan berisiko menyebabkan kematian.

Oleh karena itu, cara yang paling tepat untuk mencegah risiko tersebut adalah dengan menghindari gigitan nyamuk. Mulai dari melindungi diri sendiri hingga menjaga kebersihan lingkungan, berikut beberapa cara yang bisa Anda coba agar tidak digigit nyamuk.

  • Lakukan 3M (menguras, menutup dan mengubur genangan air). Hindari dan jauhkan segala bentuk genangan berair yang bisa menjadi sarang nyamuk untuk berkembang biak
  • Jaga kebersihan. Upayakan rumah Anda bebas dari tumpukan sampah yang berbau dan jaga lingkungan agar selalu bersih.
  • Jauhi dan hindari wilayah persebaran nyamuk. Jika Anda sedang berada atau akan berkunjung ke daerah yang banyak nyamuknya, gunakan lotion pengusir nyamuk tiap saat. Pakai krim anti nyamuk yang mengandung bahan aktif Deet sebanyak 10–30 persen.
  • Gunakan pendingin atau kipas angin saat tidur. Nyamuk pada dasarnya sulit terbang ketika ada angin yang berhembus. Ini adalah suatu trik yang bisa menghindari Anda dari gigitan nyamuk. Nyalakan kipas angin ataupun air conditioning saat sedang tidur, agar nyamuk enggan mendekat.
  • Ajukan permintaan fogging di lingkungan rumah Anda pada ketua

Selain nyamuk, ini jenis-jenis penyakit akibat gigitan serangga lain

Selain melalui gigitan nyamuk, terdapat pula beberapa jenis penyakit infeksi dari gigitan serangga lain dan sama bahayanya.

Salah satunya adalah penyakit dari kontak langsung atau tidak langsung dengan lalat. Lalat memang sudah identik dengan lingkungan yang kotor dan kurang terawat. Tak mengherankan ada berbagai penyakit yang dapat dibawa lalat dan ditularkan ke manusia.

Berikut adalah jenis-jenis penyakit yang perlu Anda waspadai karena bisa ditularkan melalui lalat:

Tak hanya lalat, kutu juga tergolong serangga yang bisa menyebarkan penyakit, baik melalui gigitannya maupun hanya dengan kontak fisik. Berikut adalah penyakit infeksi yang bisa terjadi akibat penularan dari kutu:

Dengan mengetahui daftar penyakit yang disebabkan oleh nyamuk, Anda bisa lebih menjaga kesehatan diri sendiri dan orang sekitar secara optimal.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Yellow fever – WHO. (2019). Retrieved November 27, 2020, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/yellow-fever 

Malaria – WHO. (2020). Retrieved November 27, 2020, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/malaria 

Zika virus – WHO. (2018). Retrieved November 27, 2020, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/zika-virus 

Japanese encephalitis – WHO. (2019). Retrieved November 27, 2020, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/japanese-encephalitis 

Chapter 6: Houseflies – WHO. (n.d.). Retrieved November 27, 2020, from https://www.who.int/water_sanitation_health/resources/vector302to323.pdf 

Filariasis – National Organization for Rare Disorders. (n.d.). Retrieved November 27, 2020, from https://rarediseases.org/rare-diseases/filariasis/#:~:text=Filariasis%20is%20an%20infectious%20tropical,the%20bite%20of%20a%20mosquito.  

Chikungunya Virus – CDC. (). Retrieved November 27, 2020, from https://www.cdc.gov/chikungunya/symptoms/index.html 

Prevent Mosquito Bites – CDC. (). Retrieved November 27, 2020, from https://www.cdc.gov/ncezid/dvbd/media/stopmosquitoes.html?CDC_AA_refVal=https%3A%2F%2Fwww.cdc.gov%2Ffeatures%2Fstopmosquitoes%2Findex.html 

Diseases Caused by Insects – Smithsonian. (n.d.). Retrieved November 27, 2020, from https://www.si.edu/spotlight/buginfo/diseases 

Mosquito-Borne Diseases – American Mosquito Control. (n.d.). Retrieved November 27, 2020, from https://www.mosquito.org/page/diseases 

Diaz, J. (2010). Mite‐Transmitted Dermatoses and Infectious Diseases in Returning Travelers. Journal Of Travel Medicine, 17(1), 21-31. https://doi.org/10.1111/j.1708-8305.2009.00352.x

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Novita Joseph Diperbarui 13/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x