Mulai Usia Ini, Pria Wajib Konsultasi ke Dokter Urologi Secara Berkala

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 30/10/2018 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Seiring bertambahnya usia, pria rentan terkena berbagai penyakit yang berhubungan dengan organ kemih dan reproduksi. Terlebih jika Anda aktif berhubungan seks. Rutin konsultasi ke dokter urologi dapat mendeteksi dini risiko penyakit kelamin dan mencegah perkembangannya semakin parah. Nah, kira-kira kapan pria harus mulai sering membuat janji temu ke ahli urologi? Cari tahu lewat ulasan berikut.

Apa itu dokter urologi?

Ahli urologi adalah dokter spesialis yang menangani penyakit saluran kemih dan sistem reproduksi pria dan wanita.

Anda biasanya akan dirujuk ke dokter urologi jika Anda mengalami masalah kesehatan yang berkaitan dengan kandung kemih, uretra, ureter, ginjal, kelenjar adrenal, serta organ reproduksi laki-laki seperti penis, prostat, vesikula seminalis, dan testis.

Kapan pria harus rutin konsultasi ke dokter urologi?

Granuloma Inguinale adalah

Berbeda dengan wanita yang harus rutin ke dokter kandungan sejak remaja, pria sebetulnya tak perlu buru-buru memeriksakan kesehatan organ kemih dan reproduksinya sejak usia remaja.

Seorang ahli urologi dari Cleveland Clinic, Bradley Gill, MD, mengungkapkan bahwa pria dianjurkan untuk rutin periksa ke dokter urologi mulai usia 40 tahun. Di usia ini, daya tahan tubuh pria cenderung menurun sehingga rentan terserang penyakit yang berhubungan dengan saluran kemih dan organ reproduksi.

Terlebih lagi, pria yang sudah aktif secara seksual akan sangat rentan terkena penyakit kelamin. Itulah kenapa, semakin bertambahnya usia, Anda dianjurkan untuk rutin konsultasi ke dokter urologi.

Daftar penyakit yang ditangani oleh dokter urologi

urosepsis adalah

Penyebab yang paling umum dari masalah kandung kemih pada pria disebabkan oleh virus atau bakteri yang terbawa saat berhubungan seksual. Jika Anda mengalami salah satu penyakit ini, maka segera kunjungi ahli urologi terdekat.

1. Infeksi saluran kencing

Meski lebih sering dialami oleh wanita, pria juga rentan terkena infeksi saluran kencing menjelang usia 40 tahun. Kondisi ini terjadi ketika ada bakteri yang masuk ke uretra alias saluran kencing. Jika Anda mengalami gejala infeksi saluran kencing yang meliputi sakit saat buang air kecil, inkontinensia urine, mual, muntah, demam, dan menggigil, maka segera periksakan diri ke dokter urologi.

2. Masalah kesuburan

Hati-hati karena masalah kesuburan juga mengintai para pria usia 40 tahun ke atas. Kondisi ini umumnya terjadi akibat pembesaran pembuluh vena pada kantung di bawah penis atau disebut juga dengan varikokel.

Akibatnya, saluran reproduksi Anda dapat mengalami kerusakan dan kesehatan sperma pun ikut bermasalah. Maka tak heran jika pria usia 40 tahun ke atas sering mengalami masalah kesuburan.

3. Pembesaran prostat

Menjelang usia 40 tahun ke atas, prostat cenderung mengalami pembesaran sehingga membuat para pria mengalami kesulitan saat buang air kecil. Ini pula yang membuat pria sering bolak-balik ke kamar mandi di siang dan malam hari.

Pada dasarnya, pembesaran prostat dapat diobati dengan obat-obatan untuk meredakan gejala atau bahkan menyusutkan prostat. Prosedur operasi juga dapat dilakukan untuk mengangkat bagian prostat yang bermasalah, tergantung dari keparahan penyakitnya.

4. Disfungsi ereksi

Kadang, masalah disfungsi ereksi dan penurunan libido dapat dialami oleh pria usia 40 sampai 50 tahun. Jika Anda mengalami masalah ini, segera konsultasikan ke ahli urologi terdekat.

Dokter akan melakukan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar hormon seks dalam tubuh Anda. Jika hormon testosteron Anda cukup rendah, maka dokter akan meresepkan viagra atau obat pengganti testosteron lainnya untuk membantu meningkatkan aliran darah ke penis.

5. Kanker prostat

Memasuki usia 40 tahun, Anda dianjurkan untuk rutin ke dokter urologi untuk mengukur kadar PSA. PSA (Prostate Specific Agent) adalah protein yang diproduksi oleh kelenjar prostat, biasanya digunakan untuk memprediksi risiko kanker prostat pada pria.

Jika kadar PSA Anda 0,7 atau lebih rendah, maka risiko kanker prostat Anda cenderung rendah atau kurang dari 10 persen. Namun, Anda tetap perlu melakukan pemeriksaan rutin setiap lima tahun sekali. Sementara jika kadar PSA Anda lebih dari 1, maka Anda berisiko lebih tinggi terkena kanker prostat sehingga memerlukan skrining kanker secara berkala.

Meski begitu, PSA tidak bisa dijadikan indikator prostat yang baik karena dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Itulah kenapa, dokter akan melihat riwayat keluarga dan pemeriksaan lainnya untuk memastikan risiko kanker pada pria.

Dokter urologi tidak sendirian menangani penyakit Anda

Dalam menangani kasus penyakit pasiennya, dokter urologi biasanya akan bekerja sama dengan dokter spesialis lain. Contohnya, jika Anda ternyata didiagnosis kanker prostat, maka dokter urologi membutuhkan bantuan onkologi (spesialis kanker) untuk merencanakan pengobatannya.

Ketika Anda mengalami tanda dan gejala infeksi saluran kencing, maka langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah mengunjungi dokter urologi. Dokter akan mencari tahu dulu akar penyebab penyakit Anda, apakah memang berhubungan dengan saluran kencing atau karena organ lainnya.

Untuk memastikannya lagi, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mendiagnosis penyakit Anda. Mulai dari cek kolesterol, tekanan darah, gula darah, berat badan, hingga riwayat penyakit.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

9 Cara Lindungi Diri Jalankan Hobi di Luar Ruang saat Adaptasi Kebiasaan Baru

PSBB memang mulai longgar, tetapi tetap ikuti tips lindungi diri di adaptasi kebiasaan baru agar terhindar dari COVID-19, Sobat Sehat!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
lindungi diri di adaptasi kebiasaan baru
Hidup Sehat, Tips Sehat 29/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Hati-hati Penggunaan Obat Kortikosteroid Berlebihan

Sering disebut "obat dewa" karena bisa menyembuhan alergi, gatal-gatal, hingga flu, obat kortikosteroid juga bisa berbahaya jika dipakai berlebihan.

Ditulis oleh: dr. Angga Maulana
Hidup Sehat, Tips Sehat 28/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Minum Madu Setelah Minum Obat, Boleh atau Tidak?

Minum obat terus minum madu? Boleh atau tidak? Baiknya Anda simak penjelasan di sini mengenai bahaya dan anjuran saat minum madu.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat, Fakta Unik 27/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Penyebab Demam Naik Turun Pada Bayi (dan Cara Mengatasinya)

Semua orangtua mungkin panik dan takut menghadapi bayi demam naik turun. Sebenarnya apa yang menyebabkan bayi demam naik turun? Bagaimana mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kesehatan Anak, Parenting 21/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Konten Bersponsor
menghadapi kecemasan di new normal

Tips Menghadapi Kecemasan Kembali Beraktivitas di Era New Normal

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 03/08/2020 . Waktu baca 5 menit
nutrisi untuk mencegah covid

Penuhi Nutrisi Ini untuk Mencegah Penularan Coronavirus saat New Normal

Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 30/07/2020 . Waktu baca 9 menit
Konten Bersponsor

8 Tips Lari di Luar Ruangan saat Masa New Normal

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
persiapan saat new normal

8 Hal yang Perlu Dipersiapkan Saat Keluar Rumah di Masa New Normal

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 6 menit