5 Gejala Intoleransi Laktosa yang Paling Umum

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 07/10/2019 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Tubuh beberapa orang tidak menghasilkan cukup enzim laktase untuk mencerna laktosa. Laktosa itu sendiri adalah jenis gula yang khusus terdapat dalam produk susu, seperti susu, mentega (butter), keju, dan es krim. Ketika Anda tidak punya cukup laktase, perut tidak akan bisa mengolah laktosa menjadi energi. Laktosa yang tidak tercerna justru kemudian memunculkan beragam gejala gangguan pencernaan. Kondisi ini disebut dengan intoleransi laktosaLalu, apa saja gejala intoleransi laktosa yang umum?

Daftar gejala intoleransi laktosa

Gejala intoleransi laktosa dapat muncul ketika Anda tidak dapat mencerna seluruh laktosa yang masuk dari makanan.

Lantas, apa saja gejala yang mungkin dialami oleh pengidap intoleransi laktosa?

1. Diare

Diare adalah salah satu gejala khas dari intoleransi laktosa. Diare akibat intoleransi laktosa lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak daripada orang dewasa. 

Menurut penjelasan dari jurnal Gastroenterology Clinics of North America, laktosa seharusnya akan difermentasi di dalam usus besar dan diubah menjadi asam lemak rantai pendek.

Sebagian besar asam lemak ini akan diserap kembali oleh tubuh, sementara sisanya dapat meningkatkan volume air yang dialirkan ke usus besar. Semakin banyak cairan dalam usus besar, semakin banyak pula air yang ikut terbawa bersama tinja.

Umumnya, diare terjadi apabila usus besar langsung menampung karbohidrat sebanyak 45 gram. Takaran karbohidrat tersebut setara dengan minum 3-4 cangkir susu saat perut kosong.

2.  Sakit perut

Perut yang terasa sakit melilit dan bergejolak setelah mengonsumsi produk susu adalah gejala intoleransi laktosa. Gejala ini bisa muncul pada bayi, anak-anak, dan dewasa yang mengidap intoleransi laktosa.

Menurut jurnal Alimentary Pharmacology and Therapeutics, sakit akan muncul ketika lambung tidak dapat memecah laktosa untuk disalurkan ke usus besar. Rasa sakit biasanya terletak di sekitar pusar dan di bagian bawah perut.

Fermentasi laktosa ini menyebabkan pelepasan asam lemak rantai pendek serta gas seperti hidrogen, metana, dan karbon dioksida. Nah, peningkatan asam dan gas dalam perut inilah yang dapat memicu sensasi nyeri dan kram.

3. Kembung

Masih menurut jurnal Gastroenterology Clinics of North America, karbohidrat laktosa tidak dapat diserap oleh sel-sel yang melapisi usus besar. Namun, laktosa dapat difermentasi dan dipecah oleh bakteri alami yang hidup di sana.

Bakteri yang mencerna laktosa akan menghasilkan gas dan usus akan menarik air berlebih dari dalam tubuh. Alhasil, usus yang digenangi banyak air dan terisi gas dapat merangsang sensasi kembung atau begah.

Gejala kembung yang terjadi akibat intoleransi laktosa tidak dipengaruhi oleh seberapa banyak produk susu yang Anda konsumsi. Akan tetapi, gejala intoleransi laktosa ini tergantung pada sensitivitas setiap orang sehingga intensitas nyerinya dapat terasa berbeda pada setiap orang.

Kembung umumnya juga disertai dengan bunyi gemuruh di perut, atau disebut sebagai borborygmi. Ini terjadi ketika laktosa yang tidak bisa tercerna oleh bakteri di usus menghasilkan gas gerlebih. Gas yang mengisi saluran usus ini akan menimbulkan suara seperti perut keroncongan (tapi Anda merasa tidak lapar).

4. Kentut atau sendawa

Laktosa yang tidak dapat tercerna dengan baik juga dapat menyebabkan Anda sering kentut atau sendawa.

Gas yang dihasilkan usus saat mencerna laktosa disebut sebagai gas endogen, yang terdiri dari hidrogen dan metana. Gas yang menumpuk di dalam perut ini bagaimanapun harus keluar agar tidak membuat Anda terus kembung. Normalnya, gas akan dikeluarkan melalui dubur sebagai kentut atau dari mulut alias sendawa.

Pada beberapa orang yang mengalami intoleransi laktosa, gas juga seringnya mengandung hidrogen sulfida. Terutama saat Anda minum susu sembari mengonsumsi makanan lain seperti bawang atau telur.

5. Mual dan muntah

Pada beberapa kasus, gejala intoleransi laktosa juga dapat menyebabkan mual atau bahkan muntah. Kondisi ini dapat terjadi antara 30 menit sampai dua jam setelah mengonsumsi produk susu.

Reaksi mual dan muntah ini muncul akibat dari sistem pencernaan yang tidak dapat mencerna laktosa secara menyuluruh. Kelebihan laktosa dalam perut dibaca oleh otak sebagai zat asing yang berbahaya sehingga perlu cepat-cepat dikeluarkan.

Untuk mengeluarkan laktosa sekaligus meredakan gejala intoleransi lainnya, otak akan merangsang saraf-saraf di perut memunculkan sensasi mual dan muntah. Reaksi ini bisa langsung muncul segera sehabis mengonsumsi susu.

6. Sembelit

Sembelit (susah BAB) adalah salah satu gejala intoleransi laktosa yang kurang umum. Hal ini diyakini terjadi karena bakteri dalam usus besar tidak dapat mencerna laktosa seutuhnya, sehingga malah menghasilkan gas metana.

Gas metana yang mengisi perut dapat memperlambat waktu yang dibutuhkan makanan untuk bergerak melalui usus. Akhirnya kondisi ini dapat menyebabkan beberapa orang merasakan sembelit.

Kapan harus ke dokter?

Anda wajib ke dokter apabila gejala intoleransi laktosa tidak juga membaik dalam 3 hari sampai 1 minggu. Bila Anda mengalami mual dan muntah setelah minum susu, sebaiknya juga segera ke dokter. 

Dokter biasanya dapat mengetahui apakah Anda memiliki intoleransi laktosa dengan mengajukan pertanyaan tentang gejala Anda. Dokter mungkin juga meminta Anda menghindari produk susu dalam waktu singkat untuk melihat apakah gejala Anda membaik.

Terkadang dokter akan mengajurkan Anda melakukan tes pernapasan dnegam hidrogen atau tes gula darah untuk diagnosis gejala intoleransi laktosa lebih jelas.

Keparahan gejala intoleransi laktosa yang muncul pada setiap ortang bisa berbeda-beda. Seseorang yang memiliki intoleransi laktosa bisa saja mengonsumsi produk susu tanpa merasakan gejala apa pun, tapi ada juga yang langsung mengalaminya dalam taraf berat meski hanya makan sedikit.

Ini semua bergantung pada jumlah laktosa yang dapat diproses oleh tubuh atau seberapa banyak porsi susu yang dikonsumsi. Sebaiknya kunjungi dokter untuk pemeriksaan, penanganan, dan perawatan lebih lanjut. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Banyak gejala penyakit yang sering kali kita abaikan karena terkesan remeh. Padahal, jika dibiarkan justru efeknya bisa fatal.

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 03/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Sering Mimpi Buruk? Ini Cara Mengatasinya

Mimpi buruk bisa datang kapan saja di setiap malam Anda. Ini bisa sangat mengganggu Anda jika sering terjadi. Temukan cara mengatasi mimpi buruk di sini.

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Hidup Sehat, Tips Sehat 02/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Mengungkap Mitos dan Fakta Seputar Masalah Cacingan

Banyak mitos membuat infeksi cacing menjadi hal sepele. Cek fakta seputar cacingan yang berbahaya jika dibiarkan, seperti menghambat pertumbuhan anak.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Hidup Sehat, Tips Sehat 29/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Bahan Kimia pada Alat Masak Antilengket Tingkatkan Risiko Penyakit Celiac

Penyebab penyakit celiac belum diketahui. Namun, menurut studi terbaru, bahan kimia pada alat masak antilengket bisa meningkatkan risiko penyakit celiac.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Gangguan Pencernaan, Health Centers 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

botol plastik hangat

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
manfaat bersepeda

Yuk, Ketahui Beragam Manfaat Bersepeda Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit
kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit
anak disunat

Umur Berapakah Sebaiknya Anak Laki-laki Disunat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 07/07/2020 . Waktu baca 4 menit