5 Komplikasi yang Bisa Terjadi Jika Cacar Air Tidak Diobati Sampai Tuntas

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15/11/2019
Bagikan sekarang

Penyakit cacar air adalah penyakit menular yang bisa menyebar dengan mudah dan cepat. Cacar air bisa berakibat serius pada bayi, anak-anak, dan orang dewasa yang belum pernah divaksin serta orang-orang yang sistem kekebalan tubuhnya sedang lemah. Oleh karena itu, cacar air tidak bisa disepelekan dan harus segera mendapatkan penanganan medis yang tepat agar terhindar dari risiko komplikasi.

Apa akibatnya jika penyakit cacar air tidak diobati?

Berikut ini adalah lima komplikasi penyakit cacar air yang perlu diwaspadai.

1. Herpes zoster

Cacar air dan herpes zoster disebabkan oleh virus yang sama, yaitu varicella zoster. Setelah seseorang terinfeksi cacar air, virus tersebut tidak sepenuhnya tersingkir dari tubuh. Sebaliknya, varicella akan “tertidur” dalam tubuh selama bertahun-tahun.

Jika di kemudian hari kekebalan tubuh Anda menurun lagi, virus cacar air yang sebelumnya mati bisa hidup kembali dan menyebabkan herpes zoster. Herpes zoster ditandai dengan bintik-bintik merah khas cacar air yang memanjang di bagian tubuh tertentu. Umumnya, herpes zoster menginfeksi orang yang berusia di atas 50 tahun.

                                                                 Herpes zoster Sumber: https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/shingles/picture-of-shingles-herpes-zoster

2. Infeksi bakteri

Cacar air yang tidak terobati sepenuhnya dapat menyebabkan infeksi bakteri susulan. Infeksi sekunder ini biasanya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes. Kedua bakteri ini dapat menyebabkan impetigo atau selulitis.

Impetigo adalah infeksi kulit yang sangat menular. Bintik-bintik akibat impetigo terasa sakit dan memerah. Bakteri ini biasanya menginfeksi wajah (berkerumun di sekitar hidung dan mulut), dan di tangan serta kaki. Setelah pecah, area kulit yang terinfeksi dapat mengeluarkan cairan dan mengerak warna coklat kekuningan. Umumnya infeksi ini terjadi pada anak usia 2-5 tahun.

                                     Impetigo Sumber: https://www.healthline.com/health/impetigo

Sementara itu, selulitis merupakan infeksi kulit yang menyerang jaringan lunak yang berada di bawahnya. Selulitis menyebabkan kulit membengkak merah dan terasa panas yang bisa menyebar dengan cepat. Selulitis juga bisa menyebar ke kelenjar getah bening dan aliran darah.

Kedua infeksi bakteri ini dapat diobati dengan antibiotik. Namun tetap ada risiko bakteri masuk ke dalam aliran darah, sehingga menyebabkan suatu kondisi yang disebut bakterimia. Bakterimia dapat menyebabkan pneumonia, radang selaput otak (meningitis), radang sendi (artritis), hingga kematian.

Sumber: https://emedicine.medscape.com/article/214222-overview

3. Komplikasi pernapasan

Penyakit cacar air yang dibiarkan meradang tanpa pengobatan memadai dapat menyebabkan pneumonia viral. pasalnya, virus cacar dapat masuk ke dalam aliran darah dan kemudian menginfeksi paru-paru. Pneumonia viral merupakan penyebab utama kematian pada orang dewasa yang terkait komplikasi cacar air.

Adapun faktor risikonya meliputi:

  • Terkena cacar air pada usia tua
  • Ruam dengan jumlah bintik yang lebih banyak.
  • Sistem kekebalan tubuh lemah
  • Terkena cacar saat hamil, terutama pada trimester ketiga
  • Merokok

4. Komplikasi hati

Komplikasi lainnya dari penyakit cacar air yang gagal diobati sepenuhnya ialah peradangan hati atau hepatitis. Kondisi ini biasanya tidak menimbulkan gejala dan akan membaik dengan sendirinya. Namun, dalam beberapa kasus komplikasi bisa berujung pada sindrom Reye. Kondisi ini berpotensi mengancam jiwa, terutama karena pemberian aspirin selama terinfeksi virus. Untuk itu, hindari pemberian aspirin pada pengidap cacar air.

5. Komplikasi sistem saraf

Ataksia dapat menjadi komplikasi cacar air serius. Ataksia meyerang sistem saraf otak sehingga menyebabkan demam, kesulitan berjalan, dan gangguan bicara. Gejala bisa bertahan hingga berminggu-minggu, tetapi biasanya akan sembuh dengan sendirinya.

Komplikasi lainnya ialah varicella meningoencephallitis. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan kewaspadaan mendadak, sakit kepala, kejang, sensitivitas terhadap cahaya, dan nyeri leher. Kondisi ini cenderung memengaruhi orang yang sistem kekebalan tubuhnya terganggu, temasuk orang yang terinfeksi HIV.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Empiema

Empiema adalah kantong nanah yang berkembang di ruang pleura. Umumnya, kondisi ini disebabkan oleh pneumonia. Bagaimana cara mengobatinya?

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin

Pneumonia Aspirasi

Pneumonia aspirasi adalah peradangan pada paru-paru akibat menghirup makanan, minuman, muntah, atau air liur ke paru-paru Anda.

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin

4 Resep Membuat Bakwan di Rumah yang Enak Tapi Sehat

Bakwan―gorengan khas Indonesia ini memang enak dan gurih. Walaupun digoreng, Anda bisa membuat bakwan lebih sehat. Simak resep membuat bakwan sehat berikut.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Nutrisi, Hidup Sehat 28/05/2020

Beragam Komplikasi Pneumonia yang Perlu Diwaspadai

Pneumonia dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang mengancam jiwa. Meskipun begitu, pneumonia merupakan kondisi yang bisa dirawat hingga sembuh.

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin

Direkomendasikan untuk Anda

vaksin pneumonia

Berbagai Vaksin yang Bisa Mencegah Pneumonia

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 04/06/2020
makan di luar rumah saat pandemi

Amankah Makan di Luar Rumah di Tengah Pandemi?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 02/06/2020
sakit tangan main hp

Mengatasi Sakit Tangan Akibat Terlalu Sering Main HP

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 01/06/2020
pleuropneumonia

Mengenal Pleuropneumonia, Peradangan pada Paru-Paru dan Pleura

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020